173. Pengakuan yang sangat mengejutkan.

 Bab 173. Pengakuan yang sangat mengejutkan.


★★★★


Keadaan kelas masih lengang karena saat jam istirahat jadi semua pada keluar kelas. Ku nikmati waktu kesendirianku.


Walaupun hatiku tidak tenang, karena pertengkaran yang terjadi antara Alex dan Riko. Masalah yang klasik hingga jadi pemicu perkelahian diantara keduanya.


Mendingan aku membuka buku untuk belajar.


Namun beberapa saat kelas pun mulai ramai karena waktu istirahat hampir habis.


"Iya, ya gue ngerasa aneh kenapa sampai terjadi duel"


"Tapi, seru juga"


"Tapi kasihan sih gue"


"Buat apa?"


"Masalah gak jelas"


"Gue lihat langsung kelahi gitu kok"


"Iya, itupun gue gak tau dari awal"


"Seru abis"


"Hus, ngawur, klo lu yang kayak gitu, yahok lu. Mau,,,"


"Ogah,,, lagian Alex songong"


"Eleh beraninya juga dibelakang, coba didepannya, lu pasti dihajar habis habisan"


"Lu tuh pengencut"


"Lu juga sama ngatain gue juga, gak ngaca"


"Liat Alex sama Riko tadi seru"


"Mata lu soek. Lu seneng banget liat penderitaan orang lain"


"Biarin. Orang nya juga kayak gitu"


"Tadi kayaknya di bawa kekantor guru"


"Iya gue liat kok. Kayaknya sama pak Lucky"


"Eh, pak Lucky kenapa ya wajahnya diperban gitu?"


"Gue juga kagak tau"


"Kayak meringis gitu. Kasihan juga"


"Lagian beberapa hari ini juga gak pernah masuk kekelas kita"


"Iya ya, gue baru nyadar".


"Ada apa ya?"


"Gue gak tau"


Kelas pun masuk dan seluruh siswa pada duduk dikursinya masing-masing.


Tapi guru bidang study belum juga masuk.


Alex belum juga masuk, mungkin dapat peringatan keras oleh guru bk.


Sampai beberapa saat barulah Alex nampak batang hidungnya bersama guru study hingga kelas langsung hening seketika.


__________


Entah mengapa akhir akhir ini ayah datang terlambat menjemputku. Ingin ku tanyakan hal itu tapi aku jarang ada kesempatan buat ngobrol sama ayah, walaupun banyak kesempatan jika aku datang ke post.


Karena kesibukan diri sendirilah aku sampai mengabaikan hal itu.


"Mas Bening,,, nungguin pakde ya,,," panggil seseorang yang tak lain Putri adanya.


"Bener. Gak tahu kok belum datang Put, gak biasanya telat" balasku mendesah pelan. "Biasanya kalau kayak gak datang. Mungkin lagi sibuk,,,"


Aku jadi teringat dengan Riko mungkin di ancam oleh Alex. Bisa saja hal itu terjadi mengingat tadi Riko seperti tak suka dengan Alex. Bisa ku lihat serta ku rasakan hal itu. Segala jadi rumit sekarang. Andai saja aku sekolah sudah lulus mungkin aku akan tinggalkan kota ini. Ingin ku lupakan semua kenangan pahit yang ku alami.


Ayah mungkin di larang Riko untuk menjemputku serta di ancam.


"Kerumah aku saja mas, karena dirumah aku sendirian. Ada hal ingin ku bicarakan dengan mas Bening" Putri mengedarkan pandangan seperti takut takut gitu, atau mungkin ketahuan. Entah apa yang menjadikannya seperti itu, waspada.


"Mas bisa ikut kerumah. Ayolah mas Bening ikut, ya,,, ya,,," mohon Putri sambil edarkan pandangan. Bernafas lega, menatapku, kini.


"Tapi aku gak bisa nginap Put" kilahku karena aku memang tak ingin nginap.


"Gak apa apa. Mas datang aja membuatku senang kok" senyum Putri nampak mengembang.


"Yeeeyy,,," Putri bersorak girang.


Mendadak wajah berubah?


"Alex, Riko,,," ucap tertahan hingga aku pun melihat kearah yang dilihat oleh Putri.


Tentu saja aku jadi tak enak. Terlebih mengingat kejadian dilapangan saat istirahat. Sungguh memalukan kelakuan mereka berdua seperti anak kecil.


"Bening,,,," sapa keduanya hampir bersamaan.


Tatapan Putri mengarah padaku, penuh tanya.


