164. DICURIGAI.
Bab 164. DICURIGAI.
★★★
Pertemuanku dengan Riko yang tidak sengaja pun tidak ada obrolan yang penting hanya saja sikapnya agak berubah. Kalau perhatiannya tetap akan tetapi ada hal lainnya yang menurut aneh. Namun aku tidak terlalu menanggapi hal itu, aku pun pergi berlalu meninggalkan. Ada raut kekecewaan yang terlihat, akan tetapi aku tidak peduli dengannya.
Sampai lah aku dikelas, kelas terasa agak lengan, ada beberapa murid yang ada didalam kelas, ada yang duduk santai, ngobrol juga mondar mandir tapi tidak seperti biasanya yang selalu bising sepertinya lebih ada tatakrama dari biasanya. Aku juga memilih untuk diam, biasanya aku sapa mereka tapi karena sikap mereka kemarin jadi aku memilih untuk pasif dari pada terkena masalah lagi. Masalahku sudah bertumpuk.
Belum lagi sikap mas Surya yang kehilangan pacarnya, sikap pak Lucky yang ketakutan padaku, sikap Riko yang biasa tapi sorotnya berbeda, belum lagi nanti dengan Latifah juga yang lainnya.
"Bening,,, aku ingin bicara sesuatu hal penting" Latifah yang baru datang, melihatku menyeretku untuk mengikutinya didekat mejanya.
Jam sekolah belum mulai karena masih ada beberapa menit lagi.
"Ada apa?" balasku singkat berdiri didepannya. Setidaknya aku tahu apa yang akan ditanyakannya. Pasti mengenai mimpinya.
"Semalam kamu mendatangiku di dalam mimpi, aku ngerasa kalau itu kayak kenyataan gitu. Aku juga sempat bingung. Kamu ngimpi ketemu aku gak semalam"
Ku gelengkan kepalaku pelan...
"Soalnya mimpiku itu kayak nyata gitu, kamu juga pesen ke aku kalau kamu sangat kecewa atas semua sikap perbuatanku dan juga teman teman yang lainnya?"
Tentu saja Latifah merasa ada ke aneh.
Dia tidak tahu kalau aku memang menemuinya di alam mimpi, itu nyata. Sengaja aku menemuinya, juga pak Lucky yang sudah ku beri pelajaran.
"Kamu dan kawan kawanmu yang telah melaporkanku ke pak Lucky bukan, sehingga aku hampir dikeluarkan dari sekolah ini. Kenapa Tif, kamu tega lakuin itu ke aku?. Selama ini aku yang membantumu, hanya satu kesalahan yang itu tidak ku sengaja kau melaporkanku ke pihak sekolah" aku berpura pura sedih, walaupun rasanya aku malu karena ketahuan juga di laporkan.
"Aku,,, aku,,, minta maaf Bening, aku salah,,," ku perhatikan teman teman Latifah yang sering bersamanya belum datang semua, atau mereka sudah tidak bersatu lagi. Mungkin karena tidak ada Alex sehingga mereka tidak ada yang ditakutkan lagi. Entah jika Alex nanti sudah sekolah seperti biasanya.
"Sudahlah Tif, aku tidak ingin diganggu lagi, pergilah" usirku lirih karena tak ingin yang lain dengar.
"Aku benar benar minta maaf Bening"
Tak ku hiraukan lagi Latifah dengan tatapan penuh sesal aku juga mau melihatnya lagi.
Bahkan pelajaran usai bahkan saat istirahat keluar dari kelas Latifah tak berani mendekat. Tapi dugaanku salah ternyata teman teman masih saja berkumpul, masih kompak.
Sudah lama rasanya aku tidak bertemu ataupun melihat Raya pacar Riko. Entah mengapa fellingku mengatakan kalau Riko masih ada hubungan dengan Raya. Ingin aku ngobrol sekali saja dengan gadis yang dulu pernah ku panggil 'JALANG'.
Ku berharap dapat bertemu dengan Raya.
Entah berada dikelas mana Raya, karena semenjak naik kelas dua belas aku pulang aku jarang bertemu terlebih disekolah rasa begitu sulit karena beda kelas. Tapi, Riko pernah datang mencariku, ketemu dan itu menimbulkan pandangan buruk terlebih terjadi insuden ciuman yang tak sengaja.
Ku lihat sesosok cewek seperti sangat mengenalnya.
