178. Dasar omes?.

 Bab 178. Dasar omes?


★★★★


Ku susuri jalan disekolah, sampai di koridor sekolah, semilir angin pagi menerpa sejuk. Damai, ku rasakan. Aku berharap pagi ini aku ingin merasakan kedamaian hingga nanti.


Ada teman yang sesekali menyapaku, balik ku sapa. Rasanya aku sudah senang dengan perubahan ini.


"Eh lu tau gak kalau sekolah kita mau ngadain tour wisata, gimana lu pada mau ikut gak"


"Pastilah gue ikut, secara kan jarang kita happy happy, ya kan"


"Betul juga lu, gue udah bosen karena gak ada apa apa"


"Yap,,, seenggaknya bisa enjoy lah"


"Ha ha haaaa,,,"


Mereka tertawa riang, seakan gak punya beban. Itu para cewek dari kelas lain yang juga ada, mereka dari jelas ipa.


Aku memilih masuk kelas daripada melihat mereka yang nggak jelas.


Rasanya lebih santai duduk di dalam kelas, sambil kubuka buku untuk belajar nanti apa yang akan keluar bila ada pelajaran yang tak ku mengerti nantinya akan ku tanyakan pada guruku.


Kulihat Alex baru datang dan masuk ke dalam kelas bahkan tersenyum yang tidak melihat ke arahku.


Berjalan dengan santai bahkan tidak peduli dengan keadaan, kemudian Alex duduk di sebelahku, tanpa melihat ke arahku.


"Huh,,,Kumat sombongnya" gumamku lirih, masih asik dengan buku pelajaran dengan menutupi wajahku dan tak mau menoleh ke arahnya, hanya ku lirik dengan ekor mataku.


Alex masih nampak pasif, seolah asik dengan dunianya sendiri, tidak perduli sekelilingnya.


Bahkan ketika semua murid-murid berdatangan seolah mereka tak dianggapnya, hanya dianggap angin lalu. Namun aku tahu sesekali Akex melirikku dengan tajam.


Bahkan pertanyaan ku tadi tidak digubrisnya.


Baik jika itu memang maunya, aku pun juga tidak peduli padanya, jika pun nanti Alex bertanya padaku.


"Gimana kabarmu, Bening,,,?" Tanya Alex lembut, tidak biasanya dia menyapaku seperti itu. Biasanya juga langsung mendamprat, atau malah mungkin menghinaku serta membullyku.


Aku biarkan saja tidak meresponnya, seolah sibuk  dengan apa yang ku baca bahkan aku masih menutupi mukamu.


"Huuhhh,,," Alex terlihat kesal karena ku abaikan.


'Syukurin emang enak dicuekin!' bisik batinku. Aku hanya mengulum senyum menilai tingkah Alex.


"Assalamualaikum,,, Bening" ternyata Alex punya trick tersendiri untuk aku bisa membalas ucapannya.


"Waalaikum salam" jawabku dengan berat hati,  karena  salam itu  wajib hukumnya untuk dijawab.


Ku lirik Alex  tersenyum penuh kemenangan karena aku telah membalasnya.


'Benar-benar nih orang ngerjain ku, awas aja kau nanti' pikirku, ingin aku balas perbuatan. Dari awal sudah ku sapa. Kini, wajahnya terlihat biasa, mungkin sudah di obat dirumahnya, padahal kemarin kulihat muka Alex babak belur. Namun kini sudah terlihat bersih walaupun hanya ada memar biru di wajahnya.


"Kenapa? nggak usah lihat-lihat dari tadi cuma lirik-lirik saja" dengusnya kesal, karena sedari tadi aku abaikan.


"Huh,,,Kepedean amat! Sok kegantengan"


"Lah emang aku ganteng" dengan pd-nya membanggakan diri.


"Gantengan juga monyet"


"Kamu nyamain aku dengan monyet"


"Lah itu baru nyadar, hahaha,,," aku terpingkal-pingkal melihat ekspresinya yang tidak terima dengan argumenku.


"Syukurin, emang enak" balasku sekali.


"Kurang ajar loh ya, kamu rasakan balasanku ya,,," ancam Alex, aku tidak tahu apa yang di lakukan Alex padaku.


Tidak ku sadari Aleh telah mencekal pinggangku. Detik selanjutnya, tak bisaku bayangkan lagi akibat ulahnya.


"Rasain,,," tersenyum penuh kemenangan.


"Ha ha haaa,,, le-lepaskan,,, aku,,, Alexxxxx,,,, bangke!" teriakku kuat, dengan tawa berderai lepas karena tak bisa ku tahan lagi aksinya yang menggelitikiku, hingga ku kegelian disekujur tubuhnya. Rasanya geli, tak tertahankan, aku tertawa lepas sambil meronta minta dilepaskan. Gerakanku terbatas karena aku sedang diduduk dikursi hingga aku tidak bisa bebas bergerak. Meronta pun percuma karena gerakanku tertahan bahkan tubuh Alex sesekali bergerak.


"Ini balasanku. Rasain, emang enak,,, wkwkkkkk,,,"


Alex tertawa kegirangan terus menggelitikku.


"Am- ampun,,, le- passss,,," tubuhku lemas, nafasku ngos ngosan. Aku sudah tidak kuat lagi rasanya.


