172. Terjadi Pertengkaran.
Bab 172. Terjadi Pertengkaran.
★★★★
Mau tidak mau aku pun menoleh ke arah suaranya. Dugaanku benar bahwa suara itu adalah milik Riko yang terkesan berat.
Bukan saja yang lainnya, tetapi Alex pun menatap sangat tajam ke arah Riko yang baru saja memanggilku.
Suasana yang tadinya agak rame menjadi hening sejenak, ada yang memperhatikan, ada yang cuek, ada yang antusias bahkan juga ada yang berbisik-bisik mereka menatap ke arah Riko.
Tatapan Alex tak pernah beralih bahkan sambil sesekali menyendok pun tatapannya masih mengarah ke arah Riko yang berdiri tanpa ekspresi.
"A-ada apa Riko,,," suaraku tergagap karena aku juga merasa terkejut atas kedatangan Riko.
"Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu" sikapnya masih datar bahkan senyum pun tidak, Riko masih menatapku dengan tatapan intens.
Makanan kupon sudah habis begitupun minumanku tinggal seruputan yang terakhir.
"Ayo ikut aku cepat" ucapnya, seperti tidak sabaran terlebih lagi dengan tatapan Alex yang sepertinya tidak suka dengan Riko.
"Ke mana Riko?" Tanyaku penasaran.
"Nggak usah banyak tanya ayo ikut aku" dengan dengusan seperti kesal.
Bahkan dengan tidak sabaran ketika aku berdiri Alex menarik tanganku dan tergesa-gesa pergi dari dalam kantin membawaku.
Alex yang mengetahui hal itu mengikuti langkahku. Bahkan tidak ada sepatah kata pun yang diucapkannya.
Tentu saja tangan Riko yang menarikku mencengkram sangat kuat dan rasanya nyeri hingga aku sedikit meringis menahannya.
"lepaskan tanganku Riko, malu dilihat orang, apa kamu mau bikin ulah lagi?" Protesku tidak terima atas paksaan yang dilakukan oleh Riko.
"Diam!" dengusnya kesal.
Sambil berjalan masih menarikku dengan kuat bahkan nampak nafas Riko sedikit tersengal.
Hingga pada sampai dipinggir lapangan yang masih agak sepi Riko pun berhenti.
Aku kibaskan tanganku untuk menghilangkan rasa nyerinya dan itu diperhatikan oleh Riko dengan seksama.
"Maaf,,," lirihnya dengan rasa penyesalan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya ku setelah keadaan agak tenang.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindari ku?"
"Apa tidak salah apa yang kamu ucapkan?"
"Sudahlah, aku tak ingin berdebat lagi"
"Aku juga capek" pungkasku karena setiap dengan Riko selalu debat tiada habisnya.
"Bening. Kenapa sih kamu tidak mau ngerti aku sedikit saja?"
"Sudah ku coba. Tapi apa kamu tahu bagaimana perasaanku?. Kamu tidak perlu memaksakan perasaan mu Riko"
"Sekarang kamu sudah punya teman baru, ya"
"Bukan urusanmu, juga kan Riko"
"Kenapa sih selalu begitu?"
"Kamu cemburu Rik"
Riko hanya bisa terdiam. Matanya menatapku tajam, sekilas aku membalasnya.
"Ya aku cemburu, karena aku sayang sama kamu"
"Apa kamu ingin aku bermasalah lagi. Karena kamu aku hampir dikeluarkan?. Karena aku menciummu, itu pun tak ku sengaja"
"Tapi kamu tidak jadi keluarkan"
"Lupakan Rik, aku tak ingin membahas hal itu. Toh aku sudah mengancam pak Lucky"
"Apa yang kamu lakukan pada pak Lucky?"
"Apa penting buat Rik?"
"Lupakan. Kalau pun kamu mau cerita sedikit"
"Aku tak ingin membahasnya lagi, Rik. Aku cuma mau tanya satu hal. Apa kamu tahu kalau Raya punya hubungan dengan Angga?"
"Aku cuma dengar dengar saja. Tapi aku yakin kalau Raya masih ada rasa denganku. Tak mungkin Raya bisa melupakanku"
"Kenapa kamu tidak mencobanya lagi dengan Raya, toh kamu masih suka kan dengan Raya" pancingku ingin tahu reaksi Riko.
Riko nampak mendengus kesal. Masih berdiri hingga aku pun berinisiatif buat duduk di kursi panjang di bawah pohon rindang yang telah tersedia. Riko mengikutiku.
"Nanti malam ada waktu gak?"
Setelah ku rasa nyaman, itu aku tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Dan ku yakin kini Latifah juga yang lainnya tidak bakal kepo lagi.
"Belum tahu,,," jawabku singkat.
