171. Perubahan sikap Alex.

 Bab 171. Perubahan sikap Alex.


★★★★


Nafasku terengah bukan karena takut bukan karena gairah. Akan tetapi dengan yang baru saja terjadi itu bukanlah mimpi.


Debaran jantungku belum juga normal nafasku pun begitu.


Kini aku tengah berada di kamarku di paviliun milik keluarga Sanjaya.


Rasanya itulah mimpi buruk yang aku alami.


entah mengapa dalam keadaan sangat genting aku bisa melakukan sesuatu hal yang tak pernah kubayangkan selama ini.


Pikiranku masih saja tertuju padahal yang baru saja aku alami.


Kini aku duduk di tepi ranjang memikirkan hal-hal yang telah kau lewati.


hal yang baru saja aku lalui bersama Alex dan aku tak pernah menyangka jika apa yang kulakukan itu kepergok oleh kakaknya Alex bernama Angel.


Perlahan namun pasti detak jantungku menjadi normal namun pikiranku masih kacau.


'ya Tuhan aku tidak menyangka aku akan mengalami hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Hal buruk. Mudah-mudahan Angel tidak mengingat kejadian itu serta bisa melupakannya' bisik batinku masih memikirkan hal itu.


"Huufffff,,,," ku tarik nafasku ringan kuhempaskan perlahan. Ku enyahkan semua pikiran yang mengganjal itu.


Banyak sudah waktu ku yang terbuang hingga aku sampai melupakan kewajibanku. Ya Tuhan maafkanlah hambaMu telah lalai melaksanakan kewajibanku karena kulihat waktu hampir magrib.


Lebih baik aku membersihkan diriku Karena tadi aku merasakan ejakulasi saat berciuman dengan Alex.


Segera ku bergegas menuju kamar mandi. Namun pikiranku masih tertuju kepada Alex. Dia begitu piawai dalam berciuman karena Alex seorang cowok straight.


Tentulah dalam berciuman Alex pasti ahli serta jagonya.


Kenapa aku sampai terbuai oleh Alex bahkan saat berciuman pun aku dengan mudahnya aku mencapai puncak kenikmatan.


Hal sama pun dialami oleh Alex, dia berkata kalau bibir ku manis ciuman denganku itu begitu sangat menggairahkan dan hot.


Ciumannya begitu melenakan dan memabukkanku, ingin rasanya aku mengulang kembali namun entah esok, aku bisa bertemu dengan dia lagi atau tidak.


Rasanya aku menjadi canggung jika bertemu Alex kembali.


Mungkin hal sama dialami oleh Alex nantinya dia bakal canggung kepadaku.


Kita lihat resep besok bagaimana kejadiannya?.


-----------


Ku berjalan menyusuri koridor yang panjang sebelum sampai di kelasku.


Tentu pandangan setiap siswa akan berbeda ketika menatapku.


Tapi aku enjoy dengan hariku, selama mereka tidak mengusikku maka aku pun tidak akan merasa terganggu.


Namun, gangguanku saat ini pikiranku tertuju pada Alex, ingin aku bertemu dengannya. Aku begitu merindukanya, kangen ingin melihat wajahnya itu saja.


Maka aku meminta ayah untuk mengantarku pagi pagi supaya aku banyak waktu luang untuk belajar karena konsentrasiku nanti akan pecah  jika bertemu dengan Alex. Terlebih lagi, jika nanti sama Latifah dan temen temennya.


Suasana diluar nampak ramai, serombongan cewek kelas dua belas seperti membentuk kelompok mau demo.


Ku lihat hal itu, aku hanya bisa geleng kepala lihat kelakuan mereka.


Sepertinya membuat barisan anti Alex.


Memang mereka bisa apa untuk menghadapi Alex dan ganknya.


Tentu saja aku tersenyum simpul melihat kelakuan mereka.


Padahal ini masih pagi, bahkan mereka sudah pada datang sepagi ini. Ada apa dengan mereka?


"Tuh Bening udah dateng?" sela salah satu temen Latif. Semua mata menatapku karena aku sedang asik belajar tak ingin diganggu.


"Iya tuh, sepertinya lagi belajar"


"Gimana nih, gue takut banget?"


"Betul, waktu kita gak banyak guys"


"Klo keburu dateng, tuh orang, bisa kacau"


"Lo jangan ngomong gitu dong, gue takut taukk,,,"


"Sama. Lagian sih, tuh mereka bertiga, pakek bikin marah tuh bocah"


"Kita bisa ngapain coba, Bening udah gak mau ngomong ama kita"


"Salahin aja tuh Latif, Sarah, dan Okta"


"Heh, kok gue sih" protes Okta.


