166. Bagaimana Rasanya?.

 Bab 166. Bagaimana Rasanya?


★★★


Niko termangu ditempatnya dapat peringatanku. Tentu timbul pertanyaan dihatinya kenapa aku menyuruhnya berhenti.


Tadi pun yang dilakukan Niko tidak ada pengaruhnya sama sekali, aku kira Niko merapal sesuatu yang bisa menyentuhku atau bahkan bisa melukaiku, itu persepsiku.


"Kenapa, apa maumu Bening?" tanyanya bingung. Masih bingung padahal aku sudah muak dengan sikapnya yang masih arogan serta sombong. Apa aku kasih pelajaran dulu baru nanti si ceweknya. Aku kira tidak ada salahnya.


Cetek, cetek, cetek,,,


Niko memperhatikan ketika ku jentikan jariku.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya kembali karena awal tidak ku jawab, malah ku jentikan jari.


Didekat Niko muncul kursi yang sering ku gunakan untuk menghukum.


Niko tentu saja heran dibuatnya karena melihat kursi yang tiba tiba saja muncul.


"Kenapa heran, Niko?. Itu untuk membuat kesombonganmu sirna, jadi tidak ada yang yang kau banggakan lagi" delikku kearahnya.


Aroma bunga kenanga sarta tercium, ini pertanda aku tidak akan main main dengan apa yang akan ku lakukan terlebih untuk membuat jera Niko.


"Aroma apa ini? Kayak bunga,,,hmmm,,," mata Niko membulat kearahku.


Sekali lagi ku angkat tangan kanan ku.


"Bunga kenanga!" tegasku. Hal itu tidak membuat gentar Niko sedikitpun, malah tersenyum mengejekku.


"Kau kira aku takut denganmu" sombongnya kumat lagi. Ingin aku pukul atau ku tinju dia. Geram, tentu saja aku padanya. Hampir tak bisa ku tahan.


"Brengsek!" sentakku, makin tak tahan dengan kelakuannya.


"Apa katamu? Kau tuh yang sengak!" Niko maju kearahku.


Kita lihat apa yang bisa dia lakukan padaku...


Ku biarkan Niko untuk memegang atau paling tidak ingin tahu apa yang dia lakukan padaku.


"Ku bunuh kau!" geramnya dengan luapan emosi. Tangannya sudah dekat sekali. Aku hanya tersenyum simpul kearahnya bahkan penuh ejekan.


"Kok bisa? Kau- kau,,, siapa,,,?"kecutnya, terkejut dengan yang dilakukannya padaku. Tentu aku kini hanya tertawa lirih. Wajahnya kini takut, siapa juga yang ingin berurusan.


"Kenapa Niko, kau ingin membunuhku? Lakukan kalau bisa melakukannya Niko" ledekku, biar Niko tambah emosi.


"Keparat. Bangsat lho gembel! Ku bunuh kau,,,!" Kembali Niko maju bahkan kini memukul mukulku dengan tinjunya, geram serta emosi yang meluap. Sampai keringat bercucuran ditubuhnya, namun yang dilakukan hanya sia sia saja. Nafasnya tersengal, ngos ngosan, nampak wajah keheranannya begitu jelas. Rasa bingung menyelimuti, bukan hanya sampai disitu dia merasa yang dilakukannya mengenai sasaran tapi nyatanya tidak.


"Sudah,,," ejekku. "Kini giliranku, Niko"


Karena Niko berada dekat, bahkan aku bisa menjangkaunya.


"Bug,,,!" Ku pukul pipi kirinya.


"Hukkk,,, uhhh,,," keluhnya kesakitan karena pukulan sangat keras mengenainya.


"Bagaimana Niko, kau heran bukan?. Ini alam mimpi, dimana aku berkuasa disini" kecamku tak main main.


Cetek, cetek,,,,


Belum sempat ketiga kalinya ku jentikan jariku, Niko menghentikanku.


Ku tatap tajam, tak mengerti?


"Apa yang kau lakukan?"


"Bukan urusanmu!" balasku cepat, tersenyum miring kearahnya.


"Kau harus dihukum biar tidak berulah!" sambungku,  bukan hanya sekedar peringatan tapi mengandung ancaman.


"Apa maksudmu" potongnya.


