174. Harus diselesaikan.

 Bab 174. Harus diselesaikan.


★★★★


Riko sampai menyeret kedua orang tuaku ke dalam masalah ini, itu antara aku dan Riko saja.


"Iya, bu aku akan menemui den Riko"


_________


Setelah ku mandi serta menyelesaikan kewajibanku sebagai muslim aku pun bergegas kerumah besar guna untuk menemui Riko rasanya aku tak sabar ingin mengetahui penjelasannya mengapa ia ingin mengeluarkan ayahku. Rasanya ini sulit dipercaya bahwa ayahku tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun karena ayahku hanya bekerja sebagai seorang satpam. Atau mungkin Riko punya alasan yang lain sehingga ingin mengeluarkan ayahku. Atau ini berhubungan dengan Riko ketika di sekolah? Hal itu bisa saja terjadi mengingat Riko waktu itu sangat marah padaku.


Aku menyusuri jalan yang telah tertata api aku tahu rumah ini sama bagusnya dengan milik keluarga Alex namun rumah milik keluarga Alex lebih besar begitupun juga halamannya hampir sama dengan milik keluarga Riko.


Hatiku makin berdebar tatkala aku berada di ambang pintu depan karena biasanya aku langsung nyelonong masuk dari pintu belakang itupun karena Riko ingin cepat aku menemuinya karena kalau aku tidak cepat-cepat maka dia akan marah dan tahu sendiri kalau aku marah.


Ketika aku salah dan pintu terbuka kulihat ada kedua orang tua Riko yang sedang santai menatapku dengan senyum ramah.


?Eh nak Bening, ayo masuk Riko ada di atas sedang menunggumu?" ucap Bu Shela dengan ramahnya.


"Ayo nak Bening masuk" ulas pak Remond memperlakukan sama seperti anaknya sendiri baik juga ramah walaupun di usianya yang menginjak umur 50 tahunan, namun pak Remond tetap ganteng dan gagah serta macho.


Rasanya tidak ada kecanggungan lagi di hatiku dengan keluarga Sanjaya, sikap orang tua Riko begitu baik dan ramah seperti ketika waktu aku pertama kali menginjakkan kakiku di rumah keluarga Sanjaya ini. Pikiranku bernostalgia mengingat kejadian yang telah berlalu.


Bahkan tak segan aku menyalimi tangan mereka seperti layaknya orang tuaku sendiri, itu karena kebaikan keduanya padaku menganggap aku seperti keluarganya sendiri.


Dan yang paling ku sukai dari kedua orang tua Riko mereka selalu tersenyum ramah, seperti tidak membedakan kasta ataupun strata ekonomi orang yang diajaknya bicarabaik itu miskin ataupun kaya kedua orang tua Riko tidak membedakan itu semua bahkan dianggapnya sama saja, mengapa aku begitu senang berhadapan dengan kedua orang tua Riko.


"Permisi Bu Pak saya mau menemui Riko dulu" pamitku pada kedua orang tua Riko, aku pun mengulas senyum ramah di hadapan keduanya.


"Iya nak bening" balas bu Shella tetap dengan senyum ramah.


Aku pun berlalu menuju ke kamarku yang berada di lantai 2.


Lamat-lamat aku masih mendengarkan bincang-bincang kedua orang tua yang sepertinya sedang membicarakan diriku juga Riko sepertinya aku mempunyai feeling yang tidak enak namun sudahlah kalau memang nantinya aku harus pergi dari sini maka dengan lapang dada aku akan menerimanya dan mungkin juga kedua orang tuaku pun akan pergi dari rumah ini. Yang terpenting bagiku bibi dan pamanku jangan sampai istilahnya dipecat dari sini dan jika hal itu terjadi maka akulah orang yang bersalah dan sangat bersalah jika hal itu sampai menimpa paman dan bibiku maka aku tidak akan memaafkan diriku.


Pikiranku begitu berkecamuk, rasanya begitu banyak masalah yang kuhadapi. Terlebih lagi masalah yang saat ini akan kubahas dengan Riko dan jika sampai hal yang ku pikirkan terjadi aku tidak tahu lagi nasib paman dan bibirku apakah keduanya akan terseret dalam masalah ku. Dan hal yang sebenarnya terjadi adalah masalah Antara aku dan Riko saja sedangkan baik paman dan pipiku ataupun orang tuaku mereka tidak mengetahuinya namun Riko selalu membawa membawa mereka dengan masalah yang terjadi antara aku dan dia.


