204. Semua nyawa melayang. Termasuk....?.
Bab 204. Semua nyawa melayang. Termasuk....?.
★★★★
Tak ada ekspresi. Wajah Riko membesi. Tanpa salah, tanpa dosa. Yang dilakukannya demi membalas rasa sakit hatinya padaku. Kini ibuku yang jadi korban tembaknya.
"Akhhhhh,,," jerita ibuku tertahan. Bahu kirinya kena tembak oleh Riko. Sekuat tenaga ditahannya supaya sakit yang dirasakan berkurang. Darah merembes dari luka tembaknya dengan mata setengah terpejam. para soldier sangat erat memegangnya hingga ibuku tak bisa bergerak. Sepertinya mau meronta tapi apalah daya, kekuatan seorang wanita itu lemah. Tapi, ibuku tidak begitu lemah. Ibu pernah menolongku juga. Beliau wanita yang cukup tangguh, namun dihadapkan kenyataan seperti ini maka jiwanya akan melemah, sekalipun tegar dari luar.
'Ya Alloh, lindungilah ibuku!' doa ku dalam hati karena hanya doa yang bisa ku panjatkan. Aku tidak bisa berbuat apa apa.
"Nak Riko,,, hentikan! Jangan sakiti istriku, tembak saja aku" seru ayahku, tak tega melihat keadaan ibu yang meringis kesakitan.
"Tenang paman, aku tidak menyakitinya. Aku hanya memberi sentuhan kasih sayangku. Ha ha haaaa,,,,," Riko semakin menjadi jadi.
"Kau gila, stres nak Riko,,,!" pungkas ayah tak tahan lagi.
Semua tidak ada yang berani mengusik Riko, tapi karena ulahnya ayahku sampai bicara terlebih itu diluar dari ekspetasi.
Sekalipun ayah dalam keadaan dipegangi kuat kuat oleh soldiernya dalam keadaan luka luka, ada darah yang mengering.
"Lepaskan istriku!" seru ayah sekali lagi.
Deeeppp!
Sekali lagi bahu kanannnya ditembak oleh Riko hingga darah merembes.
"Aaahhhh,,, masss,,,," jerit kesakitan dari ibuku kesakitan, air matanya tak henti henti mengalir.
"Hentikan Riko. Lepaskan bibi Riko!" Alex kini yang bicara.
Riko mendengus kesal....
"Tembak saja aku Riko, bebaskan bibi. Bukakah kau membenciku, dendam padaku. Lampiaskan padaku jangan pada bibi, atau pun paman..." ulas Alex tak tahan dengan tindakan Riko yang melampui batas.
",,, Riko,,," ucapku dengan desahan pelan, menatapnya tajam.
"Ternyata kalian sudah sekongkol. Itu artinya,,,?" ucap Riko menggantung. Seringainya kearah. Lebih dekat.
"Bening, sekali lagi ini tawaranku. Semua keselamatannya nyawa mereka tergantung dari jawabanmu. YA atau TIDAK, itu saja pilihan. Kau paham,,, hmmm,,, Bening!" desaknya. Matanya merah dengan tatapan tenang. Ada ukiran senyum yang tak biasa. Wahahnya mengeras tegas.
Mulutku ingin mengatakan YA tapi hatiku TIDAK! dan itu akibat kesalahan ku jadi, konsekuensinya.
Hingga ku katakan. "TIDAK!" mulutmu meluncur tanpa bisa ku cegah lagi.
Deeeppp,,,!
Kaki ayah ku yang kanan ditembaknya. Darah mengucur dari luka tembak.
'Ini permainan gila!' pekikku dalam hati, tak bisa percaya apa yang dipikirkan. Karena aku salah mengucap, ayahku jadi korban.
Alex sudah dilukai kedua tangan dan kakinya. Ayah pun sama keadaannya dengan Alex, tinggal ibu yang bahu kirinya yang ditembak serta diriku belum tersentuh oleh tembakannya.