"Sudah jelas. Kau selalu meremehkanku, merendahaku, sangat keterlaluan, Niko!" Ku tinggikan suaraku. "Kau minta maaf pun sudah terlambat"


Mataku menajam kearahnya, bahkan tak berkedip. Bunga kenanga sudah santar tercium memenuhi ruangan, semilir angin berhembus.


Tubuh Niko diterpa, hingga tubuhnya seperti bergetar sesaat, aku bisa melihat hal itu.


Cetek, cetek, cetek,,,,


Tubuhnya terseret dengan sendirinya bahkan terduduk dikursi serta tangan nya terikat dengan sendiri, begitu pun kakinya ikut terikat kencang.


Mulutnya masih bebas untuk bicara, maupun teriak terlebih mengumpatku.


"Kau,,,! Apa yang kamu lakukan padaku? Lepaskan aku,,,!" sentakan berusaha untuk melepaskan jeratannya namun apa yang dilakukannya sia sia. Tentu, semakin dia bergerak maka tali yang mengikatnya makin kencang.


Ku cengkram wajahnya didekat mulut sedikit ku paksa tarik hingga menghadap kearah. Ku tatap tajam, seperti tatapan sang pembunuh.


Niko meringis, menahannya...


"Sakit Niko,,," bisikku, tersenyum penuh misteri.


"Sssiapa kkkau sebenarnya, BBeninggg,,,?" ucapnya tergagap. Membuat ku tersenyum miring.


"Tadi kau meremehku bukan. Aku Bening, anak miskin,,, gembel brengsek yang akan membuatmu kapok, jera, supaya kau tidak menghina orang orang seperti ku lagi. Karena tidak semua orang bisa kau perlakukan sepertiku. Mudah mudahan ini jadi pelajaran berharga buatmu" tandasku. Entah hal itu membuat Niko jera atau tidak. Terlebih keadaannya sekarang dalam keadaan terikat dan tidak mungkin akan bisa terbebas. Seandainya aku jadi orang kejam, atau psikopat, pembunuh berdarah dingin, atau pedofil maka mungkin akan ku preteli satu persatu tubuh Niko untuk pelampiasan hasrat membunuhku. Sayang, aku masih punya perasaan dan hati jadi hal itu tadi tak terpikirkan. Ku balas apa yang mereka lakukan itu saja, tak lebih.


"Cuiihhhh,,, lepaskan aku anjing. Jangan kau sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Kau homo ya, suka laki laki hingga menyentuhku tanpa risih. Sungguh menjijikan" tudingnya dengan tatapan melawan.


Habis sudah batas kesabaranku dibuatnya. Mulutnya terlalu lancang mengataiku sekalipun aku homo tapi aku tidak serendah yang dia tuduhkan. Aku tidak terima!.


"Ternyata mulutmu tidak disekolahkan rupanya" ku cengkram lebih kuat rahangnya, ingin ku remukkan tulangnya hingga mulutnya tak bisa menghina lagi.


"Aaawwww,,,heeeeessssssshhhh,,, Aaakkkkkkk!" ringisnya kesakitan. Mulutnya sangat lancang, tidak memikirkan perasaanku. Tidak seharusnya sembarangan seperti itu menghinaku sesuka hatinya.


Tentu saja keringat dingin merembes dipori pori sekujur tubuhnya. Matanya setengah terpejam merasakan deraan disekujur tubuhnya.


"Bagaimana Niko? Sakit bukan!" cengkramanku sampai membekas.


Air mata Niko sampai keluar bukan karena nangis tapi menahan rasa nyeri juga sakit.


"Ternyata kau orang yang kejam. Ternyata di balik pempilan kalemmu kau seorang berdarah dingin" sindirnya tajam sambil meringis karena tidak bisa mengusap mukanya yang terasa perih. Tentu saja karena berdarah sedikit, tentu nya akan terasa perih.


"Ini juga karena kau. Sikapmu juga Angel, serta Alex yang memulainya terlebih dahulu. Aku tanya satu hal sama kamu, apa kamu akan terima jika kamu dihina, dipermalukan serta dibully, hah"


Niko terdiam, nampak berpikir.


"Jawab! Kenapa diam? Kau bisa jawabkan" sentakku didekat mukanya bahkan nafasku menyapu wajahnya.


Hingga mata kamipun beradu sangat dekat. Niko nampak memperhatikanku intens, aku tak boleh darinya. Aku bertahan dari balasan nya.