Ku ketuk pintu perlahan aku tahu Riko pasti mendengar karena dia sedang menunggu di kamarnya, rasa hatiku juga tidak enak, namun semua itu kustepis sambil ku ucap salam Karena itu adalah bentuk suatu penghormatan jika di dalam ada penghuninya.


Perlahan pintu kamar  terbuka, sesaat, aku disuguhi oleh pemandangan yang tak biasa, walaupun itu adalah hal yang sering dilakukan oleh Riko. Namun tetap saja hal itu membuat jantungku berdetak lebih cepat, dadaku bergemuruh.


"Silahkan masuk" sikap sengaknya kembali. Dia hanya menatapku sekilas lalu membalikkan tubuhnya, karena hanya memakai celana pendek saja. Bisa ku lihat punggung lebar. Rasanya nyaman buat bersandar, memegang pinggangnya dari belakang, serta ku lihat bebuluan dikaki yang tumbuh subur. Pikiran jorokku mengarah kemana mana hingga tak terasa benda milikku pun menjadi tegak sendiri. Jika Riko melihatnya tentu saja aku akan malu.


'Ayolah Bening sadar diri dong kamu, kamu itu siapa? sebentar lagi ayahmu akan dipecat dari sini, kamu masih memikirkan ingin bercinta dengan Riko' bisik batinku melihat Riko aku jadi terangsang sendiri. Namun pikiran yang nista itu aku tepis dari otakku supaya aku tidak terlalu kepikiran.


"Heh manusia bloon masih saja kamu bengong di situ mau ngapain kamu ke sini kalau cuma hanya berdiri di situ balik sono" sikap sengak masih saja nempel, bikin tensi darahku jadi naik. Kalau tidak mengingat nasib ayahku juga paman dan bibiku tentu saja aku ogah menemuinya.


"Kamu pikir kamu siapa presiden. Jika tidak ada hal yang penting yang ingin kukatakan, mungkin aku tidak akan ke sini untuk menemuimu, dasar manusia songong, arogan, sombong,,," balas ku tak terima dengan perlakuannya karena aku datang ke sini dengan baik-baik. Tapi sambutannya padaku tidak baik, bikin aku kesel saja.


"Berani ya kamu sekarang" seperti suatu ancaman bagiku.


"Kamu pikir aku takut" itupun sambil kulangkahkan aku masuk ke kamarnya.


"Tutup pintunya" tegasnya, tapi belum ku lakukan.


"Masih bantah lagi. Tutup ya tutup gitu aja protes" sepertinya Riko tidak suka aku membantahnya maka dengan hati dongkol aku menutup pintunya.


"Sekalian dikunci" perintahnya. Pikiranku langsung jadi tak enak sepertinya Riko memang ada something padaku. Pikiranku langsung ke mana mana namun apapun yang terjadi nantinya akan aku hadapi. Aku sudah siap dengan segala hal yang akan terjadi padaku.


Riko duduk di pinggir bad dengan santainya, menjuntaikan kedua kakinya ke bawah serta menatapku dengan intens bahkan ada senyum tipis di bibirnya. Rasa curigaku ku tak bisa toh hariku tidak akan berani macam-macam padaku.


Namun walaupun seperti itu tetap saja hatiku berdebar-debar terlebih melihat senyumnya,,,


"Kenapa masih diam, apa yang ingin kamu katakan?" Tetap saja sikap sombongnya masih melekat di dirinya.


"Aku juga tidak mau lama-lama di sini meladeni mu, lebih baik aku di kamar saja" aku masih berdiri ditempatku, tidak terlalu jauh dari Riko duduk.


Riko hanya terdiam tidak menanggapiku namun dia selalu saja melirikku, sikapnya masih tetap tenang, ekspresinya juga terlihat biasa seolah tidak ada masalah yang terjadi.


Akulah yang berinisiatif karena jika tidak aku yang mengatakan maka masalahnya tidak akan pernah selesai.


"Benar kamu akan memberhentikan ayahku bekerja di sini?.  Apa kesalahan ayahku? ayahku tidak pernah mengetahui masalah kita berdua namun kenapa kamu menyeret ayahku ke dalam masalah kita"


"Apa kamu mau berdiri saja di situ jadi patung" ucap Riko dengan menatapku dengan geli atas kebodohanku sendiri.  Bukan menanggapi pernyataanku malah membahas hal lainnya tidak terlalu penting. Namun benar juga ucapannya karena lama-lama berdiri kakiku jadi pegal, namun jika pun duduk aku harus duduk di mana, karena letak kursinya agak jauh, sedangkan aku ngobrolnya harus dekat,  itu rasanya tidak etis jika ngobrol dengan jarak yang agak jauh.


