190. Harus ku apakan?.

 Bab 190. Harus ku apakan?.


★★★★


Papa, mama seakan tak percaya dengan mimpiku, padahal itu kenyataan. Aku mengalaminya sendiri.


"Benaran itu sayang?" ulas mamaku. Tidak ku komentari, hanya ku beri anggukan saja.


"Terus Bening ada pesan apa tidak?" tanya papa, penasaran.


Ku gelengkan kepalaku...


Begitu lekat diingatanku betapa Bening keadaannya sangat lemah, bahkan memintaku untuk menciumnya. Entah maksudnya apa? Begitu mengharapkan ciumanku? Hingga ku ajukan syarat dan disetujui dalam keadaan terpaksa. Setelah ku cium keadaannya langsung pulih.


Tentu hal itu tidak ku ceritakan pada orang tuaku bisa bisa aku dicincang oleh mereka karena telah mencium seorang cowok bukan sekali bahkan lebih. Bahkan buatku candu, aku begitu menikmat karena bibir manis Bening. Ini memang terdengar gila.


Orang tuaku tidak tahu kelakuanku jika dibelakang mereka. Banyak yang telah ku perawani, mereka tidak berani menuntutku karena dibawah ancaman dan tekananku.


"Selama tiga hari Bening tidak masuk sekolah. Namun, orang tuanya minta ijin ke pihak sekolah" jelasku


"Jadi beneran pa, keduanya di culik ketika malam hari. Berarti mereka telah di intai serta di incar hingga diculik, pa. Mama takut kalau Alex sampai..." Kinasih tentu sangat resah setelah dengar berita itu.


"Gak ma, tenang. Aku gak akan apa apa kok. Aman, percaya deh ma sama putramu yang ganteng ini" ucapku membanggakan diri.


"Sayang, mama tetep khawatir. Pa, mama takut pa?" desak Kinasih dengan kekhawatiran yang berlebihan.


"Mama berlebihan deh. Siang mana ada penculik ma, kayak difilm film aja" kilahku supaya mama gak terlalu overprotektif.


"Iya mama, Alex sudah besar, pasti bisa jaga diri, iya kan Alex-" papa menatap kearahku memberi spirit.


"Betul tuh kata papa, ma. Mama sih berlebihan banget sama aku, dikira masih kecil. Yaudah, aku berangkat dulu ma, pa. Assalamualaikum,,," ku peluk mama serta ku cium, salim sama papa.


Aku tak pernah menyangka jika hari ini mungkin pertemuan terakhir dengan orang tuaku...


Pov Alex end!.


--------------


Ada jeda sejenak...


Entah apa yang akan dikatakan oleh Riko?.


"Rik, jangan bilang begitu. Kamu, aku pasti selamat. Pasti bisa bebas dari sini" aku berusaha membesarkan hatinya.


"Terima kasih Bening, kamu oktimis" Riko kehilangan semangatnya, seakan tidak akan hidup esok har, seolah menunggu akan di eksekusi. Senyum nampak getir. "Tapi, aku merasa kita tidak akan selamat. Untuk itu dengarkan aku, berharap kamu mengerti perasaanku,,,"


Entah mengapa hatiku malah berdebar tak menentu, seperti menunggu sesuatu yang tak pasti, padahal Riko yang akan mengungkapannya. Sepertinya Riko begitu serius. Ada ketegangan diwajah pucat dengan percikan darah yang sudah mengering.


"Kamu tidak perlu pesimis Rik, jalan keluar itu pasti ada" yakin ku pada Riko, karena aku ada harapan untuk itu walaupun aku merasa kurang yakin.


Helaan nafas Riko berat, aku hanya menatapnya sendu, karena bisa saja hal buruk terjadi terlebih keadaanku juga Riko tidak punya kekuatan untuk mengggerakan tubuh karena tidak makan juga minum karena aku pingsan cukup lama karena pengaruh obat, sedangkan Riko disiksa lahir batin.


",,, He he waktuku tidak banyak Bening. Aku bahagia bisa mengenalmu. Aku salah menilaimu selama ini. Penyesalan datang dibelakang, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Mungkin kamu tidak percaya" Riko tertawa lirih. Seolah hidupnya akan berakhir, padahal belum tentu.


