199. INI APA?.

 Bab 199. INI APA?.


★★★★


"Le,,, le,,, cah bagus, anakku, anakku,,, Rohmannn,,,," simbah putri terbangun dengan bersimbah keringat disekujur tubuhnya karena telah bermimpi sangat buruk melihat keadaan putra serta cucunya yang dalam bahaya.


"Ada apa mbah putri?" Tergopoh Ferdy mendatangi kamar sang simbah yang tentu saja membuatnya kaget.


"Le,,, simbah bermimpi sangat buruk sekali kalau pakdemu dalam bahaya, juga cucuku Bening,,," simbah putri tidak meneruskan ucapannya.


"Be-Bening kenapa mbah, katakan,,," desak Ferdy yang selama ini diminta oleh Bening untuk menjaga simbahnya yang sebatang kara.


"Bening sedang di ikat, le. Pakdemu,,, sedang diseret seseorang, entah mau dibawa kemana dalam keadaan pingsan" cerita simbah putri mengenai mimpi yang di alaminya, terasa begitu nyata.


"Benar itu mbah. Perasaanku juga gak enak mbah putri karena akhir akhirnya Bening juga jarang menghubungiku. Aku juga mimpi buruk mengenai Bening mbah" ulas Ferdy dengan pikiran melayang.


"Ya Allah semoga mereka di  Jakarta baik baik saja"


"Amin,,,"


"Minum dulu mbah"


Simbah putri menerima gelas yang berisikan air kemudian ditegaknya.


"Terima kasih le"


"Iya mbah,,,"


Kini simbah putri tampak tenang.


"Mbah putri aku,,," Ferdy ragu untuk meninggalkannya sendiri.


"Tidak apa apa le,,,"


Suara adzan pun berkumandang dari masjid.


"Hupfff,,, syukurlah" Ferdy melangkah pergi karena simbah putri sudah tenang.


Pikirannya masih berkecamuk, kepikiran tentang mimpi simbah putrinya. Juga mimpi mimpi yang di alaminya selama ini, itu sebagai firasat. Firasat yang tentunya tidak baik.


'Ya Allah semoga Bening, serta pakde dan bude selalu dalam lindungan-MU, amin,,,!' doanya dalam hati. Menuju kearah belakang untuk mengambil air wudhu serta ingin berdoa untuk keselamatan Bening.


"Jika Bening tidak ke Jakarta mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Aku berharap pakde bersama keluarganya pulang kampung!" ucap Ferdy bermonolog.


"Le,,,"


"Simbah, eh,,,"


"Ada apa le?, dari tadi ngomong sendiri"


Tiba tiba simbah sudah ada didekatnya karena Ferdy banyak melamun, tidak menyadari jika simbah putri berada dibelakangnya, karena sama sama ke sumur yang ada dibelakang rumah.


"Gak ada apa mbah, he heeeee,,,"


"Bener le,,,"


"Gini mbah, andai pakde, bude gak ke Jakarta mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Aku ingin Bening pulang, sekolah disini sama aku mbah"


"Itu masih mimpi le,,,"


"Tapi, aku juga mimpi buruk selama ini mbah, bukan hanya sekali dua kali, tapi sudah sering, hanya saja aku gak pernah cerita sama simbah, beberapa hari ini mbah"


"Iya le, simbah juga, beberapa hari ini juga mimpi buruk. Bahkan saat akan menjelang 40 hari simbah kakung muksa"


"Bener mbah,,," angan Ferdy menerawang, namun kaget saat mendengar ungkapan simbah putri.


"Cucuku Bening ingin mengajakku menemui simbah kakung,,,"


"Maksud simbah putri apa?  Apakah Bening akan pulang kesini?. Sebentar lagi mau sementeran mbah" Ferdy tentu bingung dengan ucapan simbah putri.


"Tidak pulang. Aku dan cucuku telah mempersiapkan diri untuk pergi bersama serta menemui simbah kakung"


"Simbah kakung masih ada mbah putri"


Wanita tua itu pun hanya mengangguk pelan...


Tentu hal itu sangat membuat Ferdy tak percaya.


"MUKSA"


Itu jawaban terakhir dari wanita tua bernama Sarinah pada Ferdy yang masih terbengong di dalam ketidakmengertiannya.


____________


Rohman yang pingsan karena ada seseorang yang telah memukulnya dari belakang tidak tahu siapa yang melakukannya.


Ternyata ada sepuluh orang dibalik itu semua.


"Maunya boss apalagi, suruh orang ini disekap juga?"


"Benar juga, bukankah ini scurity nya sang boss?"


