163. TIDUR BERSAMA.
Bab 163. TIDUR BERSAMA.
★★★
Seusai makan malam kembali bersantai lagi didepan tv sambil menikmati acara.
Tentu saja diluar gelap karena hari telah menjelang malam.
Ada rasa lelah ku rasa, namun sedikit ku tahan karena demi mas Surya yang sepertinya memang belum siap untuk cerita, apa sesungguhnya yang terjadi. Atau hanya untuk mengulur waktu.
Jadi kali ini aku tidak ingin alasan apa pun lagi,,,
Berkali kali mas Surya menarik dan menghempaskan nafas berat dan pelan, entah apa yang dipikirkan atau hanya mungkin merangkai kata kata untuk cerita.
"Katanya mas mau cerita, sekarang cerita saja mas,,,"
Ku beri kesempatan karena aku ingin dengar karena tidak ingin terlalu lama.
Mas Surya tidak berkata apa apa hanya saja dia menatapku lekat, matanya tampak tajam, tubuh bergetar, bibirnya pun nampak bergetar, sesekali matanya nampak terpejam, dibuka. Kini matanya memerah, entah mengapa bisa seperti itu, bahkan tatapannya menjadi sendu, tak hanya itu saja, matanya mulai berair, mas Surya menangis, menandakan hatinya begitu hancur. Saat ini baru dicurahkan segala perasaannya yang porak poranda oleh seorang wanita.
"Dek,,," tangisnya lirih, langsung merengkuhku. Tak bisa disembunyikan lagi dukanya. Bisa ku rasakan air matanya merembes dikaos yang ku pakai, sekalipun ini pinjaman darinya.
Aku tak bisa berkata apa apa lagi...
Jadi ku biarkan mas Surya tenang dulu, biar kan dia meluapkan perasaannya sampai benar benar hilang.
Desahan panjang terhempas lirih, ku yakin mas mulai agak tenang. Bisa ku rasakan kalau hatinya memang tidak baik, nanti juga aku akan tahu jika mas Surya curhat.
"Dek maaf kan mas, mas terlalu cengeng dengan yang terjadi. Mas lemah tidak sekuat casingnya" aku-nya mengakui kalau dirinya begitu rapuhnya. Mas Surya masih memelukku.
Tetap saja aku menunggu lebih lanjut mengenai kececokan antara mas Surya dan bu Laras terlebih dari awal mas Surya sudah menangis hingga kini terlihat murung tak bersemangat.
"Mas tidak perlu berkecil hati, semua pasti ada hikmahnya. Indah pada waktu. Percayalah,,," lirihku berbisik, mencoba memberi ketegaran pada mas Surya yang memang sangat membutuh dukungan batin juga moril tak dapat berkata.
"Huupfff,,, dek,,," mas Surya nampak ragu. Butuh waktu.
"Aku telah dihianati oleh Laras, semua telah ku berikan, bahkan rasanya cintaku juga perhatianku penuh padanya. Setiap selalu ku turuti. Ternyata aku hanya sebagai pelampiasan. Laras telah tunangan dek laki laki. Dia memutuskanku di saat aku sedang cinta cinta nya dek. Sakit rasanya hatiku" air mata Surya mengalir bagai sungai sangat deras. Lagi lagi mas Surya memelukku erat. Ku biarkan dia menumpahkan segala beban perasaannya yang terpuruk.
"Rasanya aku tidak mau kenal dengan wanita lagi. Mereka semua busuk, hanya memanfaatku" imbuhnya.
Mungkin itu karma dari yang Kuasa karena tidak memperdulikan perasaanku yang saat itu ingin pergi bersama mas Surya, mungkin masih banyak hal lagi yang lainnya.
"Brengsek! Anjing!" umpatnya untuk mengeluarkan semua unek uneknya di dalam hati.
Kembali kaosku basah oleh air mata mas Surya.
"Sudah lah mas gak usah memikirkan hal itu, mungkin bu Laras bukan jodohnya mas. Mungkin Alloh akan memberikan jodoh yang lebih baik dari bu Laras. Aku yakin Alloh maha adil" pungkasku tak ingin mas Surya larut dalam perasaan sedihnya. Aku merasa iba melihat kondisi tapi keadaan tidak baik baik saja.
Sungguh aku sangat kecewa sekali dengan mas Surya tapi kini sudah dapat balasannya.
"INGIN AKU BUNUH TUNANGANNYA SI LARAS!" geramnya dengan tatapan membulat penuh dendam saat melepas pelukannya. Sorotnya begitu kosong, dengan mengepalkan tinjunya.
Aku pikir itu hanya ekspresi saja saat emosi sedang meluap. Aku tidak tahu jika itu benar benar terjadi suatu saat nanti, tapi penyebabnya bukan lah mas Surya atau mungkin dalang dibalik kejidian yang menimpa.
"Huaaahhhh,,," mas Surya menguap kelelahan. Matanya merah karena rasa kantuk yang menyerang. Aku juga sudah merasa ngantuk ingin segera memejamkan mataku.
Mas Surya menyenderkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam rapat.
Wajahnya kuyu mengisyarat kepedihan yang mendalam dirasakannya.
Setidaknya aku sedikit meringankan bebannya berada di dekatnya. Itu memang mengurangi emosinya yang meledaknya.
Rasa bingung melandaku, seakan aku tidak dipedulikan oleh mas Surya karena sudah tertidur lebih dahulu terdengar dari dengkurnya yang halus.