"BUAT KALIAN DISINI, BERLAKU HAL SAMA, YA ATAU TIDAK. TIDAK BOLEH ADA YANG MENYELAKU!" peringat Riko pada semua yang ada diruangan, tanpa terkecuali.
Semua terdiam, larut dalam pikirannya masing masing hingga keadaannya sangat hening seperti berada diarea kuburan.....
"Ha ha haaa,,," hingga suara tawa Riko memecah keheningan yang meraja.
"Bibi, apa kau mendukung Alex untuk menolong Bening?"
"YA,,,,!" jawab ibu ku tegas karena kenyataannya seperti itu.
Deeeppp,,,!
Tembakan Riko terulang ditangan kiri Alex.
"Aaarrrrggghhhhh,,,,!?" pekik Alex.
"Bibi, apakah ingin nyawanya Alex selamat?"
"YA,,,,!" jawab ibu lagi.
Deeeppp,,,,!
Tangan kanan Alex ditembak. Tak ada yang protes,,,
Sesekali ku pejamkan mata, tak tahan.
"Apakah bibi setuju jika aku jadi pacarnya Bening?"
"TIDAK!" balas ibu.
Deeeppp,,,!
Kaki kiri Alex jadi sasarannya.
"Aaaarrrggghhhh,,,!" ringis Alex.
Riko tersenyum sinis. Seringainya seperti senyum iblis.
" Bibi, apakah Alex cocok dengan Bening?"
"YA,,,!"
Deeeppp,,, deeeppp,,,!
Kini giliran ayahku ditembak di dua bagian sama seperti Alex. Tak ada yang protes.
Darah ditubuh Alex makin merembes dari luka lukanya yang tadi berhenti kini mengucur lagi dari luka luka barunya.
Air mataku mengucur deras, begitupun ibuku tak bisa menghentikan air matanya.
Darah juga merembes dari luka luka ditubuh ayahku.
"Bening, apakah kau suka menangis,,,?"
"YA,,,!" jawabku. Karena aku memang nagis melihat keadaan orang orang disekitarku yang disiksa dengan kejam olehnya. Tak ada pilihan.
Deeeppp,,,!
Tangan kanan ibuku jadi sasarannya. Aku tak bisa protes, tapi aku tidak tahan lagi...
"Hentikan Riko! Hentikan bajingan!" seruku tidak tahan lagi.
Bukannya jawaban dengan ucapannya...
Tapi...
Deeeppp, deeeppp!
Kedua kaki ibuku jadi korbannya karena aku telah menyahutnya. Itu konsekuensinya yang harus diterima.
"RASANYA PERMAINAN SUDAH DI PENGHUJUNG. AKU SUDAH MUAK DENGAN KALIAN!" pungkas Riko, sudah bosan.
Berharap Riko mengehentikan aksinya. Namun, dadaku makin berdebar tak karuan. Aku tahu mungkin ini adalah endingnya.
Seringai Riko makin menakutkan. Rasanya juga percuma, tak ada yang bisa menghentikan Riko.
Deeppp,,, deeeppp, deeeppp,,,,!
Tembakan Riko diarahkan ke Alex....
Darah segar memenuhi sekujur tubuhnya... Matanya setengah terpejam.
Tubuh Alex masih dipegangi oleh soldier Riko.
"Be-Bening,,, ak- ku,,, men- cin- tai- mu,,,,!" ucap Alex terakhir kalinya. Sebelum matanya terpejam untuk selama lamanya.
"Al,,, Alex,,, jangan mati!?. Jangan tinggalkan aku Al! Aku mencintaimu Al, sampai kapanpun!" isakku tak tahan lagi.
Tubuh Alex terjatuh dilantai, karena tidak dipegang lagi oleh soldier.
"Ha ha haaaa,,,, pesaingku sudah tidak ada lagi. Ha ha haaaa,,, kini,,, dua lagi, pendukungnya masih tersisa. Maka untuk itu, mereka berdua harus bernasib sama" itu bukan gertakan lagi melainkan hal yang cukup mengerikan.