"Mas Bening mereka berdua kok bersikap aneh gitu ya,,," ucap Putri agak gugup. Mimiknya kelihatan sekali. Terlebih saat menatap Alex, tampak begitu aneh sekali. Tapi, aku tidak mau ambil pusing. Begitu pun sikap Riko terlihat aneh juga.


"Putri, kamu belum pulang?" Datang seorang cewek yang tak lain Raya. Sikapnya begitu baik ke Putri. Tapi tatapan berbeda melihat kearah Riko.


Hadeh, makin pusing saja aku melihat sikap orang orang di sekitarku.


"Belum Ray. Aku mau ajak mas Bening ke rumah,,," terang Putri hanya diberi anggukan oleh Raya.


"Ooo,,," balas Raya tersenyum ramah pada Putri.


Tanpa menatap kearah Riko seakan cuek. Begitu pun Riko sepertinya tidak peduli dengan Raya. Dasar aneh!?.


"Ray, gak main kerumah" ucap Putri seperti ada sesuatu yang sengaja dikatakan oleh Putri.


"Mungkin malam minggu" balas Raya enteng.


"Bening main kerumahku yuk. Mama sama papaku ingin ngomong sesuatu sama kamu. Katanya penting" kini Alex yang ngomong. Itu cuma akal akalan Alex atau memang orang tua Alex ingin bicara hal penting padaku.


"Bening, kamu pulang sama aku saja. Tadi paman Rohman sudah pesan sama aku supaya ngajak kamu pulang bareng" desak Riko tampak bersungut.


Benar dugaan ku kalau Riko telah merencanakan semuanya. Hingga ayah tidak datang menjemputku, ternyata ini bagian dari rencana Riko.


Memang pada aneh semua. Harus ku pilih siapa, Putri, Alex atau Riko.


"Put, ayo pergi,,," ajakku pada Putri ku putuskan untuk pergi dengannya selalu ada pertengkaran.


"Bening,,," seru keduanya hampir berbarengan.


Namun aku berjalan beriringan dengan Putri tidak menghiraukan keduanya lagi.


Untuk beberapa saat dari keduanya tidak ada yang menyusulku baik Alex maupun Riko. Aku menjadi agak lega dan tenang terlebih kini aku berjalan menyusuri trotoar bersama dengan Putri menuju ke rumahnya.


Tentu saja aku dan Putri merasa lelah karena berjalan hampir setengah jam lebih dari sekolah menuju ke rumahnya Putri.


Rumah nampak terasa sepi dan lengang tadi aku juga tidak bertemu dengan Angga apakah Angga sudah pulang atau belum.


Walaupun kita satu sekolah tapi belum tentu kita akan bertemu karena memang lokasinya yang berbeda-beda. Bahkan untuk urusan jurusan IPA atau IPS para siswa memilih sendiri.


Bahkan sampai aku menunaikan kewajibanku pada Tuhan aku pun tidak melihat batang hidung Angga apakah Angga pulang atau tidak. Kalau tidak pulang ke mana perginya Angga.


kini aku dan Putri duduk santai menatap TV yang menampilkan acara yang begitu sangat membosankan diputar salah satu stasiun TV swasta yang terkenal dengan gosipnya sesekali aku coba untuk memperhatikan acara TV tersebut namun tetap aku tidak fokus karena aku ingin mengetahui sesuatu hal yang tadi akan disampaikan oleh Putri yang menurutnya itu sangat penting.


Di meja ada es jeruk dingin serta camilan namun aku tidak terlalu menghiraukannya Karena bagiku aku tahu apa yang ingin disampaikan oleh Putri itu sudah membuatku  kepikiran lagi.


"Put katakan apa yang ingin kamu katakan padaku" desakku karena aku tidak sabaran dan aku ingin pulang. Aku juga kepikiran tentang ayah terlebih Riko melakukan tak terduga.


"Sabar mas Bening, rilex nanti juga ku katakan, nikmati dulu. Mas Bening gak buru burukan. Sekalian nunggu mas Angga pulang" Putri seperti mengulur waktuku.


"Ayolah Put, perasaanku gak enak tentang ayahku, kau tahu Riko seperti apa"


Nampak Putri berpikir sejenak...


"Baik, mingkin mas Bening tak percaya, Alex itu pernah menemuiku, katanya ingin jadi,,,"


Putri seperti berat mengatakannya. Dan lagi lagi mengenai Alex lagi.


Mana Riko tidak suka sama Alex serta ingin membunuhnya, kini Putri malah berhubungan dengan Alex.


