175. Kejutan biang masalah besar.
Bab 175. Kejutan biang masalah besar.
★★★★
"Siapa namanya bi Ros?" Tekan Riko mendadak tegang. Aku yang dengar anteng anteng wae. Namun, aku juga penasaran.
Namun hatiku jadi berdebar tak menentu. Lalu siapa yang mencariku sampai ke rumah Riko. Apa dia nekad?
"Siapa namanya bi,,,?" Teriak Riko kencang.
--------
Mata Riko mendelik hal itu malah membuat Bi Ros makin gemetar ketakutan ketika Riko marah.
Terlihat bibir bi Ros susah untuk ngomong karena suara Riko kencang, bukannya bisa konsen malah tambah grogi.
Aku pun datang mendekat, Riko masih bertelanjang dada padahal kalau keluar rapi banget kalau rumah malah kayak dihutan, jarang pakai baju atau pun kaos. Kadang aku heran sendiri dibuatnya.
"Bibi,,," tatapku membuat bibiku supaya lebih tenang.
Riko nampak bersungut karena bi Ros malah diam gemetaran.
"Siapa yang mencariku bi?" tanyaku lembut, Riko menatapku juga juga masih ingin dengar. Tatapan yang aneh, dia pikir aku lembut pada bibi. Beliau bibiku aku menghormati yang lebih tua dariku. Ingin aku memarahi sikapnya Riko. Tapi, sikap Riko tensinya lagi naik jadi untuk saat ini aku memilih mendiamkan nya dulu, kalau tidak ada bibiku sudah ku balas Riko.
Bibiku nampak menenangkan dirinya, tatapannya nampak ketakutan.
"Tidak tahu namanya, karena bibi baru melihatnya. Mbakyu tanya juga tidak mau ngaku den Riko. Bibi undur diri" pamit bibiku masih dengan rasa takutnya.
Tentu saja pikiranku dipenuhi rasa penasaran...
"Sekarang bagaimana Rik?"
Kini ku minta pendapat Riko, karena tadi belum ada keputusan.
"Aku penasaran siapa orang yang mencari mu sampai kesini,,,?" Riko terlihat kesal. Masuk kedalam lalu mencari sesuatu karena menuju ke lemari. Ku perhatikan sikapnya.
"Cari apa? Kau seperti itu juga bagus, kok" ledekku, tersenyum miring.
"Kau malu keluar dalam keadaan setengah telanjang, hanya pakai kolor doang. Toh, kamu sering lakukan itu didalam rumah. Jikapun kau tak punya malu mungkin akan telanjang, gak pakai apa apa" tantangku lagi. Kali ini Riko mendengus. Tersenyum penuh arti tidak jadi mengambil pakaian.
"Baiklaj, siapa takut. Mungkin kau senang melihat tubuhku tanpa penutup, iya kan,,," kedipnya dalam penuh kemenangan. Ku akui tubuh cukup bagus, beda tipis dengan Alex. Kalau suruh memilih mungkin aku tidak akan bisa. Kemaruk. Mungkin itu yang tepat buatku.
Riko mengambil kaos, namun tidak di pakaianya melainkan di sampaikan di bahunya. Tersenyum miring penuh arti. Riko benar benar menerima tantangku, pasti nantinya akan ada masalah untuk itu, karena aku telah memberinya tantangan.
Aku pun berlalu dan bergegas keluar, diikuti Riko dibelakangku.
Sama halnya aku, Riko juga sangat penasaran.
Hari akan mendekati senja, hingga ku lihat keadaan diluar nampak begitu indah. Karena di cakrawala berubah jingga.
Tak ada pikiran apa apa yang terlintas saat berada diluar menikmati hari senja yang begitu indahnya. Inilah keindahan yang nyata yang Allah ciptakan. Hingga aku berdoa dalam hati mengagungkan kuasa Illahi. 'Robbana ma kholakta hadza bathila subhanaka waqina 'adzabannar, amin!' senyumku mengembang.
"Kenapa senyum senyum, mulai gila kau ya" sindirnya. Riko tidak tahu apa yang ku rasakan.
"Apa kamu pernah bersyukur dengan apa yang nikmati dan saksi, seperti suasana jingga yang indah ini?" ku ajukan tanya padanya. Nampak Riko mengernyitkan dahi. Aku yakin tidak pernah melakukannya.
Tanpa disadarinya Riko menggelengkan kepalanya.
Aku hanya bisa tersenyum, simpul bukan bermaksud menghina.
"Manusia tidak pernah bersyukur!" tandasku. Memilih untuk diam hingga tak terasa sampai didepan paviliun.
Riko nampak biasa dan tenang.
Tak terlihat orang yang dimaksud, ayah tidak ada tentu telah berjaga, sementara ibu mungkin masih disini karena sebentar lagi juga ke rumah besar untuk beberes, lalu kesini lagi.
"Assalamualaikum,,,," salamku karena pintu tidak dikunci sedikit terbuka.
Riko masih saja santai berdiri didekatku, terkadang senyum gak jelas. Ihh,,, dasar sinting' pikirku. Namun, tidak ada ucapan.
"Waalaikum salam" balas suara lembut ibuku. Nampak keluar, terlihat begitu tenang, walaupun nampak terlihat kesedihannya. Karena memikirkan tentang nasib ayah.
Seluet, nampak dibelakang ibu, entah siapa itu aku belum paham.
