180. Di Ajak Alex.
Bab 180. Di Ajak Alex.
★★★★
Banyak protes dari semua murid. Namun keadaanku telah menjadi biasa, Karena aku telah dulu sampainya.
"CEPAT BERBARIS,,, BEGITU SAJA MENGELUH, CEPAT,,, SAYA HITUNG SAMPAI SEPULUH KALAU TIDAK BARIS, KALIAN PUSH UP SEULUP KALI!"
__________
Satu,,,
Dua,,,
Tiga,,,
Empat,,,
Lima,,,
Enam,,,
Tujuh,,,
Delapan,,,
Sembilan,,,
Ada jeda sesaat karena tatapan pak Surya begitu tajam menatap satu persatu setiap siswa yang tidak mau dengarkan perintahnya.
Senyumpun tidak ada sama sekali, rahangnya nampak keras, rahang milik sang pejantan tangguh.
Tatapannya masih mengawasi...
Sepuluh,,,!
Aku pun sudah berbaris tapi tidak dibagian depan, memilih pada barisan tengah, aku tak ingin terlihat dari tatapan pak Surya.
Masih ada bisik bisik dari siswa, tapi aku dengar sedikit karena barisanku ditengah tengah...
"Ihh, ngeri pak Surya sekarang kok gitu"
"Temperamental banget"
"Iya sih, illfeel gue"
"Gue udah respek lage sama guru cucok markocop itu"
"Ih, males bingitzzz"
"Sudah, liat depan tuh lage melotot"
"Iya serem bangett,,,"
"Sudah diemmm!"
Keadaan pun hening...
"SEKARANG DENGARKAN,. MATERI KALIAN LOMPAT JAUH!" titahnya, dengan tatapan tajam. Memperhatikan setiap siswa didepannya. Garang. Tanpa senyum.
Tentu saja para siswa ada yang atusias dan juga ada yang tidak. Rata rata mereka cuma omdo alias omong doan.
Terbukti ketika lompat jarak jauh gak nyampek target yang ditentukan.
Terlihat wajah kekesalan dari Pak Surya, karena murid-muridnya tidak memenuhi target yang ditentukan. Tentulah Pak Surya kecewa berat.
Kelas dua belas a membubarkan diri dari lapangan, serta untuk berganti pakaian. Tentu saja keringat membasahi seluruh tubuh tidak terkecuali aku dan Alex berjalan beriringan menuju tempat ganti baju.
Terlihat wajah lelah dan letih dari semua siswa kelas 12 a. Karena olahraga itu sangat menguras tenaga. Namun bisa happy.
Sambil aku di tempat pergantian pakaian...
yang membuatku heran Alex menanyakan sesuatu hal yang bingung harus aku jawab apa?
"Bening, keringat kamu wangi benar, kayak pakek parfum. Aku suka wanginya, kayak wangi bunga gitu. Aku sendiri suka kesal dengan bau tubuhku, mana keringatnya banyak lagi, kayak kerja keras. Kira kira kamu risih nggak dengan aromanya, atau kamu gak suka gitu, atau apalah itu,,," sungut Alex terlihat kurang pede dengan aroma tubuhnya yang menyengat, tapi menurutku malah tercium jantan, manly gitu. Malah kalau aku cium lama lama bikin sange berat. Bikin on kejantananku, malah aku sulit buat nyembuyiin dari siapapun karena di balik celanaku jadi jendol.
"Bening, ealah,,, malah bengong gitu,,,gimana menurutmu?" desak Alex ingin tahu pendapatku.
"Eh, ahhh,,, aku, ya menurutku, wangi kok, malah bikin aku terangsang kok. Manly gitu" jujurku tak bisa ku tahan lagi.
Mata Alex membulat tak percaya bahkan ada seulas senyum tersenyum di bibirnya.
"Benarkah itu Bening. Kamu jangan sok nyenengin aku" seolah Alex tak percaya dengan pernyataanku.
