188. Saat yang Genting.

 Bab 188. Saat yang Genting.


★★★★


Tergesa Khatijah mendekat kearah majikannya. Tentu saja Mahendra ingin keterangan yang jelas dari pembantunya tersebut.


"Iya pak, ada?" Jawab bi Ijah tenang dengan wajah sedikit tertunduk, air matanya masih merembes. Begitu istrinya sama menangisnya.


"Benar apa yang bibi katakan" tegas Mahendra ingin dengar pengakuan pembantunya.


"Benar pak, mereka berdua berada,,," Khatijah kemudian menceritakan keberadaan tempat tersebut yang memang jauh dari keramaian. Dan kedua disekap di bawah tanah, tentu keberadaan mereka berdua tidak ada yang mengetahuinya, terlebih lagi penculikan itu terjadi pada malam hari. Selama ini Riko tidak ada pengawalan sama sekali, alias tidak mau bodyguard yang mengikutinya kemana dia pergi.


"Benar itu tempat bi Ijah?" tegas Mahendra seolah ragu, namun juga berpikir.


",,, Ya Tuhan, beneran itu tempatnya bi Ijah?" geleng Kinasih tak percaya karena mendengarnya sendiri.


Rosmalia hanya diam ditempatnya tidak banyak yang dilakukannya.


Dapur yang semula sepi kini menjadi riuh karena semua berkumpul.


"Pa harus bertindak secepatnya pa, mama takut Riko kenapa napa?" isak Kinasih.


"Iya ma, aku akan calling dan mengerahkan semuanya. Bila perlu akan ku serbu markas mereka. Pihak polisi juga harus dilibatkan. Aku ingin tahu apa pihak polisi bisa mengatasi nya atau tidak"


"Iya pak, bu. Keduanya tidak makan tiga hari" jelas Khatijah. Sepertinya mimpi Khatijah itu nyata adanya, padahal dirinya telah pergi ke dunia mimpi tentu saja Khatijah tahu benar keadaan keduanya.


"Iya bi Ijah. Terima kasih atas infonya" ucap Kinasih juga Mahendra, walaupun mereka berdua juga bersedih.


"Sama sama pak, bu,,, mudah mudahan tidak terlambat menolong mereka berdua" Khatijah mengusut air matanya. Lalu kembali ke posisinya bersama suaminya Rohman.


"Papa,,,"


Pov author end!


____________


Semula dadaku berdebar...


Kini senyum ku terukir, tidak apalah disini alam mimpi jadi tidak ada yang tahu apa yang ku lakukan kecuali Allah yang maha melihat.


Keadaan ku terduduk dibawah, tentu orang yang hadir tadi kebingungan. Tentu ini juga berkat bantuan ibuku karena telah mendatang orang yang ku maksud.


Orang itu tengak tengok mencari seseorang, tentu yang di cari mungkin saja aku. Dengan perasaan tenang dan lega.


"Alex,,," panggilku dalam keadaan duduk karena keadaan ku lemas tak bertenaga.


"Ya Tuhan, Be-Bening,,,?" balas Alex ketika beradu pandang, melihat keadaanku. Dengan nada keheranan karena terduduk dibawah.


"Terima kasih kamu telah mau datang kesini-" tentu aku terharu.


"Maksudnya?" tanya Alex penasaran sekaligus prihatin.


"Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan jika ada waktu. Aku hanya perlu pertolonganmu. Hanya kamu satu satunya harapanku, Al" ungkapku tak perlu lagi ku sembunyikan terlebih waktu ku tidak banyak. Aku juga berharap kalau besok ada pertolongan kalau tidak, aku tidak tahu nasibku  dan Riko kedepan nya akan seperti apa.


"Ini dunia mim- mimpi kan,,,?" tentu raut wajah Alex sedikit memucat juga ada pancaran rasa takut, sembari menahan nafasnya. Tentu aku mengerti apa yang dirasakannya. Namun, melihat keadaan tentu membuat Alex berpikir.


Perlahan Alex mendekatiku, agak kaget ketika dia bisa menyentuhku.


Air mataku pun tak bisa ku kendalikan. Seperti ada kekuatan, tanganku sedikit bisa ku gerakan.


"Al,,, hiks, hiks, hiks,,, maukah kamu menciumku,,," itulah permintaanku. Dengan tangis serta deraian air mata. Tentu sejenak Alex tertegun ditempatnya sambil jongkok, menatapku tak percaya dengan pernyataanku. Permintaku memang seperti itu karena tidak ada yang lainnya.


"K-kamu kenapa bisa seperti ini, Bening, Ke-keadaan mu bisa tak berdaya?" tentu Alex terharu melihatnya terlebih air mataku tercurah.


"Kamu tenang, semua akan baik baik saja,,," diusapnya air mataku dengan lembut penuh pengertian.