"Dengar Bening. Mungkin ini terdengar konyol, namun aku tidak akan pernah menyelesaikan seumur hidupku jika tidak ku katakan. Kamu pasti tahu karena dari dulu aku pernah mengatakannya padamu, tapi kamu tidak meresponnya, atau tidak peduli, namun kali ini tolong kamu beri jawaban walaupun itu nantinya menyakitkan buatku. Aku sayang padamu, bahkan lebih dari itu. Mungkin ini tabu namun aku tak bisa memendamnya. Ak- aku cinta kamu Bening, mau kamu jadi pacarku!" Riko menundukan wajahnya, tak berani menatapku. Ku akui kalau Riko gentle mengatakan itu, tapi apa aku pantas untuk itu. Sedangkan aku menerima persyaratan dari Alex serta sudah menerima Alex, aku sudah resmi jadi pacarnya Alex.


"Kamu tidak perlu menjawabnya. Ini terdengar sangat menjijikan seorang laki laki mengutarakan perasaannya dan itu pada seorang laki laki. Namun, aku tidak menyesal, jika pun aku harus mati aku sudah tenang karena aku sudah mrngungkapkan perasaanku yang selama ini ku pendam, ku rasakan. Mungkin rasa ini salah tempat, tapi aku bahagia karena perasaan cinta itu indah walaupun bertempat pada tempat yang tidak semestinya"


Kali ini air mata Riko bergulir, mungkin ada rasa sesal karena aku hanya diam tanpa membalasnya.


"Rik, dengar,,, aku tidak bermaksud untuk menolakmu, hanya saja ak- aku,,, sudah menerima persyaratan dari seseorang. Aku tidak bisa menolaknya Rik, waktu juga keadaanku sangat mendesak dan berbahaya, hingga aku dapat memiliki kekuatan saat ini. Yah,,, walaupun tanganku terasa sakit dan nyeri. Maafkan aku Rik, namun aku takut jika aku tidak konsisten dengan ucapanku. Alex telah menembakku"


"Kamu menerima Alex?. Kau tahu kalau aku punya perasaan itu sejak dulu. Tega kamu Bening. Tapi, tidak mengapa? Setidaknya kini aku lega dan tenang karena aku sudah ungkap kan perasaan yang ku pendam selama ini"


Selanjutnya Riko terdiam....


__________


Pov Alex.


*****


Ada seberkas cahaya kebahagiaan di hatiku karena aku telah menembak Bening dan mau jadi pacarku. Beruntungnya aku karena telah mendapatkan apa yang ku inginkan. Setidaknya Bening mau menerimaku dan jadi pacarku.


Saat berjalan menuju kelas tentu senyumku terukir hingga banyak yang heran dengan ku. Namun, aku tidak peduli, ku nikmati hari hari ku saat ini yang hatiku sedang berbunga.


Mereka berbisik sedang membicarakan tentang aku tidak berani terang terangan...


"Lihat tuh, Alex kenapa senyum senyum kayak orang gila?"


"Bener tuh, kayaknya lagi seneng"


"Iya, tapi apa yang membuatnya happy?"


"Tahu. Yang penting udah tobat tuh orang, biar gak gangggu lagi"


"Betul. Jadi kan sekarang aman"


Aku tidak peduli dengan cibiran serta omongan mereka dibelakangku karena tidak berani terang terangan di depanku.


Benar apa yang mereka gosipkan kalau sekarang aku tidak bikin ulah lagi semenjak ku mengenal Bening, seakan dunia sex dengan para cewek bisa ku lupakan.


Begitunya aku terobsesi dengan bibir Bening yang begitu manis.


"Hmm,,, Alex, ada waktu. Aku mau bicara penting sama kamu,,," ada sapaan dari seorang gadis manis dan cantik. Aroma wangi tubuhnya menebar sampai ke hidungku. Hmm,,, menggugah kelelakianku. Namun, saat ku ingat tentang Bening, semua itu aku abaikan. Aku tak begitu meresponnya. Terlebih keadaan juga agak sepi.


Gadis yang kini didepanku satu kelas dengan ku nama nya Revika saputri. Sepertinya gadis manis ini suka atau mungkin punya perasaan terhadapku.


Senyum picik kini mengembang, aku ingin tahu apa maunya gadis cantik ini.


#bersambung....


___________


Rb 26/10/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.