"Kau tidak bisa menjawabnya kan. Kau hanya bisa menyalahkan. Kalian orang kaya pikira kita yang miskin tidak punya perasaan apa?" seruku tertahan, membuat hatiku perih, ingin rasanya aku nangis dengan kepedihan yang ku rasakan.


"Bagaimana perasaan mu jika kau di katai homo?. Bagaimana Niko?" seruku dengan suara tertahan. Niko menatapku dengan iba, tapi itu tidak akan merubah keadaan. Hatiku tidak akan mudah luluh begitu saja terlebih untuk membebaskannya.


"Ku akui aku homo, tapi aku buka homo laknat, seperti yang dituduhkan. Memang aku yang menyekap adikmu Alex disini. Karena dia telah keterlaluan menghinaku. Seperti yang kau lakukan Niko" jedaku sesaat, dadaku rasanya sesak karena kesedihan yang ku rasakan.


Niko hanya terdiam tak bisa bicara apa apa. Rasa sakit dari cengkramanku sudah lebih dari cukup yang dirasakannya. Tapi, dia meludahiku juga atas penghinaannya harus dibayarnya mahal.


Bukannya aku membuatnya belok atau apa pun itu karena jika ku beri pelajaran dengan tubuhnya tidak akan ada pengaruhnya dengan Niko bahkan mungkin tidak akan berarti. Aku tidak tahu notabenya Niko, cowok Bisex, mau pun straight.


Rasa sakit yang dirasakannya ku rasa cukup. Kini saatnya hukuman selanjutnya untuknya yang mulutnya lemes kayak cewek.


Ku semakin mendekat kearahnya...


Wajahnya mengisyaratkan ketakutan.


"Apa yang,,, akan kau lakukan Bening,,, hmm,,,?"


Tak ku jawab pertanyaannya, namun sebagai jawabanku yaitu membungkam mulutnya diciuman, bahkan ku tekan, dengan lumatan.


Mata Niko membulat tak percaya dengan apa yang ku lakukan, kalau aku berbuat terlalu jauh. Niko tidak menolaknya.


Lumatanku makin intens, ku kecap penuh rasa, bahkan dengan rakusnya.


Semula mata Niko membeliak tak terima, kaget, atau shock mendapatkan ciuman bahkan lebih dari itu dari seorang cowok seperti ku tidak bakal menyangka.


Sama persis dengan yang ku lakukan pada Alex, setelah cukup lama ku lakukan pada mulutnya membuat Niko terengah engah mengambil nafas, ku lepas, kini leher kokohnya jadi sasaranku. Tububnya bereaksi. Nafasnya makin tersedat tak karuan. Dadanya makin membusung, lalu ku buka kaosnya tersingkap dadanya. Ku elus pelan lalu ku kenyot nippelnya yang kanan, sontak kembali tubuhnya bereaksi kembali, bergantian ku lakukan tubuhnya kelojotan seperti cacing kepasan. Keringat merembes ditubuhnya, nafasnya putus putus dengan dada kian bergemuruh.


"Aaarrgggggghhhh,,, AAHHH,,, jangan siksa,,, aku,,, hahhhh,,," erangnya tertahan tidak kuat menahan gairahnya yang membucah. Karena ku permainkan dadanya, seperti siksaan yang cukup berat menderanya.


"Bangsatt,,, ahhh,,, hen- ti-kannnn,,, hahhhh,,," reangnya sekali.


"Hahhhhhh,,,," desahnya panjang. Tertahan, tubuhnya mengejan hebat, nafasnya tersengal hebat. Setelah itu tubuhnya nampak lemas. Klimaks. Itu baru ku kenyot bagian dadanya Niko sudah crot. Matanya setengah terpejam menikmati sisa sisa kenikmatan yang baru di capainya. Nafasnya sudah mulai normal.


"Bagaimana Niko, nikmat bukan? Pasti kau belum pernah merasa hal hebat seperti itu tadi bukan?"


Tak ada jawaban, hanya kebisuan yang ada. Matanya tidak garang lagi.


Aku tersenyum kearahnya. Ku mendekat, lalu ku lumat bibirnya kembali. Cukup lama bahkan kini Niko lebih agresif, salivapun langsung bertukar bahkan saat ludahku berikan tanpa rasa jijik Niko menelannya.


Diantara sela tukaran saliva dan ku akhiri ciumanku, Niko sempat mengucapkan sesuatu yang membuatku heran, hampir sama apa yang dikatakan oleh Alex.


