186. DISEKAP, ENTAH DIMANA?.
Bab 186. DISEKAP, ENTAH DIMANA?.
★★★★
"Ha ha haaaa,,,,,,!" suara tawa lantang menggema diruangan yang saat ini aku disekap.
Tentu saja aku pura pura pingsan supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Aku juga ingin tahu siapa orang yang telah membawaku kesini menyekapku bersama Riko.
Kembali suara tawa terdengar, tapi tak ada gemanya. Mungkin tempatnya ada peredamnya hingga tidak ada gemanya.
"Hmmm,,, kasihan, kasihan nasib kalian berdua" gumamnya terdengar. Suaranya tampak asing.
Sedikit ku buka mataku untuk melihat siapa orangnya, aku bisa mengenali wajahnya atau tidak. Ada perasaan takut, karena aku tidak tahu apa orang yang menculikku itu seorang pembunuh bayaran, atau memang punya geng atau mungkin komplotan gembong mafia. Karena tidak mungkin punya nyali jika tidak punya komplotan karena pastinya akan beresiko.
Tentu aku tidak mengenalinya, lagi lagi wajahnya ditutup, hanya matanya yang kelihatan.
Matanya menatap kearahku tajam, sembari tersenyum. Mendekat kearahku, seperti memeriksakku. Ada gumaman lirih, tapi masih bisa ku dengar jelas karena jaraknya sangat dekat. "Hmmm,,, sepertinya belum sadar sadar juga, pengaruh obat itu begitu kuat hingga membocah ini belum sadar juga, padahal sudah tiga hari, seharinya hari sudah sadar. Kasihan sekali, namun aku tidak mau ambil resiko. Boss bisa membunuhku jika sampai menolongnya, atau membebaskan. Sebenarnya ingin ku lampiaskan hasratku padanya. Tapi, itu bisa berbahaya padahal aku ingin ngerasain, lubangnya" gumamnya, keluar dari mulutnya, itu suara laki laki.
Sejenak keadaan hening...
"Atau ku lampiaskan padanya saja, tapi melihat keadaannya yang sudah tak karuan membuatku tak tega" orang itu masih didepanku. Tadi seperti duduk memeriksa, kini telah berdiri lagi.
"Manis sekali anak ini" sepertinya mengagumi ku. Namun, aku bersikap normal seolah pingsan supaya dia tidak curiga.
Langkah kakinya melangkah, setelah tadi mengagumiku. Menuju kearah Riko. Sepertinya mau melampiskan hasratnya. Ya Tuhan, pasti Riko hidupnya akan hancur karena telah dilecehkan bukan hanya satu orang melainkan banyak. Tentulah hidupnya makin hancur.
"M-ma- mauuu,,, apa kau,,, manusia durjana. Anjing... Lepaskan aku,,,! Papa, mamaaaa,,, tolongggg,,, akuu,,,!" teriak Riko ternyata telah sadar. "Laknat kau,,, manusia menjijikan,,,! Jangan sentuh akuuu,,, hiks, hiks, hiksssss,,,," lanjutnya Riko tubuhnya mencoba meronta saat tubuhnya di raba. Bukan, melainkan dibelai. Tentu saja tubuhnya bergetar, air matanya tak terbendung lagi.
Bukannya melepaskan, orang itu melanjutkan aksi bejat pada Riko.
"Ha ha haaaa,,,,," orang itu malah tertawa senang melihat Riko yang tentu saja dilanda kepanikan juga ketakutan.
"Nikmati hari hari mu disini, sampai orang tuamu memberi tebusan pada bossku. Ha ha haaaa,,, sebelum waktu itu terjadi aku bisa mencicipi tubuhmu yang membuatku bergairah,,," orang tersebut menjilati telinga Riko dengan tawa penuh kemenangan.
"Ya Allah, aku tidak bisa berbuat apa apa, tanganku sedang terluka, kaki tak bisa ku gerakan juga tubuhku. Aku sedang dalam keadaan terikat. Ya Allah, kasihan Riko harus menanggung derita yang menyedihkan seumur hidupnya" itu hanya bisa ku katakan dalam hati tanpa bisa ku keluarkan. Menatap lurus kedepan, sedangkan kepalaku juga tak bisa ku gerakan.
Orang itu seperti sibuk dengan dirinya sendiri, menyibakkan bajunya, melorotkan celananya agak tergesa.
Riko yang melihat itu menggerung panik juga memaki pencundang itu sekenanya. Bukannya menghentikan aksinya seolah kesenangan melihat keadaan Riko yang meringis juga kesakitan.
"Ha ha haaa,,,," kembali lelaki itu tertawa lepas melihat Riko yang panik ketakutan.
Sudah tentu batang mengacung kedepan. Riko melihat itu jijik sekaligus gusar tapi tak punya pilihan lagi.