"Kalau kamu nggak percaya ya udah, kamu boleh kok tanya sama cewek-cewek atau enggak orang yang punya kelainan kalau itu menurutmu. Aku sudah jawab jujur apa yang kamu mau tanya. Aku nggak bohong"
"Jadi menurutmu tubuhku itu wangi"
"Ya itu persepsiku entah kalau yang lain"
"Iya deh aku percaya, coba nanti aku tanya dengan sama cewek cewek"
"Bau keringat aja dimasalahin"
"Habisnya keringat kamu beda dengan keringat yang lain. Malah wanginya menebarkan aroma bunga sedangkan keringat yang lain kadang bikin ilfil, termasuk dengan aroma keringatku"
"Setiap orang beda beda-beda bau keringatnya. sudahlah kamu ngomongin keringat mulu, jorok tahu"
"Hmmm,,, aku suka wangi keringatmu, bikin aku sange"
"Dasar omes. Huuuu..."
Setelahnya kita saling terdiam, tak ada lagi pembahasan. Sesekali ku perhatikan Alex nampak melirik ke arahku seperti perhatian berlebih padaku. Namun aku menganggap Alex sebagai teman biasa.
Waktu yang diberikan untuk ganti pakaian tidaklah banyak, sehingga kami harus bergegas menuju ke dalam kelas untuk pelajaran selanjutnya sampai nanti menjelang istirahat.
__________
Seperti biasanya saat itu pulang sekolah aku harus menunggu jemputan dari ayahku datang. Sudah beberapa saat aku menunggu tapi ayah tak kunjung juga muncul. Hatiku jadi gelisah.
'Ke mana ayah jam segini belum juga datang menjemputku' ucap batinku. Sambil ku perhatikan jalan yang biasa ayah lewati. Karena ayah selalu datang dari arah itu namun dari beberapa selawat waktu aku menunggu ayahku belum juga muncul.
"Eh,,, Bening pulang bareng aku yuk aku antar" Alex datang menyapa dari dalam mobil karena Alex selalu bawa mobil mewahnya. Itulah yang selalu jadi ukuran para cewek-cewek yang fans sama Alex karena selain Alex ganteng dia juga anak orang yang tajir melintir.
Terkadang aku yang orang biasa ini minder sendiri jika harus berteman dengan Alex dan bertemannya pun itu karena sesuatu hal dan kini Alex malah sebaliknya begitu perhatian padaku serta baik. Terkadang aku bingung, aku harus bersikap bagaimana?.
Di sisi lain aku juga memikirkan perasaan Riko, namun akhir-akhir ini Riko seolah-olah tidak peduli lagi denganku, entah hal apa yang membuatnya seperti itu?. Atau semua ini karena pertengkarannya dengan Alex bisa saja hal itu terjadi karena semenjak insiden Riko dan Alex sikap Riko banyak berubah.
"Sudahlah Bening sampai kapan kamu akan menunggu ayahmu. Belum tentu ayahmu datang nanti aku antar pulang kamu setelah kita mampir ke rumahku dulu. Gimana?"tawar Alex sehingga membuat pikiranku dilema. apakah aku harus menerima tawarannya atau menunggu ayahku yang tak pasti karena belum tentu ayahku juga akan datang menjemputku karena mungkin suatu hal yang terjadi.
"Ayo Bening,,," ajaknya sepeeti memaksa.
Terlebih bunyi klakson dari belakang berbunyi karena gerbangnya tidak muat untuk dua kendaraan mobil karena itu demi peraturan serta keteraturan jalan menuju ke gerbang sekolah.
"Tin, tin, tin,,, lo pikir ini jalan milik nenek moyang lo!" Teriak seseorang di dalam mobil yang berada di belakang alat.
Dengan tergesa-gesa aku masuk mobil Alex karena tak ingin Alex kena masalah.
"Nah gitu kan enak,,," Alex merasa girang karena telah berhasil membujukku. "Yess,,,!"
"Kamu kok senang kita Al?"
"Sudah, kamu nggak usah pikirkan hal itu, yang penting kamu sekarang ke rumah aku dulu. Baru setelah itu kamu kok antar pulang"
"Kamu nggak bermaksud culik aku kan?"
"Eit dah, ini anak bawaannya curiga mulu. Emang aku ada tampang tukang culik"
"Emang, kamu kan suka niduri anak perawan orang, hingga nggak perawan lagi"
"Itu dulu sekarang aku berubah"
Aku perhatikan jalan di depanku, sesekali ku lirik Alex, Alex tampak santai mengemudi, Alex terlihat begitu tampan dan macho.