Deeeppp, deeeppp, deeeppppp,,,,!
Tembakan Riko kini mengarah pada Ayahku. Tubuhnya terluka cukup banyak dibeberapa tempat, bahkan di paru paru dan jantung. Seketika ayahku meregang nyawanya.
"Masss,,,,!"
"Ayahhhhh,,,,!"
"Ha ha haaa,,,,!" tawa Riko makin tinggi.
"Kini giliranmu wanita tua...! Aku sudah muak,,,!" dengus Riko tegas. Wajahnya tanpa ekpresi.
Deeeppp,,, deeeppp,,, deeeppp,,,,
"Aaakkkkhhhhhhhh,,,!" jerit ibuku, ditembak Riko dibeberapa bagian tempat yang vital. Tubuh ibu ambruk dan dibiarkan tergeletak di lantai seperti ibu dan Alex. Seolah seperti tubuh binatang yang tidak ada artinya sama sekali.
Aku sudah tidak dapat berkata apa apa, lidahku sudah kering dan kelu. Melihat kematian orang orang yang ku cintai dan sayangi secara tragis. Aku sudah tidak bersemangat lagi untuk hidup, rasanya percuma aku hidup di dunia ini, rasanya tak ada tempat lagi.
"Maaf Ki Ageng, suatu saat kau juga akan jadi penghalangku. Maka, nyawamu tidak boleh berada di ragamu lagi,,,!" ucap Riko dingin.
"Den Riko, maafkan aku. Aku salah apa? Aku telah banyak membantumu, termasuk supaya Bening tidak bisa menggunakan kemampuannya. Kedua tangannya yang tidak bisa digerakan sampai lumpuhnya seluruh urat saraf ditubuhnya yang lumpuh. Itu berkat ramuanku..." terang Ki Ageng. Merasa sangat berjasa dalam hidupnya karena telah membantu tuan mudanya yang tak punya hati dan rasa terima kasih.
"Terima kasih Ki Ageng!. He he heeee,,,,!" seringai Riko tak peduli, sambil todongkan pistolnya ke arah Ki Ageng yang dipegangi soldiernya kuat kuat.
Maka, detik berikutnya terdengar tembakan beberapa kali....
"Ha ha haaa,,,,," diiringi derai tawa kepuasan dari Riko.
"Aaagggghhhh,,,,!" Lagi lagi korban jatuh. Tubuh Ki Ageng tak mampu lagi mempertahankan nyawanya lagi. Nyawanya telah dibawa malaikat maut pergi ke alam baka.
",,, Ha ha haaaaa,,,,!" suara tawa Riko membahana lagi, menggema hingga terasa menyeramkan. Benar benar seorang pembunuh berdarah dingin.
"Hmmm,,," gumamnya, mata Riko liar menatapi sekitaran. Sudah enam orang tewas ditangannya secara sadis dan tragi.
Tawa Riko membahana lagi mirip orang kerupan.
"Papa maju,,," ucap lembut, tapi dingin. Aura yang terpancar sungguh tak terduga.
Semula pak Mahendra begitu tenang, namun memdapat panggilan dari putra nya, nyilinya sedikit menciut. Tadi saja tidak berani menolong istrinya yang terkapar karena ancaman putra nya, kini diperintah putra seperti ketua mafia.
Dada pak Mahendra berpacu dengan wajah memucat...
"Papa sekarang tinggal pilih. Mama atau papa?" ucap Riko memberi pilihan. Tentu saja pak Mahendra belum tahu maksudnya.
Namun, aku sedikit menarik kesimpulan jika Riko ingin nyawa salah satu dari orang tuanya.
"Papa,,,! Pilih mama atau papa?" tegas Riko dengan pancaran mata berkilat tajam.
"Mak- sud kamu apa nak?" timpal pak Mahendra. Ku demgar dengan jelas. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa.
