183. DINNER.
Bab 183. DINNER.
★★★★
Riko dengan tak mencekram Alex yang baru dari mobilnya. Langsung mendapat bogem mental dari Riko yang kelihatan meluap emosinya. Entah apa penyebab dari pemicu Riko sampai semarah itu, aku tak tahu alasannya yang pasti.
"Rasain,,,!" tudingnya dengan mata membulat.
Alex pun tak mau kalah juga balas tatap balik Riko dengan nafas yang memburu.
"Aku sudah banyak bersabar Riko. Aku tidak tahu alasanmu memukul ku dari kemarin. Aku tidak terima dengan yang kau lakukan. Jangan kau kira, kau anggap aku lemah!" geram Alex sambil mengepalkan tinju.
Selanjutnya....
"Bughhhh,,,,!"
Alex membalas apa yang di lakukan Riko tadi. Karena Riko yang memulai meninju perut Alex maka Alex pun balik pukul perut Riko.
Entah sampai kapan perkelehian akan terus begini. Akahkah berakhir atau terus berlanjut.
Mata keduanya sampai memerah dengan nafas memburu kalau mereka benar benar dikuasai oleh amarah tinggi.
Selanjutnya, dengan sigap ayah ku melerai perkelahian keduanya. Aku tidak menyangka jika ayahku begitu lihai melerai keduanya, memegangi kuat Riko yang akan membalas pukulan Alex.
"Nak Alex pulanglah, jangan bikin masalah. Tolong,,," perintah ayah lembut tapi sangat tegas.
Tubuh Riko didorong kuat oleh Alex yang mundur beberapa, hal hampir menyebabkan Riko terjerembab.
Dengan sigap ku tahan tubuh Riko supaya tidak terjengkang hungga posisiku seperti memeluknya dari belakang.
Ayah dan Alex tentu melihat adegan yang tak terduga itu.
Sikap, wajahnya tampak bisa tapi tidak dengan Alex, wajahnya membesi, tatapan tak bisa ku artikan.
Sebaliknya Riko tersenyum, entah apa maksud dari senyum itu?.
Alex bergegas menuju mobilnya, masuk, membanting pintu mobilnya keras, setelah itu menggas mobil melaju dijalan raya.
Di saat itulah magrib berkumandang...
"Ada apa ini mas Rohman?" Tanya paman melihat situasi tegang.
Karena aku masih memegangi Riko dari belakang.
"Paman Syarif darimana saja?" tanya balik Riko nampak kesal atas kedatangan paman Syarif yang terlambat.
Riko seolah enggan bicara pada ayahku. Sebenarnya apa yang terjadi? Atau ini karena niatnya ingin memberhentikan ayah.
Tak ada ucapan terima kasih dari Riko setelah aku membantunya, kini memarahi pamanku karena baru saja datang.
"Maaf den, tadi kebelakang karena tidak bisa aku tahan lagi" jelas paman supaya Riko tidak menyalahkannya.
"Maaf den Riko, tadi saya yang menggantikannya sejenak" sambung ayah supaya Riko tidak terlalu menyalah paman terus.
"Aku tidak bicara sama paman Rohman. Jadi paman diam saja,,," bentaknya kasar. Tatapan bergantian lalu padaku, tak bisa ku artikan dari tatapannya.
"Aku tidak mau jika manusia itu datang, langsung usir saja. PAHAM KALIAN,,,!" sambungnya, dengan hentakan kakinya pergi dari depan post dekat pintu gerbang.
Ayah dan paman hanya tertegun ditempatnya memandangi kepergia anak majikan.
Bergegas ku susul untuk meluruskan masalah yang terjadi. Ketika post jauh, aku berseru memanggil.
"Rik, tunggu,,," seruku mencoba menahannya karena tak ingin banyak kesalah pahaman.
Walaupun waktu magrib sangat lah mempet banget, maka akan ku gunakan waktu itu sebaik mungkin supaya Riko tidak terlalu diliputi dendam yang berlebihan.
