187. Ada titik terang.

 Bab 187. Ada titik terang.


★★★★


Aku tidak menyangka jika ibu memeliki ilmu penjerat mimpi, karena selama ini ibu terlihat biasa saja. Atau mungkin ayah juga?.


Sejenak ibu hanya terdiam, menghela nafas dalam dalam kemudian mengagguk pelan. Air matanya terus bergulir tak berhenti.


"Iya nak, ibu memiliknya. Begitu pun ayahmu juga memilikinya" terang ibu sesekali mengusut air matanya yang seperti sumber air.


"Hanya saja, kami memiliki batasan, karena tidak sepertinya yang bisa menggunakannya setiap ada kesempatan. Tapi kami tidak, begitupun simbah kakung, karena kami bukan pewaris syah dari ilmu itu. Kamu pasti hal itu" jelas ibu kembali. Kini aku baru mengerti. Tapi, mengapa ibu dan ayah seperti menyembunyikannya didepan. Apa mungkin punya alasan?.


"Kenapa ibu menyembunyikannya dariku?"


"Bukan seperti itu nak, ibu dan ayah tidak mau berurusan dengan keluarga budumu Sarinah mukti. Karena mereka mengincar orang orang yang memiliki ilmu tersebut, untuk itu kami berusaha untuk menutupi, bersikap biasa dan normal. Ibu tahu kamu sering mengunakan ilmu penjerat mimpi. Maka, sering kamu menggunakan nya maka energi mu akan terkuras, seperti saat ini, apa yang kamu alami. Kamu ingin membawa Riko kesini kan. Ibu tahu pikiranku nak. Riko sendiri sedang dalam ancaman bahaya besar. Ibu tidak bisa melakukannya"


"Apa yang harus ku lakukan bu? Keadaanku seperti ini. Tubuhku tidak bisa ku gerakan karena suatu obat. Tanganku juga terluka" aku tak bisa berbuat banyak.


Ibu hanya bisa mendesah pelan, berat dihempaskannya pelan. Sedang berpikir jalan terbaik.


Benar juga kata ibu kalau Riko juga tak banyak menolongku. Lalu siapa...


Andai mas kharisma bisa hadir, mungkin bisa membantuku. Namun, aku telah membuatnya terluka dan kecewa denganku karena dulu pernah membuat simbah kakung terluka.


Apa mas Surya? Sudah lama mas Surya tak perduli karena telah membuatku kecewa dan juga sakit hati, kini kena karmanya sendiri karena hubungannya dengan bu Laras kandas.


"Ibu tak punya banyak waktu nak? Ibu hanya bisa membuatmu tidak lumpuh di alam mimpi. Selebihnya ibu tidak bisa berbuat apa apa, karena ibu hanya bisa menemuimu dan memberimu peringatan" ibu seperti terdesak oleh waktu. Karena ku rasakan keadaan seperti berubah karena tiba tiba angin menderu perlahan.


"Bu tolong, sekali ini saja. Hadirkan Alex disini, itu permintaanku" itulah permintaan sebelum ibu merasa panik terlebih keadaan menjadi berubah. Paling tidak ibuku tahu keadaan kondisiku seperti apa, pastilah tidak akan tinggal diam melihatku menderita dan tersiksa. Pasti ibu akan mengabari keluarga Sanjaya dimana aku dan Riko berada serta sedang disekap.


",,,, Akan ibu coba sebisanya nak,,," seru ibu diantara deru angin yang berkesiuran.


Suara ibu seperti ditelan angin yang perlahan lahan menghilang bersamaan dengan deru suara angin yang menghilang entah kemana.


Suasana kini menjadi hening, aku ditinggal sendirian. Memang aku bisa berjalan, tapi keadaan agak lemah sehingga aku tidak kemana mana hanya ditempat saja.


Blipppp,,,,,


Seseorang hadir dihadapanku?.


___________


Pov author.


*****


Khatijah membuka matanya, natasnya terengah engah. Nasib hampir membuat celaka, sungguh hal yang sangat membahayakan jiwanya, jika sampai terlambat, maka nyawanya tidak akan tertolong.


