203. Pembantaian sadis.

 Bab 203. Pembantaian sadis.


SEKALI LAGI RIKO AKAN MENEMBAK ALEX, ENTAH BAGIAN MANA?.


Karena saat Riko menarik pelatuknya, ku pejam mataku.


Air mataku kembali tumpah ruah tak bisa ku bendung.


"Maaasssss,,,, Rohman,,,!" jerit ibuku histeris. Aku tahu artinya, berarti Riko menembak ayahku yang dipegangi oleh soldiernya.


"Hesshhh,,,?!" ringis ayahku menahan kesakitannya karena tubuhnya dipegangi kuat kuat lima orang, pun ibuku.


Kini Alex pun sama, keadaan nya penuh darah disekujur tubuhnya. Tapi Alex mencoba untuk kuat. Darah masih merembes dari luka luka tembak Riko.


"Ayah,,," desahku lirih melihat keadaannya tertembak dibagian bahunya. Masih beruntung tidak mengenai organ vital dalamnya. Namun begitu, ayah nampak meringis menahan. Tentulah itu sangat menyakitkan buat ayah. Terlebih lagi darah kini meremas dari luka tembak yang dilakukan oleh Riko pada anak. Sungguh Riko manusia yang tidak punya hati. Mata hatinya sudah tertutup oleh nafsu dan dendamnya, sehingga tidak ada rasa belas kasihan lagi.


"Nak Riko hentikan! Jangan sakiti suamiku. Sungguh perbuatanmu sangat melampaui batas. Apa mata hatimu sudah tertutup? Dulu nanti nak Riko tidak seperti ini. Kenapa sekarang sangat berubah?" isak ibu pilu melihat keadaan ayah yang meringis karena luka tembaknya sangat menyakitkan. Terlebih lagi soldier Riko memegangnya dengan kuat, tentu ayahku tidak bisa bergerak sama sekali.


"Rikoooo,,,, bangsat kau Rikoooo,,,,! Jangan kau sakiti ayahku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu Riko. Ingat itu, aku tidak akan memaafkanmu. Kau sungguh keparat!"  teriakku kuat seakan punya kekuatan tambahan menyaksikan keadaan Ayahku yang terluka.


"Ha ha haaa,,, teriak. Teriaklah kalian, bi Ijah, Bening.... Asal kalian tahu, aku tidak peduli. Kalian harus menderita seperti apa yang ku rasakan selama ini. Dan itu secara perlahan lahan,,, ha ha haaa,,,," tawa lantang Riko seolah senang dengan yang dilakukannya.


"Tidak akan ada seorang pun yang akan menolong kalian. Tidak akan ada, ha ha haaa,,,! Kalian lihat mereka berdua yang sudah tak bernyawa, hah. Mereka cuma jadi sampah tak berguna, pun dengan kalian. Kalian akan mati satu persatu, hhaaahhh,,, haaaaaa,,,, haaaaaa,,,," suara tawa Riko sangat nyari, menimbulkan gema dengan muka tengadah, pongah.


"Lepaskan ibuku juga ayahku, Riko. Lepaskan mereka!" teriakku dengan derai air mata yang bercucuran.


"Hahaaaaaa,,, haaaaaa,,,,!" Riko makin lantang tertawa seolah tidak mendengarkan.


"Lepaskan aku Riko. Ku bunuh kau Riko bangsat. Bajingan kau Riko!" maki ku makin kalap.


Namun Riko sama sekali tidak menggubrisku, dia makin tertawa...


"Cukup!" bentaknya, seolah sebal dengan teriakanku.


Aku tak peduli, jika pun pelurunya bersarang ditubuhku, itu lebih baik jika aku melihat siksaan serta penderitaan kedua orang tuaku. Itu hal yang sangat menyakitkan buatku, terlebih lagi menyaksikan Alex pacarku yang ditembaki oleh Riko satu persatu membuat Alex menderita, tapi yang tersiksa dan lebih menderita itu aku.


"Kau manusia laknat, Riko. Kau tidak punya hati. Menyesal dalam hidupku telah mengenalmu Riko. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku tidak ingin bertemu kau lagi, Rikooooo,,,, hiks hiks hiks,,,!" seruku dengan isakan, karena aku sudah tidak tahan lagi.


"Ooh,, kau menyesal telah mengenal ku Bening. Apalagi aku. Aku menyesal telah jatuh cinta padamu, itu penyesalan terbesarku dalam hidupku. Namun apa? Aku tidak bisa mengenyahkan perasaan ini. Kau tahu. Karena aku sangat mencintaimu. Semua permintaanmu ku lakukan, itu semua karena perasaan cintaku padamu. Tapi apa balasanmu, Bening. Kau malah berhianat. Kau menghianatiku Bening, setelah apa yang ku lakukan selama ini padamu, tidak ada arti buatmu sama sekali. Untuk itu kau harus menebusnya dengan nyawa orang orang yang kau sayangi dalam hidupmu. Hahhhaaaaaaa,,,, haaaaaaa,,,,,"


Deeeppp!