"Ada apa?" dengusnya pelan, terlihat sangat tidak suka.
"Rik, dengar dulu, kamu jangan salah paham dengan Alex, dia cuma ngantar aku, karena waktu pulang ayah tidak menjemputku. Ternyata ayahku dalam masalah,,,"
"Salah paham, kamu pulang sampai sore itu kamu angga suatu yang salah"
"Kamu kenapa Rik? Ada apa dengan kamu?"
"Kamu belum saja ngeh dengan perasaan ku ke kamu selama ini"
Tidak perlu aku menjawabnya karena itu mengenai perasaannya, karena aku sendiri tidak begitu respek dengan Riko karena sikapnya terlalu over.
"Apa perlu ku katakan,,,?"
"Cukup. Assalamualaikum,,,!" Aku pergi meninggalkannya. Bergegas, karena aku akan melakukan kewajibanku sebagai makhluk Tuhan.
"Bening,,,," seru Riko memanggilku. Ku biarkan saja karena perasaannya tidak perlu ku jawab karena aku belum siap memberi jawaban jika nanti Riko mengatakan tentang perasaannya selama ini terpendam.
Tadi sempat ku lihat dari wajahnya, tampak kecewa sekali.
Namun, aku sadar jika hubungan sesama jenis pasti akan terjadi problematika yang besar, bukan hanya dari pihak keluarga tetapi juga masyarakat pada umum, terlebih kita hidup dimasyarakat yang kental dengan adat ketimuran.
__________
"Alhamdulillah!" ku panjatkan rasa puji syukur karena aku telah menunaikan tugasku. Hatiku telah tenang, walaupun pikiranku masih kepikiran tentang Riko.
Perutku rasanya minta di isi...
Tentu aku harus ke dapur di rumah besar.
Tadi saat aku pulang keadaan ruangan sepi, aku tidak melihat ibuku.
Mungkin ibu kerumah besar untuk beberes.
Ku pegang perut karena merasa lapar.
Aku duduk santai duduk diruang tv sambil ku nikmati. Wakaupun rasanya hatiku gelisah.
Suasana terasa hening...
"Assalamualaikum,,," salam suara dari luar, tanpa ketuk pintu. Itu suara Riko lagi. Ada apa lagi dengan orang ini?.
"Waalaikum salam,,," jawabku.
Wajah Riko terlihat tenang, tidak temperamen lagi.
"Sudah sholat Rik?" tanyaku.
"Sudah"
Tumben dia jawabnya lembut. Riko tampak rapi dengan pakai baju pendek, celana berbahan mahal memakai sepatu sket kelihatan mau pergi.
"Bening, mau ikut aku,,,"
Karena ku perhatikan hanya mendiamkan sejenak.
"Kemana?" rasa penasaranku, tentu ada.
"Dinner"
jawabnya.
"Kemana?" tanya ku lagi karena aku tidak tahu tempat disini terlebih makan makanan yang enak.
"Kamu belum makan malam kan,,," terkanya menatapku. Setelah itu perutku bunyi bikin malu sendiri.
"Tuh, gak bisa disembunyikan" kekehnya karena melihatku pegang perutku.
"Dirumah aja Rik, sayang makanannya kalau tidak dimakan. Malah mubazir" kilahku karena ibu ataupun bibiku sudah repot memasak, telah dipersiapkan, tentunya.
"Aku bosen. Aku ingin makan seafood"
Padahal menurutku makanan yang dimasak dikeluarga Sanjaya juga enak enak. Sangat lengkap, empat sehat lima sempurna.
"Ayo kamu bersiap siap,,,"
Tak bisa aku menolak perintahnya dari pada nantinya Riko emosi tentu itu akan menimbulkan hal buruk terjadi.
Mengenai masalah ayah, nanti ku tanyakan padanya, apakah Riko benar benar akan memberhentikan ayah.
