205. Kisah yang sesungguhnya.
Bab 205. Kisah yang sesungguhnya.
★★★★★
Flash back!
Seusai aku dan Riko nonton bioskop, Riko mengajakku kesuatu tempat entah kemana dan dimana?.
Tentu aku yang sudah lelah serta capek secara halus menolaknya.
"Rik, kita mau kemana? Ini sudah malam, bahkan sudah larut. Perasaanku tidak enak. Sebaiknya kita pulang saja. Nanti orang tuamu mencarimu, ibuku pasti juga khawatir" tuturku, sebisa nya tidak menyinggung perasaannya, sepertinya mood Riko kurang baik. Entah apa penyebabnya, tapi aku bisa merasakan semua itu?. Mirip cenayang.
Riko seolah tidak mendengarkan ku hanya diam saja. Seolah berpikir apa yang ku katakan tadi.
Sehingga didalam mobil hening beberapa saat, hingga Riko nampak menarik nafas, menghela pelan pelan, sampai sampai nafas yang dihembuskan terdengar. Didalam mobil terasa sejuk karena ada acnya. Tentu saja mobil sekarang sangat canggih teknologinya, bahkan ada yang matic serta otomatis.
"Riko, kita mau kemana?" ulasku dengan meninggikan suaraku karena Riko tak menggubrisku sedari hanya fokus dengan kemudinya. Mengabaikan, seoalah aku tidak di anggapnya. Siapa yanh tidak sewot, mana malam sudah larut sekalipun besok libur sekolah. Jawab apa kek, ini malah cuek cuek bebek.
"Hmm,,," gumamnya lirih sebagai jawabannya. Hanya gumamnya, dan itu isyarat yang tidak ku mengerti.
Aku tidak tahu maknanya, tidak bisa mengartikan ungkapannya. Sesekali ku lirik, sikap nampak biasa tak terpengaruh.
Mana perasaanku makin tidak enak.
Riko fokus dengan mengemudinya. Entah berpikir atau tidak peduli. Tapi, kelihatan nya cuek dari tadi.
Tapi, kemudia ...
"Jujur tentang hatimu,,,?" Akhirnya Riko berucap tapi aku dalam ketidakmemgertian, seperti itu seperti menekanku dari suaranya yang tersirat. Namun, cukup aneh ku dengar. Ku tanya apa? Dijawabnya gimana?. Dasar manusia aneh.
"Maksud kamu apaan sih Rik,,,?" Balasku sekenanya, tapi lebih ke tanya, tentu aku agak kesal karena berbelit dengan sikapnya. Bahkan dingin, tidak ada senyum, tidak ada kehangatan yang kurasakan. Selama dalam perjalanan ini dalam mobilnya bahkan makin dingin terasa, entah pulang atau mau kemana, karena Riko tidak mau menjawabku malah bungkam.
"Gak usah pake bahasa yang tak ku mengerti. To the point aja napa?" sambungku karena aku agak bingung karena ini menyangkut masalah hati, kan aneh.
"Jawab saja!" tegasnya dengan wajah makin tegas.
"Ak-aku,,," sumpah aku bingung untuk hatiku sendiri. Selama ini aku bersama Riko biasa. Dulu pernah ada setitik rasa, namun karena sikapnya yang membuatku muak, bahkan seolah tak peduli perasaan itu perlahan sirna. Jujur, aku menganggapnya teman biasa, walaupun kadang TTM, teman tapi mesra. Tak ku pungkiri akan hal itu.
"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawab. Kamu bingung dengan hatimu" dengusnya, terdengar kesal akan sikapku. Mungkin tidak punya sikap konsisten dengan hati.
"Masalah kamu apa sih?"
"Ini masalah hati dan perasaanku ke kamu selama ini. Paham!" balasnya, semakin kesal. Aku hanya nyengir karena kekesalannya.
"Bisa bisa nya kamu tersenyum disaat seperti ini,,," Riko kelihatan uring uringan dengan sikapku. Terlebih karena aku senyum, bukannya aku tersenyum karena bermaksud menghina atau mengejeknya, karena aku merasa lucu saja mendengar pernyataannya yang gak jelas.