Belum selesai tawa Riko, tangannya mengarahkan tembaknya pada ayahku. Bahu kirinya tertembak, itupun Riko matanya menatapku, merah.


"Agggrrrrhhh,,," dengus ayah tertahan menahan sakit ditembak Riko.


"Ayahh,,, hiks, hiks,,, hiksss,,,! Riko jangan lakukan ku mohon, hentikan. Jangan tembak ayahku, jangan siksa ayahku. Tembak saja aku Riko, tembak saja, sekalian kau bunuh aku tapi,,, jangan orang tuaku.  Hiks, hiks hikssss,,,," ratapku pilu menangisi ayahku yang tak bisa berbuat apa apa, tapi kini kena tembak dibahu kirinya setelah tadi bahu kanannya, padahal lukanya belum berhenti darahnya kini bahu kanannya mengeluarkan darah hingga bajunya penuh dengan darah.


"Ya Alloh,,, tolong kami. Hiks hiks, hikssss,,,," rintih ibuku sedih. Air mata tidak pernah susut, tapi makin mengucur deras. Harapan doanya terkabul, ada keajaiban yang terjadi.


"Ibu jangan bersedih. Semua pasti akan berakhir. Ibu tidak perlu meminta pada manusia yang tidak punya hati, seperti dia" bukan hanya sekedar sindiran melainkan kata kata pedas.


Riko nampak menyeringai dengan ucapan. Ada desahan berat...


Dengan hentakan nafas, tangan Riko dengan cepat mengarah kearah Alex.


Deeeppp,,,!


"Aghhh,,,!" seru Alex tertahan. Kaki kirinya ditembak oleh Riko.


"Gimana Alex? Nikmat bukan,,,? Memang aku tidak punya hati. Hatiku sudah mati, sejak aku mengenal dia" sekilas tatapan Riko mengarah padaku. Tersenyum sinis. Pandagannya kemudian diedarkan, dengan tatapan tajam tidak ada yang lepas dari matanya yang merah.


"Hentikan Riko, ku mohon,,, hiks, hiks, hiks,,,,, jangan siksa Alex. Hentikan, hentikan,,, ku mohon. Jangan sakiti Alex. Dia tidak bersalah padamu. Aku yang salah Riko bukan Alex, bunuh saja aku. Tembak aku. Tembak saja aku Riko,,, hiks, hiks, hiks,,," raungku kencang karena Alex yang ditembak oleh Riko.


"Jangan siksa ayahku, terutama ibuku. Siksa aku saja Riko.... Hiks, hiks, hiks,,," lanjutku, berharap Riko menghentikan aksinya untuk menyakiti lagi.


Tangan Riko kembali mengarah pada Alex, mungkin kaki kanannya yang masih aman...


"Aku tidak peduli. Ikuti saja permainannya ya Bening. Aku sungguh sangat menikmatinya. Aku suka sekali kamu memohon, rasa indah sekali. Aku bahagia sekali Bening. Kau tahu, sangat bahagia..." Kini pelatuknya di tarik. Lagi lagi mataku akan terpejam. Entah berapa isi pistolnya, seolah tidak ada habisnya. Aku berharap isinya habis karena telah digunakannya berkali kali.


Saat akan ku tutup mataku karena tidak ingin melihat kegilaan Riko lagi karena menembaknya sangat jitu, tepat sasaran.


",,, Pelurunya tidak akan habis Bening. Karena isinya cukup banyak. Tenang saja ya Bening, pasti ada giliran saatnya buat kamu. Sabar ya,,, hiks, hiks, hiks,,,,! Hahhaaaaa,,, haaaaaa,,,, haaaaa,,,," air mata Riko bercucuran, sesaat kemudian tertawa seperti orang gila. Pelatuknya ditariknya kuat dan akan dilepaskannya.


Seketika mataku terpejam tak ingin melihat apa yang dilakukan Riko sebab akan menembak Alex.


Deeepppp,,,?


Suara tembakan terdengar. Entah siapa kali yang ditembak oleh Riko.


Namun, hal tak terduga sangat mengejutkanku. Tubuhnya rasanya makin mati rasa saja.


"Mas,,,, Rohman,,,!" jerit ibuku yang menyaksikan aksi Riko menembak. Entah menembak ayah ku pada bagian mananya.


"TERKUTUK KAU RIKO. SUNGGUH,,, AKU TIDAK MENYANGKA JIKA KAU SEKEJAM INI. HATIMU BUKAN HATI MANUSIA LAGI, TETAPI IBLIS. MENYESAL AKU MENGENALMU. TERKUTUKLAH KAU KE NERAKA!" seru ibuku memaki Riko serta makin geram.


Bukannya ibuku dapat jawaban, melainkan mendapat kejutan yang tak terduga dari Riko.


Deeeppp,,,!


Suara tembakan terdengar didalam ruangan, dan tak ku sangka jika Riko...


"ANJING KAU RIKO!" umpatku tak terkontrol padanya.


#bersambung...


_______


Km 10/11/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.