185. Penculikan terjadi.
Bab 185. Penculikan terjadi.
★★★★
Perasaanku sedikit agak lega, bisa saja Riko berubah pikiran kapan saja, terlebih jika moodnya lagi tidak baik tentu hal itu akan membuatnya berubah pikiran, menarik ucapannya, terlebih lagi tadi Riko tahu sendiri argumenku. Tentu aku punya alasan kuat, terlihat Riko tidak senang dengan apa yang ku sampaikan terlebih lagi jika menyangkut tentang Alex seolah itu Boomerang bagi Riko sendiri. Mati kutu itu yang terjadi.
Mobil terus melaju, tapi aku merasa terjadi ada yang aneh karena tidak sampai sampai rumah. Aku yakin Riko tidak mungkin tersesat, menang Riko sengaja melakukannya.
"Riko kok gak nyampek nyampek, kamu mutar mutar ya sedari tadi" tatapku ingin penjelasan. Riko tampak nyengir kuda.
",,, Tenang Bening, gak kemana mana kok, aku hanya ingin menikmati malam minggu ini bersamamu, itu aja" jawabnya enteng seolah tanpa bebas.
"Iya, tapi perasaan ku mendadak tidak enak Rik. Seperti ada sesuatu hal yang akan menimpa kita"
Entah mengapa aku bisa merasakan hal yang bakal menimpaku dan Riko.
Kini yang dilewati juga jalanan agak sepi, perasaanku makin tak enak.
"Ini mau jalan kemana Riko, jangan jangan kesasar"
"Aku hafal kok tempat ini, tenang aja"
Dibelakang mobil yang dikemudikan Riko dan aku, seperti ada mobil yang mengikuti.
Riko hanya diam saja seolah dianggap hal biasa bahkan Riko menjalan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiba tiba mobil dibelakang kami nyalip, menghetikan laju mobil Riko.
Tentu saja Riko mengerem dadakan hingga menimbulkan decitan yang bikin telinga sakit.
"Bangke, anjing keparat, siapa yang berani menghadangku, hah,,," kesal Riko, nampak bersungut dengan mobil yang kini menghalangi.
Kepala kami hampir membentur dashboard, untung pakai sabuk pengaman.
Tak ada tanda tanda reaksi orang didalam mobil yang menghadang. Riko makin kesal hingga berulang ulang mengklaksonnya supaya menyingkir.
Dadaku berdebar debar tak menentu, tidak enak. Seperti firasatku sejak awal terlebih kejadian aneh yang terjadi makin membuat pikiranku jadi tak karuan.
"Bening aku mau turun memeriksa, siapa mereka,,," dengus Riko diselimuti amarah. Tentu agak berkeringat.
"Hati hati Rik, perasaanku tidak enak" ku peringati Riko agar berhati hati.
Belum Riko turun masih membuka pintu mobil, ada sekelompok orang orang berpakaian serba hitam keluar sangat cepat dari depan mobil, bahkan muka mereka ditutup juga.
"Keluar,,,!" Terdengar sebuah bentakan keras.
Baik Riko atau pun aku nasibnya sama, tubuh kami ditarik paksa keluar, dipiting.
Naas bagi Riko mulut dibekap, ada sapu tangan dihidungnya. Riko berusaha meronta tapi tenaga tidak kuat melawan orang yang telah menyandranya, bagaimana pun Riko berusahan dan berontak, malah Riko keadaan lama kelamaan melemah, lalu lunglai tak sadarkan diri.
"Kalian bawa masuk kedalam, kita bawa ke markas. Hati hati dengan yang satu itu, sangat berbahaya" ada sebuah peringatan dari seseorang diantara kawan orang orang yang memakai pakaian serba hitam serta penutup kepala.
"Baik boss,,," jawab orang memegangku, rasanya sangat kencang hingga rasanya sakit.
Sementara orang yang telah membuat Riko pingsan dibantu temannya memasukkan Riko kedalam mobil.
Kini giliranku, entah bagaimana nasibku selanjutnya. Aku sendiri tak berdaya, terlebih tanganku dipegang kuat kuat hingga aku tak bisa berbuat apa apa terlebih untuk melawan.
Mereka seperti terlatih sekali, seperti sangat profesional, karena ku lihat mereka tampak gesit.