Pastinya Riko juga melihatnya karena tampak terlihat rasa penasaran diwajahnya. Kaos masih tersampir dibahunya.
Tak ada pesan dari wajah ibu, hanya tersenyum bersahaja, lembut menenangkan itulah ketika ku tatap ibuku.
"Nak, ada yang mencarimu?" ucap ibu, mimiknya mengisyaratkan kalau ada seseorang didekat.
Belum terlihat wajahnya...
Aku makin penasaran dibuatnya, begitu juga dengan Riko...
"Siapa sih orang itu?, songong banget!" sungut Riko kesal, terlihat emosi.
"S-siapa bu,,,,?" Mendadak hati berdebar hebat. Entah mengapa hal itu terjadi?.
"Ini aku,,," orang itu muncul dari belakang ibu memperlihatkan dirinya.
"Haahhhh,,,?" Aku mangap.
"Kamuuuu,,,,?!" seru Riko seakan tak percaya dengan orangnya.
"Al- lexxxx,,,?" ucapku terbata. Tak percaya jika yang memcariku sampai disini.
"Berani kau kesini! Apa maumu,,, hah,,,,?!" geram Riko mengepalkan tangannya, tubuhnya bergetar hebat menahan amarah.
Riko maju kedepan, tubuhnya gemerta menahan emosinya yang meluap.
Aku sudah tidak dapat berkata apa apa. Pikiranku langsung mengembara, mengingat ketika berada di alam mimpi. Ciumnya, ucapannya. Semua berputar putar di otakku.
"Memangnya kenapa? Masalah buat kamu. Orangnya saja gak masalah,,," ucap Alex terdengar mengejek.
"Kau,,,,!" geram Riko lagi.
Padahal keduanya sering bertengkar tidak jelas. Entah apa yang mereka perebutkan serta bersitegang seperti itu?.
Alex dengan berani melangkah keluar, ibu terlihat memberi ruang buat lewat.
"Memangnya kenapa? Ada masalah. Aku kesini bukan untuk menemuimu, aku cari Bening" ucapnya lancar, seakan tidak ada pengaruhnya dengan Riko yang sedang gemetar tubuhnya karena geram.
"Ini rumahku, tidak ada hak buat kamu datang kesini?" balas Riko tambah geram karena sedari tadi mengepal.
Aku hanya diam melihat keduanya...
Ibu sudah tentu ketakutan, diam ditempatnya, tubuhnya gemetar karena ada pertengkaran didepan paviliun. Melerai pun tak bisa ibu lakukan tidak daya apalagi membela salah satunya.
Ibu mungkin sudah tahu tentang Alex, dan mungkin juga Alex telah banyak cerita pada ibu karena ibu nampak khawatir melihat kearah Alex terlebih ini lingkungan rumah Riko.
"Memang ada masalah. Aku juga tidak ingin melihatmu,,,! Tujuanku buat menemui Bening,,," tegas Alex tak merasa ada salah.
"Aku tidak mengijinkanmu datang kesini lagi, tahu,,,,!" bentak Riko, geram.
"Hebat sekali kau ya, melarang seperti itu. Aku tidak peduli..."
"Ooo,,, ternyata berani kau ya,,,"
"Apa yang ku takutkan?. Kau bukan apa apa buat aku, Riko"
Dengan geram Riko maju, lalu mencengkram krah Alex karena Alex mengenakan baju pendek warna krem serta celana pendek selutut warna hitam.
"Ternyata tidak bisa dibilangi dengan mulut. Terpaksa,,,!"
Bugh,,,
Akkkhhhh,,,!
Bugh,,,
Hegkkk,,,,
Perkelahian keduanya tak bisa dihindari. Tentu aku tidak berani melerainya karena mereka saling pukul, tendang dengan sengit. Walaupun tidak punya ilmu silat tapi tetap pukul serta tendangan keduanya sangat mantap.
Akh terbengong ditempatku tidak bisa berbuat apa.
Ibu pun juga sama dengan ku tak jauh beda. Malah wajahnya ketakutan, meleraipun tidak mungkin malah nanti kena damprat Riko, makanya lebih baik diam. Sudah kenal Alex pun tak berani memperingatinya.
"Siapa kau berani lancang dengan den Riko,,,!" Menggelegar suara paman Syarif memberi peringatan.
Paman Syarif langsung melerai, memisahkan keduanya. Terutama Alex yang langsung memitingnya.
Karena paman Syarif seorang scurity pasti paham teknik melumpuhkan lawan, karena sudah sangat berpengalaman, bertahun tahun bekerja sebagai penjaga dirumah Riko.
"Aaaghhhh,,,!" ringis Alex tampak kesakitan. Tangannya dipelintir kebelakang saat akan memukul pamanku, dengan gesit ditangkap hingga Alex tak bisa berbuat apa apa.
"Kalau bikin keonaran, lebih baik kamu pergi dari sini anak muda!" sentak paman Syarif bringas.
Mendorong Alex supaya berjalan. Dengan meringis jalan karena dibelakang didorong paksa oleh pamanku.
Jalan dari sini ke arah depan cukup lumayan.
Tak terasa aku mengikuti mereka. Langkahku tertahan.
"Mau kemana kamu Bening?" seru Riko bertanya.
"Bukan urusanmu!"
Aku pun bergegas menyusul Alex yang digiring paksa pamanku.
#bersambung...
________
Km 13/10/2022.
Komentar
Posting Komentar