165. INI PELAJARAN.
Bab 165. INI PELAJARAN.
★★★
Rasanya aku tak percaya dengan apa yang ku dengar kalau aku sendiri tidak melihat serta mendengarnya sendiri jika Angga memanggil Raya dengan sebutan Sayang. Sejak kapan Raya punya hubungan dengan Angga, atau Angga sudah kencan dengan Raya hingga Angga memanggil Raya dengan sebutan sayang walaupun tidak diteruskan karena disitu ada aku sedang bicara dengan Raya, Angga tidak menyadarinya.
Raut wajahnya berubah malu, juga ekspresi yang lain nya campur aduk membuat Angga salting sendiri begitupun Raya.
Karena urusan sudah selesai akupun meninggalkan keduanya, memberi kesempatan buat ngobrol bebas. Suatu saat nanti pasti akan ku tanya kan tentang hubungannya dengan Raya. Penasaran sekali...?
Aku ingat semua itu, bahkan aku tidak memikirkan hal itu, sampai aku datang ke rumah Alex. Ku lupakan sejenak tentang pertemuanku dengan Angga yang ternyata ada hubungan dengan Raya dimana Angga memanggilnya sayang.
Kini aku malah dapat perlakuan tidak mengenakan dari kedua kakaknya Alex, yaitu Niko dan Angel. Hanya saja sikap kedua orang tuanya ikut terprovokasi ulah keduanya. Aku aku bisa membalikkan faktar serta memberi alasan yang tepat.
Rasanya ingin aku perbuatan Niko karena mulutnya lemes kayak mulut emak emak. Geram sekali aku dibuatnya hingga ingin ku balas lebih dari yang dikukannya.
Niatnya menjenguk, melihat keadaan Alex tapi kini aku pulang dengan rasa kecewa.
Aku pun meminta tolong pada satpam sekolah untuk mencarikan ku ojek online. Bisa saja aku pulang cepat tapi aku tidak mau dikit dikit menggunakan kemampuan yang ku miliki.
Walaupun kedua orang tua Alex sudah meminta maaf bahkan menyuruhku buat nginap nemani Alex dikamarnya tak urung aku menolaknya secara halus. Padahal aku punya rencana nanti malam aku ingin membebaskan. Kini, malah rencana bertambah, karena aku akan memberi pelajaran pada Niko yang sombong nya bukan main, suka menghina. Lihat saja nanti bagaimana sikapnya setelah aku menemuinya di alam mimpi. 'Tunggu saatnya Niko, kau berurusan denganku, maka kau akan rasakan rasanya gimana?' bisik batinku.
Setelah ada ojek online dan mengantarkanku sampai kediaman Sanjaya hatiku menjadi tenang.
Sengaja aku lewat depan supaya ayahku tahu aku baru pulang, tentu ayah dan ibu pasti khawatirkan aku.
Benar saja dugaanku, setelah melihatku ayah menghampiriku serta menanyaiku. Ku katakan keadaan ku baik baik saja baru menjenguk teman yang sedang sakit.
Tentu ayahku tanya penyakitkan apa, hingga aku memberi penjelasan, ayah hanya bisa memaklumiku dengan desahan panjang.
Walaupun keadaan sudah sore tapi belum terlalu sore bahkan magrib masih beberapa jam lagi tapi ayah sudah standby di post jaga.
Menuju ke paviliun agak memutar karena letak agak kebelakang, di samping rumah besar milik keluarga besar Sanjaya.
Aku juga bertemu dengan ibu menanyaiku hingga pulang sore, aku pun cerita yang penting penting saja hingga mengerti tidak sedih juga khawatir, walaupun tetap ada khawatir karena aku tidak memberinya kabar terlebih dahulu.
"Nak berhati hatilah, kita tidak tahu siapa musuh kita, bisa saja orang terdekat kita, yang kita kenal sangat dekat" nasehat ibu seperti belum juga rasa khawatirnya.
"Iya bu aku akan lebih berhati hati, terlebih dalam memilih teman. Benar kata ibu, orang yang kita kenal itu bisa jadi musuh, bahkan pernah ku tolong tapi malah kini balik menyerangku. Tapi aku sudah menyelesaikannya" ungkapku karena aku juga juga pernah berurusan dengan orang yang ku tolong tapi mereka malah membikin aku kena masalah. Kini aku harus berhati hati.
