201. Pengakuan yang membuat luka.

 Bab 201. Pengakuan yang membuat luka.


★★★★


"Plok, plok, plok,,,, ha ha haaa,,,," Riko bertepuk tangan sambil tertawa lepas. Namun, tawanya bukan tawa biasa, seolah ada beban kesedihan yang mendalam.


Tubuh Riko yang penuh darah mengering dengan pakaian robek sana sini tapi keadaannya baik baik saja seolah tidak terjadi apa apa.


Tentu saja aku kaget juga bingung dengan Riko. Kenapa bisa seperti itu?


Seperti sebuah kejadian yang penuh misteri yang tak terpecahkan...???.


Pov author end!


___________


Mataku membulat tak percaya melihat kenyataan yang terjadi, ternyata Riko dalang dibalik semua hal yang ku alami. Seolah semua ini sudah direncanakan dengan matang.


"Apa maksud semua ini Riko? Kenapa kamu lakukan semua ini padaku,,," seruku tertahan


"Kau heran Bening, kenapa aku bisa seperti ini, bahkan keadaanku baik baik saja, semua ini hanya makeup fantasi. Tujuanku buat mengelabuhimu, karena aku tahu karena kamu sulit untuk ditakhlukan. Maka hanya dengan cara seperti ini aku bisa melancarkan semua rencanaku. Aku tak ingin  semua rencanaku gagal" aku-nya tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun.


Sungguh tak ku sangka jika Riko merencanakan semua ini. Begitu rapinya, bahkan aku sampai sampai tidak percaya dibuatnya. Ini sebuah permainan yang sungguh epic.


"Kenapa kau libat orang tuaku Riko, apa salah mereka padamu?. Baik orang tua ku maupun Alex tidak ada sangkut pautnya, Riko?" desakku tak terima. Ku tatap tajam Riko ingin tahu kenapa.


Karena kini Riko datang mendekat kearahku agak dekat...


"Justrus mereka mereka itulah yang ada sangkut pautnya Bening. Aku lah yang merencana semua ini. Bahkan tempat ini, aku yang membuatnya. Kekayaan keluarga Sanjaya tidak akan pernah ada habisnya sampai tujuh turunan bahkan dengan keluarga Alex tidak sebanding.


Kau tahu Bening, kenapa aku sangat dendam dengan Alex atau orang tuamu,,,?" tatapan Riko mengarah tajam padaku, aku yang balas menatapnya sampai tidak kuat sendiri dengan tatapannya yang penuh amarah dan dendam.


"Apa,,,!?" teriakku, seolah telah hilang kesabaranku.


"Ck, ck, ck,,, dengar Bening, karena dirimu aku seperti ini. Karena kau!" tudingnya berseru dengan mata membulat kearah, jari telunjuknya diarahkan padaku.


"Kenapa gak protes? Bukankah kau yang selalu memberiku harapan. Ya, karena rasa bersalahku lah aku bahkan rela menghibakan diriku untuk mendapatkanmu. Apa kau kira Alex tidak terobsesi padamu?. Apa kau kira Alex tidak tergila gila padamu?. Sungguh polos sekali dirimu. Atau kau hanya pura pura munafik untuk dirimu sendiri. Tidak melihat keadaan. Kau sia sia semua pengorbananmu. Tapi, apa yang kau lakukan, kau malah menerima Alex. Aku tahu dari ekspresimu, dari gesture mu pada Alex, mengisyaratkan itu semua. Sejak awal aku sudah merasakannya, dan ternyata fellingku tidak salah. Kau suka sama Alex kan Bening. Kau bahkan mencintainya kan,,," teriak Riko seperti kesetanan. Matanya merah, air matanya tumpah ruah, meremas remas rambutnya seperti orang yang fruatasi.


Yang hadir di situ hanya melihat sikap Riko seperti orang yang tidak waras.


Tentu orang tuaku tidak akan menyangka jika apa yang disampaikan oleh Riko itu semuanya benar.


Namun semua sudah terlanjur terjadi. Tak mungkin aku bisa membalik waktu. Karena semua sudah berjalan.