"Kalian urus dia, hati hati, kalian lengah sedikit, nasib kita semua jadi taruhannya" peringat seseorang yang ku rasa itu pemimpin mereka.
Belum bisa ku pasti kan siapa mereka adanya, apa modus dibalik penculikan ini? Pikiran pikiran itu bermain diotakku. Tapi belum menemukan titik terang.
"Cepat bius dia. Waktu kita tidak banyak!" Perintahnya orang yang jadi pimpinan mereka.
Aroma yang seperti mint, dingin serta campur aroma entah apa itu, terhirup karena hidungku dibekap kain. Ku rasakan sesak nafas, dan terasa dunia menjadi gelap gulita. Untuk selanjutnya, aku benar benar tidak tahu apa. Tak sadar diri.
___________
Pov outhor!
★★★★
Tentu saja dirumah besar keluarga Sanjaya jadi gempar hingga pagi menjelang Riko dan Bening tak kunjung pulang.
Nyoya Mahendra alias Bu Kinasih, menangis histeris dari semalam sampai pagi hari, bahkan ditelpon, telponnya mati. Tak ada kabarnya. Bahkan teman temannya sudah dihubungi termasuk Alex dan Angga namun tak satu pun dari mereka mengetahui keberadaan keduanya. Bagai hilang ditelan bumi.
"Pa bagaimana ini pa? Bagaimana nasib putra kita dan Bening, sampai pagi ini belum ada kabarnya, pa?" Isak bu Kinasih tak bisa membendung kucuran air matanya.
"Tenang ma, sabar,,," balas pak Mahendra supaya istrinya tenang. Seorang ibu pasti perasa jika anaknya dalam keadaan tidak baik tentu itu felling atau naluri seorang ibu.
Para pembantunya juga hadir, namun yang tampak Khatijah, Rosmalia dan Rohman karena ketiga yang masih ada hubungannya.
Tentu Khatijah menangis sesenggukan bukan kali ini tapi dari semalam karena sedang menunggu putranya Bening tapi tidak pulang, karena pamit nya mau nonton film bioskop bersama Riko sampai larut tak kunjung pulang, bahkan subuh menjelang pun tak ada tanda tandanya. Tentu saja Khatijah dilanda kepanikan, bingung, gusar sekaligus menangis karena tidak ada kabar dari putra kesayangan.
Begitupun Rohman, beberapa kali nampak mengusut air matanya, dia juga merasakan kesedihan yang mendalam karena dia yang juga memberi ijin pada putranya untuk pergi nonton film bioskop.
Namun, tidak menyangka jika hal tak terduga terjadi.
Bahkan dulu pernah Riko diculik oleh dua gurunya yang cabul. Namun, akhirnya Riko ditemukan itu, informasinya dari Bening karena tahu letak lokasinya juga tempatnya Riko disekap. Kareba di perkosa, dilecehkan secara seksual, itu modusnya.
Kini kejadian menghilangnya Riko terulang kembali bahkan bersama anak pembantunya, entah modusnya apa kali ini? Apakah sama atau ada hal lainnya?.
"Pasti anak kita Riko culik, pa. Mama yakin, kalau mereka berdua di culik ketika mereka pulang pa. Papa sudah lapor ke polisi kan pa?"
"Sudah ma, papa sudah buat laporan tetang adanya tindak penculikan" terang Mahendra pada istrinya tidak tenang masih saja menangis.
"Papa harus kerahkan anak buah papa, suruh mereka mencari keberadaan Riko dan Bening pa"
"Iya ma, papa udah lakuin, papa malah akan ikut kok, jadi mama harus tenang, jangan panik, maupun khawatir"
",,,, Bagaimana mama gak khawatir pa? Entah bagaimana nasib mereka berdua, masih hidup atau,,," Kinasih tidak sanggup meneruskan kata katanya.
Khatijah yang mendengar hal itu pun makin sesenggukan tak bisa kendali tangisannya.
"Maafkan putra saya bu, gegara anak saya, den Riko hilang" ucap Khatijah masih berlinang air mata.
