18. Berubah
★★★★
Benar saja dugaanku, tak pernah meleset...
Keesokan harinya sikap Angga berubah seratus derajat bahkan tidak menyapaku hanya diam saja tanpa menyapa, melihatku pun rasanya enggan.
Benar benar telah berubah, hal itu semakin membuatku sedih, padahal semalam aku sudah menangis walaupun diam. Namun semuanya sudah terlanjur terjadi, hal itu aku-lah yang memulainya. Wajar jika Angga sampai membenciku. Kesedihanku kian mendalam melihat perubahan sikap Angga.
Aku tak berani menyapa Angga lebih dulu karena rasa bersalahku.
Tentu saja hal itu membuat ibuku heran serta menanyakan padaku apa yang terjadi. Tidak mungkin aku jujur serta berterus terang mengenai kejadian semalam, mau ditaruh dimana mukaku jika ibuku tau apa yang ku lakukan semalam pada Angga, tentu ibuku tidak pernah akan menyangka.
Angga tidak mungkin menceritakan hal yang terjadi semalam, dia lebih malu lagi. Tentu akan membuat aib terutama aku.
Tentu saja aku mencari alasan yang lain yang lebih masuk akal serta tepat hingga membuat ibuku mengerti.
Kini aku sudah tenang karena ibuku tidak membahasnya lagi dan curiga pada Angga maupun padaku karena alasannya.
"Nak. Majikan ibu ingin bertemu denganmu. Katanya, anaknya ingin ketemu sama kamu" jelas ibuku, setelah pembahasan dengan Angga selesai, tentu hal itu membuatku terkejut karena tadi malam ibu dan ayahku hanya menyinggung sedikit tentang bossnya yang baik hati.
Sedari tadi aku diam dan berpikir, gerangan apa yang di inginkan anaknya boss ibuku yang ingin aku kesana. Aku juga penasaran tentang rumahnya yang besar dan mewah itu seperti apa.
"Nanti sepulang sekolah kamu kesana ya. Ini alamatnya,,," terang ibuku sambil menyodorkan secarik kertas disitu tertera sebuah alamat yang ku simpan dalam pikiranku. Semoga saja aku masih mengingatnya, aku pun memasukan dalam saku bajuku.
"Iya Bu, terima kasih. Aku nanti akan kesana sendiri sepulang sekolah" balasku. Ibuku hanya tersenyum lembut padaku.
Angga lewat didekatku hanya diam saja saat aku pamitan sama ibuku.
Akupun menyusulnya karena Angga berlalu begitu saja, bahkan tidak pamit pada ibuku hingga membuat ibuku hanya menggeleng, bingung.
Aku menjadi sedih...
________________
Di sekolah aku memilih untuk diam serta duduk di kursinya Riko, aku yakin Riko hari ini tidak akan masuk karena keadaanya kurang baik, walaupun dipaksakan bisa saja masuk seperti biasanya, tapi Riko type orang malas walaupun pintar.
Banyak siswa yang mencibirku serta memperingatiku tapi aku tak peduli toh pemiliknya juga tidak ada, sekalipun ada orangnya tentu Riko akan berpikir seribu kali jika ingin membully jika tidak maka tangan mautku yang akan berbicara. Aku tetap duduk dengan tenang dibangku Riko jika pun ada yang melaporkannya, silahkan. Aku tidak akan takut sama Riko maupun pacarnya Raya.
Banyak yang menanyakan tentang Riko dan Raya yang tidak masuk sekolah, tapi banyak cerita jika mereka itu sedang sakit. Tapi, tidak ada yang mengatakannya sakit apa?
Mendengar hal itu aku hanya senyum sendiri, aku memilih untuk diam serta merahasiakan tentang apa yang terjadi pada mereka berdua karena Riko dan Raya tau apa yang mereka alami. Bahkan tak mungkin mereka menceritakan hal yang mereka alami karena itu di dunia mimpi. Mana ada yang percaya jika keduanya mengalami hal yang sangat mengerikan di alam mimpi yang hampir terenggut nyawanya.