"Raya,,," panggilku pada gadis yang sedang berjalan sendirian. Sepertinya sedang menyendiri karena tidak ada temannya.
Raya pun menoleh, tersenyum. Senyum yang agak dipaksakan. Ada helaan nafas berat saat aku datang mendekatinya karena aku ingin ngobrol hal penting.
Ingin ku sapa duluan namun Raya terlebih duluan menanyakannya...
"Bagaiama kabarmu Bening?"
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat Raya, aku baik baik saja dalam keadaan sehat wal afiat. Kamu sendiri bagaimana kabarmu Raya, ehmmm juga Rik-" rasanya aku merasa tak enak. Raya nyengir lalu berpura pura mengalihkan pandangannya. Aku tahu kalau keadaannya sedang tidak baik.
"Keadaan ku cukup baik Bening. Soal Riko,,, sudah lama aku tidak bersama. Aku sering melihatnya. Dia,,, seperti membenciku. Aku tidak tahu alasannya kenapa?".
Nampak Raya menitikan air mata, dan dibiarkan air matanya membasahi pipinya. Bahkan kini posisinya tidak menghadapku tapi bisa ku lihat jelas air matanya yang bergulir.
"Sabar Raya,,," aku tidak bisa berbuat banyak, terlebih untuk menolongnya.
"Aku sudah berusaha Bening, tapi sepertinya akan sia sia, Riko bilang tidak mencintaiku lagi. Dia telah mencintai seseorang, entah itu siapa? Riko tidak ingin membuat orang itu kecewa, terlebih terluka apalagi sampai membencinya"
"Kau tahu siapa orangnya Raya, paling tidak Riko mengatakan ciri cirinya"
"Sama sekali tidak. Bahkan aku juga mencari tahu siapa orang yang dicintainya itu"
Air mata Raya makin bercucuran...
"Maaf Raya,,, jika membuatmu bersedih. Aku juga jarang. Riko sibuk dengan gangnya sekarang"
"Bukan kamu tinggal dirumahnya"
"Kita punya urusan masing masing. Sepertinya Riko juga menjauhiku"
Tatapan Raya terlihat aneh...
Ada apa dengan Raya menatapku seperti itu. Apa dia mencurigaiku? Dalam hal apa dia curiga? Memang aku jarang bersama Riko malah aku senang mengembara di dunia mimpi. Malah aku sering menemui Alex. Rencanaku pun setelah pulang ini aku mau langsung kerumahnya Alex lihat kondisinya di dunia nyata.
"Coba kamu kamu tanya pada Angga sepertinya dia tahu banyak tentang Riko,,,"
"Ang,,,Angga,,, ak- aku... "
Raya nampak gugup saat ku sebut Angga, sepertinya Raya menyembunyikan sesuatu, atau jangan jangan Raya ada hubungan dengan Angga?.
"Kamu tanya sama Angga, Angga tahu banyak tentang Riko" ulasku ingin tahu ekspresi nya sekali lagi. Benar kalau Raya memang ada something sama Raya terbukti saat ku ulas tentang Angga, sikap Raya tampak aneh.
"Say,,,, Ray- a,,,," panggil seseorang.
-------------
Dengan dada agak berdebar, ku langkahkan kaki diarea halaman yang begitu luasnya. Bahkan aku juga ijin pada satpam penjaga, untung sangat mengenaliku tidak lupa denganku saat aku datang menjenguk kerumah ini. Bahkan sikapnya ramah tidak sangar saat pertama datang, terlebih aku datang sendirian, tunjuanku untuk melihat keadaan Alex saat ini.
Satpam yang menjaga ada dua orang, tidak seperti dirumah Riko yang cuma dua, ayah dan pamanku, berjaga bergantian. Pamanku Syarif juga sangat jarang pulang lebih memilih tidur dipost. Bibiku juga sering nginap di kamar pembantu jika paman kangen selalu mendatangi bibi Rosidah tidur bersama.
Satpam yang sudah berumur tersenyum ramah mengantarku kedalam sampai bertemu kedua orang tuanya Alex. Aku belum sempat menanyakan namanya sekalipun ada name tagnya, aku lebih fokus pada keadaan lingkungan rumah Alex yang luas dan apik. Aku sangat kagum sekalipun aku pernah datang.
Saat pintu terbuka aku lihat wajah wajah sedih dari kedua orang tua Alex, terlebih bu Shella mamanya Alex, matanya merah bengkak. Pak Remond pun sama matanya juga merah karena kesedihan yang begitu mendalam.
