179. Sangat berbeda pak Surya.

 Bab 179. Sangat berbeda pak Surya.


★★★★


Tentu saja kejadian di ruang bersama Alex sangat menggangu ku. Mengganggu pikiranku menjadi kacau, sampai konsebtrasiku pecah.


"Kalian lari keliling lapangan tiga kali,,," titah pak Surya sebelum pada pelatihan selanjutnya.


Pikiranku berkecamuk, saat aku berlari bersama para siswa laki laki karena tidak boleh campur. Namun, tetap saja ada keganjenan ceweknya, pura pura larinya lamban sehingga tadinya duluan bisa tersusul para cowoknya. Karena niatnya supaya cewek gak ketinggalan para cowok.


Bahkan sampai ada yang cari-cari kesempatan...


Tentu saja aku yang tidak konsen lari berlari pun aku tidak terkontrol.


Aku terus berlari dan berlari, aku tidak tahu bagaimana keadaan Alex yang berada di belakang tadi. yang terpenting lagi berlari dan berlari hal itu tidak membuatku kesulitan, karena di kampung aku pun sering sering berlari hal ini bukanlah halangan bagiku. Terlebih lagi aku juga sering mengangkat beban berat hal biasa yang sering aku lakukan.


Sambil terus berlari, aku tidak konsentrasi, pikiranku terus ke mana-mana.


Berlari dan terus berlari, tak ku hiraukan sekelilingku...


"Bening,,, hhhhh,,,," seru suara yang tak ku hiraukan. Suaranya lamat lamat itu suara Alex. Aku tak merasa capek dengan lari keliling lapangan tiga kali. Hal biasa berlari jauh ketika di kampung. "Barrr,,,, eeennngggg,,,"


Suara yang ku dengar itu makin menjauh,,,,


Aku terus berlari dan berlari hingga ku dengar suara peluit yang nyaring, menghentikan lamunanku.


Nafasku kini ngos ngosan, belum ada yang berhasil seperti ku karena teman teman ku nampak sedang berlari, terlihat kelelahan pun ceweknya.


Tubuhku berkeringat, namun kini tercium aroma bunga, bunga kenanga, sampai angin semilir menerpa rasanya sejuk untuk sesaat karena semilir angin cepat berlalu. Nampak pak Surya menghirup udara yang berhembus menebarkan aroma dari tubuhku. Mata pak Surya nampak terpejam menikmatinya.


Tak ada kata dari Pak Surya dia hanya terus menatapku menatapku dengan intens karena anak-anak masih berlari berkeliling lapangan.


Kulihat di tangannya ada air mineral yang di bawanya, dia terlihat agak ragu, entah apa yang membuat agak ragu.


Ada jarak antara aku dan Pak Surya namun ku coba untuk meredakan nafasku yang ngos-ngosan karena tadi aku berlari 3 putaran pun dengan yang lainnya.


"Dek kamu haus" Pak Surya mendekat ke arahku, tuturnya lembut tidak pertama seperti saat dia memasuki kelasku.


Rasanya aku malu untuk menjawab namun aku merasa sedikit haus karena tentu berlari memutari lapangan 3 kali siapa sih yang nggak haus. Terlebih lagi keringat bercucuran bentuk tubuh sangat membutuhkan asupan air.


"Minumlah Dek" Pak Surya menyodorkan air mineral ke arah ku. Namun aku masih saja melihat sekelilingku jika nanti ada anak yang mengetahui rasanya aku akan malu. Aku tidak ingin kejadian yang malukan terjadi lagi. Cukup sudah pengalamanku saat aku mencium Riko jadi sebuah masalah yang besar namun kini masalah itu sudah selesai.


"Terima kasih Pak ehmmm,,,mas" rasanya aku kikuk untukmu mengatakan namun seolah hatiku merasa tidak enak. Toh mas Surya pernah menjadi bagian dari hidupku walaupun aku sering dikecewakan olehnya namun sikapnya sampai saat ini masih baik padaku. Tidak ada alasan untuk membencinya walaupun sikapnya seperti itu. Walaupun aku sering disakiti olehnya bahkan suatu ketika aku pernah memegorkinya kalau aku akan jadi target sasarannya, entah apa yang akan direncanakan olehnya padaku. Ketika itu tanpa sengaja aku mendengar mas Surya menelpon seseorang yang ku yakin itu adalah ayah dari mas Surya. Mas Surya tidak mengetahui itu karena setelah itu mas Surya menghilang entah ke mana.