Aku tak bisa menolak apa yang telah terjadi dan aku telah menerima Alex sebagai pacarku karena aku merasa bahwa Alex begitu tulus padaku.


Entah dari mana dari Riko tahu akan hal itu? Semua berjalan begitu cepat. Bahkan aku tidak sempat berpikir akan hal itu.


"Bahkan aku telah membuat Alex celaka, agar aku bisa memisahkanmu dengan dia!" tunjuknya kearah Alex sambil mengusap air matanya yang tak kunjung reda.


"Namun keberuntungan berpihak padanya, sehingga nyawanya tetap bertahan di raganya. Aku berharap dia mati. Ya, mati!!! Agar kau tidak berpaling dariku. Namun aku salah, ternyata kau telah punya hubungan special dengannya. Bahkan dia juga rela melakukan semua keinginanmu. Apa kau tahu bagaimana perasaanku, hah,,, Bening"


Suasana dilanda keheningan untuk sejenak, hingga terdengar suara...


"Ha ha haaa,,,,!" Riko tertawa seperti orang gila. Namun, air matanya tetap mengalir. Kesedihannya benar benar mendalam.


"Ck, ckkk,,, kau tidak perlu kasihan padaku, Bening. Aku tidak apa apa. Tapi, aku akan melakukan sesuatu hal yang tidak pernah kau bayangkan, juga lainnya. Aku punyai permainan yang sangat menarik. Ha ha ha....!"


Entah apa maksud ucapan Riko, punya permainan yang sangat menarik?.


"Kau jangan GILA Riko?" seru Alex walaupun keadaannya agak lemah sepertiku tapi coba untuk memaksa bicara karena sedari tadi hanya diam jadi pendengar.


"Tidak aku tutup tutupi kalau aku telah menyatakan perasaanku pada Bening. Bening menerimaku. Maafkan aku paman, bibi karena aku merahasia ini dari kalian" sambung Alex, jujur dengan apa yang pernah dilakukannya.


Diusap air mata Riko, mendekat kearah Alex, kini matanya membulat kearahnya.


"Kau kalah selangkah denganku Riko. Ha ha ha,,,"  ejek Alex tertawa penuh kemenangan pada Riko.


Riko mendengus, wajahnya seketika membesi...


Tubuhnya nampak bergetar hebat.


"Alex,,, kau,,,,!" tangan Riko nampak mengepal, keras. Amarahnya benar benar memuncak.


Buugggg,,,!


Tinju Riko mendarat tepat didada Alex.


"Hek,,, ugggghhhh,,,!?" lenguh Alex tertahan kena tinjuan cukup kuat dari Riko. Namun, Alex seperti tidak merasakan apa apa.


"Ooi, hanya segitu kekuatanmu, Riko,,," ledeknya, seolah menantang Riko.


"Ternyata kau menantangku" dengusnya, makin memuncak emosinya.


Maka, kini tinju Riko diarahkan,,,


"Dug, dug, dug,,,!" rahang Alex jadi sasaran berikutnya hingga darah mengucur karena bibirnya pecah dibeberapa bagian.


Lagi lagi tersenyum sambil menyeringai penuh ejekan kearah Riko yang telah memukulnya bagian wajahnya. Bahkan ditambah bagian dadanya, tapi seolah tidak berarti apa apa sampai Riko berkeringat, ngos ngosan. Darah makin banyak keluar dari luka luka akibat ditinju oleh Riko.


"Hentikan Riko. Hentikan,,, aku mohon,,,"


"Bening, kamu kenapa? Aku tidak apa apa, percayalah" Alex berusaha menghiburku padahal aku sudah tidak punya hati melihat keadaannya yang penuh darah.


"Memohonlah Bening, ha  ha haaaa,,,! Aku suka itu,,, ha ha ha,,," Riko makin kalap, air matanya masih meluncur, dibiarkannya. Hatinya sedang duka makanya Riko sangat kalap.


Bughhh,,, bughhh,,, bughhh,,,!


"Aahhhh,,," ringis Alex ketika Riko terus memukulnya dibeberapa tempat, namun seolah tidak berpengaruh apa apa.