"Katakan Put, ada apa memangnya dengan Alex, apa yang mau kamu katakan?" Tentu saja aku dibuat penasaran.


"Kamu ada hubungan dengan Alex ya Put?" tebakku karena wajah Putri nampak berubah seketika.


"Katakan Put, apa benar dugaanku kalau kamu ada hubungan dengan Alex" desakku karena Putri hanya termenung.


"Benar, aku ada hubungan dengan Alex, tapi sebatas teman, tidak lebih. Aku sudah mengenal Alex karena aku sering bertemu. Bahkan aku juga pernah datang ke rumah Alex ketika Alex sedang sakit aneh"


Aku terkejut mendengar pengakuan Putri bahwa Putri begitu mengenal Alex.


"Sudah sejak lama sebenarnya Alex ingin meminta maaf sama mas, tapi aku tahu kejadiannya kayak apa sehingga Alex mengalami hal seperti itu"


"Kamu menyukai Alex, Put?"


"Entahlah mas, aku masih ragu tentang perasaanku"


"Dengar Put, Alex itu itu maniak, dia orang yang gak baik. Berhati hatilah. Aku takut kamu jadi korbannya"


"Untuk itu aku berjaga jaga mas. Karena memang sudah banyak korbannya"


Hening sejenak...


"Tapi ku lihat sikap Alex banyak berubahnya"


"Itu menurutku Put, aku tidak ingin terjadi apa apa sama kamu"


"Terima kasih perhatiannya, mas. Aku akan dengar kata kata mas Bening"


"Kamu saudara perempuanku, aku tidak mau hidup hancur, nantinya"


"Aku ngerti mas. Namun, satu hal yang sampai kini jadi ganjalan, mas Angga menjaling hubungan dengan Raya, dulu pacarnya Riko"


"Jadi benar Angga menjalin hubungan dengan Raya?"


Putri mengangguk membenarkan....


Kenapa semua malah runyam gini.


"Lalu, apa Riko tidak tahu hal itu?"


"Entahlah?, mas Angga juga gak pernah cerita. Hanya saja mas Angga sering jalan kok sama Raya" jelasnya Putri.


"Apa mungkin Angga cuma di manfaatkan oleh Raya?, secara ku yakin Angga bukan typenya Raya, karena aku tahu betul Raya cinta banget sama Riko. Raya begitu terobsesi sama Riko"


"Lagi mas Angga juga jarang di rumah, sering ngeluyur, itu pun di ajak oleh Riko"


"Kayaknya Riko punya rencana lain deh"


"Maksudnya apa mas?"


"Entahlah?  Tapi aku ngerasa kalau Riko merencanakan sesuatu. Dan aku juga tahu kalau Alex itu begitu membenci Riko. Bahkan keduanya sampai berkelahi. Kamu tahu, yang menabrak Alex dan hampir kehilangan nyawa itu akibat ditabrak Riko karena ada dendam"


"Dendam?"


"Iya dendam, gitu"


Hampir saja aku menjelaskan pemicu terjadi balas dendam Riko pada Alex tentu aku akan sangat malu jika Putri sampai masalah sebenarnya.


"Put, aku harus pulang, sudah sore. Nanti ibu dan ayah mencariku"


"Nginap sini aja mas"


"Terima kasih Put, kapan kapan aja"


Putri tak bisa mencegahku...


"Salam buat Angga, terima kasih infinya. Hati hati dengan Alex, dia cowok berbahaya,,,,"


Aku pun pamit, menuju kedepan karena kalau hari menjelang sore ada angkot lewat karena untuk kerumah Riko cukup lumayan jauh.


Putri mengatarkan sampai Angkot datang. Dimana saat itu Angga baru pulang, dan ku lihat bersama Raya.


"Mas,,," panggil Angga. Saat angkot telah jalan. Aku hanya melambai kearahnya.


________


Terkejutnya aku ketika membuka pintu, karena tidak ada balasan salamku hal itu membuatku heran biasanya, saat seperti ini orang tuaku sedang berjamaah Asar.


Ibu sedang menangis, karena air matanya terus mengalir sementara ayah hanya tertunduk lesu, ikut bersedih, kentara sekali mimik wajahnya tak bisa disebunyikan.


Namun, apa sebenarnya terjadi hingga orang tuaku sampai sesedih ini.


"Ibu kenapa menangis?" tanyaku agak bingung melihat ibu seperti. Tak ada jawaban dari ibu, ayah pun sama hanya terdiam tak bersuara.