Rohman hanya diam pasrah karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Terlebih ini kota Jakarta, kota besar dan sangat luas, mencari Riko dan putranya Bening sama halnya seperti mencari jarum yang jatuh kedalam samudra. Maka air matanya yang sebagai perwakilan dari rasa duka dan kesedihan yang mendalam. Tanpa bisa melakukan apa apa, karena tidak pernah kenal setiap sudut kota jakarta apalagi pelosoknya. Ya ia tahu cuma seluk belum jalan menuju sekolah putranya serta ketaman hiburan dan perbelajaan, itu sedikit yang diketahuinya. Kini giliran putranya Bening yang menghilang bersama anak majikannya, tentu saja Rohman tidak bisa berbuat apa apa, mencari juga kemana? Tak tahu rimbanya. Yang dilakukannya hanya pasrah pada Tuhan, serta nangis sambil berikhtiar doa.
Tentu saja bu Kinasih tidak terima, teriak teriak dari pagi sambil nangis nangis bahkan suaminya ikut menenangkannya, pun dengan bi Rosmalia turun tangan.
"Bu tenang, pasti den Riko bisa ditemukan. Dulu juga den Riko balik"
"Iya bi Ros, dulu keadaan Riko cukup mengenaskan, mana diperkosa lagi, hingga membuatnya trauma. Takutnya kejadian itu ke ulang bi, mana anakku ganteng, macho lagi, he he he,,," Kinasih tersenyum menatap suaminya yang hanya geleng geleng kepala, tapi tetap Kinasih beruarai air mata.
"Mudah mudah tidak bu, kita semua berdoa untuk keselamatan den Riko dan mas Bening" ungkap Rosmalia ikut menangis hingga kedua wanita yang beda status itupun bertangisan ria diruang tengah yang luas.
"Assalamualaikum,,,"
Datang Putri dan Angga, mereka berdua ikut bersedih, menyalami pak Mahendra dan bu Kinasih, juga pakde dan budenya serta ibunya.
"Ma gimana kabarnya mas Bening juga den Riko?" tanya Putri didekat mamanya yang baru saja mengusap air matanya setelah tadi berpelukan dengan majikannya yang cantik, baik dan murah hati.
"Belum ada kabarnya. Tapi pihak sini sudah lapor kepihak polisi untuk mengusut kasus ini. Karena diduga ini kasus yang dulu pernah terjadi, kasus penculikan" Rosmalia tidak ingin anak perempuan banyak bertanya terlebih ini rumah majikannya. Tentu saja keluarga Sanjaya tahu tenta kedua anak Syarifudin dan Rosmalia karena Angga itu teman akrab dari Riko.
",,, Terima kasih Angga, Putri telah datang kesini"
Angga dan Putri hanya mengangguk. Menatap kearah budenya yang masih menangis tiada henti, lalu ke pakdenya juga ikut sedih sesekali usap air matanya.
Putri mendekati Budenya, ikut menangis, disini yang nampak tegar hanyalah Angga, namun wajahnya Angga juga kini nampak kesedihannya.
"Bude yang kuat dan sabar, mas Bening pasti ketemu. Pihak polisi sedang menyelidiki dan mencari,,," ungkap Putri. Angga pun ikut mendekat.
"Bude sabar, ini ujian, coba dari Allah, pasti mas Bening keadaannya baik baik saja, begitupun den Riko" Angga hanya bisa menenangkan, sekalipun hanya ungkapan kata kata namun itu sebagai spirit.
"Terima kasih" balas Khatijah pada kedua ponakannya, karena masih perhatian dengan nasib yang dialami putranya Bening yang mereka panggil mas.
"Ma, papa pergi dulu, papa mau menyebarkan anak buah papa buat melacak keberadaan Riko,,," pamit Mahendra pada istrinya yang menangis.
"Ma,,, jangan nangis terus mama apa gak capek. Nanti mama sakit, tambah repot, pasti nanti Riko prihatin lihat keadaan mama yang sedih, kurusan. Mama sarapan dulu biar ada tenaga. Bi Ros, aja ibu sarapan biar gak kosong perut"
Sebenar Kinasih menolak dengan berat, tapi benar ucapannya suaminya, dirinya tidak boleh egois. Terlebih jika sampai sakit maka akan pada repot, terlebih putranya belum ketemu, entah berada dimana?.
Kinasih dikawal dua orang pembantunya.