"Iya nak. Maksud kamu apa, berkata seperti itu. Kami orang tua, aku yang melahirkan" sergah bu Kinasih tak percaya.
"Aku tidak peduli. Pilih saja papa atau mama!" seru Riko dengan tubuh bergetar hebat.
"Mama saja, sayang,,," isak bu Kinasih tak ada pilihan lagi.
"Soldier, pegang ayahku. Jangan sampai lepas!" teriak Riko lantang. "Cepat,,,!" teriak sekali lagi, dengan geram serta tubuh bergetar hebat.
",,, Mama, papa maaf ya,,, ha ha haaaaa,,," dijilatinya pistol yang ada peredam suaranya pelan, sesekali meringis kayak orang gila setelah tadi tersenyum.
Ku lihat gerak geriknya tanpa ekspresi, rasanya aku tak ingin hidup lagi, orang orang yang ku cintai dan sayangi telah mati, pergi meninggalkan ku seorang diri didunia. Tak ada lagi alasanku untuk hidup. Lebih baik aku nyusul mereka mati, itu rasanya membahagiakanku.
",,,, Ha ha haaaaaa,,, ha ha haaaa,,,," aku tertawa sejadi jadinya, pikiranku kacau balau, dengan tertawa membuat hatiku rasanya ringan.
"Ha ha haaaaaaa,,,, haaaaa,,,, haaaaaa,,,, haaaaa,,,,,," kembali tawa membahana, tentu saja yang ada disitu menatapku heran terlebih Riko pun sama.
"Hentikan! Hentikan tawamu,,,!" teriak Riko lantang karena merasa terganggu dengan tawaku.
Seketika aku diam,,,!
Ingat hal yang tragis dari semua yang terjadi pada orang orang terkasihku.
"Kenapa diam tertawanya, hah,,,?"
Ku abaikan pertanyaan Riko.
Air mataku luruh tam bisa ku cegah.
"Kakek,,,! Mas Surya,,,! Alex,,,! Ayah,,, ibu,,,,,!" gumamku lirih.
Tentu Riko mendengarku. Mengernyitkan dahinya keheranan.
"Haaaaaa,,, haaaaa,,,, haaaa,,,, haaaaa,,,,!" tawaku melengking hingga timbul gema.
Deepppp,,, deeeppp,,,, deeeppp,,,?
Pranggg,,,, praaaangggg,,, praaanggg,,,,
Suara bising suara pecah terdengar. Entah barang apa yang pecah?.
Tawaku seketika berhenti...
"Hiks, hiks, hiks,,,,,
Hiks, hiks, hiks,,, " tangisku pecahku. ",,, Ha ha haaaa,,,,"
"CUKUP,,,!" teriak Riko kalap, nafasnya memburu. Kini mendekat kearah ku.
Dia jongkok didepanku hingga wajahnya sangat dekat. Tegas, bringas, wajah Riko yang teramat asing buatku. Aku bahkan sampai tidak dapat mengenalinya. Banyak bercak darah yang mengering. Darah dari para korban pembantaiannya yang sadis.
",,, Bening sayang, bagaimana rasanya sekarang hidup sendirian, hah,,,,?" suara dibuat lembut, namun wajahnya nampak tegas, bringas.
",,,,?" ku tatap Riko dengan penuh tanya. Lidahku kelu, tenggorokan kering, rasanya sakit. Bulir bulir air mataku luruh tak tertahankan.
"Apa kau mencintaiku Riko?" kataku pelan, dengan derai air mata yang kian luruh.
Riko terdiam. Tidak menjawab. Ada untaian senyum yang tersembunyi. Senyum penuh kemenangan. Namun, ada kernyitan ketidakmengertian dari maksud ucapanku.
Aku tidak peduli...
",,, Jika kau benar benar mencintaiku tulus dari hatimu, luluskan permintaanku yang satu ini. Hmmm,,,,?" sambung dengan isakan yang dalam.