Saat jam pelajaran mulai Angga tetap diam bahkan hingga jam istirahat serta sampai pulang pun Angga sama sekali tidak menyapa padahal aku berharap Angga menyapaku duluan karena aku takut jika mulai duluan.
Aku memilih pulang untuk jalan kaki tidak bersama Angga, aku takut jika Angga makin membenciku karena Angga sama sekali tidak peduli padaku menatapku hanya sekilas senyum pun tidak pernah kayak biasanya Angga selalu tersenyum.
Sedih! Itulah yang ku rasakan saat ini dengan sikap Angga yang berubah drastis. Menatapku saja tidak, bahkan membiarkan ku begitu saja.
Begitu besarkah kesalahan yang ku lakukan padanya, hingga Angga tidak mau memaafkan ku?
Aku berjalan gontai di trotoar jalan, aku tak tau arah tujuan ku kemana?
Pikiranku kacau.
Hingga aku lupa pesan ibuku.
Kini aku teringat pesan ibuku.
Tapi disisi lain, kegalauanku membuatku ingin pindah dari sekolahku sekarang.
Atau aku ketempatnya pak Surya, lebih baik aku kesana saja dari pada galau seperti ini. Aku akan minta tolong padanya, siapa tau pak Surya ada solusinya. Semoga...
Aku mencari alamatnya yang dulu pernah diberikan oleh pak Surya padaku.
Aku naik ojek, serta meminta pada tukang ojek untuk mengantarkanku pada alamatnya pak Surya yang dulu pernah menolongku. Aku berharap pikiranku akan lebih tenang dan membaik keadaanku saat berada disana.
Sampailah aku pada alamat yang ku tuju. Untuk sesaat aku terkagum dengan tempat yang ada di depanku saat ini.
Apartemen yang minimalis dengan tanaman hias disekilingnya menambah kesan asri serta orangnya yang rajin merawat tanaman.
Aku kagum dengan tempat tinggalnya padahal pak Surya seorang yang masih jomblo belum punya pacar terlebih istri.
Entah mengapa pak Surya belum menikah padahal hidup sendirian, sudah ganteng, macho, gagah, perkasa, banyak uang lagi. Kurang apa coba, andai aku seorang cewek aku rela jadi pacarnya terlebih menjadi istrinya. He he.. aku mikir apa coba?
Aku sudah berada didepan pintu....
Aku pun akan mengetuk pintu karena ku dengar suara dari dalam seperti suara tv yang sedang menyala. Agak ragu. Karena aku masih memakai seragam sekolah, kini aku bertandang kerumah guru olah raga ku yang tampan serta single.
"Assalamu'alaikum!" salamku setelah mengetuk pintu, seperti ada langkah kaki menuju pintu karena pendengaranku ku pasang, jadi suara sekecil apa pun aku bisa mendengar.
Pintu terbuka...
"Waalaikum salam!" jawabnya.
Ku lihat pak Surya yang di dalam telanjang dada, dadanya yang sangat bidang dengan kotak kotak yang menawan. Kulitnya kuning Langsat, ada bebuluan tipis di bawah pusarnya, tebal agak kebawah membuatku menelan ludah, kelu. Jantung ku berdetak aneh. Sebisanya aku redakan rasa yang menderaku. Lama lama disini aku bisa pingsan duluan karena pesona nya.
Pentilnya kecoklatan, ada bundaran hitam, di dada bidangnya, terlebih otot tangannya serta bulu ketiaknya makin membuatku deg degan, seakan aku enggan untuk berpaling walaupun hanya sesaat pada makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Terlebih senyumnya yang ramah, menghiasi bibirnya yang sensual, kisssanble.
Tadinya agak terkejut dengan kedatanganku tapi setelah melihatku senyumnya makin terkembang, padahal selama ini aku belum pernah melihat senyumnya yang seindah ini baik disekolah sekalipun, walaupun disekolah pak Surya sering terlihat senyum padaku tapi kali ini senyumnya nampak berbeda. Aku tidak tau arti senyumnya itu apa? Tapi aku bagai tersihir melihatnya.