"Ayah apa sebenarnya yang terjadi, kenapa ibu dan ayah bersedih seperti ini?" seru ku tertahan, aku juga merasa sedih melihat keadaan kedua orang tua.


Ibu terlihat menghela nafas dalam dalam, begitupun juga ayahku sama.


"Sebenarnya apa yang terjadi, ibu, ayah?" ulasku sekali lagi karena sikap keduanya seperti anak kecil. Apa begitu sulitnya untuk menerangkan sebenarnya apa yang terjadi.


Ayah manatap ibu, sepertinya meminta supaya Ibu pula yang menjelaskan masalah apa yang mereka hadapi.


Namun itu terasa  sulit buat mereka...


sekali lagi aku ingin berteriak supaya mereka menjelaskan apa gunanya yang terjadi...


"Nak,,, hiks,,, hiks,,, hiks,,," isak ibuku terbata. Saya akan mengumpulkan segala kekuatan yang dipunyainya.


"Dengar nak kamu jangan terkejut bila mendengar semua yang nanti Ibu katakan" sejenak Ibu menghela nafas dalam dalam setelah itu menghempaskannya  perlahan.


Air mata ibuku merupakan tak terbendung lagi....


'apa sebenarnya yang terjadi sehingga mereka terlihat begitu sedih?' bisik batinku, menatapi satu persatu ikut merasakan kesedihan walaupun aku belum tahu kebenarannya.


"Tenang nak" ayah menengahi karena aku tidak sabaran ingin mendengarnya.  Berkali-kali ayahku menarik nafas pelan, menghembuskan perlahan seperti menahan sesuatu beban yang sangat berat di hatinya.


"Dengar nak, sebenarnya ayahmu,,, hiks, hiks, hiks,,," kembali ibu terisak pilu, semakin deras air matanya bercucuran.


"Bu,,,!" pekikku tertahan.


"Ayahmu akan dikeluarkan dari sini, nak. Hiks, hiks, hiks,,,," ibu makin histeris nangis. Ayah tak sanggup membendung air matanya.


"APAAA,,,,?"


Tentu saja aku tak dapat percaya dengan pernyataan ibu yang begitu mengejutkanku.


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana cerita sebenarnya? Pikiran itu menggelayuti otakku.


Ya Tuhan!


Belum selesai masalah satu timbul masalah yang lain.


Apa yang harus aku lakukan?


"Ya Allah, bu. Kenapa bisa seperti itu Bu, ayah?"


Saat ku pandang ibu, Ibu hanya bisa menggeleng. Cucuran air matanya sangat deras begitupun ayah, ketika aku mamandangnya hal sama pun terjadi, ayah juga ikut menggeleng, sepertinya orang tuaku tidak bisa menjelaskannya.


"Bagaimana ceritanya bu? Kenapa ayah akan dikeluarkan? Apa ayah melakukan kesalahan berat sehingga ayah kena hukuman seberat ini?. Bilang Bu, jangan diam saja Ibu jangan hanya menangis air mata tidak akan pernah menyelesaikan masalah"


"Ayahmu tadi dapat telepon dari den Riko. Den Riko bilang jika kamu tidak pulang hari ini maka ayahmu benar-benar akan diberhentikan, ayahmu tidak akan bekerja lagi di sini. Itu juga berlaku untuk paman. Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu ada masalah apa kamu dengan Den Riko. Karena den Riko begitu marah pada ibu dan ayahmu"


"Ak- aku,,, ? entahlah bu? masalahnya terlalu rumit" aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan dan memulainya dari mana karena semua masalah itu bermula pada Riko sendiri.


"Tadi den Riko berpesan pada ibu jika kamu sudah kembali kamu harus menemui den Riko. Den Riko sedang menunggumu. Jika kamu punya kesalahan kamu minta maaf, kasihan ayahmu jika sampai tidak bekerja lagi di sini, ayahmu akan kerja di mana, kamu tahu kan nak, cari kerja di Jakarta ini sangat sulit sekali terlebih mencari majikan seperti orang tua den Riko" ibuku mulai agak tenang mungkin apa yang disampaikan ibuku harus aku lakukan aku harus meminta maaf dariku supaya orang tuaku jangan ikut sertakan dalam masalah ku dan masalahnya karena ayahku tidak tahu apa-apa begitupun juga dengan ibuku. Kenapa Riko sampai menyeret kedua orang tuaku ke dalam masalah ini, itu antara aku dan Riko saja.


"Iya, bu aku akan menemui den Riko"


#bersambung....


_________


Rb 12/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.