176. SUNGGUH KASIHAN.
Bab 176. SUNGGUH KASIHAN.
★★★★
Jalan dari sini ke arah depan cukup lumayan.
Tak terasa aku mengikuti mereka. Langkahku tertahan.
"Mau kemana kamu Bening?" seru Riko bertanya.
"Bukan urusanmu!"
Aku pun bergegas menyusul Alex yang digiring paksa pamanku.
__________
Hingga akhirnya aku bisa mengejar Alex dan pamanku memaksa Alex yang masih digiring paksa tangannya dipelintir kebelakang.
Aku tidak tahu apa Riko dan ibu mengikuti seperti yang ku lakukan. Aku merasa kasihan sekali dengan Alex.
"Paman, berhenti,,, tunggu sebentar,,," ku coba untuk hentikan langkah paman supaya menghentikan aksinya.
Paman mendengar ku menghentikan geraknya.
"Ada apa Bening?" tanya paman, masih bersikap lembut menanggapinku.
"Tolong lepaskan dulu paman, kasihan temanku,,," pintaku pada paman karena melihat Alex yang babak belur tapi tetap merasakan kesakitan.
Dengus pelan terdengar, perlahan paman melepas pitingannya pada tangan Alex yang meringis dari awal digiring.
Kasihan sekali melihat aku melihat, wajahnya udah babak belur karena perkelahiannya dengan Riko, ditambah paman menyakitinya, seakan lengkap sudah deritanya.
Kini sudah dekat post penjaga, hingga Alex nampak bernafas lega, menatapku seperti biasa begitu dengan tatapannya kearah pamanku seperti tak biasa.
Syukurlah Riko dan ibu tidak mengikuti ku mungkin lukanya diobati oleh ibu karena aku lihat lukanya harus diobati biar tidak infeksi karena itu akan sangat berbahaya buat Riko.
Namun aku juga merasa kasihan melihat keadaan Alex yang wajahnya juga memar serta ada darah yang sudah mengering di sudut bibirnya aku takutnya kalau tidak diobati akan menimbulkan infeksi.
Untuk hal itu aku abaikan sejenak karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Alex.
Aku juga merasa tak enak dengan dengan pamanku yang menatap Alex dengan bringas dan tajam.
"Alex sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mau cari gara-gara, mau kamu sok jagoan. kamu baru saja berkelahi dan kini kamu berkelahi lagi, coba lihat keadaan kamu babak belur seperti itu kalau kamu tidak cepat diobati maka takutnya nanti akan infeksi" jelas ku demi melihat keadaan Alex yang tentunya pengobatan.
Namun seolah Alex mengabaikan apa yang dirasakan, itu menurutnya hanya hal yang biasa.
Padahal ku tahu terkadang Alex nampak menahan nyeri di wajahnya dan juga di sekujur tubuhnya.
"Cepat ngomong setelah itu kamu pergi dari sini!" sentak pamanku karena nantinya takut timbul masalah baru karena Alex masih ada di sekitar rumah majikannya.
Alex seolah tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh paman, dia malah sering menatapku walaupun terkadang senyumnya agak dipaksakan.
"Paman,,," kucoba untuk menahan supaya paman jangan terlalu emosi maka aku memberi sedikit pengertian padanya.
"Paman, ini Alex namanya, dia temanku satu kelas di sekolah Permata bangsa. Alex juga mengenal Putri. Putri sempat cerita ke saya kalau punya seorang teman yaitu Alex, benarkan itu Alex?"
Ku arahkan pandanganku sejenak kearah Alex, Alex hanya mengangguk lemah.
Wajah paman yang semula beringas kini nampak melunak bahkan ada senyum lembut di wajahnya.
Kurasa pamanku sekarang mengerti bahwa Putri begitu mengenal Alex. Namun tugas tetaplah tugas, maka Paman harus menjalankan sebaik-baiknya tugas yang diberikan padanya yaitu sebagai security di rumah keluarga Sanjaya.
"Paman harap kalian cepat ngomongnya setelah itu kalian cepat pergi dari sini kalau tidak nanti saya akan kena marah sama Riko ataupun tuan Mahendra" jelas pamanku karena dia tahu resiko yang harus ditanggungnya jika tidak bisa menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Suara adzan sudah berkumandang itu tandanya waktu maghrib telah tiba, hatiku semakin tidak enak terlebih lagi pamanku juga akan bergantian jaganya dengan ayahku.
Aku pikir tadinya ayahku ada di post jaga saat pamanku membawa Alex menuju ke arah depan, namun nyatanya ayah tidak terlihat sama sekali, entah ke mana ayah pergi atau mungkin ada keperluan yang lain sehingga beliau tidak ada di pos jaga. Atau mungkin saat tadi rame-rame ayahku sedang di dapur lagi makan sore.
