184. Debat berujung,,,?.

 Bab 184. Debat berujung,,,?.


★★★★


Selama perjalan menuju bioskop Riko hanya diam tanpa berkata sepatah katapun, aku yang jadi tak enak sendiri, karena aku di ajaknya, serta naik mobilnya. Jadi kenapa pun perginya hanya ikut saja.


"Kenapa diam saja, bicara kek, atau apa gitu" nampak Riko gak senang aku diamkan. Lagian, aku tak ingin membuatnya makin emosi.


Jadi...


Ku sentuh legang saat sudah berada diparkiran gedung bioskop.


"Berharap tidak ada lagi yang bikin moodku anjlok" sungut Riko. Menyadari kalau ku pegang lenganya yang mulai tumbuh bulu. memang kalau cowok macho itu bulu dengan sesukanya numbuh, beda keadaanku yang minim hanya dibeberapa tempat saja.


"Tadi aku sudah dengar tentang masalalu kalian berdua. Kenapa kalian gak akur?, kayak tom and jerry saja, berantem melulu. Capek gitu kenapa?" aku pura pura kesal karena sedari tadi cuma dengar dan lihat pertengkaran Riko dan Alex. Dan itu entah sampai kapan? Padahal aku punya inisiatif buat mendamaikan keduanya? Namun, entah bagaimana caraku, nantinya?.


Belum terpikirkan...


Yang pasti aku berusaha, sebisanya.


Setelah Riko agak tenang, serta ku tatap dia dalam dalam terlihat tarikan nafasnya pelan sedikit menahannya.


Keadaan masih didalam mobil, karena aku sengaja memahannya untul bicara baik baik padanya. Siapa tahu dia mau mendengarkanku.


"Mungkin akan sulit buatku untuk berdamai dengan dia" bahkan Riko seolah tidak mau menyebut nama Alex, memang sakit hatinya dalam banget.


"Aku ngerti, mungkin akan sulit buat kalian berdua. Memang separah itukah hingga kamu tidak mau memaafkan Alex. Jelas jelas orang tua kalian saja masih akur akur saja. Bahkan, pun ketika kamu nabrak Alex dan dia hampir sekarat, orang tua Alex tidak ada tuntutan. Menurutku sedikit aneh. Bisa saja kamu dipenjaran atas tuduhan pembunuhan berencana. Aku tidak habis pikir jika kamu sampai begitu tega ingin buat Alex celaka mungkin hilang nyawanya"


"Alasan klasik. Menurutmu sepele, tapi berat buat. Bisa saja aku memaafkannya, tapi tidak untuk saat ini. Terlebih lagi jika kamu berhubungan dengannya, maka aku terpaksa melenyapkannya, karena apa? Dia begitu terobsesi sama kamu sampai detik ini. Itu yang membuatku sampai begitu membencinya?"


Sampai sebegitunya Alex obsesinya padaku, hingga sampai mengejarku, memilikiku. Ya Tuhan!.


"Setidaknya kamu bisa memaafkan Alex"


"Butuh waktu"


Ku mendesah berat mendengar pernyataannya, aku tidak mungkin memaksakan kehendak supaya Riko bisa untuk memaafkan Alex, mungkin benar yang dikatakannya kalau semuanya butuh proses.


Ku lepaskan peganganku karena tadi cuma buat Riko tenang, benar Riko nampak tenang setelahnya.


Berjalan menuju ketempat pemutaran film, serta membeli tiket, aku tidak merasa katrok lagi. Pikiranku kembali bernostalgia ke masa lalu dikampung halamanku. Begitu teringat serta terkenang jika nonton bioskop di kampung sekarang sangat langka. Rata rata memilik dvd player buat muter kepingan dvd bahkan vcd pun sekarang jarang. Namun, kebanyakan nonton individu di youtube biar gak ribet, bisa pilih film yang diingini.


Sampai didepan pembelian tiket. Teringat kembali jika harga tiket ya cukup mahal tapi hal itu tidak berpengaruh buat Riko.


"Mau nonton apa?" tawar Riko ingin tahu apa yang akan ditonton nantinya.


"Horor saja,,," balasku sekenanya. Karena aku suka yang berbau horor.


"Kenapa horor mulu?. Oke,,," Riko nyerah, karena dia yang tanya sama aku buat nonton film genre apa.


Membeli tiket, film apa yang akan kita tonton, selanjutnya...


_____________


Ketegangan setelah nonton film horor tentu sangat terasa sekali bahkan sampai film berakhir ketegangan masih terasa...