"Kau gila Riko!. Kau benar benar gila Riko. Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk selaman lamanya. Ingat itu Riko, kalau kau tidak menghentikan!" seruku tak bisa lagi ku bendung kesedihan.


Lagi lagi Riko akan melanjutkan aksinya lagi...


"Hentikan sayang,,,!" sentak bu Kinasih datang, karena tiba tiba pintu terbuka.


Ku lihat datang bersama pak Mahendra, mas Surya, Cindy serta beberapa soldier, aku tidak menghitung jumlahnya. Namun, ada salah satu orang yang menarik perhatianku yaitu Ki Ageng madyo santoso.


"Kamu kenapa kalap seperti ini sayang?" tanya bu Kinasih.


Tentu fokusku buyar karena terjadi keributan.


"Bukan urusan mama. Aku ingin dia mati ma,,," jelas Riko tak ingin menghentikan aksinya. Dan akan melancarkan aksinya pada Alex kembali. Namun tertahan sejenak.


"Kalau dia mati papa tidak bisa meminta tebusan, nak. Dia aset berharga" terang Mahendra pada Riko.


"Betul sayang" imbuh Kinasih membenarkan.


"Ooo, dia kesini juga, bersama manusia kaleng rombeng. Aku tidak perlu repot repot lagi mencarinya, selaligus melenyapkannya" tatapan Riko sinis kearah mas Surya. Mungkin punya dendam tersendiri.


"Tuan muda boss, apa kesalahan kekasih saya,,,?" tanya Cindy karena Riko seperti tidak suka dengan mas Surya.


"Sandy, aku tahu namamu Sandy, kini kau jadi Cindy. Bagiku tidak penting. Yang terpenting, aku akan menghabisinya. Aku muak dengan dia, kau mengerti. Muak...!" jawabnya tegas. Tangan Riko mengarah kebalik pakaiannya, mengeluarkan sesuatu, dan itu sebuah pistol dengan peredam.


Riko benar benar membuktikan ancamannya, tidak main main. Ditangannya tergengam sebuah pistol sambil menyeringai sadis kearah semua orang yang hadir satu persatu.


"Aku telah kecewa dengan kalian semua, terutama kau,,," tunjuk Riko ke  mas Surya, kemudian Alex, orang tuaku, aku, Cindy, bu Kinasih. Kini mengarah pada mas Surya.


"Tapi,,, bukan kau pak guru,,, tapi,,, gebetanmu. Ha ha haa,,,,!" tawa Riko sungguh mengerikan walaupun matanya masih merah karena tadi nangis.


Pistol ditangannya diarahkan pada Cindy. Kemudian...


Duuuppp!


Suara tembakan dengan peredam suara menderu. Sesaat tubuh Cindy ambruk bersimbah darah tak mampu berkata kata lagi.


Mas Surya mamatung ditempatnya. Tak bisa berbuat apa apa, Cindy mati seketika tergeletak dilantai tanpa nyawa tanpa meregang.


Tubuh mas Surya kini gemetar ketakutan karena pistol diarahkan padanya.


"Apa kata terakhir mu pak guru, sebelum nyawamu pergi?" ucap Riko sinis, sangat sadis seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang tak punya perasaan. Hatinya sudah mati karena dibutakan cintanya.


Mas Surya menggeleng. Melihat jasad Cindy yang terbujurpun enggan, malah menatapku sendu. Ada seulas senyum tulus teruntukku, namun aku tak bisa mengartikan arti senyumannya, ada anggukan kecil padaku.


"Baiklah kalau tidak ada pesan terakhir, pak guru?" Pistol diarahkan mas Surya.


Mas Surya terlihat pasrah dengan yang akan terjadi, seoalah maut tidak berarti, kehilangan nyawanya bukanlah sebuah persoalan.


Lidahku seakan kelu, tak bisa untuk memperingatinya walaupun hanya sekedarnya, seoalah aku tidak peduli dengannya, tatapan mas Surya kearahku, hal itu menyebabkan Riko geram, terlihat gerahamnya mengeras.