Air matanya masih menggenang, sejak berada di alam mimpi bahkan sampai kembali Khatijah diliputi rasa kesedihan yang mendalam.


"Ya Alloh, menolong anakku saja tidak bisa. Apa yang harus aku lakukan? Sedikit saja terlambat, nyawaku tidak bisa selamat huhhh,,,.


Aku harus mempertaruhkan nyawaku. Anakku sedang sedang terluka kedua tangannya, keadaannya hampir lumpuh, tapi apa,,, aku tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya. Aku ibu yang tidak berguna" sesal Khatijah merutuki dirinya sendiri. Air matanya bercucuran tak terbendung lagi dengan wajah ditakup, serta tertunduk. "Ibu macam apa aku ini, tidak bisa menolong putranya ketika dalam keadaan membutuhkan pertolongan" sambungnya, menggerung penuh sesal. Semua tak dapat dilakukannya, hanya sekedar membebaskannya.


Tapi semua tidak sia sia apa yang telah dilakukannya. Belum tentu pak Mahendra dan suaminya bisa menemukannya, itu sama halnya mencari jarum yang jatuh disamudera lepas.


"Lebih baik aku sholat subuh dulu, baru nanti ke rumah besar" gumam Khatijah, karena beribadah itu lebih baik dari pada apa pun.


Setelah selesai dan bebenah diri Khatijah menuju rumah besar, menuju kearah dapur, tentu disana Rosmalia sudah memulai aktifitasnya didapur untuk memulai memasak.


"Eh mbakyu, kelihatan kusut" sapa Rosmalia karena melihat kakaknya mukanya kelihatan sedih. Tenta saja hal itu terjadi karena semalam Khatijah datang ke dunia mimpi untuk menemui putranya Bening, namun tidak mampu untuk menolongnya.


"Alhamdulillah Ros, aku tidak apa apa. Hanya saja semalam aku mimpi buruk,,," Khatijah tidak mampu meneruskan kata katanya, air matanya tak mampu lagi dibendungnya.


"Mbakyu mimpi apa? Mimpi buruk,,," terka Rosmalia demi melihat kakaknya mengisyaratkan.


Khatijah mengangguk lesu....


"Iya, mimpi buruk sekali. Anakku Bening bersama den Riko sedang disekap disuatu tempat. Tempat itu ditengah hutan, disebuah rumah, tapi keduanya disekap disebuah ruangan dibawah tanah, Ros. Anakku kedua tangannya ditembak" cerita Khatijah membayangkan apa yang terjadi dan dilihatnya semalam.


"Apa mbakyu. Ya Alloh, kejam sekali peculik itu hingga menyakiti mas Bening seperti itu" ungkap Rosmalia prihatin dan miris mendengar cerita mbakyu nya Khatijah.


"Aku juga melihat den Riko yang tubuhnya dipenteng dipapan kayu yang bisa diputar, baik kedua tangan dan kakinya diregangkan. Pakaiannya compang camping, banyak bercak darah disekujur tubuhnya. Den Riko disiksa, keadaannya cukup mengenaskan. Para penculik meminta tebusan uang, jika ingin den Riko bebas" lanjutnya lagi, tak bisa membayangkan, apa sebenarnya yang di alami Riko, siksaan apa yang diterimanya selama ini di tempat sekapannya. Karena keadaannya cukup memprihatinkan.


"Apaa,,, bi Ijah,,,?" kejut suara bu Kinasih yang baru saja muncul dari dalam. Kini berada dekat dengan pembantunya.


Baik Khatijah maupun Kinasih sama sama menangis, keduanya saling berpelukan...


"Bi ijah benar apa yang bibi katakan tadi, ka- kalau putraku Riko sedang disiksa?" Kinasih ingin tahu kejelasannya.


Khatijah hanya bisa mengangguk lemah. Sesekali kedua wanita paruh baya yang beda status itu mengusap air matanya. Menenangkan hatinya.


"Bi Ijah tahu dimana lokasinya?" tanya Kinasih sekali lagi.


