162. Tak ingin terluka lagi.

 Bab 162. Tak ingin terluka lagi.


★★★★


Tubuh dengan pahatan yang sempurna tersungguh didepan mataku hanya berbalut handuk putih dibagian pinggang hanya diselipkan ngasal merasa tidak takut lepas.


Ku menelan ludah, membuat lidah kelu, dada berdebar, detak jatung berpacu sendiri tanpa terkontrol, nafas juga terasa aneh, tersendat sendat padahal aku tidak sedang berlari bahkan berdiri ditempat tanpa melakukan aktivitas tapi semua itu terjadi dengan sendirinya, bukan suatu keanehan melainkan itu suatu naluri tersendiri.


Sedangkan aku masih memakai seragam sekolah dalam keadaan kucel, sedikit bau tapi setelah ku rasakan bauku menebarkan aroma kenanga segar.


Benar yang diucapkan Alex kalau aroma tubuhku menebar aroma bunga kenanga. Kini baru ku sadari.


"Mas pinjam handuknya, aku mau mandi,,," niatku mengelak dari pesona yang disuguhkan, sungguh godaaan yang menggiurkan. Ku rasakan waktu berjalan melambat.


"Tinggal yang ku pakai ini. Gimana dek?"


Ini niatan mau ngerjain aku atau bagaimana?


Ku hempaskan nafas pelan pelan.


Bahkan tidak ada rasa kikuk sedikipun meloloskan handuk yang dipakai.


Pluuppp...


Pisang ambonnya menjutai mirip belalai gajah, menggoda. Semi tegang, bebuluan yang meliar tak dipangkas, kesannya sangar.


Tubuhnya menggairahkan yang ada ditubuhnya.


Kenapa aku selalu disungguhi dengan hal membuatku tidak bisa menolaknya.


Ingin rasanya aku menyentuhnya, mengelusnya, ahhh,,, pasti bikin angan melayang.


Darahku berdesir hingga milikku dibalik celana menggeliat bangun. Sedikit ngilu kurasa, ku menahannya supaya rasanya ngilunya hilang.


Ku dekati mas Surya yang menatapku sayu, penuh pengharapan.


"Maaf,,," itu yang terucap sambil berlalu mengambil handuk yang disodorkannya. Masuk kedalam kamar mandi. Sesaat kemudian menggguyur tubuhnya, rasanya segar.


Tidak perlu lama karena waktunya sangat mempet...


Setelah selesai mas Surya sudah bersiap dengan memakai sarung serta kaos oblong putih.


Sedikit tergesa, aku pun melihat pakaian sudah disiapkan di bad hingga aku inisiatif kalau itu untukku.


"Jamaah dek,,," katanya sambil menatapku lama sembari mengulas senyum coolnya.


Ku desahkan nafas pelan, gak enak selalu diperhatikan. Aku telah membuat sebagian kekuatannya hilang, mas Surya tidak bisa lagi pergi kemana yang dia suka dengan ilmu Halimunan nya.


Ada rasa bersalah, tapi karena mas Surya telah membuatku sedih, maka ku lakukan hal itu.


Berjamaah pun usai dengan hikmad, ku cium tangannya takdim sebagai orang yang ku tuakan, seperti sebagai mamasku juga guruku, disisi lain beda lagi persepsinya.


Aku memakai celana pendek mas Surya masih tetap sama memakai sarung.


"Makan dek dulu" mas Surya beranjak dari tempatnya melipat peralatan sholat ditempatkan dipojokan supaya tidak menganggu.


"Iya mas" balasku singkat, ku lipat sarung yang ku kenakan,  ku taruh bareng milik mas Surya.


Saat keluar ku ikuti dari belakang...


Menuju kearah meja makan, disana semua disiapkan serta tersaji.


Menggugah selera, hingga perut tambah lapar.


"Berdoa dulu" ajaknya karena sedari tadi aku memilih diam. Kami sama sama berdoa bersama menikmati makan siang menjelang sore.


Ruangan apartemen mas Surya tidak bikin gerah karena ada ac-nya.


Acara makan berjalan tenang dan santai berkali kali mas Surya menatapku, kali ini makannya tidak banyak tidak seperti biasanya.


Santai...


Duduk saling berdekatan, menikmati acara tv yang berlangsung.


Waktu terus berjalan dengan tertatih saat ku lihat jam di dinding. Ada sedikit senyum ku kulum.


Dari pada diam karena tujuanku untuk mendengar curhatan mas Surya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Apa itu hanya perasaanku saja. Karena sedari tadi mas Surya memilih untuk diam, menikmati acara tv saja bahkan menaikan tangannya serta disatukan untuk bantalan bersandar pada sofa dengan tatapan kearah layar tv, dengan santai.