Kita berdua keluar dari gedung begitu juga yang lainnya.


Berjalan dengan santai, dengan nafas serta detak jatung yang belum teratur karena terjadi ketegangan karena nonton film horor.


"Ihhsss,,, mas serem ya, takut. Nanti nginap ya dirumahmu ajah ya,,," sebut suara laki laki dibuat manjah ala Syahrini.


Aku dan Riko sama sama menoleh kearah sumber suara makhluk alam ghoib yang bersuara, kemayu.


'Kenapa aku bertemu lagi dengannya? Ya Tuhan' pikir ku. Padahal di restoran tadi aku ketemu bahkan aku tidak menyapanya, karena bersama laki laki kemanyu.


Namun, yang disampingnya tidak peduli.


"Dek,,," sapa mas Surya. Hal itu membuat laki laki kemanyu disampingnya yang bergelayut manja terlihat sebal, mengerucutkan mulutnya. Manyun.  Membulatkan mata, jengkel.


"Bagaimana kabarmu,,,?" sambungnya lagi, bahkan ada Riko pun tidak dipedulikan.  Melihatpun seperti enggan.


"B-b-baik,,, emmmh,,," tentu aku dilanda kebingungan untuk aku memanggilnya. Jadi serba salah. Mas atau pak didepan Riko juga didepan laki laki kemanyu. Andai aku tidak bersama Riko mungkin laki laki kemanyu itu ku buat mundur, sakit hati, bahkan cemburu. Sayang, aku bersama Riko jadi tindakan itu tidak ku laksanakan.


"Masss,,, ayo pergi,  gue neg disini,,," seru laki laki kemayu itu.


"Cindy, sebentar jangan berisik kenapa?"


Riko masih mendiamkanku. Seolah memberi kesempatan, atau mungkin punya maksud.


Namun akhirnya Riko mengajakku pergi.


Rasa respekku pada mas Surya hilang seketika.


"Ohh,,, ternyata selera mas Surya seperti ini" cibirku lantang. Mas Surya terlihat gelagapan.


"Sungguh aku tidak menyangka. Seleramu rendahan. Apa tidak ada yang lain mas" sikapku tentu sangat kecewa pada mas Surya.


"Hey, perempuan jadi jadian, perempuan tanah jahanam, jaga mulut lu tuh ya, asal lu tau ya, gue tuh di boking oleh mas Surya. Lu mau tau berapa? Ha ha ha,,," laki laki kemanyu bernama Cindy yang tadi disebut oleh mas Surya tertawa penuh kemenangan.


"Jaga mulutmu Cindy. Jangan asal jeplak!" Sepertinya mas Surya naik pitam.


"Kok gitcu sih mas. Gue salah apa coba, sampek mas Mata- bentak aku gitcu,,, hiks, hiks, hiks,,," lelaki jadian yang panggil dengan sebutan Cindy yang kena damprat mas Surya nangis bombay.


Aku lihat saja ingin muntah rasanya, dengan kelakuannya. Laki laki tulang lunak, melambai.


Riko juga nampak memegang perutnya, perutnya mual. Terlihat sekali mau muntah, berkali kali menggelengkan kepala, coba menahannya. Melihat kelakuan Cindy. Wkwkwkkkkkk....


"Ayo pergi, gak usah di urus orang macam gitu" dengus Riko menarikku pergi dari area gedung. Tentu aku ikuti, tidak peduli lagi dengan mas Surya dengan laki laki jadian yang kemanyu itu.


Namun, masih ku dengar pertengkaran keduanya tak begitu jelas.


"Manusia aneh aneh, tuh guru sinting ya, bawa manusia jadi jadian didepan umum. Emang dunia usah kebalik" sungut Riko.


"Heyyyy,,, jaga mulut ya broncu, gue perkosa lu baru yahok,,," kata Cindy penuh ancaman.


"Gara gara kalian berdua, hidup gue kena sial, sial,,," mata Cindy membulat.


"Aku peduli!" delikku, kearah lelaki prematur itu.


"Lu pikir gue becanda. Inget lu berdua, termasuk!" tunjuknya padaku, terlihat sangat dendam padaku.


"Gue akan buat perhitungan sama lu, juga pacar lu yang brondong manis itu. Gua akan bikin hidup lu juga bf lu menderita lahir batin"


Riko tentu tambah ketakutan karena teringat kejadian yang membuat ketakutan setengah mati, serta trauma yang cukup mendalam. Karena Riko pernah diculik serta dilecehkan secara seksual. Kini, keduanya tidak tahu rimbanya, orang tua Riko tidak menemukan keberadaan keduanya karena keduanya memang memencilkan diri.