"Bening, sungguh bibirmu terasa sangat manis, aku belum pernah merasakan bibir semanis bibirmu saat berciuman" aku-nya jujur. Tak ku pedulikan. Karena aku sendiri coba untuk meredakan gejolak yang sedari tadi belum padam.


Cetek, cetek, cetek,,,


Sesuatu terjadi, kini nampak seorang gadis cantik yang tak lain Angel berada didepanku dengan wajah bingung. Begitu pun Niko tinggal bakal menyangka jika aku bisa melakukannya dengan mudah.


Entah pelajaran apa yang akan ku lakukan dengan Angel si gadis lancang. Andai aku cowok normal, sudah tentu aku perkosa habis habisan.


Angel yang baru menyadari keadaan pun nampak kaget luar biasa, terlebih melihat ada Niko tengah terikat kuat kaki dan tangannya dikursi tanpa bisa melepaskannya. Mungkin Angel merasa aneh. Dia juga baru menyadari aku juga berada dekat dengannya.


"Niko,,, kamu kenapa seperti ini?" ucap Angel prihatin. Lalu kearahku, terkejut.


"Kau Bening kan. Kenapa kamu bisa ada disini, apa yang kau lakukan?" tanya Angel tentu saja bingung, juga kaget tidak menyangka bakal ketemu.


Ku tanggapi dengan tersenyum tawar, bahkan belum juga aku membalasnya. Rasa didalam hatiku berangsur angsur mereda. Perasaan yang tadi hampir membuncah kini telah mereda berganti rasa geram yang dalam pada sosok hadir yaitu Angel.


"Kau budek ya, Bening. Aku tanya sama kamu,,," sentak Angel tersulut emosi. Niko cuma diam tak bereaksi karena sudah tidak mau berurusan. Memperingatipun tidak, dibiarkannya saja.


Ku cengkram mulut lancangnya...


"Diam kau gadis lancang! Mulut lemesmu ini bisa ku buat tak berbentuk" ku tarik seperti yang ku lakukan pada Niko.


Tangan Angel seakan mau mencakarku, ku biarkan saja apa yang akan dilakukannya terlebih mau mencakarku dengan kukunya yang agak panjang.


Whuutttt,,,!


Angel terkejut, tidak habis pikir karena tidak bisa mengenaiku padahal jelas jelas sudah tepat sasaran, bahkan cakaran akan dapat melukaiku, itu sudah dipastikan, Angel shock bukan main mendapati hal itu.


Kembali dicobanya, namun tidak berhasil. Bahkan cengkramanku makin kuat, membuatnya meringis kesakitan, air matanya pun luruh.


"Percuma kau menyentuhku Angel. Kau tak kan bisa melakukannya. Sakit bukan" geramku tak tertahankan. Tadi pada Niko sudah ku lampiaskan kini giliran Angel yang mulut lancangnya juga perlu dibungkam.


Kini tangan kiriku mencekik lehernya membuatnya megap megap kehabisan oksigen. Tapi tidak semuamdah itu nyawanya lepas, ini sebagai pelajaran berarti buatnya.


"Heggkkkhhh,,, hhmmm,,," tentu saja nafasnya tersendat. Matanya membulat tak percaya, berbagai cara dilakukannya, mencakar, memukul, bahkan menendang tapi semua yang dilakukannya sia sia. Aku tersenyum mengejek kearahnya.


"Mudah bagiku menghilangkan nyawamu Angel. Tapi aku manusia yang masih punya hati dan perasaan. Jika kau dan juga Niko tidak lancang, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Aku anggap biasa. Tapi, karena tuduhanmu itu, maka aku memberimu pelajaran supaya kau jangan melakukan hal kayak gini selain aku. Kau heran Angel aku bisa datang ke alam mimpi ini. Aku penguasa mimpi. Kau tahu apa yang di alami oleh Ki Ageng Madyo Santoso utusan orang tuamu. Aku telah memberi pelajaran yang setimpal dan membuatnya kapok bahkan tidak akan berani mengusikku lagi, bahkan untuk selamanya. Sedangkan kau, begitu sombong, karena orang tuamu yang kaya. Aku bisa bikin keluargamu jadi gembel seketika, jika aku mau melakukannya. Tapi buat apa? Jika kalian tidak mengusikku, juga adikmu Alex, mungkin aku tidak menyeret kalian diruangan ini. Jika aku tidak menginginkan kalian keluar dari sini maka selamanya kalian tidak akan pernah bisa keluar dari alam mimpi ini. Jika sampai kalian berada disini lebih dari empat puluh hari, nyawa kalian tidak bisa diselamatkan. Didunia kalian akan mati suri. Kalian paham kan mati suri. Tidak perlu ku jelaskan lagi. Itu lah yang kalian alami nantinya" jelasku panjang, pada Angel tentu Niko ikut menyimak dan mendengarnya. Hal itu makin membuat Angel juga Niko ketakutan, terlihat dari raut wajahnya.


