196. TERNYATA?.
Bab 196. TERNYATA?.
★★★★
"Mas Angga gimana, ada tanda tanda keberadaan mas Bening?" tanya Putri yang sedih juga prihatin beberapa hari ini karena kabar yang diterimanya, juga berusaha untuk mencari tahu. Namun, alhasil nihil karena tidak bisa menemukan keberadaan mas Bening.
Angga hanya menggeleng pelan...
"Tidak, Put. Bahkan aku sudah menghubungi teman temanku, tak satu pun dari mereka ada yang tahu. Aku sudah kehabisan akal"
"Firasatku mengatakan kalau mas Bening dalam bahaya mas Angga" isak Putri tak dapat menyembuyikan air matanya lagi.
"Sudah, tenang. Pakde Rohman turut mencari bersama pak Mahendra, pasti ketemu"
"Kok mas tahu, darimana kalau pakde Rohman ikut?"
"Ibu kan telpon. Ibu juga gak akan pulang sebelum den Riko ditemukan, atau kembali bersama pak Mahendra serta mas Bening"
"Ya Allah, kenapa semua bisa seperti ini. Ya Allah semoga mas Bening dan pakde Rohman tidak apa apa. Tapi, kenapa ayah tidak ikut ya mas Angga, ini aneh sekali menurutku?"
"Iya ya, padahal kan sama sama penjaga. Entah lah aku juga tidak tahu alasannya kenapa?"
"Ya Allah semakin rumit, seperti jalan buntu"
Keduanya hanya terdiam, merenung dalam pikiran mereka masing masing. Keduanya sudah berusaha untuk mencari namun Jakarta sangatlah luas...
__________
Nampak Bu Kinasih sedang nelpon ataupun ditelpon seseorang, sangat serius sekali terkadang waspada padahal berada dikamarnya.
"Papa gimana kabarnya?" tanya Kinasih pada suaminya.
*Baik ma. Tapi ada kabar yang tidak baiknya, paman Rohman menghilang ma?* Terdengar Mahendra sedikit panik.
"Kok bisa pa, bukankah papa bersamanya?"
*Papa suruh ambil pistol di mobil ma. Tapi, tak kunjung kembali sampai saat ini. Mama tolong kabari bi Ijah ya ma,,,*
",,, Mama harus kasih alasan apa pa sama bi Ijah?"
"Mama pasti pinter deh cari alasan. Terserah mama kasih alasan apa?"
"Tapi pa-,,,"
Tut, tut, tut,,,
Sambungan terputus sepihak.
"Ih,,, papa, sebel dech. Belum juga selesai di matiin. Tapi baguslah. Kalau papa udah kasih. He he he...."
Tok tok tok...
"Permisi bu,,," pintu dibuka.
Bu Kinasih tentu gelagapan dengan kedatangan artnya yang mendadak karena keasikan ngobrol dengan suaminya.
'Sial! Bi Ros tahu denger gak obrolku dengan papa,,, ya?' keluh batinnya penuh selidik.
"Silahkan masuk bi Ros" tentu agak gelgapan dibuatnya.
Bi Ros pun masuk meletakan nampan berisi sarapan pagi buat majikannya.
"Terima kasih bi Ros" ucap bu Kinasih masih nampak bersedih tapi tidak sehisteris dihadapan kedua artnya.
"Iya bu, saya pamit undur dulu" pamit Rosmalia karena tidak enak berada dikamar majikan perempuannya.
"Tunggu bi Ros,,,"
"Iya bu, ada apa?"
"Sampaikan pada bi Ijah kalau paman Rohman telah menghilang, itu pesan bapak,,,!" Bu Kinasih nampak begitu santai walaupun terlihat rasa kesedihannya.
"Ap- paaaa,,, bu,,,,? Ya Allah,,,,!" Rosmalia sampai menutup mulut saking terkejutnya, tak menyangka kalau akan mendengar kabar yang kurang mengenakkan tersebut. Matanya langsung berkaca kaca terus luruh dipipinya, nafasnya terasa putus putus.
"Mak-ka nya aku berpesan sama bi Ros supaya menyampaikan kabar dari bapak melalui bibi untuk disampaikan ke bi Ijah. Tolong ya bi Ros,,," pura pura air mata bu Kinasih mengalir deras, ketika menunduk dan luput dari pengawasan bi Ros, ketika itu menaruh sesuatu dimatanya dengan raut kesedihan dihadapan bi Ros.
Tentu Rosmalia tidak menyadari hal tersebut karena terlalu fokus pada apa yang didengarnya.
"Iy-iya bu,,," lagi lagi Rosmalia mendengar berita yang tak pernah terpikirkan selama ini.
"Saya pamit bu" Rosmalia pun pamit dengan derai air mata.