Bukannya tidak mencari mereka tapi sudah berbagai cara tapi tidak jua ketemu. Orang tua tidak menyerah untuk itu. Toh, hidup kedua guru cabul itu sangatlah menderita.


Belum juga sampai dekat mobil, aku melihat dua sosok yang ku kenal juga di restoran tadi.


"Tadi aku sempat melihat pak Surya bersama laki laki itu. Coba kamu lihat itu siapa Rik?" ucapku menujuk kearah depan karena Riko tidak lihat sekitaran karena kesal.


"Tadi juga sama sama ke restoran tadi, mungkin juga ketemu sama pak Surya juga dengan orang tuamu mereka" mencoba untuk menjelaskan. Tentu saja Riko bertambah kesal.


"Kenapa kamu diam saja?, gak cerita ke aku,,," Riko malah menyalahkanku.


"Bukan urusanku. Toh, aku tak ingin nambah masalah. Nanti ujung ujungnya kamu menyeretku kedalam masalahmu.


Keduanya telah berlalu, si laki laki tentu tidak punya mobil karena yang bawa serta punya mobil si wanitanya.


"Awas saja mereka!" geram Riko menatap kepergian mobil yang mereka berdua tumpangi.


"Lha bukannya kamu tahu hubungan mereka?" Tentu aku ingin kejelasan.


"Masuk dulu, nanti jalan sambil ku ceritakan semuanya"


"Termasuk tentang ayahku"


Riko hanya mengangguk, seolah berat baginya ketika ku sebut tentang ayah. Dilema kah Riko?. Karena ayah punya masalah dengan Riko maka aku ingin tahu titik permasalahannya.


Didalam perjalanan pulang...


"Sebenarnya aku hanya menyuruh Angga untuk menjaga Raya,,,"


"Kamu masih mencintai Raya?" potongku.


"Dengarkan dulu..."


"Oke,,," desahku pelan.


"Pada intinya aku tak ingin Raya jatuh ke tangan pria yang tidak bertanggung jawab-"


"Seperti kamu, yang begitu mudahnya melepaskan Raya, sedangkan orang tuamu pun mendukung jika Raya jadi pendampingmu"


"Dari dulu tidak ada rasa cinta padanya. Hingga aku sadar kalau Raya hanya sebagai pemuas hasratku"


",,,, Kejam sekali. Kamu benar benar laki laki jahat, hanya memanfaatkannya saja"


Riko seperti kehabisan kata katanya. Maka, kali ini akan ku tanyakan perihal persoalan ayahku, kenapa Riko mau memecat ayahku.


Tentu ibu akan sedih jika ayah tidak lagi bekerja dirumah Riko.


"Kenapa kamu akan memecat ayahku. Kesalahan apa yang telah dilakukan beliau padamu?" tanya ku ingin tahu belum lama ini.


",,, Paman tidak mau mengindahkanku, badel, keras kepala. Untuk itu aku akan memberhentikannya. Namun, aku memberinya  kesempatan" desahnya berat.


"Kamu tahu bagaimana perasaan ibuku, jika nantinya ayah tidak kerja lagi. Tentu akan pisah, dan ibuku pasti tidak akan betah. Apa kamu memikirkan hal itu?"


"Maaf, aku salah. Tapi aku hanya,,,"


"Ancaman tidak beralasan. Baik jika itu maumu. Nantinya aku juga tidak ingin bertemu kamu lagi. Anggap ini sebagai bentuk rasa kecewaku ke kamu"


"Bening, mengertilah sedikit tentang perasaanku"


",,,, Buat apa Rik? Empatiku ke kamu seolah memudar"


"Beri aku kesempatan supaya aku memperbaikinya"


"Ku harap kamu tidak melakukan hal itu, terlebih membuat ibuku sedih. Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk selamanya" ancamku tidak pernah main main padanya.


"Kata maaf tidak lah cukup, yang terpenting tindakanmu, itu yang ku harapkan"


",,," Riko hanya terdiam sejenak.


"Kalau tidak, ada kok yang mau memperkerjakan ayahku?" ku ucapkan dengan rasa pede.


"Siapa?"


",,," Giliranku yang terdiam.


"Alex,,," tebaknya.


#bersambung....


__________


Rb 19/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.