Kini pikiranku flash back dengan apa yang dikatakan oleh Riko, yang dilakukan padaku semuanya. Ku hembuskan nafas pelan. Kini aku mengerti hal itu membuatku terdiam membisu. Harus jawab apa aku sekarang. Tatapan Riko seperti mengintimidasi ku, hingga membuatku tak enak hati sendiri. Ini orang kenapa ya, seneng banget buat aku berdebar tak karuan dengan sikapnya? Dasar!. Singutku sendiri, kesal dengan keadaan dan situasi saat ini.
"Kenapa diam? Katakan, aku akan terima? Atau kamu ada rasa dengan Alex? Selama ini karena ku perhatikan kamu sangat dekat dengan Alex. Kamu telah melihat tubuhnya, semua yang dimilikinya. Dia lebih keren dari punyaku, lebih perkasa, begitu. Lalu kamu abaikan aku, juga perasaan ku selama ini, serta pengorbananku ke kamu itu tidak ada artinya bagimu sama sekali, iya!?" ulasnya pajang sekali hingga tak mampu ku telaah.
"Dengar Riko. Oke,,, jika dengan apa yang kau lakukan selama ini, segala pengorbanan yang kau lakukan padaku karena cinta, menuntutku untuk itu?. Dengar baik baik Riko. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Aku tidak meminta untuk itu, terlebih kau mencintaiku. Itu urusan hatimu padaku. Apa kau selama ini mengerti apa yang ku rasakan? Mengerti keadaanku, mengerti hatiku. Kau egois dengan perasaanmu Riko, dengan hatimu. Dengan kau memaksa seperti itu, kau kira aku akan nerima begitu saja. Tidak Riko. Persepsimu tentang semua itu salah. Bukannya aku menolak, tapi aku butuh waktu"
"Sampai kapan? Sampai hatimu berpaling, untuk menerima hati yang lain. Seperti hal kau menerima Alex, gitu,,,?"
"Hal itu tidak semudah kita membalikan telapak tangan!. Jika kau diposisiku, apa kau akan menerimanya begitu saja. Apa kau pernah memikirkan tentang perasaan Raya padamu selama ini"
"Jangan ikutkan masalah Raya dengan apa yang ku rasakan padamu"
"Walaupun harus membuat luka serta mengorbankan orang yang sangat mencintaimu dengan tulus. Bahkan kau telah nge-sex dengan nya berulang kali. Hingga tak terhitung. Bahkan kita saja belum pernah melakukan hal itu. Kau tahu bagaimana perasaan Raya padamu selama ini? Bahkan Raya, sampai mengorbankan dirinya demi kamu, demi cintanya yang besar serta tulus padamu. Tapi kamu abaikan. Gimana rasanya itu, perasaan Raya? Kamu mikir gak sih tentang semua itu. Kau egois namanya"
"Lalu, kamu ngemut punyaku kau anggap apa Bening? Aku lakukan sunat, itu juga demi kamu. Aku berkorban selama ini buat kamu"
"Itu bukan alasan Riko. Kau tidak berhak untuk memaksakan cintamu agar ku terima. Bukan seperti itu,,,"
"Lalu apa yang kau inginkan Bening? Apa yang harus ku lakukan supaya kamu bisa mengerti, menerimanya tanpa ada unsur paksaan?" sikapnya gusar.
"Aku tidak tahu!" seruku tertahan.
"Berarti hatimu tidak pernah mau menerimaku?" suaranya sedikit lantang, menekan emosinya. Itu hal yang cukup berat dilakukannya.
"Aku tidak tahu. Jangan pernah memaksaku" kini suaraku melunak.
"Kau plin plan" sungutnya makin kesal.
"Terserah!" aku merasa muak dengan sikapnya.
",,,, Baiklah jika itu maumu!" dengusnya makin kesal.
Karena debatan yang menegangkan hingga tidak melihat keadaan.
Sesuatu hal terjadi...
--------
Brakkkk.....!
Hantaman sangat keras terasa.
Entah apa yang terjadi? Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada yang menyadarinya karena debatan yang terjadi di sepanjang jalan menuju tempat yang akan dituju Riko.