"Huaaahhhhh,,," berkali kali aku juga menguap sudah tidak bisa ku tahan rasa kantukku.
"Mas, mas,,," panggilku lirih karena aku tak enak dan juga ngantuk tak tertahankan.
"Hmmm,,," sempatnya mas Surya menyahut sekalipun hanya berupa gumaman bagi sudah cukup.
"Tidur saja dek, disini..." lanjutnya walaupun tak bisa menahan kantuknya, menunjuk kearah pahanya yang ngganggur. Aku tahu msksud agar pahanya jadi bantalan kepalaku.
Ku rebahkan tubuhku dengan berbantalkan paha mas Surya yang bernafas teratur, halus panjang panjang, ku rasa mas Surya terlelap. Hingga tak bisa ku tahan lagi mataku pun terpejam. Tak bisa ku rasakan lagi, aku tertidur di paha mas Surya dengan perasaan damai dan senyum bahagia.
"Maafkan aku masss,,," bisikku lirih diujung lelapku.
-------------
Rasanya tubuhku menghangat, bukan lagi bantalan dengan dipahanya bahkan lebih dari itu tubuhku didekap hangat, oleh tubuh perkasa.
Ingat ketika akan tertidur, rasanya aku tidak percaya posisiku berbeda.
Entah beberapa jam aku tertidur, rasanya kantukku sudah hilang. Rasanya tubuhku segar.
Pelukan hangatnya sayang untuk di sia siakan maka ku lihat wajah mas Surya di saat tertidur. Ku teliti...
"Tidurpun tetap tampan" gumamku kagum melihatnya. "Bu Laras kau wanita yang bodoh telah menyia nyiakan laki laki gagah, semacho dan perkasa seperti mas Surya. Hmm,,, andai aku wanita, aku mau menjadi pendamping hidupmu" bisikku lirik, tentu senyumku langsung mengembang.
"Huuuaaahhh,,, hmmm,,, apa dek?" mata mas Surya mengerjapkan matanya, sepertinya mulai pulih kesadaran saat terbangun, mengumpulkan nyawanya yang tercecer.
"Kamu ngomong apa dek" suaranya masih serak.
",,, Gak kok mas, lupakan saja,,,"
Tentu tak ingin mengulasnya lagi. Itu hal yang cukup memalukan. Mas Surya dengar apa tidak.
"Kamu nginap disini lagi ya dek, lusa hari minggukan. Libur,,," pintanya lagi. Rasanya aku tidak mau menerima permintaannya. Aku harus menemui Alex serta membebaskannya sesuai janjiku. Seperti yang pernah ku utarakan pada Latifah hingga dia menyesalinya, tapi aku sudah terlanjur kecewa padanya.
"Tidak mas, aku masih ada urusan. Maaf. Sebenarnya aku ingin nginap lagi, tapi aku tidak bisa" ungkapku karena tawaran tak bisa ku penuhi.
Desahan berat terdengar, tapi mas Surya tetap mendekap. Aku bermanja manja dengan mas Surya, tidak keberatan. Bahkan sesekali ku elus dadanya, juga perutnya. Di bawah sudah ada yang mendesak desak serta menonjol, besar. Aku tahu mas Surya pasti kecewa dengan keputusanku tapi itu lah yang ku buat, mas Surya tidak bisa mencegahku lagi.
----------
Kini aku telah bersiap untuk berangkat tentu bareng dengan mas Surya.
Kini sudah sampai di gerbang sekolah Permata bangsa.
Namun hal mengejutkan buat mas Surya bertemu bu Laras terlihat begitu cantik.
Rasa respekku hilang saat melihat nya akibat cerita mas Surya semalam. Bahwa bu Laras sudah punya tunangan.
Wajah mas Surya nampak membesi tak suka melihat kearah bu Laras, bisa ku lihat itu semua.
"Pagi pak Surya, bagaimana kabar anda" senyum manis terukir dibibir pingnya. Terlihat makin cantik bu Laras berpakaian islami.
"Baik,,," jawab mas Surya singkat.
"Anda begitu akrab dengan Bening. Ini salah satunya kenapa aku tidak memilihmu pak Surya. Saya juga berterima kasih atas semua yang pak Surya berikan, waktu dan juga Cinta. Bye...." Bu Laras kemudian berlalu dengan senyum terkulum.
Aku tidak tahu apa yang diucapkannya tadi, seperti teka teki. Atau...
Tunggu!
Atau jangan jangan bu Laras menyindirku tapi aku pura pura tidak tahu atau kurang menelaah dari arti ucapannya.
Aku pun pamitan serta berterima kasih pada mas Surya karena semalam mengajak ku ke apartemen nya.
"Pak Lucky,,," sapa mas Surya setelah aku agak menjauh dari parkiran sekolah khusus untuk murid.
Ku tengok sekilah tapi masih ku dengar percakapan pak Lucky dan mas Surya.
"Bagaimana keadaan anda pak Lucky?"
"Kurang baik pak Surya"
"Maksud saya luka anda"
"NIHIL"
Terakhir ku dengar karena semakin menjauh.
"Beningggg,,," seru suara laki laki. Itu suara....
"Riko,,,?" Ekspresi ku pura pura terkejut.
Apakah tadi Riko melihatku bersama mas Surya.
#bersambung...
----------
Sb 01/10/22.
Komentar
Posting Komentar