Ingin rasanya aku memeluknya untuk mengurangi bebanku.
Namun aku terpana dengan sosoknya yang hanya memakai celana kolor hitam hingga tercetak jelas jendolan yang terbentuk jelas yang super besar, kelihatan semi tegang.
Apa yang dilakukan pak Surya di saat sendirian di apartemennya, bahkan tidak risih saat aku menatapnya sekilas. Hal itu malah membuatku malu sendiri dengan kelakuanku serta hatiku deg degan tak menentu, gugup.
Entah berapa lama aku mematung karena waktu seakan berjalan melambat, aku merasakan hal itu.
"Eh nak Bening, silahkan masuk. Tumben main,,," ucap pak Surya ramah membuyarkan lamunanku yang traveling ke antah berantah mengagumi sosoknya yang wow.
Punggungnya lebar, rasanya nyaman untuk bersandar, pikiranku makin kacau melihat sosoknya. Seakan persoalan ku dengan Angga seperti tertiup angin menjadi sirna.
Terlebih dengan senyumnya mengembang, kumisnya yang aduhai, membuat kaum hawa klepek klepek, aku sebagai laki laki saja tak bisa menahan perasaan melihatnya. Ganjen...
"Enghmm,,, anu,,, ah,,,, hmm,,," kataku terbata karena aku bingung sekaligus nervous menghadapi pak Surya yang begitu menggoda mataku juga meruntuhkan imanku.
"Kok gugup. Ayo masuk. Silahkan duduk. Aku ambilkan minuman dingin. Pasti hauskan,,," pak Surya mempersilahkan ku untuk masuk juga duduk padahal aku sudah ngeblank berhadapan dengannya. Entah mengapa aku menjadi seperti ini menghadapinya ketika sedang berdua, padahal biasanya ketika disekolah biasa biasa saja tapi disini berbeda sekali.
Aku pun duduk dengan santai, suasana juga dingin, nyaman membuat betah.
Pak Surya menuju ke kulkas saat ku lihat isinya sangat komplit, serta mengambil dua kaleng minuman soft drink kemudian menyodorkan kearahku membuatku kikuk sendiri.
Pak Surya begitu baik dan ramah, baik kepadaku juga pada semuanya, memang selama ini aku tidak pernah melakukan kesalahan saat disekolah dan memang itu harus ku jaga.
Pak Surya membuka soft drink miliknya hingga terdengar bunyi mendesis, aku cuma meliriknya karena tadi aku kepergok sama pak Surya ketika aku sedang mengagumi bentuk tubuhnya.
Tanpa rasa ragu pak Surya menegak minumnya, aku melihatnya dengan jelas, bulu ketiaknya yang menyembul menggoda serta aduhai, otot lengannya, ingin rasanya aku menyentuhnya hal itu membuatku menelan ludah kelu.
Aksinya sangat macho dan seksi seperti iklan di tv yang memperlihatkan kejantanan laki laki yang sedang menegak minuman bernutrisi.
"Kenapa malah bengong? Aku ganteng ya. So,,, banyak yang naksir lho sama aku" kelakarnya sambil mengerling kearahku membuatku mati kutu, sekaligus membuatku tersadar serta mengalihkan pandanganku, bisa bisa aku basah di celana jika terus memperhatikan tingkahnya yang sensasional membuatku horny berat dengan aksinya.
Dengan agak gemetar aku membuka kaleng soft drink sama halnya yang dilakukan pak Surya.
Tadi pak Surya cuma ber- aku saja... tidak salah apa yang ku dengar. Tidak, telingaku tidak tuli, jelas tadi pak Surya mengatakan.
Rasanya aneh, memang. Hal itu membuatku makin kikuk. Tak enak hati.
Sepertinya pak Surya ingin bersikap biasa ketika berada di apartemennya, tapi aku masih tetap menghormatinya sebagai guruku.