"Iya, kok gue. Gue gak tau apa apa" timpal Sarah.


"Latif tuh yang selalu bikin ulah ama Bening, pake gosip, nyebarin aibnya Bening segala. Cowok ciuman itu kan lumrah. Pakek lapor ke kantor, urusannya runyam kayak gini" omel Okta kesal.


"Malah lo nyeret nyeret kita Tif, lo kan tau klo waktu itu kita liat, gue liat jelas kok klo Bening itu ciumnya gak sengaja. Pas kita dateng, iya kan guys,,,"


"Betul tuh. Sekarang kita lagi genting, emang lo bisa ngatasin masalah kita ini" sewot Sarah nge-jude Latifah yang sedari tadi cuma diam atas omelan dari teman teman.


Ku lihat mata Latifah mulai berair karena disalahkan terus oleh temen temen nya.


"Seharus lo kudu tanggung jawab, Tif" desak Okta dan Sarah.


"Cengeng,,," bisik yang lainnya.


"Ya, gue akui klo gue yang salah. Gue akan tanggung jawab. Puas kalian!" seru Latifah kemudian duduk dikursinya, menutup wajahnya kemudian menangis sejadi jadi.


"Hemmm,,,!" Ada suara dehem datang dari arah pintu.


Sudah ku pastikan kalau itu adalah Alex yang datang masih agak lagi. Makin aneh kelakuan kelas ku ini.


"Aaaakkkkkk,,,!" Semua cewek jejerit histeris, setelah itu diam tanpa ada suara sama sekali hingga suasana menjadi sangat hening, seperti ada seorang pembunuh berdarah dingin yang lewat.


Huppffff!


Rasanya tenang dan adem ketika suasana seperti ini. Semua muridnya pada duduk manis, diam ditempatnya masing masing.


Padahal saat melangkah Alex pun tersenyum simpul, cool dan macho. Bahkan penampilan nya sedikit berbeda. Makin kelihatan dewasa hingga tampak gagah, berwibawa.


Bahkan saat jalan tatapannya begitu tajam, namun aku tak menggubrisnya ketika melangkah kearahku. Yang lain tak berkutik juga tak berani menatapnya, terlebih bersuara.


Seolah mereka menahan nafas.


"Pagi Bening,,," sapa Alex ramah. Dasar aneh. Nampak menghela nafas berat, menghembuskan pelan. Tatkala ku lihat ada yang nampak aneh dengan Alex.


"Assalamualaikum Al" balasku karena itu lebih baik. Dadaku berdebar aneh. Aku ingat sekali yang dilakukannya, terlebih Alex orang nya tidak terkontrol. Lumatannya masih begitu terasa di bibirku. Aku bisa merasakan semua itu. Aku sama sekali tidak menatapnya karena saat ini aku berusaha menenangkan detak jantungku yang tak menentu terlebih saat ini sangat dekat. Rasanya aku tak bisa mengontrolnya.


"Waalaikum salam" jawabnya tanpa memelankan suaranya. Padahal aku berusaha pelan supaya tidak menimbulkan curiga.


Namun, diantara mereka tidak ada yang berani melihat, rata rata menunduk karena mereka tahu jika bikin ulah, satu kesalahan maka Alex akan turun tangan. Hukumannya mereka sudah tahu sendiri dan merasakan.


"Nah gitu. Kamu muslimkan" sindirku. Terdengar Alex mendengus kesal. Sumpah, ingin rasanya aku tertawa lihat langkahnya.


"Kenapa malah senyum senyum. Mau ku hukum, apa?"


Tidak ku tanggapi ocehan Alex  karena lebih fokus untuk belajar.


"Rajin amat belajarnya,,," sindirnya.


"Baru tahu. Yah, beginilah orang yang nasibnya kayak aku. Kayak aku lho yang notabenya KISMIN-" ku tekan kata miskin tapi tidak terlalu kencang. "Sepertiku harus giat belajar. Aku bisa sekolah disini dengan beasiswa, itu yanh bisa ku andalkan" lanjutku. Mengingat pertama masuk disini banyak yang tak suka.