Tadi pun kelihatan kalau Riko begitu marah pada ayahku saat terjadi perkelahian. Saat melerainya.
Tentu tidak ada persiapan yang berarti, karena aku tidak punya sepatu jadi aku pakai sandal, tapi bukan jepit.
Riko nampak mendengus kesal...
"Kismin banget sih" gerundelnya saat lihat keadaanku.
Tak ingin ku tanggapi karena nanti ujung ujungnya pasti debat, mood ku hilang, hingga terjadi pertikaian.
"Kenapa sih harus diributkan masalah yang ku pakai?. Kita makan kan bukan kencan,,,"
Wajah Riko berubah, tapi sesaat. Bisa ku tangkap hal itu, tak bisa disembunyikannya.
"Yasudah, nanti beli sepatu" gumamnya masih agak kesal.
_________
Ibu tidak tahu kalau pergi, tapi ayah tahu dan aku juga berpesan pada ayah jika ibu menanyaiku kemana perginya.
Padahal tadi aku punya sebuah rencana, tapi untuk sementara aku urungkan.
Karena ajakan Riko tidak bisa di ganggu gugat, karena aku tahu resiko nya terlebih ayah ku dalam tekanan juga mungkin ancaman.
"Wow,,," tentu saja aku berdecak kagum dengan restoran seafood yang dipilih oleh Riko karena aku tidak pernah datang kesini.
Riko membawaku direstoran yang tentu harganya mahal, bahkan yang disinipun terlihat berkelas semua, dandanannya pun seperti orang orang berduit.
Bahkan dengan penampilanku jauh beda, makanya aku bandingkan malu sendiri. Menyesal aku pakai pakaian seadanya, seolah aku udik banget.
Penyesalan datang selalu di akhir.
Namun itu sebagai pengalaman yang sangat berarti.
Aku menjadi risih sendiri melihat tatapan orang-orang yang ada di sekelilingku, seolah aku adalah bahan olok-olok mereka dari orang-orang yang strata ekonominya di atas. Mungkin kelihatan sekali dari pandangan mereka kalau asalku dari golongan bawah, itu penilaian mereka.
"Dari tadi kamu tidak kelihatan nyaman ada apa Bening?" Tentu hal itu Riko sadari karena semua pandangan melirik ke arahku. Masih saja hal itu ditanyakan. Rasanya aku tidak enak hati, tidak pede karena keadaan ku.
"Lihat mereka, seolah tidak pernah orang saja. Atau karena aku,,, kismin" gumamku, sungguh aku mereka tatapan mereka mengintimidasi ku.
"Biarkan saja, toh mereka tidak mengusik kan,,," Riko ingin membuatku tenang.
"Tetap aku gak enak dari tatapan mereka. Seolah aku makhluk astral. Andai aku tahu begini, aku tidak mau ikut Dinner sama kamu" sesalku dengan kebodohanku karena mengikuti Riko. Namun, jika aku tidak menurutinya maka tentu tahu resiko yang harus ku tanggung. Kesempatan untuk bicara seolah tidak ada, kini aku malah tersudut pada dilemaku sendiri. 'Ayah, aku tidak tahu nasibmu nanti, apa benar jika Riko akan memecatmu' bisik batinku, terdiam merenung.
Ku tahu kalaupun tatapan mereka itu seperti mencibirku, merendahkanku, terkadang ada yang bergidik. Rasanya aku tidak tahan, aku ingin pergi dari sini saja.
"Sudahlah, kamu tidak perlu lihat ke mereka. Anggap saja mereka angin, atau rumput yang bergoyang" Riko coba menghiburku.
"Tetap aku tidak bisa" sanggahku terlebih dudukku dengan Riko saling berhadapan seperti orang yang Dinner kencan sepasang kekasih.
Rata rata mereka disini berpasangan, ada yang satu keluarga, namun fashion nya mewah, tidak sepertiku yang kesannya seperti gembel. Berkali kali ku sesali keadaanku.