"Bu tinggal beberapa hari lagi hari ke empat puluh hari simbah kakung muksa. Apa ibu akan ikut?"
----------
Keadaan ku rasa aman, walaupun ada sedikit rasa khawatir juga ada tapi aku juga meminta pada ibu untuk sekedar berjaga jaga karena aku malam ini aku akan menemui orang orang yang ada masalah denganku.
Kini targetku adalah Niko Andrean manusia sombong sekali.
"Hmmm,,,," dehemku saat aku berada di dunia mimpi. Di mimpinya Niko yang kebingungan melihat keadaannya didalam ruangan tanpa celah.
Niko berkeliling meneliti tempatnya tentu saja tidak akan bisa lepas dari hukuman.
Tentu saja keadaan setengah telanjang dada, memakai celana pendek bahkan celana dalamnya terlihat menyembul dibalik celana kolornya warna putih.
Tentu saja Niko keheranan melihatku mendatanginya dalam mimpi. Tidak bakal menyangkannya.
"Kau Beningkan,,,?" terkanya memastikan. Karena aku berada agak dekat. Niko masih bebas bergerak.
"Benar, aku Bening, kenapa?" tanyaku balik. Ada rasa kegugupan terdengar dari nada bicaranya. Bahkan menekan sedikit suaranya. Aku pikir dia sangat hebat bisa menyembunyikan rasa terkejutnya didepanku.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tatapnya penuh selidik. Ku beri seulas senyum membuat jadi heran.
"Gak usah heran. Aku kesini ingin memberimu pelanjaran, karena kau telah lancang memfitnahku didunia nyata. Tapi memang benar apa yang kamu tuduhkan. Aku tidak menampik disini, karena aku pelakunya. Aku yang telah membuat Adikmu seperti itu, tapi aku punya alasan tersendiri kenapa aku melakukannya?. Sebenarnya aku datang untuk menyembuhkan adikmu tapi karena sikap serta ulahku ku urungkan niatku, aku sangat kecewa sekali dengan sikapmu Niko, kau manusia sombong sama seperti Alex adikmu, tapi kini kesombongannya telah aku hancutkan" jelasku tersenyum mengejek.
"Apa maumu sekarang?. Dimana adikku Alex?. Dia tidak punya salah sama kamu!" serunya seakan lupa apa yang ku katakan dirumahnya.
"Tidak banyak Niko, hanya memberimu peringatan supaya kau kapok. Adikmu tidak apa kok, tenang aja. Adikmu telah membullyku, makanya aku kasih pelajaran ke dia. Tapi sekarang sudah jadi kucing manis kok, jadi tenang aja, Niko" senyumku miring kearahnya.
Nafasnya nampak mendengus, kesal, menahan emosi bahkan tangannya sampai mengepal.
"Manusia rendah sepertimu perlu di beri pelajaran, baik didunia nyata maupun mimpi" dengusnya, emosinya mulai naik.
Entah apa yang menyebabkan Niko berani seperti itu bahkan sangat menghinaku, bisa bisa dia seperti itu, keterlaluan.
"Kau pikir dirimu siapa hah?" geram juga aku dibuatnya. Keterlaluan dia menghinaku.
Mulut Niko nampak komat kamit, entah apa yang dibacanya. Dulu, pernah aku terluka karena Ki Ageng, karena mampu melukaimu. Tapi aku telah membuatnya jera dan tak berkutik sampai saat ini.
Aku tidak mau hal buruk terjadi maka aku persiapkan diri, aku tak ingin kejadian yang menimpaku dulu terjadi lagi. Bisa saja hal itu kejadian.
"Kau perlu diberi pelajaran,,," geramnya maju, sambil pukulkan tangannya seperti meninjuku.
Aku tak mau tinggal diam, karena untuk berjaga jaga karena tadi Niko nampak mengucap sesuatu.
Tapi saat maju dan mukul tak ada yang terjadi, bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Ingin rasanya aku tertawa terbahak bahak atas kekonyolan yang dilakukan oleh Niko. Tapi ini belum seru buatku. Lebih seru lagi jika ada orang yang satunya lagi, akan ku bawa kesini.
"TUNGGU!" seruku, Niko yang akan maju tertahan.
#bersambung...
Sn 03/10/22.
Komentar
Posting Komentar