Aku makin tak enak hati, terlebih dengan sikap baik pak Surya yang menerima ku bahkan aku masih memakai seragam sekolah. Sepertinya pak Surya memahami keadaanku dan hanya tersenyum ramah.
#bersambung...
Sl 12 Oktober 2021
____________
_____________________
Apartemen pak Surya begitu rapi, barang barangnya minimalis, ada beberapa perabot terbuat dari kristal terpajang, makin apik...
Tapi aku lebih kagum pada sosok pak Surya yang bertelanjang dada, bahkan ada keringat ditubuhnya padahal suasananya dingin karena AC tapi pak Surya masih kepanasan hingga membuat kulitnya nampak mengkilap berminyak, alot. Tetapi aku tidak terang terangan menatapnya hanya melirik dari sudut pandanganku saja. Itu pun membuatku selalu menahan nafas karena jantungku selalu berdetak tak karuan.
Minuman pak Surya sudah habis sekali tegak. Hebat benar. Minumannya langsung tandas! pikirku.
Entah, tak tau apa yang ku katakan, rasanya aku mau mulai, tapi tak ada acara untuk memulai percakapan, semuanya seperti buntu. Aku memilih untuk menunggunya...
Ku lihat jam sudah pukul empat, aku merasa gelisah. Takutnya nanti aku tidak bisa pulang karena uangku habis tadi buat naik ojek terlebih aku ngobrol tau tau sudah mulai sore, tak terasa. Aku makin bingung juga dilanda kepanikan.
"Kenapa kamu bingung dan gelisah Bening? Cerita saja sama aku" ucapnya ramah nampak biasa dengan senyum masih terukir diwajah tegas dan tampannya. Tatapannya tajam kearahku, tapi menurutku tatapan yang menenangkan jiwa. Lama lama aku bisa gila beneran jika terus bersama pak Surya yang ganteng.
"Pak,,, aku ingin pulang" ucapku lirih karena sedang kalut serta agak sedih juga.
Pak Surya mendekatiku. Dekat sekali. Hingga aroma tubuhnya yang maskulin tercium olehku. Hal itu makin membuatku kelabakan dibuatnya.
Sepertinya pak Surya memancingku. Tuhan, cobaan apalagi yang kini menderaku....
"Nanti aku antar. Kamu istirahat dulu disini. Kamu sedang kalut. Apa kamu sedang ada masalah, sama siapa? Apa dengan Angga sepupumu itu? Kelihatanya kamu sedang cekcok sama Angga?" terkanya, sepertinya tau tentang keadaanku saat ini yang memang kurang baik.
"Enggg,,, enggak kok pak. Saya,,, bi-bissa saja sama Angga" balasku tak bisa menyembunyikan rasa gugupku didepan pak Surya seperti tau keadaan yang sedang ku alami.
"Jangan panggil pak kalau dirumah, aku merasa tua saja. Panggil mas gitu lebih akrab"
Hal itu malah membuatku makin tak enak saja.
Tapi pak Surya memintaku karena tak enak dipanggil pak ketika dirumah, terdengar formal, padahal beliau guruku tentu saja aku tak enak dibuatnya sekalipun beliau memintaku untuk memanggil apa yang beliau inginkan, aku masih menghormati serta menghargai beliau.
"Tap, tapi pak,,,?" Aku makin tak enak hati. Rasanya aku makin malu serta kikuk sendiri karena pak Surya begitu baik. Aku tidak pernah menyangka jika pak Surya ketika dirumah akan berbeda sikapnya jika dengan disekolah. Kalau disekolah terlihat berwibawa hingga banyak murid yang segan tapi dirumah sikapnya begitu bersahaja.
"Jangan panggil pak. Panggil mas saja,,," pintanya sekali lagi. Ekspresinya malah membuatku ingin memeluknya, beliau makhluk Tuhan yang paling baik yang ku temui.
"B- baik,,, p- pak,,, eh, m- mas,,," ucapku gugup sambil nyengir. Senyum yang ku ulas sedikit ku paksa dengan hati berdebar serta Merta pak Surya memelukku.