"Al, waktuku tidak banyak,,," desakku karena memang keadaannya sangat genting. Waktunya sangatlah mempet.


"Tolong aku,,, cuma kamu satu satunya harapanku" ulasku kembali. Biarlah aku dikatakan mengemis, bahkan aku juga pernah menyekap Alex tapi kini aku malah meminta pertolongannya. Apakah ibu tahu dan mengerti dengan apa yang ku lakukan? Jika aku meminta untuk menghadirkan Alex di alam mimpi untuk menemuimu, karena tujuanku untuk meminta tolong, sedang ibuku keadaannya juga hampir celaka. Tidak semua orang bisa menguasai ilmu penjerat mimpi dengan baik dan sempurna.


Alex nampak diam sejenak menatapi tak percaya, padahal dulu begitu agresif sekali padaku, tapi kini seolah berpikir. Ini aneh menurutku. Atau memang punya rencana tersendiri buat aku.


"Aku mau menciummu, bahkan apapun permintaanmu akan ku penuhi. Tapi, aku ada syarat buat kamu,,," seolah Alex mengulur waktuku, tentu saja aku jadi ketakutan.


"Al,,," aku tak ada pilihan lain. "Baiklah, asal aku bisa dan tidak memberatkanku. Apa syaratnya, katakan cepat, waktu tidak banyak?" Aku setengah memohon karena ini tidak main main.


"Sebenarnya ini obsesiku sudah lama terpendam. Aku ingin memilikku-"


Deg!


Tentu aku tak percaya dengan pernyataan Alex jika dia begitu terobsesi terhadapku dan itu sudah lama. Mungkin ketika Alex pertama menciumku, karena Alex begitu menyukai bibirku, dibilangnya manis bahkan sampai klimaks hanya dengan mencium ku saja. Aneh dan tidak masuk akal menurutku.


"Aku terima syaratmu Al, cepat lakukan Al" seruku tertahan, karena aku merasakan perubahan keadaan seperti saat ibuku akan pergi, kejadian hal sama terulang. Mukaku pucat bercampur panik.


Alex melihat perubahan wajahku jadi keheranan sekali.


"Kamu kenapa lagi Bening? Kamu nampak panik serta muka mendadak pucat-?"


",,, Al, please,,, cepat Al,,," ucapku terbata dibarengi isakan tangis serta deraian aira mata, padahal tadi ku coba untuk tenang, tapi kini aku di uji. Hingga dunia terasa terbalik. Andai keadaan ku kuat, mungkin keadaan nya tidak akan seperti ini.


"Apa lagi Al,,," masih berurai air mata.


Whuueesssssssshhhhh! Angin bertiup sangat kencang.


Aku makin ketakutan sekali...


Alex malah memantung, tidak menyadari apa yang terjadi.


"Sekali lagi, mau kah kamu jadi pacarku Bening,,,?" tegas Alex sepertinya tak mau main main. Aku tidak bisa berpikir lagi terlebih keadaanku memang sangatlah diujung tanduk.


"Iya Alex, aku menerimamu!" seruku setengah berteriak karena keadaan makin memburu.


Seolah Alex tak percaya dengan permyataanku. Aku tidak tahu nantinya, akan seperti apa? Yang terpenting bagiku, aku bisa selamat dalam keadaan ini. Keadaan yang benar benar membuat tak bisa berpikir jernih.


Dengan sisa kekuatanku yang ada, kedua tanganku yang rasanya sulit ku gerakan, tiba tiba secara reflek dapat ku gerakan.


Hal yang sama Alex pun melakukannya ...


Tubuhku langsung doyong, mukaku condong kearah muka Alex.


Detik selanjutnya tak ada jeda lagi...


Alex terlebih dahulu menyambutinya hingga kiss yang ku ingin terjadi.


Cuuupppp,,,,!


Hingga ciuman pun terjadi,,,


Bukan itu saja, tubuhku direngkuhnya, hingga aku bisa bersandar karena keadaan belumlah pulih.


Kini ciuman Alex berubah menjadi lumatan yang menggairahkan, bukan itu saja saliva saling bertukar bahkan sampai ludahpun tertukar.


Alex begitu menikmati ciuman ini, aku pun tak munafik juga sangat menikmati. Beda sekali dengan ciuman yang lain yang pernah ku rasakan.


Keadaan sekitarku kacau balau, sepertinya Alex tidak menyadari hal itu, karena terseret arus kiss yang mendalam.


Bahkan Alex makin intens melumatku, menggelitik ruang rongga kosongku. Ku nkmati semuanya yang Alex lakukan padaku sebagai pelampiasan, karena memang itu yang ku inginkan.


"Hmmm,,, bibirmu memang manis, Bening,,," aku-nya disela ciumannya yang membadai.


#bersambung....


_________


Sn 24/10/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.