"Wah tumben sekali tuan Riko kesini, sudah lama rasanya tuan tidak pernah berkunjung ke resto kami. Ada menu special hari ini, apa mau pesan" ucap seorang pelayan cantik satunya karena ada dua orang menyodorkan menu makanan. Tentu dikasih dua, satu untukku. Bukannya aku melihat menu yang tertera tapi harga yang tercantum membuatku geleng kepala.
'Gila, ini harganya mahal mahal, tidak ada yang murah. Tadi ada menu special, ada discountnya. Tentu nominal yang tertera bikin aku nelan ludah kelu. Berarti benar jika orang orang yang hadir disini orang tajir, pun buat Riko tidak masalah.
"Yang ini, juga yang ini ya,,," tunjuk Riko, pesan makanan. Aku tidak tahu apa yang dipesannya pada sang pelayan.
Tentu saja aku terdiam serta tak berani untuk pesan hingga Riko memanggilku.
"Kamu mau pesan apa Bening?" Tanya Riko hanya ku beri gelengan kepala terlebih dengan harga yang ku lihat sendiri, tidak ada yang murah.
"Tidak, aku air putih saja" jawabku polos. Menyesal atas kebodohanku dengan jawabanku yang itu membuatku seperti manusia udik sedunia.
Dua pelayan cantik itu pun hanya tersenyum ramah saja, saling tatap tidak berani, maupun mengejek.
"Silahkan pesan, ehmmm,,, tuan Bening" salah satu dari mereka menawariku.
"Yasudah sama kan saja pesanannya. Seperti biasa minumannya"
"Baik tuan Riko, pesenan segera datang"
Dua pelayan itu pun berlalu, tentu saja aku langsung geleng...
"Gila,,, buat apa beli makanan harganya itu,,,"
"Tenang, aku bawa uang. Tidak perlu khawatir, aku yang bayar"
",,, Tapi Rik,,,,"
"Gak usah protes, nikmati saja"
Aku dan Riko ngobrol bahas pesenan makan seafood yang harganya fantastik, menurut.
Beberapa saat makanan pun tersaji di meja.
"Silahkan dinikmati tuan" pelan berbeda yang mengantarnya.
Tentu aku nelan ludah dengan makanan yang tersaji didepanku. Tapi tidak dengan Riko terlihat biasa.
"Rik, apa habis makanan sebanyak ini. Mubazir kalau tidak habis, buang buang makanan sayang"
"Ha ha ha,,, tenang, habis lah"
Aku hanya bisa geleng kepala dengar pernyataan Riko dengan senyum coolnya.
"Rik, doa dulu sebelum makan, biar berkah" ingatku karena Riko tampak antusias dengan hidangan didepan kami.
Selesai doa, kami pun menyantap makan yang terhidang.
Berkali kali ku panjatkan rasa syukur atas limpahan makanan yang bisa ku nikmati hari ini.
Terlebih menu yang tersaji double, padahal satu saja ku rasa cukup. Dasar orang kaya suka menghabur hamburkan uang. Diluar banyak orang yang makan kekurangan, lha ini malah berlebihan, jika tidak habis, tidak ada rasa penyesalan. Dibuang.
Beberapa saat kemudian perutku sudah terisi. Rasanya perutku sudah kenyang, bahkan punyaku masih ada sisanya. Tidak pernah aku seperti ini, selu menghabiskan makanan yang terhidang. Ini memang sangat banyak sehingga aku tidak sanggup untuk menghabiskannya.
