168. TAK DISANGKA, KESINI.
Bab 168. TAK DISANGKA, KESINI.
★★★
Tentu saja aku yang sedari tadi hanya memperhatikan para cewek kini pun jadi bingung atas ekspresi mereka yang semua menjerit menangis melihat ke satu arah.
Dengan rasa penasaran ku arahkan pandanganku kearah pintu dimana mereka pada melihatnya dengan HOROR.
"ALEX,,,?" gumamku lirih, karena aku sedang duduk santai ditempatku. Entah ada mendengarnya atau tidak.
Seperti biasanya tatapan Alex tajam, arogan serta sombong terkesan macho bahkan berwibawa. Bahkan kumis, serta jambangnya makin membuatnya jantan.
Yang tadinya suasana riuh kini mendadak tenang, lengang seperti ada penampak lewat.
Terlihat jelas wajah ketakutan dari para ceweknya, kalau para cowoknya ada yang tersenyum, nyengir, masa bodo.
Berjalan pun terlihat sangat gagah, melihat keadaan sekitar tak ada yang berani menyapanya.
Sekilas Alex menatapku dan seulas senyum kearahku, itu hanya sepersekian detik, atau itu hanya perasaanku, hal itu membuatku meleleh, makin kagum dengan sosok Alex yang bak Arjuna, begitu membius beda dengan para ceweknya seperti berhadapan dengan algojo yang siap mengeksekusi mereka kapan saja.
Seperti biasa, Alex tanpa ekspresi berjalan kearah meja kursinya, namun arahnya kini beda bukan ketempat biasa yang ada didepanku jarak tiga bangku melainkan mengarah kearahku.
"Boleh aku duduk disini,,," ijinnya tanpa basa basi, belum sempat aku menjawabnya, itu pun Alex langsung duduk bahkan dia tanpa melihat kearahku. Mungkin malu, canggung, atau apalah karena tidak mau menatapku padahal tadi sempat melemparkan senyumnya padaku saat didepan pintu kelas hingga perasaanku jadi adem. Aku sampai memperhatikan sedetail itu pada Alex.
Tak sedikitpun aku meresponnya, bahkan ku lirik juga tidak, aku memilih untuk diam saja, toh hak dia untuk duduk dimana dia mau, sekalipun sudah punya duduk sendiri karena dulunya sangat membenciku kini tiba tiba dekat denganku. Itu suatu keanehan dan pasti akan jadi pertanyaan buat mereka yang melihatnya terutama para cewek. Terlebih namaku pernah tercoreng tentu akan jadi polemik, itu yang ku takutkan. Karena mata dan telinga disini bisa jadi mata mata yang jadi momok.
Tak henti hentinya pandangan mereka mengarah padaku juga Alex dengan pandangan keheranan. Aku tahu tatapan penuh tanya dari mereka.
Sesekali Alex mengedarkan pandangannya membuat mereka jadi kecut tanpa berkutik. Bungkam, bahkan keadaan hening bahkan bernafaspun enggan. Sepertinya memang rasa ketakutan benar benar menyelimuti mereka.
Bahkan saat pak Kiki datang keadaan menjadi hening membuat guru bidang study itupun menjadi keheranan di buatnya. Karena tidak biasanya hal itu terjadi hingga tatapan pak Kiki tertuju pada Alex, senyumnya langsung mengembang, kini beliau mengerti penyebabnya.
Setelah memberi salam, doa dan absen. Kini tatapan pak Kiki kearah Alex. Tentu saja pak Kiki ingin tanya keadaan Alex sebenarnya, kejadian yang di alami.
Dadaku kini berdebar, akan mendengar penjelasan dari Alex, apa jujur atau berbohong.
"Alex, coba cerita sebenarnya apa yang kamu alami,,,?" tanya pak Kiki penuh selidik.
"Menurut orang tuamu kamu mengalami semacam mati suri,,," imbuhnya dengan tatapan tak percaya dengan kehadirannya sekarang terlebih mengenai sakit ataupun penyakit yang dialami oleh Alex muridnya, karena seperti penyakit langka, bahkan untuk obatnya pun belum. Ini sungguh sebuah mukjizat jika Alex sampai bisa sembuh. Bukankah itu hal yang luar biasa.
",,, Saya lupa pak. Saya juga tidak tahu sebenarnya apa yang saya alami sesungguhnya. Karena saya merasa seperti mimpi" jelasnya, seperti menerawang tentang yang di alaminya.