Lagi lagi Khatijah hanya bisa mengangguk, membenarkan karena semuanya sudah diperiksanya dimana keberadaan tempat itu.


"Mama,,," datang pak Mahendra mengejutkan yang ada di dapur.


"Pa, dengarkan mama pa?" seru Kinasih pada suaminya tak sabaran.


"Iya ma, tapi dengar dulu penjelasan  papa, ma" potong Mahendra sama istrinya.


Keduanya seperti tidak mau mengalah, ingin didengarkan.


Tidak begitu dengan Rohman, Khatijah serta Rosmalina yang jadi pendengar baik. Ketiga hanya bisa menggeleng lemah atas debat kedua yang ingin didengar dulu.


"Ma, papa tidak menemukan keberadaan Riko dan Bening. Bahkan polisi juga tidak tahu, seakan menghilang bagai ditelan bumi" jelas Manherdra pada istrinya. Kinasih hanya terdiam mendengar cerita suaminya. Dibiarkan suaminya bercerita lebih dulu dengan apa yang dilakukannya selama ini bahkan tidak pulang.


Khatijah mendekati suaminya, lalu memeluknya erat, pun Rohman tak bisa membendung rasa keharuannya.


"Mas Bening, anak kita mas, lagi disekap,,," tadinya Khatijah nampak tenang, masih bisa menahan air matanya kini kembali tumpah ruah.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,. Iya pa, bi Ijah semalam mimpi kalau Riko dan Bening disekap ditengah hutan, tapi berada dibawah tanah" jelas Kinasih menyambung cerita pembantunya.


Tentu Rohman tidak bisa percaya begitu saja, rasa penasaran pasti ada. Perasaan mengatakan kalau istrinya itu benar mengatakannya tapi bukan mimpi, melainkan pergi ke alam mimpinya putranya.


"Dek kamu pergi ke alam mimpi untuk menemuinya anak kita, bukan mimpi seperti yang di ceritakan Bu Kinasih kan dek" ulas Rohman berbisik takut yang lainnya dengar, maka akan menimbulkan kecurigaan.


"Dek, aku tahu telah pergi kedunia mimpi. Itu bisa membahayakan nyawamu" imbuh Rohman.


"Tapi, anak kita sedang terluka mas. Kedua tangannya ditembak, tubuhnya lumpuh. Aku sebagai seorang ibu tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya. Bahkan aku juga hampir celaka" terang Khatijah mengenai apa yang dilakukannya. "Mas sendiri apa yang telah mas dapat, hah. Anak kita Bening dalam bahaya mas?" seru Khatijah pada suaminya agak ditekan.


Mahendra juga Kinasih juga nampak masih debat, hanya saja Rosmalia yang bingung harus memperhatikan siapa. Kini tertuju pada Khatijah dan Rohman yang nampak serius.


"Apa yang harus kita lakukan pa? Mama takut kalau Riko kenapa napa?" seru Kinasih menggerung.


"Tenang ma,,," Mahendra mencoba mencoba menenangkan istrinya.


"Tenang, tenang,,, pa putra kita sedang di siksa pa, tubuhnya di ikat disebuah meja bundar yang bisa diputar dengan tubuh yang penuh darah. Bening tak bisa berbuat apa apa, karena kedua tangannya ditembak, tubuhnya lemas, juga dalam keadaan terikat!" terang Kinasih panik, kini Mahendra baru mengerti kekhawatiran istrinya.


"Tapi dek, yang kamu lakukan itu membahayakan jiwamu,,, kamu tidak lagi menggunakan ilmu itu dalam jangka waktu enam bulan lamanya"


"Nyawaku pun akan ku pertaruhkan mas. Mas lah kini harapanku satu satunya. Jika anak kita keadaannya tidak berdaya seperti sekarang, aku tidak perlu khawatir, pasti putra kita bisa mengatasinya. Seperti para penculik itu tahu tentang putra kita hingga membuat putra kita tidak berdaya"


"Bibi Ijah,,," panggil pak Mahendra.


#bersambung...


_________


Sn 24/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.