Rupanya mas Surya memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh mas Kharisma. Aku tidak tahu apakah mas Surya mempunyai hubungan dengan mas Kharisma, karena ilmu yang mereka berdua memiliki itu sama. Yang lebih membuatku berhati-hati kalau mas Surya juga memiliki ilmu yang dimiliki oleh mas kharisma.


Aku tahu kalau mas Kharisma mempunyai ilmu yang sangat mengerikan yaitu ilmu pemusnah jiwa raga. karena simbah telah terkena ilmu itu hingga beliau tidak bisa kembali ke dunia nyata lagi.


Jika benar mas Surya memiliki ilmu itu maka keadaanku akan terancam namun aku tidak akan pernah takut untuk menghadapinya, jika pun aku harus menghadapimu maka adu ilmu tak akan pernah terelakkan lagi.


Terlebih lagi saat itu aku telah menghilangkan ilmu halimunan namun tidak sepenuhnya hal itu kulakukan. Aku juga masih memiliki hati nurani aku tak tega untuk memusnahkan semuanya. Jika pun nanti mas Surya harus aku hadapi sebagai musuh saat itulah aku akan bertindak. Jika perlu apa yang kulakukan pada mas Kharisma mungkin akan aku lakukan pada mas Surya juga.


"Terima kasih mas airnya" secepatnya aku kembalikan botol air mineral yang masih tersisa, aku pun tidak menyentuhkan bibirku di botolnya. Aku tidak ingin yang lainnya curiga terlebih lagi anak yang sudah sampai. Keringat di tubuhku juga berangsur-angsur sudah mulai mengering walaupun rasanya masih lengket.


Alex terlihat terengah-engah keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, pasti dia merasa kehausan, karena saya dari tadi aku memperhatikan maka aku mendengar suara deheman.


"Hmmm,,," suara itu berasal dari mas Surya tatapannya menunjukkan tatapan yang begitu aneh, dan penuh misteri.


Kelihatan sekali kalau mas Surya tidak menyukai alex karena sedari tadi Alex selalu memperhatikanku. Sesekali nampak tersenyum. Bahkan dia terlihat begitu bahagia.


"Wiiih kamu wangi bener Bening kamu pakai parfum apa?" Ucap Alex sambil mengendus. Hal itu tak luput dari perhatian mas Surya.


"Apaan sih Al aku nggak pakai parfum apa-apa kok. Malah aku nggak suka pakai parfum, kamu tuh yang mungkin pakai parfumnya" sangkal ku merasa tidak enak dengan tatapan mas Surya yang penuh selidik dengan tatapan yang penuh misteri pada Alex. Aku sampai bergidik ngeri melihatnya mungkinkah mas Surya, akan berbuat sesuatu pada Alex. Jika memang benar mas Surya tidak suka dengan Alex, maka sebiasanya aku akan memberi peringatan pada alat supaya berhati-hati.


Tapi bagaimana caranya aku memberitahu Alex?


Dikira nanti aku malah mengada-ada. Tapi aku yakin kalau aku Alex pasti akan mendengarkanku. Sebaiknya, nanti secepatnya aku akan memberitahunya. Untuk saat ini kelihatannya belum apa-apa.


Para siswa lainnya pun pada berdatangan, tentu saja mereka terlihat sangat kelelahan, capek, juga kehausan.


"Huh,,, capek bingitzzz"


"Yahhh,,, huuuhhhh, capek gue"


"Gue gak pernah lari lari kayak gini"


"Yap,,, ahhh,,, mana haus lagi"


"Cuma lu aja, sama,,,"


"Kayak kerja berat"


Banyak protes dari semua murid. Namun keadaanku telah menjadi biasa, Karena aku telah dulu sampainya.


"CEPAT BERBARIS,,, BEGITU SAJA MENGELUH, CEPAT,,, SAYA HITUNG SAMPAI SEPULUH KALAU TIDAK BARIS, KALIAN PUSH UP SEULUP KALI!"


#bersambung....


_______


Mg 16/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.