"Mau kan kamu ku ajak nonton bioskop lagi"
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku, karena aku tak ingin kejadian yang tidak mengenakan terulang lagi.
"Pasti kamu ingat kejadian dulu ketika pertama kali kamu dan aku nonton bioskop"
Ku anggukan kepala, karena hal itu tidak mau lagi nonton ataupun pergi sama Riko karena selalu ada kejadian yang menyakitkan.
"Kalau gak nonton apa kamu mau ikut"
"Ku pikir pikir, kayaknya gak. Karena setiap pergi denganmu selalu timbul masalah. Selalu saja ada masalah yang tak terduga. Jadi maaf aku tidak mau lagi pergi denganmu"
Riko nampak kecewa karena bujukan untuk mengajakku pergi gagal karena setiap aku pergi jalan dengan selalu terjadi masalah.
"Aku pastikan kali ini tidak akan ada masalah lagi, aku jamin"
"Kalau gak mau,,,"
"Ku paksa!"
"Sudahlah Rik, kamu gak usah usik hidupku lagi. Sudah cukup masalah yang ku hadapi. Aku lelah"
"Baiklah, jika kamu gak mau, mungkin ini akan membuatmu mengerti-"
Entah apa yang direncana Riko setelah ini. Padahal aku sudah tenang dengan hari yang ku jalani. Kini, hidupku terusik kembali.
"Oo,,, rupa sang biang kerok" datanglah Alex dengan wajah membesi.
Waduh!
Bakal akan ada pertengkaran terjadi ini.
"Hey,,, jaga mulut lu bro!" seru Riko tak terima dikatai biang kerok oleh Alex.
"Lu kira kita tidak ada urusan bro" balas Alex.
"Mungkin kata kata gue ini bisa nyadarin lu, telah buat kesalahan ama gue" sambung Alex. Masih berdiri disamping Riko. Mungkin juga Alex dengar apa yang tadi ku ucapkan pada Riko karena cukup kencang, pasti jika ada yang datang dengar begitupun Alex.
"Lu kan yang nabrak gue, hingga gue hampir koit".
"Kenapa lu gak mati aja sekalian? Dari pada hidup lu cuma gangguin Bening, mengusik hidupnya"
"Masih ngeles juga lu. Kurang ajar" dengus Alex emosi.
"Gue gak akan takut sama lu" tak mau kalah.
"Keluarga gue akan laporin lu ke polisi" tuding Alex makin meluap emosi.
"Gue gak akan takut. Lu gak punya bukti Alex" cibir Riko merasa diatas angin.
"Ada buktinya" sahut Alex cepat.
"Ada saksinya, kasihan lu Alex" ejek Riko makin menjadi.
Aku yang dengar sampai sebal dibuatnya.
"Lu pikir gue gak ada saksi. Denger baik baik, Latifah sama Bening saksi yang bikin kuat, ha ha,,,"
Aku gak bakal menyangka jika aku sampai terseret masalah mereka. Makin rumit saja, nantinya masalah yang ku hadapi.
Bagaimana ini?
"Banyak bacot" seru Riko maju, mencengkram krah Alex.
Tentu saja Alex tak tinggal diam karena sudah tahu kalau Riko yang menyebabkannya luka cukup parah dan harus transfusi. Hampir kehilangan nyawanya.
Perkelahian tak dapat dihindari lagi oleh kedua cowok yang banyak di idolakan cewek cewek di Permata Bangsa.
Duel keduanya pun tak dapat dielakan lagi.
Dug, dug, dug...
Bug, bug, bug....
Des,,,, bug,,,, deg,,,
Mereka saling pukul balas pukul, saling tendang, ribut sendiri. Hanya ku saksikan perkelahian keduanya. Hitung hitung lihat tontonan gratis gak bayar dikala istirahat, terlebih perutku kenyang, bikin hati gembira menyasikan duel seru.
Tentu saja keringat membanjiri tubuh keduannya, malah kedua terlihat seksi dan macho sekali dalam keadaan berkeringat.
Murid murid berdatangan melihat perkelahian keduanya yang seru, hingga keadaan di pinggir lapangan makin rame. Tak ada yang melerai mereka dibiarkan babak belur dengan muka meewkay yang tadinya ganteng, berubah bonyok bonyok, belum lagi darah disela bibir serta dari luka yang mereka alami.
Rasanya sudah puas melihat aku pun perlahan meninggalkan tempat itu dengan tubuh perlahan transparan dan itu tidak banyak yang tahu karena aku tak ingin dapat masalah, terseret masalah keduanya.
"Berkelahilah kalian berdua"
Blippp....
#bersambung....
----------
Sl 11/10/2022.
Komentar
Posting Komentar