"Kenapa selalu kamu mengancamku apa tidak ada hal lain selain ancaman?" dengus ku kesal.


"Kamu tidak memberiku pilihan hanya itu yang bisa kulakukan"


"Maksud kamu apa? aku tidak pernah memberimu pilihan. Pilihan apa maksud kamu? Lama-lama aku jadi stress menghadapimu Riko"


"Sudahlah, kamu jangan tegang seperti itu. Ngapain kamu berdiri terus di situ apa nggak capek?" Riko selalu saja mengalihkan topik pembicaraannya yang bikin aku keselel karena tidak pada intinya.


Mau tidak mau karena kakiku rasanya sudah pegal maka aku pun duduk menjaga jarak dengan Riko. Kini aku duduk bersampingan dengannya. Riko hanya melirikku saja, namun aku tidak pedulikan hal itu.


"Nah gitu kan lebih santai, daripada berdiri terus. Kan capek. Slow aja nggak usah tegang" ucapnya santai kini posisinya menghadap kearahku. Lagi lagi senyum coolnya dipasang membuatku makin grogi.


Rasanya sudah cukup lama aku tidak bersama Riko seperti ini pikiranku langsung bernostalgia kembali. Kemasa di mana aku selalu bersama Riko di kamar ini. Sudahlah itu hanya sebuah kenangan dan kenangan itu pasti akan menghilang.


"Bening,,," lirihnya. Karena aku larut dalam pikiranku bahkan tidak konsen kalau sedang berada dikamar bersama Riko berduaan. Terlebih aku cuek tidak menghadap kearahnya.


"Kalau ada orang ngomong ditatap kek, bukannya seperti itu. Kalau kamu ngomong di cuekin, gimana perasaanmu" Riko tersinggung dengan sikapku karena apa, namun karena hatiku serta jantungku tak karuan, aku berusaha untuk menenangkannya.


"Iya, aku tahu. Gitu aja marah, dasar temperamen!" Kesalku.


"Jawab pertanyaanku. Apa benar kamu memberhentikan ayahku?" Ulasku karena aku tahu.


"Menurutmu,,,"


"Aneh?" Malah tanya balik ke aku, pada hal itu keputusannya, juga urusannya.


Kemudian...


"Ha ha ha,,,,," Riko malah tertawa girang.


"Memangnya ada yang lucu" ucapku makin dingkol.


"Kalau kamu gak ngomong, lebih baik aku pergi dari sini. Percuma ngomong sama orang sinting"


"Kamu nyindir aku, kalau aku gila"


"Lha terus,,,"


"Baik,,,"


"Apanya?"


"Kamu sudah nyinggung aku. Maka aku putus untuk,,,," Riko jika punya kehendak pasti tidak bisa dicegah.


Tok, tok, tok,,,


Pintu kamarnya diketok dari luar, entah siapa yang menganggu, tentu saja Riko mukanya langsung kesal.


"Siapa sih yang ganggu, acara ku lagi seneng seneng,,," gerutunya.


'What? Apa maksudnya seneng seneng. Aku lagi dilema coy, karena mau dengar putusannya. Nasib ayahku dipertaruhkan' bisik batinku.


Ternyata yang ngetuk pintu bibiku...


Dengan muka kesal Riko berdiri menatap bibiku Rosmalia tajam.


"Ada apa bi Ros, ganggu aja. Cepat kata kan jangan bikin aku marah. Moodku lagi gak baik. Bibi tau kan jika marah bagaimana?" pungkas Riko dengan muka kesalnya.


"Iya den, bibi tahu. Bibi minta maaf, karena tadi dapat pesan dari mbakyu Khatijah suruh nyampaikan pesan, kalau temannya Bening datang kemari, semarang sedang berada di paviliun" terang bibiku dengan wajah ketakutan dibawah tekanan Riko. Yang melihat nya jadi kasihan. Kini sikap Riko sepertinya telah berubah.


"Siapa namanya bi Ros?" Tekan Riko mendadak tegang. Aku yang dengar anteng anteng wae. Namun, aku juga penasaran.


Namun hatiku jadi berdebar tak menentu. Lalu siapa yang mencariku sampai ke rumah Riko. Apa dia nekad?


"Siapa namanya bi,,,?" Teriak Riko kencang.


#bersambung....


---------


Ikuti kisah selanjutnya "Kejutan biang masalah besar"


Km 13/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.