"Bening,,, dari dulu aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu,,," wajah Riko mendekat, bisa ku rasakan hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajahku.
Aku tidak peduli ocehannya, ku anggap angin lalu...
"Tapi apa? Kau malah menghianatku. Hatiku hancur, sehancur hancurnya. Tapi, semua belum terlambat Bening, kita bisa memperbaikinya. Asal kau mau menerimaku, juga cintaku"
Aku tidak peduli dengan semua janji janji manisnya. Hatiku sudah mati rasanya. Aku tak ingin hidup lagi, percuma juga hidup karena semua telah tiada, aku tinggal sebatang kara, maka untuk itu aku hanya meminta satu permintaan terakhir padanya.
Kini ikatanku terbebas, namun itu semua percuma, jariku tak bisa ku gerakan. Karena tanganku tertembak, kedua kakiku tak bisa ku gerakan dari awal. Tubuhku sarafnya tidak berfungsi, ini semua gegara Ki Ageng yang kini telah mati.
"Awww,,," ringisku tertahan karena bahuku dicengkram kuat oleh Riko.
",,, Sakit, maaf! Tapi, hati ku lebih sakit dari ini,,," suara masih lembut, namun setiap perkataannya sangatlah menyakitkan.
Lagi lagi aku tidak menggubris ocehannya.
Ku tatap tajam manik matanya, ada luka yang begitu dalam disana. Tapi, semua itu percuma, tidak berarti buatku. Apa yang telah dilakukannya sudah tidak dapat ku maafkan lagi. Sekalipun nyawanya sebagai penebusnya.
",,,, Hiks, hiks, hiks,,, KU MOHON PADAMU, RIKO DENGAN RASA CINTAMU YANG TULUS PADAKU BUNUH SAJA AKU!" tegasku, dengan suara lembut tapi bergetar. Dengan menahan tangis serta sesak didadaku.
Cengkraman dibahunya begitu kuat, rasanya sangat sakit, sekuatnya aku tahan didepannya. Aku tak ingin terlihat lemah didepannya.
",,, Betapa kah kau tidak bisa merasakan betapa tulusnya aku mencintaiku. Betapa besar pengorbananku padamu selama ini?"
Ku gelengkan kepalaku. Tidak peduli. Rasaku sudah mati. Tidak tersisa lagi sekalipun itu hanya secuil.
"Emhhhh,,," dengusnya pelan. Ada kekesalan yang dalam.
Keinginanku cuma satu, yaitu ingin hidupku berakhir...
"Aku tak ingin melihat indahnya dunia lagi. Aku sudah tak punya keinginan lagi. Rasaku sudah mati. Untuk apalagi aku hidup? Hiks, hiks, hiks,,, tembak saja aku, Riko. Ku mohon,,,!" rintihku penuh dengan permohonan.
"Cuuuuppppp,,,," bukan jawaban yang ku dapatkan, Riko malah mencium bibirku, melumatnya dalam dalam, penuh rasa, rasa kehangatan. Namun, ku rasakan hambar, hampa. Benar, jika rasaku sudah mati.
Tidak bisa ku tolak, namun air mataku deras mengucur sebagai bukti penolakanku.
"Maafkan aku. Maafkan aku,,," setelah dengan lembut Riko menciumku. Sekian lama tidak pernah dilakukannya. Namun, rasanya terasa hambar.
"Aku tahu orang tuaku jadi penghalang hubungan kita,,," Riko bangkit. Tatapan mengarah pada mamanya yang masih tergeletak. Papanya masih dipegang kuat kuat oleh para soldier yang patuh akan perintahnya pada papanya.
"Bukan,,," balasku. Berharap Riko tidak melakukan hal yang kemudian hari disesalinya. Namun, usahaku sia sia.
Deeeppp, deeepppp, deeppp!
Tembakan mengarah bu Kinasih dan belum sempat berteriak nyawanya sudah langsung lepas dari raganya.