Disela menikmati makan terakhir aku lihat seseorang yang sangat ku kenal. Mereka mencari tempat yang nyaman, namun tidak mengetahui kehadiranku. Seperti nya Riko tidak mengetahuinya, pasti akan terkejut, sepertinya mereka akan dinner diresto ini. Tapi menurutku wajar, jika dia makan disini. Terlihat sekali wajah bahagia dari orang yang dibawanya, sesekali nampak terkagum. Hatiku rasanya, seperti ada sayatan halus di hati, tetapi rasanya sangat perih. Rasanya aku tak sanggup menyaksikannya. Walaupun yang ditatapnya terlihat cuek, namun yang menatapnya selalu sunggingkan senyum bahagia. Karena resto ini tempatnya sangat luas.
Pernah sekilas orang yang satunya yang baru datang, yang tersenyum bahagia, sekilas menatap kearahku, lalu menatap kearah Riko sambil leletkan lidahnya, lalu berkedip kearahku dengan senyum yang ku artikan, tapi penuh dengan isyarat.
Bahkan orang itu terlihat sangat mesra...
'Ya Allah, apalagi lagi ini?' kata batinku, mengelus dadaku yang rasanya jadi kekurangan oksigen.
"Hmmmm,,, ah, kenyang,,," ucap Riko yang seakan lupa diri. Makanan yang begitu banyak ludes disantapnya, bahkan bagianku yang tidak habis diembatnya juga. Aku bersyukur kalau makanan yang dipesan habis karena harganya mahalnya.
Dua orang tadi tidak kelihatan, tapi segar di ingatanku kelau yang dibawanya kelihatan begitu bahagia bisa Dinner bersama.
Kenapa?
"Bening, dari tadi ku perhatikan, kamu seperti sedang memperhatikan seseorang, siapa?" Saat Riko baru saja sendawa. Hal itu bikin aku tertawa lirih karena bila keras tidaklah sopan.
"Gak, tadi cuma halu ku saja, kayak lihat orang yang ku kenal. Sudag lah lupakan saja. Gak penting juga" terangku. Jikapun ku jelaskan Riko pasti tidak akan percaya. Aku juga tidak mengenal seseorang yang dibawanya, terlihat sekali sisi feminimnya.
"Melamun lagi. Kerjaanmu sedari tadi melamun melulu. Ada apa? Apa yang kamu pikirkan Bening? Kamu lihat siapa?" Cerca Riko karena aku selalu diam merenung, jika tidak dibilang melamun.
Deg!
Lagi lagi aku melihat orang yang ku kenal lagi, namun kali ini berbeda, karena aku tidak menyangka sama sekali. Mereka berdua, cowok cewek. Keduanya tidak mengetahui kehadiranku.
Sedangkan Riko masih asik menikmati makanan, juga dissert. Andai Riko tahu pasti lah akan terjadi keributan.
Si wanitanya tanpa sengaja pandangan beradu dengan ku lalu memperhatikan orang didepanku. Setelah itu ceweknya buru buru mengalihkan pandangannya, terlihat cuek tapi tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
Ku yakin pasti ceweknya nanti yang bayar, karena menu disini harga cukup merogoh kocek yang dalam.
Ruangan yang dituju pun sama dengan dua orang tadi yang satunya ku kenal. Tentu mereka berdua yang baru datang pasti bertemu.
Entah apa yang terjadi nanti, jika mereka bertemu?.
"Rik,,," ucapku ragu. Harus aku jujur dengan apa yang ku lihat. Aku menimbang baik buruknya.
"Billnya,,,?" seru Riko melambai pada pelayan. Sepertinya sudah berbeda lagi. Entah berapa orang yang bekerja disini begitu banyak pelayan bahkan bergantian.
"Berapa,,,?"
"Hmmm,,, sebentar ya tuan?" Sepertinya sedang menghitung.
"Lima juta rupiah!" jelas sang pelayan cewek menyerahkan secarik kertas.
"Masyaalloh!" Tentu saja aku shock dengarnya, tapi tidak dengan Riko yang terlihat santai.
Dengan santai Riko menyodorkan atm-nya.
Ada alat ditangan sang pelayan sepertinya sudah hafal dengan para pelanggan.
