182. PERKELAHIAN TERULANG LAGI.

 Bab 182. PERKELAHIAN TERULANG LAGI.


★★★★


VICTORY.....


Ketiga kalinya kemenangan telah ku raih, mengalahkan Alex dengan telak tanpa perlawanan yang berarti walaupun ku akui permainan game moba nya cukup apik, terarah tapi karena luapan emosinya yang meledak tak terkontrol membuat permainannya tak terkendali.


"Bangke, anjing, bodoh makan taik,,,!" gerundelnya gak terima dengan kekalahan yang diterima dan itu tiga kali berturut turut.


"Sesuai janji aku minta tiga permitaan dari kamu. Ku harap kamu nepati janji,,," ralatku kembali setelah tadi dia janji akan memberikan apa yang ku pinta.


"Ini bukan permintaan dari janjimu. Saat ini aku minta antarkan aku pulang. Sudah sore, orang tuaku pasti bingung mencariku" karena tak enak aku berada disini terus terlebih ini kamar nya Alex.


"Iya, oke,,, aku antar pulang" kata Alex terlihat lesu tak bersemangat, padahal jelas tadi dia nampak bersemangat namun kali ini tidak lagi.


"Suatu saat aku juga akan main lagi ke sini nggak usah sedih gitu"


"Padahal berharap kamu tidak pulang, Bening"


"Aku ada tempat tinggal Al, aku tak ingin membuat diriku mencari-cariku, terlebih lagi khawatir akan keadaanku karena tidak memberinya kabar begitupun juga ayahku. Kamu pasti mengerti keadaanku Al"


"Terima kasih seharian kamu menemani aku"


"Kulihat kamu juga punya teman banyak kenapa kamu tidak ajak mereka saja?"


"Sejak awal sudah dijelaskan sama kak Angel bahwa aku tidak suka dengan teman-temanku yang datang ke sini"


"Memangnya kenapa itu kan temanmu?"


"Adalah, aku nggak ingin teman-temanku mengetahui keadaanku juga privasiku"


"Buat apa kamu punya teman kalau kamu tidak percaya"


"Untuk formalitas saja"


"Jadi kamu menganggap aku juga formalitas, gitu,,,"


"Ya,,, iya bukan gitu Bening"


"Ya sudah kalau begitu antar aku pulang"


"Baiklah,,," Alex tampak lesu tak bersemangat.


Terlihat sekali kalau wajah Alex tampak sedih.


Entah hal apa yang membuatnya seperti itu aku juga tidak menyelami hatinya.


Padahal tadi sudah aku katakan kalau aku juga akan bermain ke sini lagi entah itu kapan?


Namun penjelasan ku tidak dianggapnya, kalau aku hanya akan berbohong.


Aku telah bersiap, pakaian seragamku telah aku masukkan ke dalam tas gendongku. Kini yang kupakai yaitu milik Alex, ada perasaan tidak enak di hatiku. Terlebih lagi aku pakai bukan barang milikku tapi milik orang lain dan itu baru saja kenal baik denganku yaitu Alex.


"Bening,,," ucapnya lirih, seperti menahan rasa keharuan di dalam dada nya. Hal itu membuatku tak enak hati. Kurasakan Alex menyentuh punggungku. Tak terasa aku pun memberikan badanku. Wajah Alex terlihat sendu begitu murung, aku tak tega melihatnya sepertinya perpisahan ini membuatnya sepi. Tapi masih ada hari esok. Dan aku pasti bertemu dengan Alex di sekolah.


"Ihh,,, kamu kok sedih gitu Al, besok kan kita masih ketemu"


"Buatku hari ini begitu menyenangkan, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang ku rasakan saat ini. Rasanya kebahagiaan yang kurasakan saat ini tak ingin cepat berlalu" ucapnya puitis.


Setelah itu kurasakan dia merengkuhku dalam pelukan hangatnya. Bisa kurasakan dan detak jantungnya yang berpacu, debaran dadanya yang menghentak. Aroma tubuhnya yang manly. Aku bisa merasakan semua itu dia memelukku hangat, seakan tak ingin berpisah denganku. Tentu saja hal itu membuat hatiku mengharu biru.


'Ya Allah, kenapa hal ini terjadi? Dulu Alex begitu membenciku, tapi kini Alex begitu menyanyangiku, bahkan tak ingin berpisah denganku' bisik batinku, serta mengenang masalalu yang tidak mengenakan.


"Hmmm,,,," suara deheman sangat mengejutkanku.


Begitu pun Alex yang menyadari hal itu sama shocknya hingga tanpa sadar mendorongku, pada hal dari tadi dia yang memelukku.


"Sial!" sentakku tak terima dengan perlakuan. Lihat saja nanti, ora sudi aku disentuhnya lagi, apalagi dipeluk. Sungutku tak terima.


"Hahhh,,, kak Niko ngagetin aja. Ngapain kesini?, kamar kak Niko dibawah kan"


"Maaf gak sengaja" jawabnya tanpa dosa terlebih mengetahui Alex sedang memelukku. Tentu perasaan Niko akan berbeda.


Ku terdiam ditempatku, tak tahu harus berbuat apa? Rasa malu tentu ku rasakan, terlebih lagi kepergok oleh kakaknya Alex, Niko.


"Kirain kamu bawa siapa. Aku kira cewek atau teman kamu. Karena tak biasanya kamu membawa seseorang ke kamar kamu jika bukan orang itu istimewa buat kamu" terang Niko tanpa ada rasa salah, kini seolah membuka keadaan Alex selama ini.