Benar dugaanku kalau Alex bakal berbohong dengan yang alaminya. Aku salut. Sulit dipercaya jika seorang bakal menutupi apa yang terjadi. Bisa saja dia membongkarnya, mempermalukan ku semalu malu, tapi itu didunia mimpi tentu tidak akan ada yang percaya sekalipun aku juga sudah menemui Latifah, tapi itu hanya dalam sebuah mimpi, semua orang, siapa saja bisa mengalaminya, tidak terkecuali.
"Benar itu Alex, kamu tidak berbohong. Bahkan paranormal kondang sampai turun tangan mengatasinya. Tapi sayang Ki Ageng tidak mampu menolongmu" cerita Pak Kiki.
Tentu saja Alex tidak mengetahuinya didunia nyata tapi di alam mimpi Alex pernah bertemu tapi tidak berhasil menemuinya bahkan sampai melukaiku, tapi kini telah ku balas hingga membuat Ki Ageng jera karena aku memberinya pelajaran.
"Entah apa sebenarnya yang kamu alami, Alex?" lanjutnya penasaran terlebih Alex tidak memberi penjelasan atau pun kasih wawasan yang telah terjadi, kejadian yang menimpanya, seperti orang linglung.
Alex langsung menggeleng pelan...
"Saya tidak tahu pak,,," jawab Alex tegas karena itu mengenai dunia gaib, maka lebih baik Alex memilih bungkam tidak menjelaskan karena nantinya akan jadi panjang masalahnya.
Oo, ya sudah. Baiklah sekarang kita lanjutkan pelajaran saja. Buka halaman..."
Pak Kiki pun menjelaskan materinya sebelum di adakan ulangan harian sampai ganti pelajaran sampai jam istirahat.
------------
Seperti biasanya aku pun menunggu ayah untuk menjemputku, entah mengapa tidak seperti biasanya ayah tidak tepat waktu, mungkin terlambat. Sekalipun keadaan belum begitu sepi tapi masih ada beberapa siswa dengan lalu lalang, karena disini ada penjaga kantin juga penjaga sekolah serta petugas kebersihan hingga sekolah elite ini terjaga serta tertata rapi, bahkan keadaan sekolah tidak pernah gelap sehingga tidak ada kesan seram ketika malam berada dilingkungan sekolah, bahkan ku dengar di lingkungan sekolah sering di adakan party bagi para siswanya untuk meraya ulang tahun maupun keberhasilan yang lainnya.
Pikiranku sampai kemana mana...
"Bening, kamu sedang menunggu,,," sapa suara yang sangat ku kenal. Ada perhatian dari nadanya padahal aku tidak pernah berharap bertemu lagi dengannya, tapi ini seolah takdir buatku dipertemukan, padahal tadi dikelas saja tidak ada obrolan sama sekali, menatap pun tidak bahkan saling bisu. Memang terasa aneh, tapi kini terasa hangat. Padahal aku tak ingin perhatiannya, sebisanya ku coba untuk menghindarinya.
Tidak ku jawab, aku memilih untuk diam saja. Menatap pun enggan...
"Kenapa diam?" suaranya sedikit meninggi mungkin jengkel dengan sikapku yang cuek. Sama sekali tak ku tatap.
Bahkan dengan rasa jengkel Alex memegangku kuat membuatku meringis. Ini di alam nyata jadi aku bisa disentuhnya berbeda dengan...
"Bicara, jangan diam saja, atau,,,"
"Atau apa,,,?" sentakku. Alex tak menyangka jika aku bakal melawannya kini terlebih ku edarkan pandanganku tidak ada siapa siapa disekitar, jadi aku merasa aman.
"Gitu dong" Alex malah cengengesan kesenangan.
"Dasar aneh. Gila,,," ku delikan mataku, bukannya takut malah nampak bahagia.
"Bareng aku aja, nanti mampir dulu ketempatku, baru ku antar ketempatmu" tawarnya seperti memang sudah terencana. Mana ayah belum menjemputku membuatku jadi kebingungan sendiri.
Tentu saja diamku berpikir mengenai tawarannya, aku terima atau tidak. Aku bimbang.
Ku lihat jalanan ayah tidak kelihatan, aku makin resah mana jam terus berjalan.
Mana aku jarang bawa hp, nomor ayah lupa, ibu tidak punya hp karena dibawa ayah. Aduh, aku dilanda kebingungan.
