194. Sebuah permainan.
Bab 194. Sebuah permainan.
★★★★
Pov author
------------
Markan yang terletak ditengah hutan, terlindungi dari hral apa pun, tidak akan pernah menimbulkan kecurigaan sama sekali ditempat terpencil ada sekelompok mafia.
Belum diketahui siapa ketua dari kelompok geng mafia itu, belum jelas.
Mereka semua memakai penutup kepala sehingga tidak bisa dikenali. Mereka seperti sudah terlatih, profesional.
Sementara ada satu mobil terparkir dibalik pepohonan, seperti sudah ada sejak hari gelap mengintai daerah sekitaran.
Mahendra bersama Rohman telah ada disekitaran sedang mengawasi keadaan. Tentu mereka berhati hati. Bukan hanya Mahendra saja tapi juga mengerahkan para anak buah, sudah tersebar diberbagai penjuru. Mahendra juga berkerja sama dengan Remond, walaupun ada perstruan, tapi diduga Alex juga ikut diculik geng mafia yang kini tengah di intai tempat persembunyian mereka.
Mereka sama sama bawa alat penyadap ditelinga mereka untuk komunikasi antara satu dengan yang lainnya hingga memudahkan untuk berhubungan.
Tentu saja markas sang penculik dikepung dari berbagai penjuru hingga seekor semutpun tidak akan mampu keluar dengan selamat.
Rohman tentu saja mengawal tuan majikannya karena informasinya didapat dari istrinya. Dan lokasi sama persis dengan apa yang telah dikatakan oleh Khatijah istrinya.
Seperti tidak ada tanda tanda kehidupan dari lokasi yang mereka intai membutuhkan waktu tidak singkat.
"Sepertinya ini benar lokasinya seperti yang istri saya katakan pak, tapi seperti tidak ada tanda tanda kehidupannya. Atau jangan jangan komplotan geng mafia sudah pergi"
"Tidak. Sepertinya itu mungkin, mengingat dari pesan yang saya terima, ini memang benar tempatnya. Bahkan pimpinan mereka meminta saya untuk menyiapkan uang cash" nada suara Mahendra sangat mengkhawatirkan keadaan putranya Riko. Tentu saja Mahendra tidak tahu menahu keadaan Riko itu seperti apa saat ini.
Andai Mahendra tahu keadaan sesungguhnya putranya, tentu saat ini pastilah tidak akan setenang saat ini, namun karena tidak mengetahuinya maka Mahendra menyusun strategi buat membebaskan putranya dengan cara apapun.
"Kita lebih baik mendekat ke titik lokasi pak" kata Rohman karena pak Mahendra tengah berpikir keras.
Ada desahan pelan terdengar...
'Ini terasa aneh? Mengapa pak Mahendra bisa setenang itu menghadapi suasana yang segenting ini. Aku saja sangat mengkhawatirkan keadaan putraku. Ya Alloh, semoga Bening putraku tidak mengalami apa apa' kata batin Rohman.
"Baik. Ayo kita bergerak. Saya tidak ingin terlambat. Waktu yang diberikan sang peculik sampai tengah hari"
Lagi lagi pak Mahendra mengatakan hal yang tidak masuk akal. Padahal tidak ada komunikasi tapi bisa mengetahui hal itu. Dari mana dia tahu akan hal itu?.
Pikiran Rohman yang diliputi berbagai pertanyaan hanya memendam semua itu. Ingin Rohman menanyakan menyangkut hal itu tapi mengikuti jalan pak Mahendra yang mengendap endap. Berbagai pertanyaan mengendap dipikirannya.
Ternyata, saat dekat ada tembok yang mengelilingi tempat tersebut.
"Sial, salah jalan lagi!" rutuknya pada dirinya. Tentu saja Rohman tidak mengerti maksudnya.
Dari sikap kesan pak Mahendra seakan menyalahkan kebodohannya sendiri.
"Pak,,," ucap Rohman ingin tahu apa maksud dari ucapan bossnya itu. Karena sedari tadi cuma dengar gumaman dari boss membuatnya makin penasaran karena timbul keanehan.
"Ada apa paman?" tanya pak Mahendra mengernyitkan dahi karena tidak pernah sedikitpun mengajak scurity nya bicara. Pada hal dirinya hanya bicara sendiri itu, rasanya tidak keras kini Rohman bertanya seolah sangat penasaran.
Agak ragu,,,
"Maksudnya apa ya pak salah jalan? Sedari tadi saya ngikuti jalan bapak" tentu saja Rohman bingung dibuatnya.
"Oh, hmm,,, itu,,,?" Mahendra bingung. 'Kenapa aku sampai mikir seperti ini? Ini bisa berbahaya?' batin Mahendra karena kesalahan nya. 'Tolol, kenapa lupa. Mana keceplosan lagi' bisik batinnya lagi, tatapan tajam kearah penjaga nya itu. Mahendra tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Rohman scuritynya. Dilihatnya, seperti menyimpan suatu rahasia, namun Mahendra tidak begitu memperhatikan hal itu, akan tetapi diabaikan saja.
"Bukankah bapak yang jalan didepan, saya mengikuti dari belakang?" Ulas Rohman bingung.