"Ada ada saja,,,"


"Kelihatan juga tidak berbahaya?"


"Seperti anak muda yang ditembak kedua tangannya"


"Kasihan sebenarnya"


"Kita ikuti apa perintah boss. Kerja kita baik maka akan sejahtera"


"Jangan sampai kita tidak patuh, terlebih jadi penghianat"


"Aku tidak membayangkan hal itu"


"Konsekuensinya kalian tahu jika jadi penghianat"


"Selain mati, maka seluruh keluarga kita diberantas tanpa sisa"


"Sadis dan kejam!"


Semua yang terlibat obrolan disitu hanya bisa menghela nafas dalam dalam. Betapa tidak, jika itu terjadi mereka tidak dapat membayangkannya.


"Orang ini dibawa kemana?"


"Sesuai perintah, disekap satu ruangan dengan yang kita culik"


"Tempat ini penuh jebakan, tidak mudah masuk ke lokasi sini jika tidak pernah tahu. Tapi, anehnya orang ini bisa hafal tempatnya?"


"Sudah lah buat mikirin hal itu"


"Cepat, waktunya tidak banyak"


"Boss juga perintahkan kita buat nyulik istrinya"


"Bukankah dirumah tuan boss"


"Benar, malam nanti kita bergerak"


"Waktu pula yang mendesak"


"Memangnya ada apa dengan waktu?"


"Kurang paham!"


"Seperti ada hal janggal"


"Atas permintaan Ki Ageng itu"


"Ki Ageng? Paranormal terkenal"


"Sudah di bilang jika anak bernama Bening itu sangat berbahaya, sehingga kita disuruh pakai penutup wajah"


"Kenapa harus menculik seorang wanita?"


"Kasihan harus melibatkan wanita"


"Boss yang perintah, kita bisa apa?"


"Semua harus dikurung dalam satu ruangan, bersama boss muda"


"Menurut yang aku dengar satu keluarga itu akan DIEKSEKUSI!"


"APA?"


"BENARAN ITU?"


"BOSS GILA!"


"SADIS!"


"Sudah jalan, kita bawa orang ini"


"Punya nama, namanya Rohman"


"He he,,, lucu"


Mereka pun mengangkat tubuh Rohman yang pingsan kesuatu tempat.


_________


Mereka telah sampai pada tempat dimana, Bening, Alex serta Riko di sekap serta di ikat kencang, tak mungkin bisa melepaskan diri.


Keadaan Rohman belum juga sadarkan diri saat terjadi tubuhnya di ikat sama persis dengan Alex dan Riko.


Beda sekali dengan Bening yang keadaannya cukup mengenaskan karena tidak bisa berbuat apa apa.


"Sadarkan dia, ingat jangan pernah sebut nama siapapun"


"Oke,,,"


"Itu bisa berbahaya"


"Kita ikuti seluruh permainan"


"Sudah beres,,,!"


"Lest go!"


Ruangan penyekap itu akhirnya sepi tinggal mereka yang disekap.


Mata Bening terbuka, menyaksikan ayahnya di peteng serta diikat kuat seperti halnya Alex dan Riko.


'Ada apa ini? Kenapa ayah sampai disekap juga?' batinnya dipenuhi dengan pertanyaan.


"Ayah, ayah, ayah,,," panggil  Bening berulang kali berharap ayahnya bangun serta melihatnya.


Mata Alex terbuka ikut terkejut melihatnya...


"Bening ayahmu juga disekap?" tanya Alex bingung.


"Iya, aku tidak tahu mengapa bisa terjadi, Al?"


"Ya Tuhan, permainan apa lagi ini?"


"Aku tidak tahu, Al. Sepertinya ini permainan seseorang?"


"Lalu siapa?"


"Entahlah, Al?"


"Ayah, ayah, ayah,,," panggil Bening berharap ayahnya sadar.


Sesaat tubuh Rohman bergerak, sadar. Sesaat matanya mengerjab menyesusaikan suasananya yang temaram karena berada diruangan tertutup bahkan tidak ada fentilasi. Mirip sebuah ruangan yang  ada di,,,,


Setelah semua jelas barulah...


"Anakku,,, kamu disini, nak.  Keadaanmu,,,? Subhanallah, ya Alloh" Rohman hati terenyuh melihat keadaan putranya berusaha untuk tegar, namun tetap hati seorang ayah ada sisi lembutnya, air mata Rohman luruh melihat kondisi anaknya yang ada didepan tanpa bisa berbuat apa apa.


"Paman,,," panggil Alex berseru karena keadaannya juga seperti Rohman, dari awal terkejut melihatnya tapi keadaan nya sedang pingsan, kini sudah sadar.