"Assalamualaikum bu, pak,,,"
"Hiks, hiks, hiks,,, silahkan masuk nak Bening,,," ucap bu Shella setelah menjawab salamku dengan tatapan dukanya. Tentu yang di alami Alex putranya membuat pukulan tersendiri dibatin bu Shella terlebih pak Remond.
"Mari nak Bening, silahkan masuk" ulas pak Remond ramah. Untuk senyum pun tak mampu, biasa pria paru baya yang masih gagah berkharisma ini senyum tersenyum kali ini senyumnya hilang.
"Iya bu, pak" keduanya mempersilahkanku masuk membawaku ke kamar Alex. Hatiku makin berdebar saat memasuki kamar Alex.
"Hiks, hiks, hiks,,, pa mama gak kuat pa" isak bu Shella tidak tega melihat keadaannya putranya. Pak Remond pun memeluk istrinya untuk memberi kekuatan pada istrinya walaupun pak Remond mencoba untuk tega tapi tak bisa menyembunyikan kesedihannya, tak urung air matanya bergulir.
"Siapa ma, pa,,,?" sapa seorang laki laki yang masih mudah, malah nampak lebih gagah dan tampak dengan tubuh atlestis dibalik kaosnya, memakai celana setengah tiang.
"Temannya Alex ya,,," nampak ramah, tapi tidak ada senyum, bahkan penuh selidik.
"Kamu temannya adik saya ya" ulang cewek disampingnya cowok ganteng, terlihat mirip. Mungkin saudara Alex.
"Iya betul, namanya Bening" balas bu Shella bahkan menyebutkan namaku.
"Ohh,,, kamu manis untuk ukuran cowok" selidik si cewek menatapku, setelah memgetahui namaku. Ada seulas senyum geli terlebih pria yang ada di sampingnya.
"Perkenalkan aku kakak perempuannya Alex, namaku Carollin Angel" ulurkan tangannya memperkenalkan dirinya. Terlihat ramah, beda dengan si cowok yang terlihat cuek.
"Aku Niko Andrean" pun dengan Niko memperkenalkan dirinya sikat. "Aku kakak laki lakinya" sambungnya dengan suara besar.
"Sabar mama, papa, kalian jangan menangis terus. Pasti Alex bisa disembuhkan" ungkap Angel tak bisa menutupi kesedihannya bahkan ikutan nangis, sok kuat padahal rapuh. Ingin aku tertawa melihatnya, namun itu tidak mungkin ku lakukan didepan mereka yang sedang sedih.
"Iya ma, pa,,, sedih gak akan memulihkan keadaan" sahut Niko, masih bisa tegar walaupun saat bicara suaranya agak berat sedikit serak. Ku tahu Niko juga tak begitu tegar, pantang baginya untuk menangis.
"Kamu sendirian kesini nak Bening, apa tidak membawa teman mu nak Bening?" tanya bu Shella terlihat mulai tenang.
"Sengaja tadi kesini untuk menjenguk Alex bu, karena teman teman sekelas pada menanyakan nya, mereka kangen sama Alex. Sekolah gak seru tanpa kehadiran Alex di kelas" ku coba untuk tersenyum ramah.
"Kamu anak yang baik nak Bening. Teman temannya Alex idak ada yang perhatian sepertimu" sebuah pujian dari pak Remond, terlihat bangga.
"Kamu ngerasa aneh gak Jel dengan si Bening?" bisik Niko mencurigaiku.
"Benar ya, buat apa kedatangannya kesini coba, kalau bukan untuk menyelidiki keadaan Alex" bisik Angel pada Niko aku bisa mendengarnya, mungkin sengaja supaya aki dengar. Tapi entah dengan orang tuanya.
"Maaf bila aku datang menjenguk, aku tidak maksud apa apa, aku kesini atas inisiatifku karena teman teman sekelas ingin bertemu Alex lagi. Apa aku salah" kupasku karena merasa tak enak.
"Kalian kenapa begitu curiga pada nak Bening, Angel, Niko?" bu Shella tidak membenarkan sikap keduanya. Aku hanya bisa tertunduk, lesu.
"Mama kenapa malah membelanya, bisa saja kan ma dia punya maksud tertentu. Dari mana asalmu Bening?" Kini tatapan Angel kearahku penuh selidik.
"Dari Palembang, kenapa mbak, ada yang salah?" jelasku mengenai usulku walaupun tidak detail.
