167. Kebebasan Alex.

 Bab 167. Kebebasan Alex.


★★★.


Tentu saja Alex tidak bakal menyangka jika akan bertemu dengan kedua kakaknya di alam mimpi. Keadaan keduanya tidak dalam keadaan baik. Satunya diikat dikursi yang satunya menangis dalam kesakitan.


"Kak Angel" peluk Alex penuh haru, karena aku agak mundur menjauh. Cukup lama Alex memeluk kakak perempuannya, iba melihat keadaannya. Mukanya yang terluka, nampak memerah lukanya seperti berair bahkan dua lengannya pun mengalami hal yang sama.


"Kak Angel, apa yang terjadi. Kenapa kakak sampai seperti ini? Kakak juga berurusan dengan Bening" lirik Alex sekilas kearahku, menatap penuh haru pada Angel yang masih menangis, menangisi keadaannya juga.


"Ini gegara Niko, aku kena imbas Lex" tuding Angel tak terima.


"Kok lo nyalahin gue Jel" protes Niko tak terima juga.


"Kalau bukan karena lo, gue gak akan keseret seret ama masalah lo Nik" pungkas Angel karena hal sebenarnya terprovokasi oleh Niko.


"Sudah sudah, kenapa kalian malah berantem?. Jelas jelas kalian salah, malah sekarang malah saling menyalahkan" lerai Alex seperti sedikit paham masalah yang terjadi.


"Aawww,,, heessshhhh, aahhhh,,, sakit Lex" ringis Angel tak bisa sembunyikan rasa sakit didepan Alex mau pun Niko. Aku melihat semua itu hanya tersenyum tawar.


"Bening, maafkan kakak kakakku, aku tahu mereka salah, tapi tolong jangan hukum seperti ini. Biar aku saja yang kau hukum, biarkan mereka bebas" mohonnya Alex merasa kasihan dengan keadaan kedua kakaknya yang mengenaskan.


"Mereka keterlaluan Alex, mereka menuduhku tanpa alasan. Sama hal seperti kau, tak punya hati!" seruku keras, suara bergetar.


"Lex ini sakit sekali, panas,,," rintih Angel.


"Tenang kak Angel. Kenapa kakak sampai seperti ini. Kesalahan apa yang kak


Angel lakukan dengan Bening, jelaskan" desak Alex ingin tahu. Alex sudah tahu keadaanku tidak mungkin aku menghukum tanpa alasan yang tepat.


"Ini semua gegara Niko, hingga aku diikutkan. Semula aku tidak setuju, tapi Niko kekeh menuduh Bening, hingga ikut Niko, sampai aku seperti ini. Sakit Lex, aku gak tahan" ringisnya kembali sampai menangis.


Tentu Alex pernah merasakan hal yang sama...


"Baik kak, aku akan minta supaya Bening ngibatin lukamu. Luka ini gak bisa sembuh dengan obat medis, bahkan operasi, karena kita terluka di dunia mimpi bukan di alam nyata"


Mata Angel membulat, tentu saja merasa kaget.


"Kamu pernah ngalami juga, lalu bagaimana kau sembuh Lex, dengan apa?" tanya Angel penasaran dengan yang pernah menimpanya.


"Pernah, sembuhnya dengan ludahnya sang pemilik, rasanya itu perih membuat ku pingsan" jelas Alex, melirik kearahku. Kolornya kedodoran, tanpa baju atas, hingga tubuh nya begitu seksi.


Angel baru nyadari keadaan Alex sama halnya Niko keadaan nya sama, telanjang dada, ada rasa curiga, namun ditepis.


Ia pun hanya menarik nafas berat.


"Ihhzzz,,," Angel bergidik geli membayangkan.


"Kau kira aku akan menyembuhkanmu. Tidak akan ku lakukan!" tolakku tegas terutama pada Angel. Niko untung saja belum ku lukai.


"Kakak kenapa ngomong gitu, kak Angel tidak ingin sembuh. Lihat wajah kakak juga lengan kakak kayak apa?" protesnya takut dengan ku karena belum tentu aku menolongnya karena omongannya menusuk hatiku. Rasanya sulit untuk di maafkan. Aku pun tidak yakin jika mereka berdua kuat jika diposisiku. Dasar orang kaya, cuma ngandelin harta mereka doang. Sungutku tambah kesal.


"Bening, bebaskan kak Niko. Sembuhin kak Angel" harap Alex kearahku.


"Maaf Alex, aku tidak bisa ngelakuin itu. Udah keputusanku. Untuk Niko aku belum bisa bebaskan dari sini. Cuma kalian berdua yang mau ku bebaskan"


"Kenapa kamu tidak bisa nyembuhi kakakku Angel?"


