202. Penganiayaan sadis.

 Bab 202. Penganiayaan sadis.


★★★★


"Deeeeppp,,,!" bunyi pistol meledak dengan peredam suara.


"Aaagghhhkkk,,, Aaarrrgggghhh,,,!" Ku dengar seruan tertahan.


Aku yang sedang memejamkan mata, ku kira Riko menembakku, tapi aku tidak merasakan apa apa, rasa sakit atau apa pun itu. Tapi, persepsiku salah. Riko tidak melakukannya.


Lalu siapa yang ditembak oleh Riko?. Lalu suara siapa yang berseru tertahan dan kesakitan?.


Perlahan ku buka mataku, ibuku terlihat biasa, tidak ada tanda tanda ibu ditembak Riko walaupun nampak pucat sekali mukanya. Ku lihat ayahku juga mengalami apa apa hanya tersenyum getir, mukanya juga kuyu, bibir kering, tapi tatapan satu arah aku tahu siapa yang dilihat oleh ayahku dan itu adalah tempat di mana Alex diikat.


Ibu ekspresinya juga nampak berbeda melihat ke arah di mana Alex diikat maka sejurus kemudian aku pun ikut mengarahkan pandanganku di mana Alex berada.


Nampak ibuku menitikan air mata, ayahku berwajah sendu.  Benar dugaanku kalau Alex yang ditembak oleh Riko. Tapi kenapa harus Alex?. Aku tidak tahu jalan pikiran Riko ke mana?.


"Ha ha haaaa,,,,!" Riko nampak tertawa buat dengan apa yang dilakukannya, karena telah berhasil melukai Alex di bagian bahunya sebelah.


Darah banyak mengucur dari luka-lukanya, namun Alex menahan semua itu. Dia tidak ingin lemah di hadapan Riko.


"He he he,,, kau senang Riko, dengan apa yang telah kamu lakukan?" Alex tersenyum mengejek ke arah Riko.


Mata Riko nampak membulat tak percaya, dia tidak ingin mainannya mati sia sia, maka untuk itu dia bermain main dengan maut.


"Bagaimana rasanya Alex, enak bukan?. Aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakan. So,,, aku akan bermain main dengan slow montion. Ku nikmati detik demi detik, menit demi menit yang ada. Ha ha haaa,,,," tawa lantang Riko membahana, tidak ada yang berani mengusik nya, itu  sama saja cari mati. Di jilatinya ujung pistol yang tadi untuk menembak bahu  Alex. Pistoli miliknya telah menelan korban dua orang, Cindy, alias Sandy dan mas Surya.


Wajah ibuku makin pucat menyaksikan pembataian tragis yang dilakukan oleh Riko dihadapannya, karena seumur hidup baru sekarang ibu melihat pembantaian yang sangat  sangat sadis.


",,, Riko aku mohon jangan lakukan itu, kau bisa menembakku, bunuh saja aku Riko,,," isakku tak tahan melihat keadaan Alex yang begitu mengenaskan.


",,, Kenapa Bening? Kau begitu empati padanya. Sedang kan padaku tidak. Kurang apa diriku. Semua telah ku korbankan. Bahkan Raya telah ku putuskan, semua itu demi kamu. Tapi apa balasanmu, Bening? Kau,,, telah menyakiti perasaanku. Kau telah menghancurkan semua harapanku..." seru Riko meraung sadis seperti orang kesetanan. Bahkan kembali menodongkan pistolnya.


Mamanya masih tergeletak tak berdaya sambil menutup lukanya, namun kini sudah di perban ala kadarnya.


Sementara pak Mahendra tidak berani melakukan apa apa, tak bisa menolong istrinya yang dalam kesakitan serta terluka.


"N-nakkk,,, Riko semua itu tidak benar, nak Riko,,," kini ibuku yang angkat bicara, siapa tahu Riko mengerti serta mengakhiri keadaan ini.


"Iya nak Riko, pikirkan kalau apa yang kamu lakukan ini salah nak Riko,,," sambung ayahku ada rona takut diwajahnya, takut salah dan hal itu menyebabkan Riko kalap serta bertindak diluar batas.


"Ha ha haaa,,, oh, ternyata kalian berdua mendukungnya. Bagus sekali berdua, pembantu yang tidak tahu diri. Semula aku ingin memaafkan kalian berdua. Bermakaud untuk membebaskan kalian. Tapi, sikap kalian malah mendukungnya. Sebaiknya, kalian tidur yang nyenyak duluan, ya,,, he he heee,,,," selesai berucap Riko nampak menyeringai penuh misteri.


",,, Riko, jangan kau sentuh orang tuaku. Tembak saja aku, tapi jangan mereka. Riko, jika kau lakukan itu pada mereka sampai aku mati sekalipun tidak akan pernah memaafkanku, ingat itu Riko!" teriakku lantang karena kini tembak Riko mengarah pada orang tuaku. Tentu aku ketakutkan setengah mati dengan tindakan Riko.