"Mama, papa dengarkan,,," sahut Angel makin menaruh curiga.
"Betul ma, pa. Ngapain coba kesini,,," tuduh Niko tak terima karena mamanya seperti tidak terima membelaku.
"Dengar, nak Bening yang telah menolong Alex yang hampir,,, ss- e-ka-rat" isak bu Shella tak terbendung lagi terlebih kini keadaannya mengenaskan.
"Bisa saja semua itu rencananya ma, pa. Kan tidak ada buktinya, terlebih tidak ada yang melihat kejadiannya waktu itu" Niko makin memojokanku atas tuduhannya.
"Aku tahu siapa yang menabraknya" jawabku sudah geram mendengar tuduhan Niko juga Angel yang senang memojokan ku, menyesal aku datang kesini padahal tujuanku dengan niat baik.
"Nah, ku bilang juga apa ma, pasti dia sudah kerja sama. Tapi apa motifnya?" Niko makin kayak kompor.
"Iya ma, mama perlu bukti. Itu sudah membuktikan, kalau dia ada kaitannya dengan kecelakaan yang di alami oleh Alex, dia bilang tahu siapa pelakunya. Kalau tidak ada hubungannya maka itu tidak mungkin, ma" Angel pun makin memamasi keadaan.
"Aku memang tidak punya bukti atas tuduhan kalian. Aku juga tadinya tidak tahu apa apa mengenai kecelakaan yang di alami oleh Alex. Tapi, secara tidak langsung, seorang cewek teman sekelasku bernama Latifah yang mengatakannya sendiri karena dia juga teman teman yang telah jadi korbannya Alex ingin membuat Alex mati. Perlu kalian ketahui kalau Alex telah membuat para cewek dikelasku kehilangan keperawanannya. Kalian ingin bukti kebejatan Alex, iya. Latifah salah satunya yang jadi sasarannya, dia minta perdulingan padaku. Aku sendiri tahu rencana Alex saat di toilet sekolah itu pun secara kebetulan. Sudah banyak yang jadi korban. Apa ibu Shella, pak Remond dan juga kalian berdua yang sok suci nuduh aku tanpa bukti, kalian mau bertanggung jawab. Aku berusaha ngelindungi para cewek dikelasku supaya tidak jadi korbannya Alex" ungkapnya panjang lebar, bahkan rasanya aku gondok mau nangis, tapi ku kuatkan, aku tak ingin rapuh. "Kalian ingin tahu apa yang di lakukan Alex padaku. Menghinaku, mencibirku, juga membullyku, kini aku menjenguknya, karena simpatikku kalian anggap aku pelakunya dengan tuduhan kalian yang tak beralasan" ungkapku tidak terima atas tuduhannya.
"Aku menjenguk Alex supaya bisa memberi kabar pada teman sekelas. Tapi sikap kalian malah seperti ini. Mencurigai ku tidak beralasan. Kalian kira aku penjahat,,," ungkapku lagi, rasanya sudah cukup penjelasanku.
"Nak Bening atas nama kedua anakku meminta maaf" bu Shella yang bijak disini.
"Iya bu Shella saya ngerti. Kalian berhak curiga padaku. Terlebih aku ini bukan siapa siapa, anggap aku tidak pernah menolong Alex. Andai aku tahu begini, tidak sudi aku menolongnya. Menyesal aku telah menolong tapi rasa terima kasih tidak ada. Jika kalian ingin tahu, tanyq saja pada Latifah, atau Sarah, atau Okta, kalau kalian TIDAK PUNYA MALU!" tegasku, ku tekan pada kata terakhirku.
"Mungkin ini terakhir kali ku injakkan kaki ku disini. Menyesal aku datang kesini!" Tatapku tajam kearah Angel terutama Niko yang punya pikiran picik.
"Nak Bening, maafkan anak anakku" pak Remond angkat bicara. Malah yang meminta maaf pada ku karena sikap Angel dan Niko.
"Dengar nak Bening, sungguh kami benar benar meminta maaf. Kami akan melupakan semuanya. Kami tahu anak ku Alex salah. Kini aku ingat bahwa Ki Ageng berpesan supaya kami meminta tolong padamu. Itu pesannya" terang bu Shella penuh harap.
"Ki Ageng Madyo Santoso,,," ulasku, agak terkejut.
#bersambung....
---------
Sb 01/10/22.
Komentar
Posting Komentar