Hal itu menyebabkan Mahendra harus menjawab apa, padahal jelas tadi dia tidak bicara dengan Rohman.
Akhirnya Mahendra,,,
"Sudah lupakan saja. Anggap aku bicara ngawur" ketusnya.
"Ini jalan kemana lagi pak? Kayaknya harus memutar"
'Lama lama dia makin membuatku jengkel. Kalau begitu aku harus melakukan sesuatu?' bisik batinnya menyusun sebuah rencana. Tentu saja hal iti tidak diketahui oleh scurity nya yang baik dan polos itu.
Mahendra untuk sejenak terdiam, bagaimana caranya agar Rohman bisa berpisah darinya. Maka....
"Paman, tolong ambilkan sesuatu, ehmm,,, eh,,, pistol saya di dashboard mobil, pistol yang ada peredam suaranya"
Dengan senyum picik, penuh kemenangan akhirnya bisa membuat scurity nya mau tidak mau menuruti perintahnya.
"Tapi, apa tidak berbahaya bapak saya tinggal sendirian disini?" Sebenarnya Rohman tidak mengerti jalan pikiran tuannya, bukankah tuannya sudah membawa senapan, dan itu lebih dari cukup. Jika sampai terjadi apa apa dengan tuannya, kemungkinan besarnya nyonya Kinasih sang majikan perempuan akan marah besar, bisa bisa dirinya dipecat. Karena putra majikannya juga mengancam demikian.
"Saya akan bersembunyi dibalik pohon besar itu. Aku pasti aman. Aku menunggu mu sampai kamu kembali, paman tidak usah khawatir" angguk Mahendra, tersenyum bersahaja.
"Baik pak, saya permisi" pamit Rohman pada sang majikan. Yang sepertinya punya tujuan yang terselubung.
Mahendra memandangi kepergian Rohman dengan tersungging senyum picik serta kepuasan, mengawasinya sampai menghilang dari pandangannya dibalik pepohonan serta semak belukar.
'Kini, tinggal ku jalankan rencanaku selanjutnya' ucap batinnya. Entah punya maksud apa? Senyum Mahendra makin mengembang. Kemudian....
"Ha ha haaaaa,,,,,!" Perlahan gelak tawanya yang menggema menghilang.
___________
Sementara, Rohman yang mencoba mengingat ingat jalan kembali, masih menyusuri jalan setapak yang tadi dilaluinya.
'Tempat aneh apa ini? Untung ingatanku tidak terlalu buruk. Mana pak Mahendra menyusurku hal yang aneh aneh? Bukan tadi dia sudah bawa senapan ada tiga, belum lagi senjata tajam. Seperti seorang pimpinan dari geng mafia. Tapi, jelas sekali tadi salah omong atau bagaimana? Sudahlah, yang terpenting aku mengambil barang yang diinginkan tuan boss, dari mana kena masalah. Lawong sama anaknya sudah kena masalah, malah aku mau dipecat. Memang, keluarga Sanjaya itu aneh dan penuh misteri' Rohman mikir sampai geleng geleng.
Ada hal yang membuatnya makin tidak mengerti, tapi semua itu ia tepis. Karena tak weweng untuk mengurusi hal itu terlebih dirinya hanya seorang scurity. Jikapun selalu turut campur takutnya, masalahnya akan bertambah.
Rohman terus berjalan, kearah dimana tempat mobil sang majikan tadi berhenti dan itu pun tanpa pengawalan dari anak buahnya. Padahal jelas anak buah yang dikerahkan jumlah tidak main main, tersebar. Namun, tak ada satu pun yang ditemuinya. Seakan mereka menghilang bagai ditelan bumi.
Dan tak satu pun dari anak buah boss yang dia kenal padahal selama ini bekerja sebagai scurity dirumah boss. Kini, satu misteri besar seperti terkuak secara perlahan.
Ada rasa bimbang, juga bingung, karena merasa jalan yang dilaluinya berbeda, sekali lagi Rohman coba mengingatnya dalam diam dan hening, suasana benar benar lengang seolah tidak ada tanda tanda kehidupan sama sekali.
Rohman melihat kesekitarku penuh selidik...
"Oh, ini benar jalannya. Tidak salah lagi, Alhamdulillah, syukurlah. Tapi,,,?" gumamnya, melihat kearah dimana ia yakin kalau mobil bossnya bertempat, tidak salah lagi. Namun, ia tidak menemukan mobil sang boss. "Kemana?" ucapnya bermonolog.
Sesekali Rohman melangkah, mencoba mencari dan memeriksa mencari keberadaan mobil majikannya, mustahil jika mobil itu bisa menghilang begitu saja.
Namun, saat melangkah karena terlalu fokus dengan apa yang di carinya, Rohman tidak menyadari jika ada hal berbahaya sedang mengintainya.
Dan....
"Buggghhh,,,,!" Bagian belakang kepala ada yang memukulnya dengan keras.
"Aaakkkhhhhh,,,?" Tubuh Rohman langsung tersungkur ditanah. Pingsan.
#bersambung....
------------
Sn 31/10/2022.
Komentar
Posting Komentar