Aku seperti shock karena tak menyangka jika beliau guruku olah raga yang tadinya di panggil pak dan menyuruh aku untuk memanggilnya mas kini memelukku.
Ini seperti devaju...
Aku mematung...
Tubuh perkasanya yang toples mendekapku bagai orang yang disayanginya padahal aku sadar aku ini bukan siapa siapanya, aku hanya manusia yang dilanda dalam kekalutan dan terjebak dalam dilema hingga aku terdampar disini, hingga ku temukan tempat yang ada angin surganya..
Detak jantungnya teratur, cukup lama kemudian dilepaskannya, padahal aku berharap ingin berlama lama dipeluknya.
"Nah, begitukan lebih enak. Akrab,,," ulasnya dengan senyum bahagia, mata tajamnya terlihat berbinar, tak pernah aku melihat senyumnya seperti itu, begitu bahagia serta ceria.
"Tapi, mas guruku. Aku harus menghormati mas Surya sebagai guruku. Aku merasa nggak enak, mas-"
"Itukan kalau disekolah. Lagian kita sudah berteman sekarang. Aku merasa tua kalau dipanggil bapak" potongnya.
Tetap hal itu membuatku tak enak. Namun, aku tak bisa menolak permintaannya karena itu keinginannnya.
Tubuhku rasanya lemah, hingga perutku berbunyi membuatku malu hingga membuat mas Surya tersenyum, mengerti keadaanku.
"Wah, ada yang lapar nih. Makan yuk. Tadi aku masak lumayan banyak. Sayang kalau nggak habis"
Mas Surya bangkit, aroma maskulin menyeruak di hidungku hingga membuat anganku melayang, tapi aku merasa sedikit terbiasa dengan mas Surya yang ternyata orangnya begitu ramah serta murah senyum.
"Jadi mas Surya masak sendiri. Biasanya kalau lajang itu males masak, milih catering" balasku memastikan. Lagi lagi mas Surya tersenyum, senyum yang bisa membuat orang yang memandang amnesia sesaat.
"Aku nggak biasa beli catering. Masak sendiri itu lebih terjamin, jadi kita bisa memasak makanan yang kita inginkan. Di luar belum tentu terjamin, iya kan, apa lagi sehat"
Ada benarnya juga. Aku juga suka masak kalau ibu lagi repot, itu lebih memuaskan. Walaupun masakan warung itu terlihat enak dan lezat tapi belum tentu sehat seperti apa yang dikatakan mas Surya.
"Bening ayo kesini!" seru mas Surya. Walaupun terlihat minimalis, namun apartemennya lengkap.
Aku mencoba untuk bersikap biasa, walaupun aku sendiri merasa tak enak tetapi sikap mas Surya itu mirip seperti saudaraku ataupun kakakku.
Angga saja kini sikapnya berubah membuatku sedih hingga saat ini....
Mataku disungguhi makanan yang dihidangkan di meja membuatku ngiler.
Ada ayam goreng serta masih ada lagi yang lainnya, aku suka dengan ayam goreng crispy rasanya enak sekali, mantul. Aku tidak bisa berhenti makan sebelum aku kenyang.
"Ayo makan" ajak mas Surya tersenyum. Aku duduk didekatnya hanya terdiam. Kemudian aku di cidukkan nasinya, aku mengambil lauknya serta yang lainnya.
Aku mengangguk dengan rasa malu sembari tersenyum, terlebih lagi mas Surya sangat baik dan perhatian padaku.
Saat makan mas Surya begitu lahap, aku merasa kenyang melihatnya makan, apalagi makanannya enak enak, dan terasa lezat. Ada buah buahan, ada jus buah serta susu sangat komplit. Bahkan mas Surya minum jus serta susu bahkan mengambil buah buahan.
Aku menikmati makanan pelan saja karena porsiku tidak sejumbo mas Surya seperti butuh tenaga ekstra terlebih badannya yang gede gitu.
Acara makan telah selesai, aku yang merasa telah merepotkan pun merapikan tempat makan, niatku akan mencuci piring bekas kami makan.
