177. Bebasnya Niko Andrean.

 Bab 177. Bebasnya Niko Andrean.


★★★★


Ibu tidak menjelaskan, namun aku merasa jika ada hal penting yang akan di katakan.


Ku sempatkan untuk menoleh saat aku berjalan...


"Bagaimana keadaan Riko, bu?"


---------


Tak ada jawaban dari ibu, sekalipun ku tutup pintu, mungkin nanti setelah ku tunaikan kewajibanku pada sang Pencipta.


Rasanya aku kini lebih tenang, walaupun tadi aku sempat menekan pikiranku supaya tidak memikirkan masalahku dulu.


Ku temui ibu, seperti sudah menantiku...


"Tadi ibu sempat mengobati den Riko sambil cerita sedikit tentang Alex, tujuannya"


"Bagaimana tanggapannya bu?"


"Ku lihat biasa biasa saja"


"Sebenarnya aku punya urusan dengan Alex bu, karena dia telah membullyku, hingga ku balas"


"Kamu lakukan apa pada nak Alex, nak?"


"Ku kasih pelajaran supaya jera"


"Benar begitu. Ibu kurang yakin jika memberi pelajaran. Nak Alex seperti.... Ah, sudahlah. Ibu tidak mau memikirkannya"


"Memangnya ada apa dengan Alex bu?"


"Entahlah?, ibu ngerasa kalau nak Alex itu suka padamu"


Tentu saja aku kaget penjelasan ibu, walaupun aku tahu hal sebenarnya karena Alex terlihat dari gelagatnya. Namun aku tidak tahu isi hatinya Alex sampai sampai Alex nekad datang kesini. Pasti punya maksud.


"Apa tidak yang lainnya yang kamu tahan di dunia mimpi nak?" tanya ibu saat ku sedang melamun.


Karena pikiran ku kemana mana...


Tanpa sadar ku anggukan kepalaku.


"Apa? Jadi kamu masih menahannya sampai saat ini nak"


Ku anggukan kepala, tak ku pungkiri kalau aku melakukannya. Bahkan aku hampir melupakannya. Niko, kakak dari Alex aku menahannya di alam mimpi karena kesombongannya.


"Ya Allah kenapa kamu lakukan hal itu?" Terlihat ibuku murung, tentu Ibu tidak menginginkan jika aku melakukan hal itu.


"Sebenarnya Bu, aku tidak mau melakukan hal itu. Aku terpaksa karena dia begitu menghinaku melecehkanku di depan orang-orang, sungguh sangat menghina ku, aku  tidak terima sekalipun kita orang miskin mereka mengataiku"


"Nah tidak seharusnya kau balas semua itu"


"Sampai aku mati, bu"


Tentu saja Ibu menghela nafas berat menghembuskan perlahan-lahan, tentu apa yang kukatakan, tidak akan sama apa yang telah terjadi padaku.


"Aku tidak akan membalas perbuatan mereka, jika itu tidak keterlaluan, bu. Bukankah ibu sudah tahu bagaimana keadaanku di sekolah Permata bangsa yang selalu mendapat sindiran, hinaan dan bullyan dari teman sekelasku maupun dari teman-teman lain kelas, mereka melihat strata ekonomi dan memandang kalau aku adalah orang yang miskin yang perlu dijauhi dan tidak perlu ada temannya bahkan mereka pun enggan untuk mendekat ke arahku. Apalagi berteman denganku. Mereka menjauhiku, melihatku dari jauh, mencibirku dengan pandangan jijik. Aku mendapat perlakuan tidak baik dari mereka. Ingin rasanya aku menyerah, tidak ingin melanjutkam cita-citaku. Namun aku teringat tentang ibu dan ayah bekerja keras mencari uang untuk membiayai sekolahku untuk masa depanku"


"Ibu minta maaf sama kamu, Ibu jarang memperhatikanmu, keadaanmu, terlebih tentang perasaanmu,  Ibu terlalu egois, yang ibu pikirkan bekerja dan hanya bekerja tidak lain dan tidak bukan hanya itu, yang selalu Ibu pikirkan supaya kehidupan ekonomi kita tidak terbelakang dan selalu jadi cibiran dan hinaan"


"Ibu tidak perlu meminta maaf dalam hal ini, akulah yang salah, seharusnya aku tidak mengikutsertakan Ibu ke dalam masalahku Jadi Ibu tidak ikut terseret-serat dalam masalahku"


"Sekali lagi maafkan Ibu dan ayahmu nak, kami kurang memperhatikanmu. Maafkan kami"


Kulihat ibu meneteskan air mata kesedihan, sangat deras mengucur bagaikan air hujan yang turun dari langit.