Deeeppp, deeeppp, deeepp,,,!
Tembakan selanjurnya diarahkan pada papanya. Nasib sama pun dialami, tanpa bisa protes. Dari mulutnya keluar darah, juga dari luka dibagian jantung dan paru paru. Nyawanya tak sanggup untuk bersemayam lagi.
Darah telah tumpah ruah diruang sekap, hingga banjir darah.
Tak ada ucapan, tak ada ekspresi, Riko seperti orang linglung. Tubuhnya seolah lemah tak mampu bertumpu lagi, merosot kebawah dengan tatapan kosong padaku. Ada senyum terukir, miris.
Tangannya masih kuat, tak gemetar sedikitpun setelah menghabisi nyawa kedua orang tuanya.
"Kini tak ada yang menghalangi lagi. Siapapun, bahkan orang tuaku maupun orang tuamu. Bahkan mas Suryamu, juga Alex. Tinggal kita berdua Bening, hemmm!" Seringainya, sebuah ringisan yang sulit ku artikan.
"JAWAB BENING AKU SEKARANG, BENING. APAKAH KAU MAU MENERIMAKU UNTUK JADI KEKASIHKU SEUMUR HIDUPKU. YA ATAU TIDAK!"
Aku terdiam. Ku tatap tajam tanpa ekspresi.
"JAWAB AKU BENING. JAWABBBB,,,!" emosi Riko memuncak.
"Tembak saja aku. Bunuh saja aku! Aku tidak butuh cintamu, terlebih dirimu!" balasku tegas tanpa ekpresi.
"KATAKAN YA ATAU TIDAK, BENING!" teriaknya dengan tubuh bergetar hebat, menanti keputusanku.
"TIDAK RIKO!" jawabku tenang.
Tangan Riko yang memegang pistol mengarah tepat kejantungku.
Deeeepppp!
Darah mengalir dari sela sela bibirku. Peluru tembakan tepat mengenai ulu hatiku. Penembak jitu.
"T-ter- terima,,, ka- sih Riko. K-kau,,, te-lah,,, lul- luskan,,, permintaakuhhh,,," ada rasa bahagia dihatiku disaat terakhir ku lihat dunia ini.
Tubuhku dipegangnya kuat dalam dekapannya. Tubuhnya terguncang hebat menahan tangisannya yang dalam. Hingga tangisan Riko pecah sambil meraung kesetanan seolah baru sadar dengan apa yang diperbuatnya.
"Tidak Bening. Aku- aku sungguh sangat mencntaimu, Bening. Maafkan aku! Maafkan aku Bening,,,, tidak! Tidak,,,,! Maafkan aku Bening! Ya Tuhan, apa yang telah ku lakukan?. Apa yang telah terjadi? Mengapa semua seperti ini. Huhuuuuuu,,,," raung Riko baru sadar setelah semua telah terjadi.
Sesuatu hal terjadi, seolah ku punya kekuatan hingga bisa ku gerakan tangan kananku. Hingga perlahan ku sentuh wajah tegasnya dengan senyuman.
Darah masih terus mengalir dari lukaku, bau anyir darah begitu kentara. Disertai aroma bunga, bunga kenanga.
"R- Rik- ko,,, ak- akuhhh,,, MENCINTAI-MU!" perlahan lahan pandangan mataku mengabur.
"Tidak Bening. Kamu harus tetap hidup. Aku tau kau juga mencintaimu! Baiklah, aku akan ikut menemanimu, Bening!"
Masih ku lihat samar, tangan kanan Riko mengarah dikepala.
Dan setelah itu, saat pandangan serta pendengaranku diujung maut. Masih sempat ku dengar letusan tembakan.
Deeeppp,,,!
__________
Brrrraaakkkkkkkk,,,,!???
#bersambung....
****
#Akankah kisah ini akan berakhir?
Tentu masih banyak misteri yang belum terpecahkan.
---------
Jm 11/11/2022.
Komentar
Posting Komentar