"Biarkan saja Bening. Nanti biar aku saja yang mencucinya" ucapnya terlihat kekenyangan karena porsinya makan dua kali lipat dari yang ku makan belum lagi yang lainnya.
"Nggak apa apa mas, ini sebagai tanda ucapan rasa terima kasihku karena mas telah baik padaku" balasku. Aku pun membersihkannya hingga selesai karena memang nggak susah.
"Kamu baik Bening. Tapi kenapa kamu selalu dibully sama teman temanmu?" ucapnya memperhatikan ku sedari tadi.
Sejenak aku berhenti tapi kemudian aku teruskan karena aku terkejut karena mas Surya begitu banyak mengetahui keadaanku.
Apa selama ini mas Surya di sekolahan sering memperhatikan ku sehingga mas Surya tahu banyak tentangku, rasanya aku makin malu. Karena ku akui kalau aku tidak banyak punya temen, hanya satu, dua orang saja bisa di hitung dengan jari karena mereka rata rata banyak yang membenciku.
"Dari mana mas Surya tahu-?"
"Ada. Kamu nggak perlu tahu, tapi,,, bukankah orang orang yang membully kamu sudah dapat balasannya" potongnya menatapku tajam. Aku tidak tahu arti tatapannya, seakan penuh selidik aku tidak mau kontak mata dengan nya karena aku takut. Bahkan mas Surya seakan tahu soal Riko dan Raya. Namun aku yakin mas Surya tidak pernah tahu akan sakit yang mereka alami.
Lebih baik aku memilih diam serta mendengarkannya saja.
"Tapi anehnya, sakit mereka itu seperti misteri, bahkan orang pintar pun angkat tangan dengan penyakit mereka" jelasnya kembali, kini membahas sakit yang di alami Riko dan Raya.
Matanya nampak menerawang jauh hingga tatapannya tampak kosong, mungkin itu suatu misteri bagi mas Surya.
Biarlah itu menjadi rahasiaku. Tak ada seorang pun yang tahu kecuali kakekku, karena hanya kakekku lah yang tahu mengenai rahasiaku.
"Apa kamu tahu soal itu Bening?" tanya mas Surya. Tentu saja aku kaget dan buru buru menyembunyikan ekspresi kekagetan ku pada mas Surya. Aku tak ingin mas Surya curiga terhadapku.
Kini aku telah selesai beberes serta duduk dikursi meja makan.
"Eh,,, enghmm,,, belum mas. Rencananya aku mau kesana, kerumah Riko. Tapi aku tidak tahu rumahnya. Jadi ku putuskan untuk datang kesini" balasku agak gugup. Mas Surya terlihat aneh, apa mungkin dia curiga hanya diam saja memperhatikan ku.
"Mas Surya bisa antar aku kerumahnya Riko kan?" imbuhku memintanya untuk mengatarkanku kerumah Riko, namun hal itu membuat wajah cerianya mendadak sendu.
"Ak- aku...? Bening, kamu nginap saja dulu disini. Bukankah besok libur. Gimana?"
"Tapi mas, nanti ibuku menungguku dan khawatir padaku karena ibuku yang memintanya untuk datang"
"Kamu ada nomer ibumu kan?"
"Ada"
"Ya sudah. Nanti aku telpon biar aku minta ijin pada ibumu, besok aku antar kamu kesana. Bagaimana?"
"_______?" aku bungkam sejenak. Berpikir gimana baiknya.
"Kenapa diam?" cerianya menatapku dengan senyuman.
"Baiklah. Aku nurut saja, gimana baiknya" balasku karena tak ada pilihan.
Kini mas Surya terlihat ceria tidak mendung lagi. Entah ada persoalan apa mas Surya baik dengan Riko maupun Raya. Seperti ada sesuatu misteri yang tidak ku ketahui.
Padahal, hal itu suatu saat nanti aku akan mengetahuinya dan di saat itulah aku benar benar diujung tanduk?.
#bersambung.....
Sn 15 nov 2021
Komentar
Posting Komentar