"Bisa antar aku ke mushola atau ke masjid, waktunya tidak banyak,,," resahku meminta bantuan pada Alex, bukan karena alasan aku ingin dekat atau caper karena keadaan lah yang terjadi.
"Kalau begitu, ayo,,," ajaknya terlihat senang. Senyum Alex tidak seperti biasanya, lebih bebas tanpa beban tidak seperti saat aku lihat senyumnya dulu, kini lebih tulus serta lebih penuh makna. Atau itu hanya persepsi karena aku kagum pada Alex. Entahlah?.
-----------
Benar ucapan Alex mengantarku di mushola yang terlihat apik sekalipun tidak terlalu besar, terawat bersih.
Untung ada toiletnya, itu alasan utamaku, urine ku penuh harus dibuang. Lega rasanya. Ku ambil air wudhu.
Aku tertegun karena Alex cuma termangu ditempatku tanpa reaksi. Aku dibuat heran dengan sikapnya, cuma diam sesekali menatapku. Karena aku selesai berwudhu...
"Alex ayo sholat berjamaah,,," ajakku karena Alex cuma diam saja dari tadi tanpa reaksi bahkan wajahnya terlihat kecut.
Penasaran...
"Kenapa Alex?, kamu,,," rasanya tak enak juga menanyakan hal ini, tapi Alex sudah dewasa, sudah akil baliq maka wajib baginya untuk sholat terlebih dia seorang muslim tentu akan sangat berdosa tidak jika bertakwa. Bukannya munafik dengan diriku, setidaknya aku tidak meninggalkan kewajibanku sebagai seoran muslim. Aku juga perlu mengingatkan pada Alex sesema muslim. Homo islami. Aku tidak peduli dengan cibiran yang disematkan terhadapku karena ini urusan pribadiku pada sang kholiq. Aku juga tidak tahu nantinya aku ini, seorang hamba yang penuh dosa dan nista masuk neraka atau syurga karena keduanya milik sang pencipta. Ini bukan pilihan hidupku.
"Maaf Bening aku tidak pernah sholat,,," jawabnya seadanya, membuyarkan lamunanku. Jawaban yang sangat jujur dari relung hatinya.
Baru ku ingat ketika aku menemuinya di alam mimpinya kalau Alex belum...
Mungkin itu alasan utamanya menolaknya, dan juga memang benar benar tidak bisa sholat.
"Wudhu bisa kamu kan Al,,,?" tanyaku gugup merasa tak enak takut nyinggung. Bisa saja Alex melakukan sesuatu yang tak ku duga. Marah atau pun memukulku.
"Gak,,," lirihnya. Dengan gelengkan kepalanya.
"Alex kamu sudah akil baliq, itu kewajiban bagi setiap muslim yang beriman. Bukan aku menampik aku baik atau sok suci, bagaimana pun kewajiban tetap suatu kewajiban yang harus kita penuhi dengan sang kholiq. Bukan aku ingin syurga atau pun takut neraka, kalau memang sudah takdirnya aku seperti ini, aku bisa apa. Kita tidak bisa kita menentukan apa nantinya kita masuk neraka atau syurga, itu sudah ketentuan Alloh swt yang tertulis di laukhil Mahfudz" air mataku bercucuran dengan sendirinya. Aku bukan orang suci, juga tidak munafik dengan keadaan ku saat ini kalau aku pencinta jenis. Namun, apa ada yang salah dengan semua ini, ini pilihanku, ku jalani dengan lapang dada. Aku tak tak pernah meminta jika ini bukanlah kemauanku namun bagiku ini harus kujalani. Biarlah, semua kujalani walaupun rasanya itu sangat pahit sekali biarlah semua beban yang kurasakan ini kopikul sendiri.
Seandainya aku harus dihukum karena kesalahanku ini kesalahan Karena aku suka dengan yang namanya seorang yang berjenis kelamin laki-laki di manakah letak kesalahannya.
Air mataku terus bergulir rasanya aku tak pantas untuk melihat dunia yang penuh dengan keindahan ini. Memang benar adanya bahwa pelangi itu indah karena berbagai macam warna jika satu warna itu bukanlah Pelangi.
Dan kehidupan ini sangatlah penuh dengan warna, warna kesedihan warna duka, warna kebahagiaan dan masih banyak warna-warna yang lain hingga kehidupan ini menjadi indah itulah yang dinamakan kehidupan yang penuh dengan warna, Pelangi.