"J- jangan la-kukan itu padaku. Aku mohon, jangan lakukan, hiks, hiks, hiks,,," Riko menggerung dalam tangisnya. Betapa malang hidupnya karena harus menanggung hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Sesaat lagi laki laki akan melampiaskan aksinya...
"Drett,,, drettt,,, drettt,,," ada panggilan masuk di hp laki laki itu. Dengan kesal mengambil hp disaku, melihat siapa sang penelpon. Menghetikan aksinya yang akan mencabuli Riko.
Riko menarik nafas lega...
Untuk sesaat dirinya selamat dari pelecehan yang akan menghancurkan martabatnya sebagai seorang laki laki.
Terlihat tubuhnya bergetar, seperti takut, karena aku tidak bisa melihat ekspresinya karena penutup wajahnya.
"Alhamdulillah ya Alloh" gumamku, karena Riko selamat. Namun, entah selanjutnya, nasib apa yang bakal menimpaku terutama Riko.
Ternyata Riko selama ini jadi incaran para geng mafia karena keluarganya yang kaya raya. Tak heran jika para pesaingnya ingin membuat keluarga Sanjaya bangkrut, gulung tikar. Atau mungkin Alex juga jadi target berikutnya, karena Alex juga Anak orang tajir, anak terakhir begitupun Riko, tentu keduanya adalah pewaris harta kedua orang tuanya.
"B,baik boss, aku segera datang secepatnya,,," tentu saja pencundang itu dilanda kepanikan, maka dia pun membenarkan celananya yang kedodoran. Bersiap akan pergi.
"Permainan kita belum selesai,,," setelah berkata seperti itu laki laki itu pergi secepatnya, menutup pintu.
Hingga keadaan hening kembali...
Ku buka mataku, menatap kearah Riko, walaupun jaraknya tidak terlalu jauh. Berharap Riko tahu kalau aku juga telah sadar.
"Bening, kamu sudah sadar?" Riko tak percaya dengan keadaanku. Tentu saja aku bingung untuk menjawabnya. Jadi aku hanya menjawabnya dengan kedipan mata.
"Iya Riko, aku sudah sadar. Tapi keadaanku tidak baik baik saja, aku sedang terluka. Tubuhku tidak bisa ku gerakan, bahkan kakiku pun juga" bahkan mulutku tak bisa ku gerakan sama sekali, padahal aku sudah berusaha untuk bicara. Tapi hanya sia sia, tak ada hasilnya. Aku sudah putus asa. Apa yang harus ku lakukan ya Alloh? Tolonglah hambamu ya Alloh. Ibu, ayah, tolong anakmu ini' rintihku dalam hati. Berharap ada pertolongan.
Tentu saja aku tidak makan selama tiga hari, makanya tubuhku lemas sekali, tak bisa berbuat apa apa.
"Kamu tidak bisa bicara. Ya Tuhan. Kejam sekali, mereka telah menembak kedua tanganku, melumpuhkan tubuhmu" suaranya lirih dengan tatap sedih kearah ku. "Tidak apa apa, yang penting kamu sudah sadar, cukup bagiku" sambungnya prihatin melihat keadaanku. Padahal, keadaannya saja jauh lebih mengenaskan. Namun, masih memikirkan keadaanku. Tak terasa air mataku luruh, hanya itu dapat ku lakukan. Tak ada yang lainnya.
Riko masih saja menatap kearahku, prihatin.
Terdiam!
__________
"Nak,,,?" Ku di kejutkan dengan sentuhan yang ku alami saat ini. Ibu menemuiku di alam mimpi. Ibu prihatin menatapku, keadaanku yang tentu saja membuat ibuku terenyuh.
"Ya Alloh nak, kejam sekali orang orang yang telah menyiksa dan menganiayamu seperti ini" ucap ibu mendekatiku, tak sanggup untuk membendung air matanya, bergulir lancar.
"KU BUNUH KALIAN SEMUA MANUSIA DURJANA, YANG TELAH MENYIKSA PUTRAKU SEPERTI INI!" geram ibuku tak bisa membendung perasaannya.
Tentu saja ibuku tak dapat membendung perasaannya, atas apa yang terjadi padaku.
Mata ibu ku syarat akan dendam yang berkobar kobar.
Masih ku biarkan ibu memelukku, aku masih terdiam. Di alam mimpi tenaga ku juga tidak baik. Namun, aku senang atas kedatangan ibuku setidaknya masih ada secercah harapan aku bisa selamat, begitu pun Riko.
Kini pikiranku tertuju pada Riko, setidaknya Riko bisa memberiku energi selama aku berada didalam alam mimpi. Sebaiknya aku meminta bantuan pada ibu supaya membawa Riko ketempat ini. Hanya Riko harapanku satu satunya.
"I-ibu ternyata memiliki ilmu penjerat mimpi?"
#bersambung....
___________
Sn 24/10/22.
Komentar
Posting Komentar