"Itu bukan urusan kak Niko ya ini urusan pribadiku sendiri kakak nggak usah ikut ikut urusan pribadiku ngerti" sentak Alex terdengar emosi pada Niko.


"Siapa yang turut campur?"


"Lha, buktinya sudah ada"


"Aku cuma mastiin aja, daripada mati pernasaran. Laaa,,, lala laaaaa,,," Niko berlalu pun masih sempat berdendang.


Bahkan sampai ke pergian Niko pun aku tak dapat berkata. Sampai bayangan menghilang, aku masih terdiam di tempatku.


"Kenapa kamu selalu sembrono Al? Rasanya aku malu, untung cuma kakakmu Niko. Gimana kalau orang tuamu?" Tentu mataku membulat ke arah Alex. Terlihat Alex cuma nyengir kuda.


"Kamu pulang atau mau di sini saja" Alex malah mengalihkan topik pembicaraan.


"Pulang" jawabku dengan lemas. Tadi tasku masih aku pegang gini aku gendong pada punggungku aku benar-benar siap untuk pergi.


"Bisa pamit ke orang tuamu, Al"


"Biasanya mereka belum pulang kalau sore begini biasanya pulangnya malam atau mungkin bahkan sampai larut" jelas Alex tentang kedua orang tuanya.


"Oh, Ya sudah kalau begitu sampaikan salamku pada orang tuanya" titahku.


"Nanti aku sampaikan"


Aku berjalan keluar dari kamar Alex tak lupa hp-ku ku masukkan ke dalam saku celanaku. Alex mengikutiku dari belakang.


Sesekali Alex nampak menghirup udara...


'Dasar, manusia aneh?' pikirku dengan apa yang lakukan oleh Alex. Pasti mencium aroma tubuhmu yang menguar.


Entah mengapa akhir-akhir ini aroma tubuh menguar, menebarkan aroma bunga kenanga atau itu hanya berlaku untuk Alex saja atau juga untuk yang lainnya. entahlah aku juga tidak tahu dan aku juga tidak pernah memperhatikan hal itu.


Kulihat tadi kak Niko terlihat biasa saja, bahkan saat melihat pun, biasa saja juga. Namun terakhir saat ku lihat kak Niko seperti membaui sesuatu. Atau mungkin itu aroma dari tubuhku, rasanya aku tidak percaya.


Dalam perjalanan tak ada perbincangan baik aku dan Alex hanya diam saja, dia mengantarku dengan menggunakan mobil yang lainnya entah berapa mobil yang Alex punyai ataupun keluarganya, mungkin lebih dari satu. Yah, namanya juga orang kaya, tentukan itu bukan masalah. Terlebih lagi saat bermain game online moba tadi Alex memakai HP yang bermerek. Merk yang sangat identik dengan harganya yang selangit. Tentu bagi orang yang ekonominya rendah membeli HP yang bermerek apel yang terbaik tentulah itu hanya sebuah impian belaka.


Di keheningan yang menjeda Alex menyempatkan bertanya, atau hanya sebuah argumen yang membuat aku tersenyum geli...


"Aku akan beli HP seperti yang kamu miliki buat main game moba"


Senyum simpul tersemat di bibirku, rasanya itu sesuatu yang sangat lucu menuruku, bagi Alex, tidaklah sulit untuk membeli HP seperti HP yang ku miliki yang harganya memang untuk golongan bawah seperti ku.


"Terima kasih Alex telah mengantarku sampai di sini"


Aku pun turun dari mobil milik Alex yang telah mengantarku di depan gerbang pintu rumah Riko.


Tentu hal itu disaksikan oleh ayahku,,,


Nampak Alex melambai hormat ke arah ayahku. Tentu ayah ngerti, hanya mengangguk saja.


Ku salimi ayah, sebagai rasa hormat. Ayah tidak banyak bicara, aku dari mana? Karena bersama Alex terlebih yang mengantarku bukan jadi hal yang dipertanyakan lagi.


Lagian, ngapain juga Alex masih ditempatnya, tidak pergi pergi.


Ku tatap tajam kearah Alex, berharap dia mengerti akan arti tatapanku tapi Alex gak ngerasa. Nampak cuek, menikmatiku seakan aku memberinya peluang. Lama lama nih ada rada gila ya...


"Bening, kamu baru pulang, darimana?" Riko datang dari arah belakang, baik aku ataupun ayah tidak menyadari hal itu.


Nampak Riko memperhatikanku dari atas sampai bawah, menelitiku dengan tatapan curiga.


"Pakaian siapa yang kau pakai Bening?" tanya Riko dengan tatapan curiganya. Tatapannya kini mengarah kedepan dimana Alex masih berada didalam mobilnya.


"Ooo,,, sekarang aku tahu pakaian siapa itu. Ternyata dari pencundang itu rupanya. Baiklah, ini tidak bisa ditinggal diam kan saja" dengus Riko mengarah ke Alex yang tampak santai karena Riko mendekat kearahnya.


"Bilang apa kau tadi sama aku hah,,,? Bukankah kebalikannya, itu kau,,,!" tuding Alex tidak terima atas perkataan Riko, itu menghinanya.


"Yep, kau seorang pe-cun-dang,,,,!" seru Riko tertahan sambil menyeringai penuh ejek.


Ya Allah! Apa yang mereka lakukan, apa gak bosan bertengkar terus seperti itu. Berseteru gak jelas, apa yang diributkan. Huh, dengusku kesal.


"Apa kau bilang?"


"Pencundang kau Alex, ha ha ha,,," Riko tertawa, penuh ejekan.


"Bugghhhh,,,,!?"


#bersambung.....


___________


Sn 17/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.