"Bagaimana ayah bisa seperti ini. Maksudku...?"


"Ceritanya panjang nak. Bermula karena info dari ibumu kalau kamu disekap disini. Pak Mahendra mengajakku untuk membebaskanmu juga den Riko. Tapi, pak Mahendra mengutusku untuk mengambil sesuatu di mobilnya, hingga di perjalanan ada yang memukul ku dari belakang, hingga aku tahu telah berada disini" terang Rohman, ikhwal kejadian yang dialaminya.


"Aku sendiri pulang sekolah, rencana aku mau mencari keberadaan Bening, tapi aku dicegat setelah itu, aku dibuat pingsan hingga aku berada disini" cerita Alex tentang semua hal yang di alaminya.


Bening hanya di ikat dipancang besi dalam keadaan terduduk. Dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tak bisa menggerakan anggota tubuhnya hanya bagian kepalanya serta bicara.


Riko terlihat diam, matanya tertutup rapat, bibirnya juga kering seperti yang lainnya.


"Riko, Riko,,," panggil Bening berharap Riko sadar dari keadaan yang saat ini. Tak ada respon sama sekali, mungkin Riko benar benar pingsan karena terlantar beberapa hari ini.


"Nak, kamu jangan buang buang energimu, keadaanmu tidak baik" ucap Rohman prihati, air matanya masih saja mengalir melihat keadaan putranya.


"Tidak ayah, aku gak apa apa, aku baik baik saja" balasnya supaya ayahnya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.


"Tapi,,, kedua tanganmu terluka nak. Tega sekali orang orang yang telah membuatmu seperti ini. Aku akan bunuh mereka yang telah menganiayamu" mata Rohman membulat penuh dendam.


Riko tidak juga bangun bangun, bahkan terlihat dia jarang bangun.


Alex terlihat pasrah dengan keadaannya. Ternyata dia juga sangat lemah keadaannya seperti hal Bening.


"Iya paman. Maafkan aku paman, aku tidak bisa menolong, keadaanku seperti ini" ada sesal tersendiri bagi Alex, merasa tidak berdaya terlebih keadaannya tidak bisa membebaskan diri terlebih untuk menolong pacarnya yang saat sangat membutuhkan pertolongan. Dia merasa gagal menjadi seorang yang melindungi.


"Al kamu tidak perlu menyesalinya?" ungkapnya coba untuk menghiburnya.


"Benar nak Alex, kita sama sama berdoa semoga kita bisa selamat!" ulas Rohman supaya yang ada tidak berkecil hati.


Yang ada disitu bersitegang, kecuali Riko yang seolah tidak terpengaruh dengan keadaan, seolah tidak merasa ada gangguan.


Disaat semua sedang dalam kepanikan dan kebingungan...


"Lepaskan aku,,,,! Keparat kalian,,,!"


Ada suara umpatan seorang wanita. Seperti tidak asing?.


Masih saja wanita itu berteriak, terlebih tubuhnya dibungkus kain warna hitam. Tubuhnya bergerak merontan melepaskan diri, namun kekuatannya tidak sebanding dengan orang orang yang membawanya, badannya lebih besar.


Tubuh yang terbungkus kain hitam itu dilepar begitu dilantai yang berdebu.


Suara tawa orang orang yang membawa membahana hingga suara riuh.


"LEPASKAN AKU BAJINGAN, KALIAN!" kembali wanita yang dibukus kain hitam berteriak.


Ketiganya hatinya berdebar mendengar suaranya...


"Ikat wanita itu, besok boss yang akan mengeksekusi mereka!" ucap salah satu dari para pria bertopeng.


"Lepas penutupnya!" seru yang lainnya. Yang membawanya tadi memerintah. Sekitar sepuluh orang dan semua sama baik tinggi juga badannya bahkan suaranya pun hampir sama maka sulit untuk membedakannya.


Ketiga hanya terdiam sambil menahan nafas, seolah menanti hal yang luar biasa.


Maka penutup itupun di buka pelan dari bawah, secara pelan. Terlihat kakinya. Kaki seorang wanita yang memaki rok panjang, tersingkap sedikit. Sampai bagian dadanya.


Wajahnya belum kelihatan...


Ketiganya makin berdebar...


Si wanita yang masih tertutup kepalanya hanya terdiam pasrah karena merasa dibebaskan.


Dan sesaat kemudian, kain yang menutupi kepala si wanita di sentak.


Maka kelihatanlah wajahnya?.


"Aahhh,,,,???" jerit si wanita tertahan.


#bersambung....


__________


Sb 05/11/2022.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.