Alex makin tertawa lepas melihatku tersiksa dalam kegelian belum lagi aku harus bebas.


Seolah ucapanku tidak dihiraukannya.


Alex makin melancarkan aksinya.


"Ayo ampun tidak,,,"


Seolah Alex tidak mau mengalah terus lancarkan aksi.


Aku sudah diujung lemas, tubuhku berkeringat karena geli juga tertawa yang lepas. Alex masih menggelitikku sama berkeringatnya.


Suasana mendadak hening seperti kuburan. Aku lupa, tak ingat sekarang pelajarannya siapa?


Bukannya Alex menghentikan aksinya karena aku merasa kaget, juga menjadi tegang. Aku tak bisa melihat sekelilingku karena ulah Alex.


"Hmmm,,," sebuah deheman sukses menghentikan aksi Alex yang mengerjaiku. Tentu tubuh Alex berkeringat sambil menahanku supaya tidak meronta tentu sikapnya seperti memelukku. Terlebih aku meronta ingin dilepaskan tentu tak bisa bergerak karena terbatas.


Sama sama memandang kearah depan, ada pak Surya didepan kelas sambil mengawasi dengan tatapan tajam mengarah kearahku juga Alex. Tatapan yang tak bisa ku artikan. Bahkan tersenyum pun tidak seperti kecewa padaku.


Setelah semua tenang, pak Surya duduk lalu berdoa, setelah itu mengabsen murid. Tentu saja kelas ini rajin tidak pernah ada yang alfa kecuali ijin sakit atau berpergian. Karena, jika alfa sampai tiga kali alamat akan dikeluarkan dari Permata Bangsa.  Sangat ketat sekali peraturannya.


"Bening Ria Saputra" panggil pak Surya mengabsenku.


"Hadir pak,,," jawabnya, mencoba untuk tersenyum. Namun, sedikitpun pak Surya tidak tersenyum bahkan sikapnya agak cuek.


Lalu yang lainnya...


Setelah menyampaikan materinya, seluruh siswa disuruh berganti pakaian dan harur segera kelapangan. Sepert biasanya kalau sampai terlambat pasti akan terkena sanksi.


Di sini ada ruang khusus untuk ganti pakaian terutama untuk siswa laki-laki dan perempuan punya ruang berbeda.


Seluruh siswa langsung bergegas ke ruangan untuk berganti pakaian karena jika terlambat 1 detik ataupun semenit saja maka akan mendapat hukuman.


Bahkan Alex selalu mengintiliku. Sampai di ruang ganti seolah Alex tidak mau pisah denganku. Hal itu tentu saja membuatku heran. 'Ada apa dengan anak ini, dari tadi ngikutin aku terus' gumamku dalam hati. Tentu saja aku tak menaruh curiga atau apapun pada Alex, karena Alex sudah baik padaku.


Yang lainnya pun seolah tak ada masalah tentu mereka tahu resikonya jika mengusik Alex.


Apa yang dilakukan oleh Alex mereka tidak peduli sama sekali.


Toh mereka tahu risiko yang mereka tanggung jika sampai mengusik Alex.


Bahkan dengan santainya Alex melepaskan baju atasnya, tanpa risih sedikitpun bahwa aku sedang meliriknya.


Tentu itu bukan masalah buat yang lainnya yang melihat tubuh Alex dengan rasa kagum tapi bukan sepertiku yang menikmatinya. Aku tidak tahu apakah di sini semua cowoknya pada straight ataupun ada yang belok. aku tidak pernah menilai mereka namun ada satu anak cowok yang masih kuingat sampai saat ini yaitu Rreindra. Anak indigo yang penuh misteri kulihat dia seperti punya kelainan atau bisa dibilang dia sepertiku, suka dengan sesama jenis. Aku tidak tahu siapa orang yang disukai Rreindra di sekolah ini, saat dia bertemu denganku dan berkenalan sampai bersahabat bahkan terjadi perpisahan aku tidak pernah tahu siapa orang yang disukai oleh Reindra, Rreindra tidak pernah cerita sedikitpun tentang itu, dia hanya mengeluhkan tentang keadaannya di sini yang selalu dibully dan dikucilkan oleh teman-temannya. Namun apa yang dialami oleh Rreindra itu semua ia abaikan, entah orang-orang yang membullynya, perlahan-lahan mereka sadar dan tidak mengusiknya lagi.


Entah di mana sekarang Rreindra karena aku sudah melupakannya. Aku tidak tahu nasibnya sekarang dulu aku pernah chat dia, tapi lama lama aku melupakannya, hingga aku lose kontak dengan Rreindra.


Rasanya aku tak enak sendiri terlebih Alex selalu berada dekat denganku seperti surat dan perangkonya.


Jikapun Latifah dan kawan kawannya bikin ulang tentu Alex akan ambil tindakan ke mereka tentunya.


"Kenapa masih diam Bening?, gak ganti dari tadi. Kamu malu sama aku, gitu. Kita sama sama cowok, toh kamu sudah tau punyaku kan" kerling Alex.


Tentu aku jengah mendengarnya, walaupun itu di alam mimpi bukan di alam nyata.


"Atau kamu mau lihat Aslinya,,,?"


Deg!


#bersambung...


________


Sb 15/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.