Sementara Kinasih menatapnya awas, melihat punggung pembantunya yang menjauh. Ada seringai senyum kepuasan dari bibirnya. Bila tidak karena keadaan dia pasti tertawa lepas.
"Dasar bodoh! Ha ha haaaaa,,,,"
---------------
Mahendra saat ini berada disebuah ruangan sedang bicara serius dengan seseorang yang selama ini jadi kepercayaan bahkan tangan kanan.
Karena selain pembisnis sekaligus paranormal kondang. Namun sayang, sepak terjangnya harus mandek karena suatu kendala, dan itu tidak pernah disangka sangka.
"Terima kasih Ki Ageng, karena berkat juga rencanaku berjalan lancar" ucap Mahendra pada orang yang sudah berumur didekatnya dengan senyum ramah.
"Anak itu cukup berbahaya tuan boss. Aku harus pandai pandai mengelabuhinya, kalau tidak nyawa ku sebagai taruhannya. Anak itu pasti tidak akan pernah mengampuniku boss"
"Walaupun aku sendiri belum pernah mengalaminya sendiri. Timbul rasa penasaranku, ingin merasakannya juga" balas Mahendra pongah, ingin merasakan seperti yang di alami oleh Ki Ageng.
"Jika boss mengalaminya, boss tak akan bisa berbuat apa apa di alam mimpi. Aku telah diberinya penjerat dileherku. Aku tidak berani main main dengan anak itu lagi. Untuk itu aku tidak berani unjukan diriku. Kalau saranku, jangan boss. Terlebih jika semua ini telah direncanakan. Jika sampai anak itu tahu, maka boss tidak akan di maafkan olehnya. Boss tidak akan selamat" jelas ki Ageng penuh kekhawatiran terlebih lagi dirinya jika ketahuan nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi.
"Dia tidak tahu ki Ageng. Ki Ageng tenang saja. Makanya, aku harus lebih berhati hati. Walaupun, rasanya sulit dipercaya, tapi aku percaya padamu Ki Ageng, terlebih lagi apa yang di alami putraku selama ini. Rasanya belum cukup untuk menebusnya. Dia terlalu banyak berbuat kesalahan, untuk itu harus dapat balasan yang setimpal karena telah membuat putraku menderita selama ini. Ha ha haaa,,," tawa Mahendra, terlihat sekali geram karena melihat putranya selama ini dalam kesedihan.
Ki Ageng juga ikut tertawa puas, walaupun terselip rasa kekhawatiran seandainya apa yang dilakukannya selama ini diketahui.
Tentu lah membuat rasa ketakutan tersendiri terlebih nyawanya terancam, tentunya Ki Ageng harus berhati hati.
",,, Bagaimana dia, apa benar benar tidak berdaya, tidak bisa melakukan apa apa? Tidak curiga siapa yang menculiknya, siapa dalang dibalik penculikannya bersama putraku. Itu hanyalah settingan belakang?" tanya Mahendra pada Ki Ageng madyo santoso yang masih nampak wajah khawatirnya.
"Tentu tidak tahu sama sekali boss. Memang, seolah olah ini seperti terjadi sungguhan, walaupun semuanya terencana. Tentu aku melarang buat seluruh soldier kita untuk pakai penyamar wajah sekaligus penutup wajah supaya tidak dikenali. Aku juga menyuruh SANDY untuk menembak dia dikedua lengannya serta tidak diberi makan selama ini. Den Riko ikut diikat tapi itu hanya sekedar formalitas, padahal bisa saja den Riko melepaskan diri, untuk sekedar menyakinkan saja boss"
"Bagus Ki Ageng, kerjamu cukup bagus. Aku puas dengan kerjamu kali ini. Walaupun kau sempat gagal ketika akan membebas Alex, menurut ceritamu. Untung kita menjalin kerja sama Ki Ageng, karena aku juga ingin menghancurkan keluarga Remond. Mereka yang selama ini jadi penghalang bisnis yang ku jalani. Remond harus membayar mahal, juga Bening yang telah menghancurkan kehidupan putraku hingga jadi belok, karena obsesinya hanya Bening, dan Bening saja" geram Mahendra. Ternyata antara Mahendra dan Ki Ageng madyo Santoso saling kerja sama untuk menghancurkan, baik keluarga Remond juga Bening.
Siapakah Sandy yang maksud oleh Ki Ageng madyo santoso? Bahkan, dikatakan kalau Sandy termasuk kaki tangannya Ki Ageng madyo santoso?.
Perlahan tapi pasti semua misteri perlahan terkuak!.
#bersambung....
--------------
Ikuti kisah selanjutnya....
Rb 02/11/2022.
Komentar
Posting Komentar