"Ku ingat pertama kali aku masuk kesini, banyak yang tidak menyukaiku, hampir aku keluar karena gak tahan. Ibu menahanku agar aku kuat" kenangku dulu, mendesah pelan. "Hampir aku dikeluarkan dari sini, itupun bukan kesalahan, itu ulah orang yang membenciku" lanjutku, mengenang dimana aku akan dikeluarkan oleh seorang guru. Dan sekarang mereka sudah tidak ada disini.


Ku hentikan membaca, aku pun tidak berani keras untuk cerita. Kelas pun hening karena mereka duduk tenang  dikursinya masing masing, padahal pelajaran belum dimulai karena kelas belum masuk.  Karena masuknya jam tujuh, pelajaran mulai jam tujuh seperempat.


Tentu saja aku tak bisa menahan perasaanku...


"M-maaf, bukan aku bermaksud membuamu sedih,,," lirihnya, mungkin merasa gak enak dengan yang lain. Sedari tadi aku tidak berani kencang ngomongnya takut kedengaran yang lain.


Aku keget saat Alex memegang tanganku, seketika aku tepis karena aku takut jika ada melihatnya.


"Alex,,,!" sentakku lirih karena aku tidak ingin kena masalah lagi.


Alex pun urungkan niatnya karena aku melotot kearahnya. Dadaku langsung bergemuruh.


"Bukannya aku bermaksud apa apa,,," elaknya. Itu kan modusnya. Dia pernah mengakuinya kalau dekat aku terlebih menyentuhku maka dia akan SANGE berat. Kan aneh. Dasar aneh!.


"Kalau tidak punya maksud lalu apa?. Kau ingin buat aku kena masalah. Kemarin aku hampir kena straf gegara laporan dari siswa, karena aku,,," tentu aku tidak berani mengakui hal itu, terlebih terus terang, cerita ke Alex sendiri.


"Karena apa? Kenapa kamu gak cerita saja,,," desaknya, penasaran. Tentu saja Alex penasaran terlebih aku memberi ucapan yang mengundang tanya. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Alex jika tahu kalau aku pernah mencium Riko ditempat umum tapi itu pyur tanpa unsur kesengajaan.


Hingga aku dilaporkan, serta dipermalukan hingga aku pun bertindak serta mengacam seorang guru melalui mimpi juga ku peringati Latifah serta ku ancam dia kini namaku tidak tercemar lagi, masih beruntung aku tidak dikeluarkan. Namun, jika tindakan itu dilakukan Alex apa hal sama berlaku, aku kurang yakin, dan menurutku itu tidak mungkin.


"Karena hal itu juga aku mau dikeluarkan" lirikku kearahnya menatapku intens.


"Menciumnya tanpa sengaja" jawabku enteng.


Kluukkkk,,,!


Lidahnya kelu, matanya membulat.


_______________


Ku nikmati mie ayam bakso didepanku sendirian, ditemani es jeruk dingin.


Tentu saja serombongan Latifah mengikutiku.


Sepertinya meminta perlindungan, padahal ku lihat sikap Alex sudah berubah.


Mungkin Alex lupa kejadian kemarin hingg aku tidak pernah mengungkitnya.


Rombongan para tidak ada yang berani mendekat, karena aku sudah kecewa dengan sikap mereka, jika pun Alex mau lancarkan aksinya lagi aku juga bakal peduli dengan nasib mereka.


Namun, dari yang ku lihat sikap Alex sudah banyak berubah walaupun masih terlihat arogan serta sok cool didepan umum.


"Hmmm,,, " ada dehem didekatku. Saat aku menikmati makananku.


Dengan santainya Alex duduk didekatku, saat ini sedang sendirian tidak bersama gengnya. Entah pada kemana mereka. Atau Alex melarang mereka. Kejadian yang mirip dengan Riko terulang.


Sedikit ragu, toh kantin ini milik umum siapa saja boleh duduk dimana suka.


"Hmmm,,,"


Dehem nya lagi, seperti cari perhatian. Masih berdiri.


Ku lirik yang lain ada yang memperhatikannya, sikap yang aneh ditunjukan oleh Alex didepan umum.


"Duduk saja, ini tempat umum" ucapku datar masih ku nikmati makanan, jug minumanku.


"Terima kasih" Alex pun duduk dengan wajah ceria.


Sesekali melirik kearahku.


Dasar orang aneh, dikira aku tidak melihatnya. Aku hanya menggeleng dengan kelakuannya.


"Bening,,," sapa seseorang yang membuatku terkejut.


Suaranya tentu menarik perhatian bukan hanya yang lainnya terutama Alex.


#bersambung....


--------


Sl 11/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.