"Ada alasan, biar dia tahu rasanya dipermalukan ditempat umum. Apa dia kuat jika keadaannya seperti itu. Kita lihat saja, nanti. Apa aku akan sembuhkan kakakmu yang sombong kayak kamu itu" sindirku dengan isyarat.


Alex tidak bisa berkata apa apa, karena aku telah menyindirkannya apa terasa.


"Bening maaf kan aku. Lepaskan aku, aku mohon maafkan aku. Bebaskan aku dari sini" mohon Niko yang teikat kuat tak bisa bergerak dikursi, hanya mulutnya yang bebas.


"Hehh,,, wanita arogan, sombong. Aku neg lihat mukamu, pergi kau dari sini,,," seruku lantang. Hal itu membuat Angel kaget, juga bingung.


"Jangan kau kira urusan kita selesai. Tidak. Jika kau mengusikku lagi, aku pastikan kau tidak akan ku maafkan untuk selamanya. Ingat itu" pungkasku dengan tegas.


"Terima kasih Bening, setidaknya kakakku bisa sadar dengan apa yang dilakukannya. Kak jangan lakukan hal hal yang membuat Bening, jika kak Angel lakukan, akibatnya akan FATAL, kak Angel ngerti kan" nasehat Alex, tumben bisa bersikap bijaksana.


"Alex maafkan kakak karena tak bisa membebasku dari sini. Aku tidak akan mengusik Bening, ini semua gegara Niko" tatapnya kearah Niko kesal jadinya terbawa bawa.


"Sudah kak Angel, apa kakak gak kasihan dengan kak Niko, lihat keadaannya. Prihatin kek,,," lerai Alex karena ulah Angel.


Cetek, cetek, cetek,,,,


Sosok Angel tersedot, karena ada angin yang berhembus. Sosok nya menjadi samar lalu lenyap seketika dari tempatnya.


Alex dan Niko menyaksikan hal itu, tidak menyangka aku melakukan hal itu.


"Angel sudah kembali ke alam nyata Alex. Tapi maaf Alex, untuk Niko aku tidak bisa, aku tahan disini dulu" jelasku.


"Kamu ku bebaskan hari ini"


Ku lihat Alex tidak merasa senang, wajahnya masih murung. Mungkin dia merasa kasihan dengan kakaknya Niko tapi keputusanku bulat tidak bisa. Desah berat terdengar, Alex tidak bisa berbuat apa apa terlebih untuk membebaskannya.


"Terima kasih, Bening" ucapnya lirik tak semangat menatapku sendu.


"Besok hari Senin, kau bisa sekolah lagi"


Lagi lagi Alex tidak bersemangat mendengarnya, padahal dulu menggebu gebu minta ingin dibebaskan.   Karena hampir dua minggu terkurung di alam mimpi.


Urusanku juga bukan hanya mereka ada juga yang lainnya.


"Bening, sebenarnya aku memilih untuk disini sebagai ganti kak Niko, bagaimana?" desahnya pelan menatapku penuh harap.


"Tidak Alex, maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Berat bagiku karena urusannya hati juga perasaan ku. Aku tidak bisa"


"Ku mohon Bening, bebaskan kak Niko, orang tuaku pasti sangat sedih karena keadaan kak Niko persis seperti yang ku alami"


"Tidak Alex!" tegasku, ku naikkan suara ku.


Alex terdiam.


"Atau kau mau disini selamanya Alex. Sampai batas yang ku tentukan kamu berada disini, aku tidak akan jamin nyawamu bakal selamat atau tidak" ingatku supaya Alex mengerti, dia mencoba untuk kerasa kepala pada akhirnya nyerah juga.


"Kasihah kak Niko" Alex bersikukuh.


"Ayo ikut aku,,," ajakku, menjauh bahkan sosok Niko tidak kelihatan.


"Dimana ini?" ucap Alex heran.


"Kau tidak perlu heran Lex. Dengarkan aku, kau bisa sembuhkan kakakmu Angel" terangku, mata Alex membulat heran. Aku hanya tersenyum tawar.


"Bagaimana bisa, Bening" kejut Alex tak ngerti. Karena aku lah satu satunya bisa melakukannya untuk nyembuhi Angel.


Sebenarnya aku tidak mau lagi berhubungan dengan wanita yang bernama Angel, perutku mual dengan wanita satu itu. Maka untuk itu ku beritahu caranya pada Alex supaya dia yang ngelakuin karena aku tidak mau berurusan dengan Angel lagi.


"Kesini,,," perintahku. Mau tidak mau Alex mendekatiku. Ku bisikan sesuatu kearah telinganya. Cukup lama, kepala sedikit bergoyang tanda mengerti maksud dari ucapanku yang ku bisikan.


Aku tersenyum setelah pesan ku sampaikan.