Tinggallah Putri, Angga, Rohman dan majikannya.
"Paman Rohman ikut saya, biar yang jaga paman Syarif saja. Mari paman" ajak sang majikan tak mungkin seorang scurity menolak terlebih itu juga buat putra mereka yang kini menghilang entah kemana.
"Baik pak" jawab Rohman, hormat.
"Angga, coba kamu calling semua teman temannya Riko buat bantu cari cari, siapa tahu dari mereka ada mengetahuinya" titah Mahendra supaya Angga ikut membantunya. Walaupun tidak suruhpun Angga tetap membantu karena bentuk pertemanannya dengan Riko karena Mahendra majikan orang tuanya yang selama ini keluarga Sanjaya banyak membantunya.
"Iya, baik. Tadi saya juga berinisiatif seperti itu, jadi kini saya juga pamit, juga akan mencari den Riko sama Bening dengan cara saya, nantinya" terang Angga memberi hormat.
"Mas Angga hati hati ya,,,," pesan Putri tidak enak dengan tugas dari tuan rumah.
Pak Mahendra dan Rohman pergi untuk mencari keberadaan Riko anaknya dan Bening.
Bu Kinasih makin bercucuran air matanya melihat suaminya pamitan padanya.
"Hati hati pa, selamat putra kita, hu hu hu,,, hiks, hiks, hiks,,,," Kinasih makin histeris. Melepaskan pelukan sang suaminya.
Tentu Mahendra mengelus punggung istrinya lembut, tak bisa membendung kesedihan, keluar dengan muka tegak kedepan bersama Rohman scuritinya.
Tinggallah Putri, bu Kinasih, dan budenya Khatijah serta ibunya. Ketiganya menangis menitikan air matanya.
"Bi saya mau kekamar dulu, hiks, hiks, hiks,,,," pamit bu Kinasih pada pembantunya.
"Putri bisa bantu ibu, capek, pusing, tolong pijitin ya,,," kini bu Kinasih nampak lebih tenang dengan kepergian suaminya.
"Iya bu,,," ucap Putri mengikuti langkah sang majikan.
"Mbakyu aku ke dapur dulu ya. Mbakyu kalau capek istirahat dulu, biar aku yang urus semuanya. Siang nanti bantu ya, kalau sendiri,,," suara Rosmalia menghilang.
Khatijah berjalan dengan pikiran kosongnya, menuju ke paviliun untuk menenangkan dirinya. Langkahnya gontai, mulutnya komat kamit, ada suara gumaman lirih.
Setelah sampai dan menutup pintunya...
Tubuh tegang sesaat, gemetar, matanya tiba tiba mendelik, ada desihan lirih dari bibirnya yang bergetar. Tangannya mengepal kuat. Geram!.
"KALIAN SALAH BERURUSAN DENGANKU KHATIJAH. KALIAN AKAN RASAKAN PEMBALASANKU JIKA SAMPAI PUTRA KU KENAPA NAPA!" teriak Khatijah histeris. Angin sesaat menderu, hewan hewan bersayap kabur berterbangan meninggalkan tempatnya.
Suasana hening!???.
Pov outhor end!.
_________★★★★_________
"Le, bangun,,," sapa sebuah suara tapi aku tidak bisa melihat wujudnya karena pandanganku masih gelap. Namun, aku tidak merasa asing dengan suaranya itu.
Akan tetapi keadaanku seperti lemah pandanganku belum juga terang karena hanya gelap itu pun aku belum menggerakkan tubuhku. Mataku masih gelap gulita.
Hingga ku rasakan sentuhan didepanku, dimuka, seperti mengusap wajahku.
Perlahan namun pasti pandangan ku mulai awas tidak gelap, mulanya sedikit buram perlahan agak hingga kini jelas.
Tapi, aku tidak melihat siapapun itu didepanku. Ku pikir ' Siapa yang telah menolongku?'. Bahkan bergerak aku tidak bisa, pandanganku gelap gulita tidak ada cahaya.