"Tenang ya Angel, aku tidak akan melakukan apa apa padamu, hanya saja aku akan membuatmu malu untuk keluar rumah, berada ditempat umum, hal ini pernah ku lakukan pada gadis bernama Raya. Mungkin kau kenal gadis jalang itu, karena apa dia itu lontenya Riko, dulu. Tapi sekarang sudah kapok, setelah ku beri pelajaran. Yaitu,,,"


Tidak ku selesaikan perkataanku.


Ku kendorkan cekikan ku supaya Angel bisa bernafas tidak ingin aku terlalu menyiksanya.


Kukuku kini muncul, tajam, runcing agak berwarna kehitaman. Tentu saja Angel ketakutan setengah mati, terlebih kini tepat berada dimukanya.


"Pertama tidak akan sakit Angel. Nikmati saja,,,"


Angel hanya bisa pasrah dengan aoy yang akan ku lakukan.


"Bening maafkan Angel, jangan lakukan itu, kasihan dia. Dia tidak tahu apa apa" bela Niko merasa kasihan. "Aku yang membuatnya ikut"


"Diam kau Niko, atau kau mau ku hukum seperti Angel juga" bentakku, membuat Niko langsung bungkam. Ancamanku tidak pernah main main, aku tersenyum penuh ejekan.


"Ssseeeetttttt!"


Sayatan tidak terlalu panjang ku lakukan pada pipinya.


"Aakkkkkkkk,,, hhh,,, sakit!" jerit Angel kencang sambil pegangi wajahnya yang terluka cukup dalam dan parah, tapi tidak mengeluarkan darah, hanya membasah. Pastinya menyakitkan.


"Ssseeeetttt,,, sseettt,,,!"


Ku sayat dikedua lengangnya ketika nemegang wajahnya. Kembali Angel menjerit kuat hingga gema suaranya terdengar.


"Hiks, hiks, hiks,,, sakit, ampun. Maafkan aku Bening, aku tidak tahu apa apa, Niko yang mengajakku berkerjasama buat memojokanmu-" isak Angel tak bisa dibendung.


"Terlambat Angel, semua itu tidak ada guna. Kau juga Niko sudah keterlaluan sama aku didepan orang tua kalian. Aku malu, tapi beruntung orang tua kalian baik jadi mereka tidak seperti kalian" potongku karena sudah terlanjur kecewa dengan sikap keduanya.


"Perlu kau ketahui Angel, luka mu itu tidak bisa disembuhkan kecuali aku yang sembuhkan. Kalau kau tak percaya silahkan. Kau pikir, kau akan sembuh dengan cara operasi. Silahkan. Kau akan terkejut lihat hasilnya. Kau akan habis kan uang berapapun maka luka mu tidak akan bisa disembuhkan. Itu bukan luka biasa, karena luka yang kau derita berasal dari dunia mimpi maka sembuhnya juga harus dari sini, ha ha ha,,,"


"Kau kejam Bening,,," isaknya pilu, tidak terima. Tentu saja tidak bisa berbuat apa apa.


Terlebih kedua lengan dan wajah sebelah kanan terluka serta agak berair, mengerikan. Niko yang melihatnya sampai bergidik ngeri, bahkan tak membayangkan rasanya.


"Ckckkkk,,, Angel. Siapa yang telah membuatku seperti ini hah, kalian. Manusia yang penuh kesombongan" hardikku tidak terima.


"Untung aku masih berbaik hati padamu Niko. Aku bisa saja membuatmu cacat permanen" ulasku menatap tajam kearah Niko yang hanya bisa menahan nafas.


Ku rasa sudah cukup urusanku dengan mereka.


Kini, saatnya menghadirkan.....


Cetek, cetek, cetek,,,


"Kakak,,," seru sebuah suara yang tak lain.


#bersambung...


-----------

Sn 04/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.