"Apa,,, apakah kau akan menyerah Alex? apa mau jika nanti kamu dimasukkan ke dalam neraka sedangkan dalam usaha kamu bisa mencapai surga" sindirku sambil meleknya dengan tatapan sendu.
"Tentu aku tidak mau namun selama ini aku selalu mengedepankan egoku ketimbang nuraniku, aku terlalu larut dalam kesenangan duniawi sehingga aku melupakan kewajibanmu sebagai seorang muslim. Bening, maafkan aku selama ini aku telah banyak membuat dirimu terpuruk, membolehkan mencibir serta menghina itu kulakukan semata aku senang melihat orang yang aku tindas menderita. Ini aku sadar bahwa semua tindakannya aku lakukan itu adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Ingin rasanya aku menembus semua kesalahan yang telah kulakukan padamu namun rasanya aku malu, malu dengan diriku, sehingga mungkin tak bisa kau maafkan"
"Alex, semua orang berhak untuk dberi maaf jika meminta maaf, aku hanyalah orang biasa begitupun aku tak luput dari kesalahan maupun dosa"
"Aku sadar, bahwa setelah mengenal mu baru ku tahu apa itu hidup sesungguhnya. Terima kasih pening kamu telah memaafkan aku"
"Sudahlah Alex, lupakan. Aku sudah melupakan semua kejadian yang telah menimpaku itu sebuah pelajaran supaya kita tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya"
"Sebisanya, lakukan yang bisa, mencoba itu lebih baik Alex dari pada TIDAK sama sekali" lanjutku.
"Terima kasih Bening, kini mata ku terbuka ternyata kamu sebaik ini. Pandanganmu tentang kehidupan begitu luas, aku salut sama kamu" pujinya.
"Ah kamu bisa Alex, aku cuma manusia biasa yang banyak kekurangannya kok"
"Justru itu yang bikin aku salut sama kamu. He he he...."
"Ini mau ngobrol terus"
"Masyaalloh,,," ucap Alex membuatku tersenyum terkulum. Alex perlahan telah berubah. Semoga kedepannya lebih baik serta menjadi manusia yang benar benar bertaqwa. Amin!
--------
Lagi lagi ku injakan kaki ku dirumah yang begitu besar dan mewah, diberi senyuman oleh satpam yang ramah.
Tak lupa aku memberi salam pada satpam yang ramah, murah senyum.
Ku ikuti langkah Alex dibelakangku, tentu saja ada kejadian yang sangat ku ingat yaitu tentang Angel yang ku lukai serta Niko yang ku tahan didunia mimpi sama halnya seperti Alex, sebagai gantinya.
Hatiku tentu berdebar saat memasuki rumah milik Alex, tentu berbagai pikiran memenuhi otakku, mana aku dalam keadaan berseragam sekolah. Aku juga tidak bawa ganti ganti, untuk itu dipikirkan nanti saja. Kini ku ikuti alurnya.
"Hiks, hiks, hiks,,,"
Ku dengar suara tangisan yang memilukan berasal dari sebuah kamar berada dibawah, ku yakin itu kamar milik Niko.
Pastinya bu Shella sedang menangisi Niko yang nasibnya tidak jauh beda apa yang dialami oleh Alex sebelumnya.
"Mama, papa, kak Angel,,," panggil Alex berseru karena keadaan rumah agak lengang.
Padahal jelas terdengar suara tangisan dari sebuah kamar.
Perlahan Alex dan aku mendekati kesebuah kamar ku duga milik Niko.
Hatiku makin berdebar tak menentu, makin tidak enak saja. Ada rasa takut juga tapi, aku coba untuk tenang.
'Tenang Bening, pasti semua baik baik saja, tidak akan terjadi apa apa. Tenang,,,' itulah sugesti dalam diriku karena debaran hatiku makin berpacu kian cepat, bahkan aku berusaha untuk meredakan dengan menarik nafas serta ku hembuskan perlahan. Sedikit tenang.
Alex sudah tahu yang terjadi, tadi pagipun sudah berbohong entah karena apa.
Apa nantinya Alex dapat berbohong jika orang tuanya tanya. Atau Angel telah menceritakan semua kejadian yang menimpanya, kini di alami oleh Niko.
Saat beranda di depan pintu.
Pass,,,
Danm!?
"Kau Bening!" kagetnya, dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan.
"Mama, papa,,," jeritnya kencang.
Suasana mendadak heboh....
#bersambung...
------
Km 06/10/22.
Komentar
Posting Komentar