"Jadi itu yang harus ku lakukan, Bening?" pungkasnya memastikan.


"Iya,,," jawabku singkat.


"Baiklah. Akan ku lakukan apa yang pinta. Terima kasih, Bening" akhirnya Alex hanya bisa pasrah.


Kini tatapannya intens padaku. Tatapan yang tulus dari hatinya yang paling dalam.


'Maafkan aku Alex, aku tidak bermaksud membuat mu jadi laki laki belok. Terpaksa ini ku lakukan supaya kau melupakan apa yang telah kau rencanakan selama ini. Termasuk untuk membuat cewek dikelasku tidak perawan lagi' bisik batinku miris juga. Tapi apa salah dengan yang telah ku lakukan, sekaligus aku membalas apa yang telah Alex lakukan padaku. Atas penghinaan nya, serta bully-an-nya.


Ku rasakan rengkuhan hangat Alex, memegang daguku. Menatapku lekat. Lekat sekali. Bahkan tak ada jeda sudah dekat hingga ku rasakan hembusan nafasnya yang hangat. Ku pejamkan mataku tak berani lihat matanya yang bak elang, menghujam relung hati.


Ku rasakan kekenyalan bibirnya, hangat, basah bukan itu saja, bahkan kini bibirku ikut basah oleh sapuan kenyal bibirnya.


Lumatannya begitu terasa hingga tanpa sadar mulutku terbuka saat itulah saliva Alex menerobos masuk. Menggelitik. Hingga ku rasakan aliran darahku naik dengan deras diurat urat tubuhku.


Tubuhku bergetar hebat begitu Alex merasakan hal yang sama, seperti tersetrum aliran listrik bertegangan tinggi.


Nafas pun seperti berpacu dengan sendirinya....


Bahkan dengan rakusnya Alex melumat bibirku, memasukan berkali kali salivanya hingga tertaut. Tak ku sia siakan pun aku membalasnya. Nafas menderu serta terputus putus tak dihiraukan. Bahkan nafas seperti berlari ribuan kilo meter.


"Bibirmu manis,,, sekali,,, Bening. Sungguh sangat manis,,," pujinya disela sela deru nafasnya yang kian memburu. Bahkan keringat perlahan lahan merembes dipori porinya. Suasana seperti gerah. Aku juga merasakan hal sama.


"Oughhh,,, aku gak tahan,,," disela lumatannya yang liar, tubuhnya nampak mengejan.


Alex makin melumat ku intens, nafasnya tak terkontrol lagi. Begitu aku juga merasakan hal yang di alami Alex.


Ku beri liurku ditahap terakhirnya. Disaat lenguhan panjang Alex, tak bisa membendung hasratnya yang membuncah.


"Oughhh,,, hahh,,," erangnya tertahan. Dengan memejamkan matanya menikmati masa ejakulasi saat berciuman denganku. Sedasyat itukah ciuman dengan hingga membuat Alex klimaks tanpa bercinta?.


"Hahh,,," ku rasakan juga terpancar dari milikku. Ini rasanya sangat menyenangkan, begitu indah hingga aku merasakan itu begitu cepat.


Cetek, cetek, cetek,,,


Semua telah berakhir...


--------


"Hupfff,,,," ku hempaskan nafasku. Ketika bangun dari mimpiku, ku buka mataku.


Aku merasa kan ada yang berbeda. Aku bisa merasakan begitu dalam ciuman Alex masih sangat terasa.


Ku pegang bagian bawah. Basah. Aku tersipu. Malu rasanya jika ada yang melihat aku mimpi basah.


Biarlah semua ini ku simpan dalam hidupku kalau aku pernah melakukan ciuman dengan Alex begitu nikmatnya di alam mimpi. Aku harus melupakannya. Tak ingin ku kenang.


Ku bergegas untuk mandi pagi buta, ku rasa belum subuh. Masih banyak yang bisa ku lakukan.


Beberapa aku sudah selesai, pun ku lakukan sholat malam sebelum mencapai sholat subuh.


----------


"Terima kasih ayah,,," ucapku, sampai dipintu gerbang. Ayah tersenyum bersahaja. Ku salimi ayahku.


"Jangan nakal ya nak. Yang rajin belajar. Semoga jadi anak yang pinter. Hati hati nak,,, kamu baik baik saja kan"


"Alhamdulillah ayah. Iya aku akan ingat kata kata ayah. Aku gak apa apa, aku bisa mengatasinya,,,"


Ayah hanya mengangguk, mengerti...


"Assalamualaikum ayahku,,," pamitku, melambaikan tangan kearah ayahku masuk ke dalam berjalan santai.