"Nggak usah lirik gitu, nanti jatuh cinta kamu"
"Ehh,,, bukannya kebalik" ralatku menanggapi omongan Alex. Seketika Alex terdiam sambil menganggukkan kepala.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi, saling diam diri masing masing dalam pikiran.
Aku tak tahu kenapa kejadian seperti ini terjadi.
"Al,,, kira kira nanti study tournya kemana ya?" ku bertanya memecah keheningan yang menjeda. Rasanya aku tak enak sendiri, sudah numpang tapi bersikap cuek dan jutek.
"Kurang paham" jawabnya singkat. Setelah itu hening lagi karena aku tak tahu harus ngomong apa lagi. Membahas tentang apa.
"Al,,,"
"Hemmm,,,"
"Kamu tahu gak perubahan sikap mas, eh,,, pak Surya itu sekarang seperti itu" tentu saja aku malu sendiri karena aku kelepasan.
Mata Alex membulat menatapku, tentunya yang didengarnya itu tidaklah salah. Walaupun terdiam Alex nampak berpikir. Kini pandangannya terfokus ke depan ke arah jalan raya. Tak ada jawaban maupun argumen dari Alex, seolah apa yang didengarnya itu hanya angin lalu.
"Dah sampai,,," seru Alex begitu bahagia terlihat wajahnya begitu ceria. pintu gerbang di rumahnya terbuka dengan sendirinya mungkin otomatis karena disampingnya aku lihat dua orang penjaga mengangguk hormat ke arah mobil yang ditumpangi oleh Alex bersamaku.
"Tin,,,," Alex menyembunyikan klakson sebagai tanda bawa hormat para penjaganya diterima lalu Alex membuka kaca samping mobilnya sambil tersenyum ke arah dua penjaganya.
"Siang den Alex,,," kembali dua penjaganya menunduk hormat ke arah Alex, lagi-lagi anak hanya tersenyum ke arah mereka.
Pandangan keduanya mengarah ke arahku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Namun saat ku lirik mereka berdua nampak berbisik-bisik. Mungkin membicarakanku atau membicarakan tentang Alex karena yang ada di dalam mobil bersama Alex itu aku.
"Para penjagamu tadi kayak bisik bisik gitu Al" aku merasa tak enak hati sendiri. Alex memarkirkan mobilnya dekat garasi. Lagi lagi aku tak punya atapun bawa pakaian ganti.
Sudah beberapa kali aku kerumah Alex, walaupun kakaknya terlihat tidak suka namun Alex seperti senang mengajakku kerumahnya.
Aku pun keluar dari mobil di iringi oleh Alex berjalan menuju ke rumah besarnya.
"Assalamualaikum,,," salamku saat berada didepan pintu.
"Kenapa sih harus pake salam?. Masuk aja,,," protes Alex dengan apa yang ku lakukan.
"Ya itu ada buat masuk rumah Al. Emangnya salah. Atau kamu main nyelonong aja gitu"
"Lha ini kan rumahku bukan rumah orang lain, Bening. Ya suka suka aku lah"
"Ya sudah, aku mengajarimu hal yang baik, kalau kamu gak suka itu urusanmu. Nanti juga akan jadi kebiasaan buat jika kamu main kerumah orang, maka apa yang selalu kamu lakukan itulah hasilnya"
"Iya maaf, aku salah. Kamu mau diluar saja, gak masuk,,,"
"Jawab dulu, baru aku mau masuk, kalau tidak aku diluar saja sampai ada yang jawab salamku"
"Baikla. Waalaikum salam,,, sudah,,,"
"Nah gitu kan bagus. Jawab salam itu wajib hukumnya. Kamu tahukan, kalau tidak dijawab kamu mendapat dosa" jelasku sambil tersenyum simpul kearahnya.
"Iya ngerti pak ustad. Ayo, kelamaan, malah tausiah,,,"
Aku dan Alex pun masuk kedalam. Rumah sebesar ini nampak lengang...
"Pada kemana ini orangnya,,,?" Gumamku bermonolog. Entah Alex mendengarnya atau tidak.
Ku amati sesekelilingku, memang sepi, agak sejuk suasananya karena Ac.
Alex masih menarikku, tentu saja aku tak enak hati karena aku bukan siapa siapa.
"Eh,,, Bening, tumben mampir kesini?"
Tentu saja aku terkejut dibuatnya...
#bersambung....
__________
Mg 16/10/22.
Komentar
Posting Komentar