206. Mengetahui.
Bab 206. Mengetahui.
★★★★
Tendengar jelas raungan tangisan bu Kinasih yang memanggil manggil nama Riko putranya. Kata 'sayang' panggilan bu Kinasih pada Riko putra bungsunya yang amat disayanginya.
Karena aku dan Riko beda ruangan ruangan, tapi dekat. Tapi aku begitu jelas mendengar bu Kinasih serta seorang dokter sedang bicara. Aku tidak tahu apakah ibu dan ayahku bisa dengar dengan jelas seperti apa yang dengar saat ini. Mau ku tanya ibu atau ayah kondisiku tidak memungkinkan, tubuhku tidak bisa digerakan sama sekali, hanya mataku yang terbuka, hanya bisa berkedip, itupun hanya sedikit. Suaraku pun tidak bisa keluar, karena aku tidak bisa menggerakan bibirku sama sekali.
Aku tidak tahu berada dirumah sakit mana. Namun, ruangannya sangat berbeda, bukan rumah sakit tapi mirip sebuah peningapan mewah karena semua sangat lengkap. Bahkan ornamen atapnya sangat bagus serta enak untuk dipandang mata bahkan terkesan mewah sekali.
"Apa dok? Tidak mungkin dokter RENO. Tidak mungkin anakku amnesia dok. Pasti dokter salah mendiagnosanya. Iya kan dokter Reno alvian saga?" seru bu kinasih tidak terima atas pernyataan dokter Reno, itu salah, semua tidak benar.
'Ya Alloh, Riko AMNESIA?'
"Dengar bu Kinasih. Benturan dikepala Riko yang jadi penyebabnya. Karena ada retak dikepala Riko, serta ada sedikit pendarahan di otaknya. Mungkin Riko ingatannya tidak semuanya hilang, bisa jadi Riko tidak ingat dengan keadaan, namanya, nama orang yang dikenalnya bahkan orang tuanya. Mudah mudahan ingatannya tidak hilang seluruhnya sehingga bisa melanjutkan belajarnya" terang dokter Reno membuat bu Kinasih lega dengan apa yang dialami Riko.
Tapi, aku juga mengalami hal yang tidak jauh beda dengan yang di alami olehnya.
"Hal lainnya lagi, tidak menarik kemungkinan Riko bisa segera sadar dalam minggu minggu ini bu Kinasih, karena keadaannya semakin hari semakin ada peningkatan. Berharap saja serta berdoa sama Tuhan secepatnya Riko sadar supaya kesembuhannya lebih cepat..." terang dokter Reno. Tentu bu Kinasih tak bisa nyembunyikan rasa kesedihan. Kini tangisnya pecah sedari tadi coba untuk menahan.
"Dokter Reno, mereka sudah seminggu lebih koma dok, namun putra ku belum juga sadar. Anak penbantuku yang sudah sadar,,," ucap bu Kinasih menjelaskan tentang keadaan ku dan keadaan Riko sampai detik ini belum siuman dari komanya.
Berarti aku dan Riko malam itu mengalami kecelakaan karena aku dan Riko debat mengenai hal yang gak penting. Riko tidak fokus dengan jalanan hingga tabrakan dengan mobil truck tak bisa dielakan. Aku terlambat menyadarinya.
Andai, malam itu Riko tidak mengajak ku pergi kesuatu tempat, cepat pulang maka keadaannya tidak akan seperti ini. Mungkin tidak akan terjadi kecelakaan. Namun aku tidak akan pernah tahu dibalik semua kejadian yang ku lihat dimasa mendatang.
Lalu kejadian ku alami itu, seperti kejadian nyata itu apa? Apakah hal itu yang akan terjadi nantinya dimasa yang akan datang. Atau itu sebuah pertanda jika aku tidak boleh salah memilih supaya apa yang ku lihat itu tidak jadi kenyataan.
Entahlah, yang harus ku lakukan selanjutnya aku tak ingin kejadian yang ku alami disaat saat aku mengalami, semua itu terjadi.
Riko seperti seorang pembunuh yang tak punya hati, sangat sadis. Semua dibantainya tanpa ampun. Jika, aku mengalami hal itu nyata, mungkin aku tak kan sanggup untuk membayangkannya.
Semua dibantainya, bahkan Riko menembak dirinya karena telah menyesalinya. Semuanya telah terlambat.
Tapi saat ku sadari keadaan sedang terbaring tak berdaya, tak mampu bergerak sama sekali.
'Sekarang apa yang harus ku lakukan, ya Alloh? Aku tidak bisa melakukan apa apa, bicara saja tak mampu apalagi menggerakan tangan, jari saja tidak bisa' keluhku dalam batin. Siapa yang tidak mengeluh jika mengalami nasib seperti yang ku alami. Tidak dapat melakukan apa apa kecuali mata saja.