Hari ini hari Senin, tentu seluruh siswa berkumpul di lapangan melaksanakan upacara bendera. Karena jam tujuh berkumpul semua dilapangan. Tapi sejak awal aku tidak melihat Alex. Entah apa dia masuk hari ini atau tidak aku tidak tahu?.


Jam delapan seluruh siswa masuk kedalam kelasnya masing masing...


Tapi sebelum jam delapan dimulai pelajaran masih ada jeda waktu untuk sekedar ngobrol.


Latifah menyempatan menyapaku, seperti biasanya dengan teman temannya satu kelas yang jadi korbannya Alex. Tapi kali ini tidak seperti biasanya mungkin merasa Alex tidak ada jadi mereka bisa bebas berekspresi.


"Bening, benar apa yang kamu katakan kemarin bahwa Alex akan sekolah hari?. Tapi Alex kelihatan gak masuk sekolah. Rasanya mustahoil kalau hari ini Alex masuk. Masa begitu mudahnya Alex langsung sembuh,,," ocehnya tanpa jeda, seakan ngeremehin aku padahal Alex sudah ku bebaskan semalam. Tapi aku tidak tahu apa hari ini Alex masuk sekolah apa tidak.


Bahkan saat berkumpul dilapanganpun tak kelihatan batang hidungnya, tidak kelihatan sama sekali. Aku pun mencari carinya tapi tak ada.


Karena kelas dua belas barisnya jadi satu, maksudku cowok dengan barisan cowok, sedang cewek satu kelompok tidak bercampur.


"Kamu kayak yakin gitu Bening, kayak cenayang aja kamu" imbuh Sarah kurang percaya.


"Benar tuh, kamu palingan ngada ngada" tambah Okta penuh selidik seakan omonganku bohong belaka.


"Iya tuh, palingan nakut nakutin"


"Heran, mimpi di siang bolong"


"Bener tuh"


"Iya, gak ada buktinya"


"Betul, batang hidungnya gak ada"


"Tadi aja gak ikut upacara"


"Mobilnya aja gak keliatan kok"


"Iya bener, biarin aja orangnya kayak gitu selamanya"


"Gue doain selamanya kayak gitu"


"Mampus sekalian tuh orang"


"Gue gedek liat mukanya"


"Gue aja eneg liat mukanya kok, bukan lo aja"


Hujatan kebencian dari mereka yang telah jadi korbannya Alex. Tak bisa ku cegah, aku juga tidak bisa menahannya.


"Kalian kok ngomong gitu. Gak baik. Itu sama saja doain diri kalian sendiri. Kalau itu terjadi ama kalian gimana?"


"Sudah lah Bening, lagian emang gitu kok. Gak ada baiknya tuh orang kenapa harus dibelain" sergah Latifah gak suka.


"Iya,,, buat apa dibelain orang macam itu. Kamu aja kena bully, kamu juga dihina terus, kamu masih membelanya" tambah Okta.


"Heran aku, kamu tuh sudah direndahin sama Alex, aku dilecehin pake ngancem. Kamu masih terima, gitu" cetus Sarah.


"Kalian tidak lihat kesedihan dan duka orang tua mereka, melihat Alex yang gak bangun bangun. Seperti orang yang mati suri. Orang tua mana yang gak sedih dengan keadaan seperti itu, kalian malah mencibirnya" selaku karena mereka masih ribut.


Latifah, Sarah dan Okta juga yang lainnya tiba tiba nangis...


Terutama Sarah dan Okta lebih kenceng.


"Kau tidak tahu bagaimana rasanya dilecehkan seperti ku Bening, hiks hiks hiks,,," ucap Sarah.


"Iya Bening, dia telah menodaiku. Mengancam. Apa yang terjadi sama dia itu belum sepadan Bening seperti dia merenggut kesucianku, hiks hiks hiks,,," dada Okta sampai dipukul pukul.


"Bukan sekali dua kali Bening bahkan jika tidak aku turuti maka dia akan mengancamku menyebarkan foto foto bugilku yang entah kapan dia ambil" tambah Okta.


"Kalau itu terjadi pada keluarga perempuanmu, apa kamu terima hah,,," ucap Sarah dengan terisak.


"Kenapa diam Bening?, kau tidak bisa bicara kan" imbuh Okta berurai air mata begitu pun yang lainnya.


"Kami doain semoga ibumu mengalami apa yang kami alami!" seru yang lainnya seperti mengutukku.


"Maaf,,,!" Ku tangkupkan kedua tanganku, aku juga tak bisa membendung air mataku. Aku tidak bisa berkata apa apa, atas yang menimpa mereka, yang mereka alami sungguh miris.


"Aakkkkkkkk,,,!"


Jerit histeris para cewek sekelasku berbarengan.


Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya?.


#bersambung....


-----------


Rb 05/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.