"maaf Bening bila kamu terseret seret dalam masalahku, sebenarnya aku ke sini hanya untuk menemuimu membicarakanlah satu hal yang penting sama kamu tapi karena keadaan tidak baik maka untuk saat ini aku tidak ingin bicara lagi, mungkin besok kita akan bicara lebih leluasa di sekolah kalau kamu ada waktu. Aku pamit terima kasih atas perhatianmu"
Setelah mengucap tersebut Alex pun berlalu keluar dari area rumah keluarga Sanjaya. Namun sekilas Alex menatapku sejenak dan di saat itulah ayahku datang dari arah belakang menyentuh bahuku sehingga membuatku agak terkejut kalau ayahku juga ikut memperhatikan Alex yang tengah melambai ke arahku.
Paman hanya terdiam termangu di tempatnya tidak ada alasan buat paman untuk memarahi Alex lagi. Mungkin paman malu kalau dia telah memarahi Alex dan Alex itu adalah teman dari putrinya.
"Bening sampaikanlah rasa maaf paman pada nak Alex, bukan Paman bermaksud untuk memarahinya tapi Paman menjalankan tugas di sini dan jika Paman tidak melakukan tugas dengan baik maka kamu tahu sendiri akibat apa yang harus paman terima"
Belum juga aku jawab pernyataan Paman ayahku menyela....
"Siapa Dia nak?" Terlihat sekali wajah ayahku begitu penasaran karena hanya melihat pungggungnya mungkin wajahnya hanya sekilas.
"Dia temanku ayah namanya Alex, dia menemuiku ke sini, ingin menjelaskan sesuatu akan tetapi terjadi salah paham antara den Riko dan Alex, sehingga terjadi perkelahian. Paman yang melerainya sehingga Alex belum sempat menjelaskan dan dia sekarang telah pergi"
Tentu saja aku diliputi rasa bersalah dan juga rasa takut jika nanti Riko akan memberhentikan ayahku kerja di sini. Walaupun terlihat ayahku nampak tenang namun aku tahu ada rasa kekhawatiran yang beliau rasakan. Karena berkali-kali ayah nampak menghela nafas berat itu pertanda kalau hatinya sedang diliputi oleh masalah yang berat. Sebisanya aku membantu namun keputusan itu berada di tangan Riko, dan juga bapaknya Riko bapak Mahendra dan ibu Kinasih.
"Kelihatannya dia anak yang baik,,," desah ayahku sedikit ringan.
Tidak kelihatan batang hidungnya Alex. Sudah pergi karena tadi aku keasikan ngobrol sama ayah dan pamanku.
"Iya, orang memang baik" balasku. Menyembunyikan tetang kejelekan Alex selama ini dihadapan orang tuaku. Terlebih pamanku tidak tahu sama sekali kalau Alex itu sangatlah berambisi.
Terlebih lagi masalah Putri kenal dengan Alex paman Syarif tidak tahu sama sekali.
Aku tidak tahu bagaimana sikap paman Syarif jika tahu kalau Alex yang baru saja di pitingnya itu mengenal putrinya.
Suara adzan sudah berlalu, angin mulai berhembus dingin.
"Ayah sudah sholat" pertanyaan klasik karena tidak mungkin terjadi karena ku tahu ayah. Hanya untuk menghilangi kejenuhan.
Ayah nampak tersenyum. Merasa lucu dengan pertanyaan yang ku lontar.
"Ayah aku permisi dulu. Paman,,," ku salimi ayah dan pamanku. Aku pun berlalu dari post menuju kepavilun.
Pas sampai aku berpas pasan dengan ibu.
"Ketemu ayahmu nak,,,"
"Iya bu, di pos"
"Oh. Bagaimana keadaan temanmu, nak?"
"Sudah pulang" tentu aku tidak menjelaskan keadaannya. Karena ibu sudah tahu bagaimana keadaannya.
"Alex anak yang baik"
Nampak ibu berpikir. Pikirannya menerawang.
Sesekali tampak menarik nafas lirih...
"Bu aku mau sholat,,,"
Karena waktunya sangat mempet sekali.
"Iya, nanti selesai shalat ibu tunggu,,,"
Ibu tidak menjelaskan, namun aku merasa jika ada hal penting yang akan di katakan.
Ku sempatkan untuk menoleh saat aku berjalan...
"Bagaimana keadaan Riko, bu?"
#bersambung....
---------
Jm 14/10/2022.
Komentar
Posting Komentar