Dan setelah aku benar benar bisa melihat lagi lagi hanya bisa memandang ke depan, karena keadaan ku hanya terduduk tanpa daya. Ada denganku? Sebenarnya apa yang terjadi? Seakan, semuanya kejadian tidak ada yang ku ingat sama sekali. Bahkan untuk menggerakan kedua tanganku pun tak bisa lunglai, rasanya juga nyeri kalau tidak dikatakan sakit, begitu kakiku rasanya seperti lumpuh.
Setelah ku sadari keadaan, aku benar benar sadar melihat keadaan tapi tidak bisa ku tolehkan kepalaku.
Pandanganku lurus, tanganku lemas tak berdaya juga kakiku, hanya mataku yang bisa bergerak bebas, nafas juga biasa.
Samar samar ku lihat ada sosok tubuh terikat kedua kaki dan kedua tangan direntangkan. Rasanya aku tak percaya dengan apa yang ku lihat dihadapanku. Tapi setelah aku benar benar melihatnya dengan jelas, bahkan itu adalah Riko yang keadaannya sangat memprihatinkan.
Pakaiannya compang camping belum lagi ada memar serta darah yang mengering di sebagian tubuhnya. Sepertinya keadaan Riko cukup mengenaskan, dan pingsan.
Sekali lagi ku amati keadaannya, sungguh aku tak tega melihatnya. "Riko?'' gumamku lirih, namun aku kaget, suaraku tidak keluar hanya lenguhan kecil saja.
Siapa orang yang begitu tega membuat keadaan Riko seperti itu, bahkan darahnya baru saja mengering, padahal beberapa hari dia berkelahi dengan Alex.
Alex, kemana manusia itu?.
Keadaanku juga tidak lebih baik, tanganku sakit tak bisa ku gerakan, begitu kakiku, ku coba gerakan tapi tak berhasil. Sedangkan keadaan sepi tidak ada siapapun, terlebih melihat keadaan Riko yang dipeteng, tangan dan kakinya, serta pakaiannya robek sana sini. Sungguh, perbuatan yang sangat keji dilakukan oleh seseorang.
Keadaan Riko dalam keadaan pingsan, mungkin jika dia sadar mungkin bisa bertanya kini aku dan dia sedang berada dimana. Atau memang kita sedang disekap oleh para penculik.
Yah, kini aku ingat kejadiannya, kalau malam itu aku dan Riko yang pulang dari nonton dihadap sebuah mobil, hingga aku dipaksa menghirup sesuatu hingga keadaan ku tak sadarkan diri.
Sebelumnya aku juga Riko mendapat ancaman dari lelaki jadi jadian bahwa dia akan balas atas perlakuan ku juga Riko.
Atau jangan jangan ini perbuatan Cindy?.
Tapi, ketika saat penculikan terjadi tubuh yang jadi pemimpin badannya besar, tidak ramping seperti yang dimiliki oleh Cindy. Atau ini ada hubungannya dengan mas Surya, karena dia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Suudhon kini pada Cindy, kalau tidak mas Surya. Pikiranku berkecamuk.
Nampak samar samar ku dengar percakapan, dan itu makin dekat.
"Hati hati, manusia bernama Bening itu sangat berbahaya seperti yang dikatakan oleh?"
Ku dengar percakapan mereka, entah berapa orang. Aku belum tahu. Sepertinya ada suara pintu dibuka, mungkin kini aku sedang disekap disebuah kamar hingga tidak seorang pun mengetahui keberadaanku dan Riko.
Apa yang harus ku lakukan kini?
Rasanya untuk menolong Riko juga sulit, terlebih keadaanku lemas tak berdaya.
"Masa iya bro, tapi kelihatan imut gitu, menggemaskan. Masa boss bilang berbahaya. Mustahil" kata satunya lagi, menimpali aku masih dengan seksama mendengarkan obrolan mereka. Sepertinya hanya dua orang.
"Benaran, bahkan kita bisa mati tanpa tahu penyebabnya,,,"
"Kok bisa begitu?"