"Terima kasih atas kunjungannya tuan" sodor pelayan menyodorkan atm Riko. Kemudian berlalu, datang dua pelayan yang bertugas sebagai pembersihnya.
"Pa,,, kita duduk disitu aja pa? Riko,,,,?"
Ku dengar suara yang familiar karena tadi tak fokus.
Suara bu Shella tentu saja menggetkannya Riko, aku juga bergetar.
Tentu saja orang tua Riko tak menyangka jika putranya akan Dinner bersamaku.
"Eh nak Bening,,," sapa bu Shella ramah. Pak Mahendra pun ikut tersenyum ramah. Entah itu hanya terlihat dilahirnya saja karena aku tidak pernah tahu isi hati mereka. Terlebih menyaksikan Riko putranya mengajakku Dinner bukan pasangannya.
Tentu aku berdiri menyambut serta salim mereka sebagai bentuk penghormatan pada keduanya.
Terlihat nafas kelegaan, dari keduannya. Malah kini ikut duduk bersamaku juga saling berhadapan. Karena hanya tersedia empat kursi.
Kenapa malam ini banyak orang orang yang aku kenal pada dinner?.
Bilamana ibu Shella dan pak Mahendra bertemu dengan cewek yang ku maksud tadi, entah bagaimana perasaannya kedua orang tua Riko, tentunya bu Shella sangat lah kecewa. Ada senyum menyeruak dibibirku jika hal itu sampai terjadi.
Ada diam menjeda ketika duduk bersama, tentu aku tidak berani memulainya terlebih dahulu.
"Mama, papa dari mana, apa belum balik kerumah tadi?" tanya Riko pada orang tuanya.
"Belum, tadi ada papa metting sama klien, tapi mamamu lagi arisan. Makanya Dinner bareng mama disini" jelas pak Mahendra.
"Sudah makan belum,,," tanya bu Kinasih mungkin tidak tahu kalau baru saja selesai. Ini juga istirahat buat netralin perut yang kenyang, kalau Riko pasti udah over makannya, makanya perutnya membuncit.
"Sudah kenyang ma, ini aja mau balik. Tapi mau nonton film" terang Riko santai.
'Nonton film? Emang hari apa ini, ya Tuhan! Besok hari Minggu' aku sampai lupa waktu, lupa hari karena berjubelnya masalah yang mendera.
"Oh yaudah,,,! Pa kita pindah kesana yuk,,," ajak bu Kinasih pada pak Mahendra merasa tak nyaman. Berdiri dari tempatnya, nampak pak Mahendra melihat layar hpnya, ada hal yang penting, sepertinya.
"Yuk ma, lebih santai" mengiyakan ajakan bu Kinasih. Diusai keduanya yang sudah berumur namun masih terlihat mesraan yang bikin pasangan yang lainnya iri. Pengunjung lainnya yang tadi mencibir ku sudah tidak lagi, semenjak kedatangan pak Mahendra dan bu Shella. Baru mereka seolah menyadari kalau aku kenal baik dengan mereka berdua.
Belum juga beranjak dari tempatnya, ada lagi pengunjung yang berdatangan hingga sedikit agak rame.
Diantara para pengunjung ada satu keluarga yang mengusik pandanganku.
"Hah,,," tentu saja, sekali lagi aku dibuat terkejut sekali, tidak menyangka jika restoran ini begitu terkenal hingga orang orang kaya yang ku kenal datang kesini.
"Husshhh,,, Rik, lihat tuh,,,," bisikku pada Riko dengan kedatangan satu keluarga.
Tentu saja kedua orang tua Riko menatap kearah orang orang yang ku tunjuk.
"Eh jeng Kinasih, gimana kabarnya jeng, rasanya udah gak ketemu sama jeng Kinasih dan pak Mahendra, masih tetep ganteng aja suami jeng Kinasih" menanyakan kabar serta memuji, hingga terjadi cipika cipiki diantara keduanya.