"Ibu mohon nak bebaskan siapapun yang kamu sekap. Sembuh orang yang telah kamu sakiti"


"Iya bu, kecuali satu orang,,,"? Aku teringat seseorang. Iya aku tahu seseorang itu telah ku belajar karena orang itu sangat membahayakan diriku aku hanya berjaga-jaga agar tidak nantinya membahayakan diriku.


"Siapa nak?" Ibu tentu sangat penasaran siapa orang yang ku maksudkan.


"Ki Ageng Madyo Santoso"


Ibu langsung terdiam....


"Dia orang yang sangat berbahaya bu. Dia yang telah melukaiku. Luka yang pernah kualami dialah yang telah membuatnya dan itu terjadi di alam mimpi. Aku tidak mengurungnya tapi aku membuatnya jera, dia masih bebas hidup di dunia. Dia tidak berani macam-macam denganku lagi Bu. Dia seorang paranormal yang cukup mumpuni. Aku tidak pernah menemui seseorang yang mampu melukaiku di alam mimpi. Kecuali bude Sarinah dan Ki Ageng"


Tentu saja ibuku sangat mengenal bude Sarinah karena dia adalah kakak ipar dari ibuku. Bude Sarinah hampir membuat kecelakaan jika waktu itu aku tidak waspada. Namun naas bagi  mbah kakung aku tidak bisa menolong karena waktu itu aku belum memiliki kekuatan apa-apa untuk menolongnya.


Andai waktu bisa kuputar kembali mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi, tanpa terasa air mataku lurus mengenang semua kejadian yang ku alami bersama si Mbah Kakung. "Simbah kakung aku kangen sama kamu mbah, hanya simbahlah yang bisa mengerti keadaanku selama ini, sangat menyayangiku mengasihiku merawatku dari kecil sampai dewasa.


air mataku semakin deras mengucur, aku tidak bisa membendung perasaanku, rasa keharuanku begitu mendalam mengingat kenangan bersama si Mbah Kakung.


"Tapi aku akan membebaskan kakaknya Alex bu namanya Niko walaupun dia sungguh keterlaluan tapi aku masih bisa memaafkannya"


"Ibu berterima kasih padamu"


"iya Bu aku permisi dulu aku ingin istirahat rasanya aku sudah lelah dan capek"


Ku usut air mataku, aku pun memeluk ibuku supaya hatiku tenang ibu mengusap ku penuh kasih sayang, rasanya ini sudah cukup buatku ibu, ayah, paman dan bibiku, aku tahu mereka sangat menyayangiku namun sayang, keadaan tidak berpihak pada ku, tapi malah membenturku ke dalam suatu masalah yang begitu rumit.


---------


Seperti yang diminta oleh ibuku, malam ini aku pergi kedunia mimpi lagi. Tujuanku yaitu satu ingin membebaskan Niko kakaknya Alex.


Sudah berapa hari aku melupakan Niko. Ku sekap dia di alam mimpi. Ku tahu nasibnya baik walaupun mungkin tidak baik-baik saja karena aku telah mengikat serta mengurungnya di alam mimpi.


Sebenarnya aku kasihan terlebih lagi dengan kedua orang tuanya yang baru saja kehilangan Alex kini kehilangan Niko belum lagi Angel yang lukanya baru saja sembuh.


"Bening lepaskan aku. Bebaskan aku dari sini, aku mohon padamu" rintih Niko penuh kesedihan. Niko mencoba untuk tegar. Namun lama-kelamaan kulihat wajahnya menjadi sendu, setelah itu matanya nampak berair, tubuh kekarnya terguncang perlahan. Niko kemudian menangis sedih.


"Tidak kau minta pun aku akan membebaskan dirimu dari sini, aku sebenarnya kasihan dengan kedua orang tuamu, orang tuamu begitu baik. Kalau tidak karena orang tuamu mungkin selamanya kau akan di sini, terikat di sini, terkurung di sini dan mungkin juga nyawamu tidak akan pernah kembali"


"Terima kasih"


"Simpan saja rasa terima kasih mu"


"Tapi,,,"


Aku sudah tidak mau menggubrisnya, aku pun juga tidak berpesan apa apa lagi pada Niko,  andai pun nanti Niko akan membelas dendam padaku, maka apapun resikonya akan aku tanggung.


Cetek, cetek, cetek....


"Pergilah Niko, sekarang kau bebas dari sini"


#bersambung....


________


Sb 15/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.