Perlahan pelatuknya ditarik, mengarah tepat pada mas Surya.


Duuuppp,,,! Letupan pistol terdengar.


Detik selanjutnya mas Surya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Matanya yang tajam masih mengawasi. Mulutnya ingin berucap, tapi tidak jadi, setelah itu detik selanjuynya, tubuhnya tumbang dengan bersimbah darah dari luka didadanya.


'Mas Surya!' sebutku dalam batin. Air mataku langsung mengucur menyaksikan nyawanya lepas dari raganya, bahkan tubuhnya tidak bergerak. Matanya perlahan tertutup, menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ha ha haaa,,,,!" Riko tertawa puas, wajahnya dingin membesi, seoalah apa yang baru saja dilakukan hal biasa. Nyawa manusia di anggapnya nyawa seekor hewan yang tidak ada artinya. Matanya masih merah, seakan jiwa membunuh sedang membara.


"Sayang, sudah,,, kau telah membunuh, anakku..." Bu Kinasih ingin mencegah apa yang dilakukan Riko selanjutnya.


"Mama juga papa jangan turut campur dengan urusanku. Ha ha haaaaa,,, aku kecewa dengan hidupku ma, pa,,, untuk itu, aku,,, aku akan melenyapkan semuanya. Jika mama menghalangiku, aku tak segan menghabisi mama juga,,,"


"Sayang, aku ini mamamu, orang yang telah melahirkanmu, tega sekali kamu terhadap mama,,,"


"Mama jangan bikin aku kesal. Cukup ma! Mama diam saja, jangan turut campur dengan urusanku. Nikmati saja, mama belum pernah melihatkan"


"Kau benar benar bukan seperti putraku yang ku kenal. Kau seperti iblis pembunuh!"


"Cukup ma, jangan bikin aku gelap mata,,," dengus Riko kesal dengan sikap mamanya yang sangat menentangnya.


"Stop ma, cukup,,, akuuuuhhh,,," Riko sudah gelap mata, maka tidak ada toleransi lagi bagi mamanya.


"Depppp,,,"


"Aaahhhhhkkkkk,,,, paaaaa,,,!?" kaki kanan bu Kinasih ditembak oleh Riko.


Sungguh bengis sekali Riko sampai tega menembak mamanya karena jadi penghalang.


"Bila mama masih koar koar lagi, maka mulut mama aku bungkam"


Baik pak Mahendra maupun Ki Ageng tidak berani berkutik, karena bikin ulah, kesalahan sedikit taruhannya nyawa.


"Pa,,," rintih Bu Kinasih meminta bantuan suaminya sambil meringis kesakitan karena kaki kanannya terluka karena tembakan putranya sendiri yang selama ini sangat ia sayangi, tapi tega melakukan terhadap dirinya.


"Biarkan pa" teriak Riko memperingati. "Jika papa menolong mama, nasib papa bakal seperti mama, ingat itu" tentu saja pak Mahendra tidak ambil resiko karena itu bukan hanya sekedar peringatan melihat ancaman karena putra nya seperti seorang pembunuh berdarah dingin.


"Heh,,, sekarang giliranmu Alex!" Perlahan Riko agak mendekat. "Kau sudah tadi bilang sudah mengatakan cinta, dan sudah jadi pacarnya. Sayang sekali, kalian tidak akan pernah bersama, karena apa? Malaikat maut sebentar lagi menjemputmu, Alex"


"Aku tidak takut, Riko. Aku sungguh merasa kasihan denganmu, karena Bening tidak memilihmu. Karena apa? Kau seorang pecundang yang memuakkan. Ha ha haaa,,," Alex seperti tidak takut untuk melawan Riko yang kini sedang kalap, hatinya menghitam karena dendam. Itu seperti ejekan sekaligus tantangan, tentu Riko akan bersikap kejam pada Alex.


Terlihat geraham nya gemeletukan di adu karena kesal serta amarahnya memuncak dari ulah Alex yang memancing emosi Riko.