Pak Mahendra pun bersalaman dengan pak Remond. Hingga terjadi perbincangan kecil tapi tidak denganku juga Riko hanya termangu ditempat saja.
"Eh kalian pada diam, nak Bening,,," sapa bu Shella padaku.
Karena ada Alex, Niko juga Angel ikut dinner bersama orang tua, keluarga yang sangat harmonis.
Tentu aku salim pada mereka berdua, ku lirik Riko nampak merengut padaku. 'Maaf ya Riko, aku juga menghormati kedua orang tua Alex' tapi aku tidak berani menatap Alex nantinya takut Riko salah persepsi. Aku kembali ketempat, agak dekat dengan Riko.
Alex tersenyum simpul kearahku seperti mengejek Riko.
Tentu saja Riko terlihat kesal sekali karena sikap Alex padaku.
'Huh, ada ada saja kelakuan mereka berdua' gelengku pelan. 'Norak!' sungutku dalam hati. Karena Alex dan Riko bersitegang.
"Lho kalian kenapa kok pada diem. Alex, Riko,,," kata bu Kinasih.
"Kecil kalian kan bersahabat" jelas bu Shella tersenyum riang.
Tentu hal membuatku kaget, ternyata keduanya telah jadi sahabat sejak kecil tentu kedua keluarga ini kenal baik.
"Hayok jeng Asih, cari tempat yang asik buat dinner sekalian ngobrol, gimana" ajak bu Shella hanya di angguki setuju saja.
"Disana lebih enak jeng Shella, bisa lesehan jadi lebih santai, nanti pesan yang porsi jumbo buat pesta barengan" saran bu Kinasih.
"Kalian berdua ini kenapa, udah gak ketemu? Seharusnya kalian seneng bisa ketemu lagi" ucap bu Kinasih hampir berbarengan dengan bu Shella.
"Bener itu jeng Shella" angguk bu Kinasih.
Seperti agak terpaksa Alex dan Riko mendekat, keduanya salaman lalu pelukan ala laki laki straight adu bahu, senyum pun dipaksa.
'Dasar aneh kalian berdua?' membuatku geleng kepala dengan persetruan yang tak ada ujung pangkalnya.
Terlebih kedua orang tua Alex dan Riko terlihat akrab sekali tapi antara Riko dan Alex terjadi pertengkaran yang tak terduga, baik pemicunya.
Setidaknya baik Alex dan Riko agak membaik, karena aku tahu hubungan keduanya di masalalu juga hubungan orang tua mereka berdua. Ternyata telah terjalin sejak lama.
"Huh,,,!"
"Huhh,,,!"
Baik Riko dan Alex masih saja belum baik keadaannya.
Bagaimana caraku untuk membuat kedua bersahabat baik seperti dulu lagi.
Niko sama Angel cuma diam sejak tadi...
Hingga buka suara.
"Ma, kapan makannya?, laper" kata Angel. Tak bisa sabaran.
"Ma,,, " desak Niko tak sabaran.
"Ayok jeng, anak anak saya sudah gak tahan" ucap bu Shella hanya nyengir atas desakan keduanya.
"Ayok,,, jeng. Pa,,, pak Remond mari,,," ajak bu Kinasih.
Riko dan Alex saling tatap sitegang. Seakan tidak pernah usai.
"Tuh nyokap lu pergi" sungut Riko.
"Terserah gue, lah,,," balas Alex.
",,,, Ayo Bening, kita pergi. Nonton,,," ajak Riko menarik ku secepatnya ingin pergi dari hadapan Alex yang tegang menatap Riko tajam.
"Dasar maniak!" umpat Alex ke Riko, hal itu membuat Riko geram karena masih bersitegang.
"Kalian kenapa sih berantem mulu, gak capek apa?"
"INI GARA GARA KAMU!" seru keduanya serentak.
#bersambung....
_________
Sl 18/10/2022.
Komentar
Posting Komentar