Agak ragu untuk menanyakan, jadi ku nikmati sisa waktu yang terus bergulir, sedikit monoton. Andai aku tidak sakit hati mungkin aku akan bersandar di pahanya menikmati sensasi yang menjalar, tapi semenjak kejadian itu, aku merasa tidak enak dan aku memang sedikit jaga jarak hingga aku merasa tidak enak sendiri.


Bahkan ada suara adzan berkumandang tidak ada obrolan sepertinya mas Surya juga canggung, takut menyinggungku.


"Dek,,,"


"Mas,,,"


Panggil kami berberangan, terdengar lucu dan aneh. Kami saling lempar senyum lebar.


"Yaudah jamaah,,,"


Tak ada komen, aku ikuti saja karena tak ingin banyak bertanya. Karena mungkin saatnya untuk mas Surya cerita atau hanya untuk mengulur waktu.


Bahkan usai jamaah, kembali didepan tv masih canggung juga.


"Tadi mas mau ngomong apa?" tanyaku setelah dalam keadaan santai karena diam terus tidak enak. Terlebih hari akan beranjak ke magrib tinggal beberapa jam lagi.


Mas Surya terlihat ragu, tadi sedikit ceria kini mendadak sendu bahkan tidak ada gairah lagi, lesu tidak bersemangat.


"Kenapa diam mas,,,?" ulasku ingin tahu.


Desahan berat terdengar lirih...


"Apa kamu mau pulang dek, tidak nginap disini?"


Pertanyaan aneh menurutku. Entah apa maksudnya pertanyaan karena itu bukan hal penting. Yang terpenting seperti apa yang ingin disampaikannya mengenai hubungannya. Walaupun, jika aku tidak peduli, maka tidak mungkin aku disini.


Ku hempaskan nafas pelan pelan...


Ku lanjutkan...


"Mas mau mengantarku"


Rautnya langsung ditekuk.


"Kamu masih membenciku, dek?"


"Buat apa? Itu hidup mas. Aku tidak pernah berhak atas kehidupan mas bukan"


"Tetapi kenapa kamu masih membeciku,,,"


"Mas tahu, memangnya hatiku"


"Tapi itu yang ku rasakan"


"Andai aku membenci mas, aku tidak ada disini. Sejak awal ku tolak. Aku tidak akan peduli lagi denganmu mas" tegasku dengan tatapan tajam.


"Maafkan mas"


"Buat apa? Mas punya kehidupan sendiri. Mas berhak bahagia. Jangan pernah libatkan aku lagi, jangan pernah hadir dihidupku lagi. Aku punya hak untuk bahagia. Mas ngerti kan hal itu"


"Apa selama ini aku jadi bebanmu, dek"


"Bukan, tidak seperti itu, hanya saja jika mas sudah punya pasangan, atau hidup bahagia jangan libatkan aku, mas ngerti itu kan,,," aku setengah menaikan oktafku.


"Maaf mas,,,! Dari pada mas yang minta maaf, sebenarnya hal itu perlu" lanjutku karena tak ingin ada debat, karena tujuan utama bukan itu.


Mas Surya nampak diam merenung, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Banyak hal yang ingin ku katakan, aku hanya ingin bebas saja, kamu dengar curhatku, tidak canggung seperti ini"


"Siapa dulu yang bikin seperti ini"


"Ku akui mas salah. Mas yang janji tapi mengingkari, tapi itu mendadak, aku tidak bisa nolak"


"Sekarang mas butuh aku, aku diperlukan mas memanggilku untuk dengar keluh kesah mas, gitu" lama lama aku kesal dengan sikap mas Surya yang bersikap seolah olah seperti anak kecil.


"Bukan gitu dek, hanya saja aku butuh teman kali ini. Mas minta maaf bila kamu marah. Hanya saja kali ku mohon kamu jangan pergi ya. Tolong sikap mu kayak dulu dek, mas seneng kalau kita kayak dulu lagi"


"Gak mas, aku sudah tidak bisa. Aku masih perasaan, mungkin hatiku sudah luka, cukup aku merasakan hal itu mas. Aku malah ingin kita biasa saja, tidak saling kenal seperti waktu dulu"


"Dek,,,"


Mas Surya sudah kehabisan kata untuk membujukku lagi. Aku juga tidak ingin menambah luka lagi dihatiku, aku berusaha untuk melupakannya, namun disaat aku mencoba, disaat itulah mas Surya hadir dikehidupanku dengan sejuta pesona untuk menjeratku kembali.


"Dek,,," mas Surya sampai menangis.


"Maaf,,, m a s,,,".


#bersambung...


----------


Apakah nantinya Bening akan mendengarkan curhatan Surya atau memilih untuk pergi?


Bagaimana keadaan Alex?


Bagaimana juga dengan Riko?


Ikuti kisah selanjutnya?


Rb 28/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.