"Entahlah, boss pesan seperti itu. Kalau yang cowok satunya lagi, hmmm,,,namanya Riko itu gak ada apa apanya, dia anak orang tajir melitir, makanya boss mau minta tebusan gitu. Terus anak yang bernama Bening itu dilumpuhkan dengan cara yang ku bayangkan, sampai boss memberi perintah yang begitu sadis, makanya, kedua tangannya ditembak, supaya tidak bisa melakukan apa apa, kakinya dibius lumpuh, biar gak berbahaya" terangnya. "Kamu lihat keadaan Bening, belum sadarkan diri hampir tiga hari lamanya, sekarangpun kelihatan belum ada tanda tandanya sadar. Aku kasihan melihat keadaannya bro. Untung boss gak memakainya alias di sodomi untuk memuaskan hasrat gilanya. Tapi, anak yang bernama Riko yang jadi sasarannya, diperkosa boss udah beberapa kali. Aku heran, boss kok doyan sama lubang pantat, itupun masih brondong"
"Iya, kasihan sekali keadaan Riko udah tiga hari ini dipakai boss terus. Ini disuruh lihat keadaannya, apa baik baik saja"
"Kasihan sekali mereka berdua. Tidak tahu apa apa, bahkan masalah malah menjadi korban. Itupun karena orang tua Riko kaya. Bukan cuma boss saja yang ngincer tapi banyak kelompok mafia yang lain yang ngincer Riko untuk dijadikan sandranya"
"Malam itu boss gak turun tangan sendiri kan. Malah asik dengan guru muda itu, kayaknya boss jatuh cinta dengan guru muda itu. Bahkan dengan suka rela menfasiltasinya"
"Kan banyak anak buahnya, uang buat boss gak masalah, yang penting bikin puas dan happy"
Ya Allah! Ternyata benar aku saat ini disekap, bahkan disandra. Keadaan Riko sangat mengenaskan. Aku belum tahu nama boss mereka karena kedua cuma melihat keadaanku dan Riko. Ku buka sedikit mataku untuk melihat mereka berdua yang datang. Lagi lagi mereka mengenakan penutup majah, disebut topeng monyet hingga aku tidak mengenali wajah keduanya. Namun keadaanku juga cukup parah, kedua tanganku ditembak, dilumpuhkan pun kakiku, serta aku diberi obat pelumpuh saraf hingga aku hanya terduduk tidak bisa ngapa ngapain lagi. Menangispun rasanya percuma. Meminta tolong pada siapa, aku tidak bisa melakukan apa apa, karena kondisiku sangat lemah.
Mereka pergi, benar saja keduanya hanya memastikan keadaan kami.
Entah sekarang ini jam berapa, juga keadaan diluar itu seperti apa? Yang pasti aku hanya bisa pasrah pada Allah swt, jika pun aku harus dalam keadaan seperti ini.
'Ya Allah, aku tidak bisa beribadah kepada-MU, karena keadaan ku yang tak berdaya. Kuatkanlah aku ya Allah, tolong aku juga Riko' doa dalam hati, tanpa ku sadari air mataku luruh seketika. Mereka memperlakukan Riko seperti budak sex, menggunakan nya sudah tiga hari. Pantas Riko keadaannya mengenaskan seperti itu, ada bercak darah yang mengering, pakaian compang camping seperti gembel.
Aku berusaha sebisanya apa yang bisa ku lakukan, melihat keadaan Riko di hadapanku membuat ku miris, kasihan. Namun, apa yang ku lakukan semuanya hanya sia sia saja. Keadaan ku benar benar lumpuh total. Rasa nyeri dan sakit ku rasakan.
"Riko,,, Riko,,, Riko,,," hanya gumaman lirih yang keluar dari mulutku. 'Ya Allah, apa yang harus ku lakukan?' bisik batinku. Terlebih aku mendengar langkah langkah mendekat kearah kami. Hati berdebar, seperti malaikat maut datang mendekat. Detak jantung kian berpacu. Apa yang harus ku lakukan?.
Ya Allah,,,!
Langkah itu makin dekat, entah siapa orangnya?
Yang ku takutkan itu boss mereka yang akan melampiaskan hasratnya seperti yang dikatakan orang orang suruhannya.
Ceklek,,,,
Kunci dibuka dari dalam,,,
Hal itu membuatku sampai menahan nafasku, seakan itu seperti hal membuatku ketakutan.
Kkrrreeekkkk,,,
Pintu dibuka pelan. Tidak ada suara apapun, hanya langkah pelan.
Aku belum sempat melihatnya.
Penasaran???.
#bersambung....
________
Km 20/10/2022.
Komentar
Posting Komentar