Yang ku rasa,,,
Ada beberapa orang menghampiri ku juga Riko membuka pintu mobil dengan paksa. Bahkan suara terdengar tapi tidak begitu jelas. Yang terasa serta ku lihat agak samar begitu ramainya.
Aku seperti setengah sadar setengah tidak. Karena orang orang itu seperti berseragam, wajahnya juga tidak begitu jelas. Tanganku berusaha menggapai, tapi lemah. Tubuhku terasa lunglai, tak bisa ku gerakan sama sekali. Tubuhku nyeri, bukan hanya sekedar nyeri tapi sakit disekujur tubuhku. Nafasku juga seperti tersendat. Kesadaranku perlahan lahan menghilang. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Riko karena sedari tadi hanya diam, bahkan aku seperti tidak melihatnya.
Perlahan lahan, mendadak semuanya gelap gulita!.
Flash back end!
___________
"Ibuuuu,,,, ayahhhh,,,, Alexxx,,,,,!" teriakku kencang. Mataku mengerjab. Saat ku sadari, aku terbaring di sebuah ranjang empuk, suasananya nyaman. Aku tersadar, tapi suaraku tidak keluar sama sekali, bahkan tubuhku pun sama. Tubuhku rasanya tak ada sendi nya.
Aku seperti terhenyak. Aku mengalami hal aneh? Hal yang tak ku mengerti sama sekali. Mimpikah itu, atau hanya suatu pertanda dari Allah swr. Semua terjadi begitu saja. Terjadi. Kejadian yang sangat tragis. Semuanya mati termasuk aku. Ya Allah! Jika aku mengingat semua kejadian yang ku alami begitu nyata.
Perlahan ku dengar isak tangis yang sangat memilukan. Ibu,,,!?
"Hiks, hiks, hiks,,," isak ibu pilu berurai air yang tak terbendung. Memegang tangan ku lembut, mulutnya masih nampak bergetar hebat.
"Apa yang terjadi padaku, ibu? Tolong, katakan padaku ibu,,," ucapku, namun apa yang ku ucapkan tidak pernah keluar. Tentu aku shock sekaligus tidak percaya. Semua ku telaah, tapi pikiran ku seakan buntu.
"Ya Alloh, apa sebenarnya terjadi padaku? Aku bahkan tidak bisa bicara. Tubuhku rasanya mati rasa. Hanya mataku yang bisa ku gerakkan"
Ibuku masih terus menangis menatapku...
"Alhamdulillah ya Alloh!" Berkali kali ibuku berucap syukur atas diriku.
"Mas,,," panggil ibu pada ayahku. Entah berada dimana beliau karena aku tidak bisa melihatnya. Barulah setelah tepat didepanku aku bisa melihatnya.
"Alhamdulillah ya Alloh. Kamu sudah siuman nak, ya Alloh" mata ayahku berkaca kaca. Seperti kekurangan tidur. Mukanya begitu pucat sama seperti ibuku. Tangan ayahku gemetar, sesaat tengadah lalu diusap dimukanya sembari mengusap matanya yang basah. Sambil memegang tanganku lembut bersama ibu.
Hatiku merasa tenang, karena ada orang tuaku yang menungguiku.
Aku berharap semua kejadian yang ku alami, entah itu mimpi, atau halusinasi alam bawah sadarku, atau bahkan sebagai pertanda, aku berharap semoga kedepannya akan baik baik saja. Baik aku, orang tuaku, keluargaku, maupun orang orang menyanyangiku, juga mencintaiku. Alex,,,,
Ingatanku tertuju pada Alex, orang yang telah menyatakan cintanya, menolongku, walaupun hal itu tidak dapat menolongku juga keluargaku, namun perasaannya begitu tulus. Tulus mencintaiku. Alex,,,!?.
"Tidak, sayang,,, bangun,,,! Bangunlah,,,?" teriakannya sampai keruangan dimana aku sedang terbaring.
"Sayang,,,,!"
#bersambung....
___________
Sl 08/11/2022.
Komentar
Posting Komentar