'Astagfirulloh' aku harus selalu mensyukuri keadaanku. Kalau begini saja aku mengeluh bagaimana aku bisa kuat. Orang tuaku saja begitu kuat dan tegar melihat keadaanku. Kenaoa aku lemah dan banyak mengeluh.
"Alhamdulillah, nak kamu sudah sadar dari komamu,,," kata ibu mengelus tanganku lembut. Membelai atas kepalaku. Ayahku masih berdiri memperhatikanku dengan tatapan sedih.
"Mas,,," ibu bicara pada ayah sebagai isyarat. Ayah nampak menghela nafas pelan. Seperti biasanya ayah sama sekali jarang bicara atau bahkan banyak diamnya, itulah kebiasaan ayah. Hanya ekspresi saja. Kadang, adakalanya disertai dengan senyum cool, senyum yang sangat menawan. Aku melihat bagaimana Riko menghabisi ayahku dengan cara tragis. Ya Alloh, kenapa hal itu sangat membekas. Bukan hanya ayah, ibu juga sama, sebelumnya malaikat maut menjemputnya, ditembak Riko tepat dijatung, hati dan paru paru tanpa ampun.
Jika mengingat semua itu, aku tak bisa menahan perasaanku....
'Oh,,, ya, aku juga melihat simbah putri dan Ferdy yang juga sangat mengkhawatirkan keadaanku. Semoga keadaan mereka di kampung baik baik saja' itu harapanku.
Aku ingin keadaanku cepat pulih serta bisa aktivitas seperti semula.
'Berapa biaya dirumah sakit ini? aku dirawat disini. Tentu nya sangat mahal, terlebih ini ruangannya yang tak biasanya seperti rumah sakit pada umumnya. Bad hospital, ruangan serba putih, terus lagi bau obat obatan yang menyenangkan belum aroma yang lainnya yang bikin kepala tambah pusing. Disini aromanya sangat berbeda, wangi aroma terapi yang menenangkan'
Andai aku bisa bicara, tentu akan banyak hal yang akan ku tanyakan pada baik ibu atau ayah mengenai semua hal aku berada disini.
"Mas,,,," lagi lagi ibu memanggil ayah, sepertinya ada hal penting yang akan dikatakan
Aku tidak tahu apa itu, yang jelas sepertinya sangatlah penting.
"Sudahlah Dek, gak perlu dipikirkan hal itu?" Seperti biasanya tanggapan ayah selalu tenang, walaupun dari ucapan ibu penuh dengan rasa kekhawatiran.
Aku juga punya tabungan sendiri, itupun orang tuaku tidak ada yang tahu. Itu untuk biayaku nanti aku kuliah. Karena nanti aku ingin kuliah dibagian pertanian. Aku ingin sukses jadi seorang petani. Maka dari itu, ku mulai untuk menabung, uang jajan tidak ku hamburkan, beli jajan seperlunya karena sebagian kemasukan ke tabunganku.
"Tapi mas, biayanya sangat mahal mas. Mas dengar sendirikan yang dibilang Bu Kinasih. Kita harus berkerja dua tahun tanpa gaji mas" ratap ibuku sedih.
Aku belum tahu pasti yang terjadi. Terlebih nominal angkanya, karena ibu tidak menyebutkannya. Kerja dua tahun itu bukanlah waktu yang singkat, itu sangatlah lama, dan itu untuk biaya aku dirawat dirumah sakit ini. Ya Alloh!.
"Iya, aku tahu, keluarga Sanjaya telah menjamin biayanya, walaupun biayanya sangat mahal. Tapi, nyawa putra kita lebih utama, bukan"
"Iya mas, maaf. Aku terlalu khawatir dengan keadaan kita"
"Percaya, semua akan baik baik saja termasuk putra kita" itulah ayah selalu bisa memberi ketenangan disaat dalam ketegangan serta bisa berpikir kedepan, sehigga tidak menimbulkan rasa khawatir.
Aku pun berharap jika Riko bisa sadar hari ini, sepertiku supaya orang tuanya tidak khawatir.
Setelah tadi aku bisa dengar percakapan bu Kinasih dengan sangat jelas, kini suara tidak terdengar lagi untuk beberapa saat lama. Mungkin dokter Reno telah pergi karena ruangannya terasa sepi. Hanya isak lirih yang terdengar.
Aku berdoa, semoga Riko baik baik saja, dan mudah mudahan prediksi dokter itu tidak benar, jadi Riko tidak mengalami AMNESIA.
Mendadak aku mendengar teriakan sangat kencang, hingga telingaku sedikit berdenging. Namun, anehnya ibu dan ayahku seperti tidak terpengaruh dengan keadaan.
"Dokter, dokter, dokter,,, putra saya sadar,,,,!? Dokter...." teriak bu Kinasih tertahan, dalam kepanikan.
"Alhamdulillah!" ucapku bersyukur karena Riko telah sadar dari komanya.
#bersambung...
----------
Sn 14/11/2022.
Komentar
Posting Komentar