"Tidak Bening sayang, mereka juga ku anggap orang tuaku. Aku tidak akan menyakiti mereka, kok. Tenang saja ya Bening sayang. Aku hanya ingin mereka istirahat, hanya itu saja" seringai Riko penuh dendam terpancar dari matanya yang merah. Ada bulir dimatanya hingga luruh membasahi wajahnya yang tegas, sarat akan membunuh.


"Kau gila Riko. Kau sudah tidak waras lagi. Lepaskan orang tuaku. Mereka tidak tahu apa apa, mereka tidak terlibat masalah kita berdua. Itu hanya kau dan aku bukan kedua orang tuaku" teriakku lagi. Tapi, seolah Riko tidak menggubrisku. Riko begitu larut dalam perasaaan dirinya sendiri.


"Kau tidak punya hati Riko, sampai mamamu sendiri, orang yang melahirkanmu tega kau tembak. Bahkan papamu akan menolong kau larang. Manusia macam apa kau ini,,," gelengku tidak mengerti dengan Riko yang sekarang, berubah total, jadi seorang pembunuh berdarah dingin.


"Kau tanya aku tak punya hati Bening. Lalu kau sendiri bagaimana, hah,,, apa kau punya hati untuk itu? Kau pernah berpikir bagaimana perasaanku selama ini yang memendam rasa cinta padamu. Hal itu yang membuat aku gila sekarang, Karena dirimu, Bening, hiks, hiks, hikssss,,,,! Tapi, apa yang kau lakukan. Dibelakangku. Kau menyakitiku dengan menghianatiku diam diam" teriak teriak Riko dengan menangis.


"Sudah ku bilang sejak awal. Aku sangat membencimu, Riko. Karena kau manusia arogan. Dari sejak dulu aku telah membencimu-!"


"Lalu, kenapa kau memberiku harapan Bening?. Supaya kau menyakitiku. Kau ingin membuatku hancur, begitu,,,"


",,,,," Aku tak bisa berkata apa apa lagi.


"Tapi, jika kau dendam padaku, buat apa kau libatkan orang tuaku, Riko?"


"Aku ingin membuatmu, lebih,,, menderita dari aku. Supaya kau tahu rasanya di posisiku dengan kehilangan orang orang yang kau cintai dan sayangi, Bening. Termasuk bajingan itu,,," tunjuk Riko kearah Alex dengan tatapan bengis.


"Kau kira aku takut. Lakukan saja, jangan banyak bacot. Sungguh kasihan sekali kau Riko, cintamu bertepuk sebelah. Kau tidak akan pernah mendapat Bening, karena apa,,, karena Bening telah memilihku. Bening telah menerimaku. Aku telah resmi jadi pacarnya. Asal kau tahu Riko bahwa ibunya Bening telah memberi restunya. Aku kira ayahnya akan merestuiku karena tidak ada komen. Kau kalah Riko. Kau,,,. Ha ha haaaa,,,," ejek Alex memancing kemarahan Riko. Padahal sikonnya tidak tepat.


Tubuh Riko kembali bergetar hebat, matanya membulat, nafasnya terputus, ngos ngos-ngosan menahan geram didalam dadanya.


"BAJINGAN KAU,,,! SUDAH HABIS BATAS KESABARANKU, MAKA UNTUK ITU TIDAK ADA ALASAN LAGI BUATKU UNTUK MELENYAPKANMU UNTUK SELAMANYA,,,!"


Secepatnya Riko mengarahkan pistolnya serta menembak kearah Alex tak bisa ku cegah lagi bahkan oleh siapapun.


"Deeppp, deeppp, deeppp!" Tiga tembakan berturut turut mengenai tubuh Alex. Entah bagian mana Riko menembaknya keadaan Alex tidak baik baik saja. Kelenger.


Dari bibir Alex keluar darah segar....


"Ha ha ha,,,,,!" suara tawa Riko menggelegar. Seperti senang karena membuat Alex tak berdaya.


"Soldier lepaskan ikatan, seret kehadapanku!" bentak Riko geram. Maka dengan secepat kilat, mereka sekitar lima orang dengan cekatan melepaskan ikatan Alex dihadapkan pada Riko sejarak satu meter.


Lagi lagi Riko tersenyum sinis kearah Alex yang ditembaknya tanpa belas kasihan.


Tubuh Alex penuh darah dimana mana, karena luka tembak dari Riko. Lukanya masih merembes. Bibirnya makin mengering, nafasnya sesekali terputus putus.


"Kau tidak memberiku pilihan. Dasar kau bajingan keparat, Alex. Aku tidak ingin melihat muka kamu lebih lama lagi!" Senyumnya mirip seringaian yang ambisius membunuh.


"Untuk itu, kau akan ku buat menyesalinya seumur hidupmu ALEX!"


DEEEPPPP,,,!


#bersambung....


__________


Sl 08/11/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.