"Ku akui kau gentle Alex, tapi sayang tidak berguna. Cinta mu pada Bening akan kadas. Kau kan sendirian di kuburan. Ha ha haaaa,,,,! Nikmati kematianmu secara perlahan. Aku akan menyiksamu pelan pelan, ha ha haaaa,,," Riko makin menggila, hatinya sudah membesi tidak kenal belas kasihan.


"Soldier, lepaskan dia. Pegangi, biar aku siksa perlahan lahan" atas perintah Riko para soldier yang ada disitu pun dengan cepat melaksana perintah Riko dengan cekatan, karena jika melakukan kesalahan, berakibat fatal. Seperti halnya Bu Kinasih yang terkapar sambil pegangi kakinya yang terluka serta berdarah, karena darahnya sedikit merembes bahkan suaminya tidak bisa menolongnya karena jika ditolong, taruhannya nyawanya.


"Nanti giliranmu Ki Ageng, karena kau pernah menolong Alex bukan. Hemmm,,, soldier, seret Ki Ageng, dekatkan bersama Alex biar aku eksekusi sekalian" Riko tersenyum miring, matanya merah seolah bukan tatapan mata Riko yang biasanya. Auranya seorang pembunuh yang tak punya perasaan lagi.


"Apa pesan terakhirmu, Alex?"


Dengan cepat Alex menggeleng...


"Justru aku kasihan padamu, Riko. Karena apa? Bening akan benci padamu seumur hidupnya. Dan kau,,, kau akan menderita dalam kesendirian. Kau tidak dapat apa apa Riko, bahkan cinta nya Bening,,, ha ha haaas,,,!" serunya, tertawa lantang, penuh ejekan ke Riko.


Wajah Riko menggelap, tubuhnya bertambah gemetar serta geram.


"Bangsat kau Alex, ku cincang tubuhmu hingga tak berbentuk, dan juga kau Ki Ageng keparat?"


Riko sudah kalap dibuatnya karena ucapan Alex, itu membuatnya makin geram.


Maka tak ada ampun buat Alex, Riko mengarahkan moncong pistol kearah Alex yang nampak siap, pasrah, bahkan tersenyum penuh ejekan ke Riko.


Daass,,,!


Tangan kanan Alex jadi sasaran...


Dasss,,,!


Tangan kiri Alex kini gilirannya, karena dipegang kuat lima soldier membuat Alex tak berkutik.


Dasss,,,! Dasss,,,!


Kedua kakinya, hingga Alex tidak kuat menopang tubuhnya, terjatuh, melorot kebawah, bersimbah darah. Tak ada keluhan yang keluar dari Alex membuat Riko terheran. Tatapan mengarah padaku, mungkin aku sumber kekuatan nya bahkan darah mengucur dari lukanya.


"T-tuannn,,, muda ampuni selembar nyawaku. Kasihan anak anakku masih kecil..." Ratap Ki Ageng karena tatapan Riko mengarah pada nya.


Riko tersenyum miring, hatinya beku hingga dirinya tidak bisa membedakan arti kebaikan.


Hal sama terjadi pada ki Ageng karena tubuhnya dipegang soldier Riko yang setia.


Deeep,,! Deeep,,,! Deeep! Deeep,,,!


Seketika tubuh Ki Ageng melosoh kebawah dengan bersimbah darah.


"Kau kejam Riko,,,!" seruku tertahan dengan menatap tajam kearah Riko.


Soldiernya sudah menyingkir kembali ketempatnya, namun bersiap untuk menunggu perintah dari majikannya, tanpa ada suara ataupun bantahan karena tahu resikonya.


"Ini juga karena kau Bening. Jika kau menerima ku, hal ini tidak akan bakal terjadi. Huu, huu, huuuu,,, hiks, hiks, hiks,,," Riko meraung keras dalam tangisnya. Menodongkan pistol tepat didadaku.


"Maaf,,," lirihku.


"Percuma Bening!" Sahutnya cepat. "Percuma, karena apa,,, ini jawabannya?" Riko menarik pelatuknya pelan.


Dan....


Ku pejamkan mataku!?.


#bersambung...


________


Sn 07/10/2022.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.