207. AMNESIA
Bab 207. AMNESIA
★★★★★
Seminggu setelah perawatanku, aku diperbolehkan pulang. Tentu saja dirumah ada dokter pribadi keluarga Sanjaya yang masih memperhatikan keadaanku, walaupun keadaan ku perlahan membaik karena keadaanku dalam kecelakaan tidak separah yang alami.
Jika melihat keadaan Riko sekarang dia mengalami hal cukup membuatku tidak percaya walaupun sebelumnya aku sudah mengetahuinya lebih dulu, tapi orang tuaku juga yang lainnya belum ada yang mengetahuinya.
Keadaanku memang sudah pulih tapi aku belum dibolehkan untuk masuk kesekolah, takutnya nanti ada hal buruk terjadi, makanya dalam seminggu ini aku istirahat total di paviliun.
Riko tentu dikamarnya, di rawat oleh dokter Miko Afriansyah. Sesekali dokter Miko juga melihat keadaanku namun keadaanku jauh lebih baik.
Aku sering menemani Riko karena orang tuanya juga selalu sibuk dengan kerjaan serta bisnis. Aku tidak tahu bisnias apa yang dijalankan oleh keluarga Sanjaya bahkan Riko bilang kalau keluarga Alex tidak apa apanya.
"Nak,,, ini sarapan den Riko kamu bawa ke kamarnya. Kamu melihat sendirikan bagaimana keadaannya? Karena itu akibat kecelakaan malam itu ketika kalian pulang dari nonton bioskop, hingga menyebabkan...?" Ibu tidak meneruskan perkataan mengenai Riko. Desahnya pelan, menghembuskan pelan pelan.
"Untungnya kamu masih baik baik saja nak. Alhamdulillah,,,
Ibu hampir putus asa melihat keadaanmu, tapi ibu bisa berbuat apa selain berdoa" sambungnya, dengan mata berkaca kaca. Aku tahu kesedihan ibu yang begitu mendalam, akan keadaanku saat ini. Aku hanya tersenyum pada ibu dengan memeluknya.
"Terima kasih bu, ibu tidak perlu khawatirkan keadaanku sekarang. Aku telah sehat bukan" balasku, ku lepaskan pelukanku pada ibu. Sedari tadi bibiku hanya, ikut prihatin juga dengan keadaanku.
Selama dirumah sakit, tentu aku dijenguk oleh teman teman sekelasku termasuk Alex yang begitu perhatian. Namun, ada hal membuatku merasa aneh, ada gadis bersamanya yaitu Revika. Sepertinya Alex sangat dekat dengan gadis itu. Bahkan tatapan Revika penuh damba, sering menatapnya dalam dalam wajah Alex.
"Lebih baik aku melupakannya saja, termasuk Riko" gumamku lirih jika memikirkan hal itu.
"Mbakyu, beneran den itu AMNESIA?" tanya bi Ros penasaran.
Tentu ibu agak bingung karena belum ada kejelasan yang pasti. Tapi aku jelas dengar dan mengetahuinya. Saat ibu dilanda bingung. Ku anggukan kepala...
"Iya bibi, den Riko amnesia. Makanya minggu minggu ini tidak boleh keluar" terangku.
"Ooo, pantes bu Kinasih melarang siapapun ke kamar den Riko. Jadi benar den Riko amnesia" pungkas bibiku. Kini baru mengerti jika keadaan Riko tidak baik.
Aku tidak tahu apakah amnesianya Riko seperti halnya orang gila. Sehabis pulang dari rumah sakit, belum pernah menjenguknya karena aku juga harus isturahat total untuk memulihkan keadaanku, sekarang keadaanku sudah membaik jadi ku buat untuk jalan jalan. Aku bosan terus berada didalam kamar, sesekali dokter Miko melihat keadaanku.
"Syukurlah, keadaanmu benar benar pulih Bening. Kamu bisa memulai aktivitasmu seperti biasanya" jelas donter Miko dengan senyum khasnya.
"Alhamdulillah, berarti aku bisa sekolah dok?" tanyaku, apa boleh aku sekolah.
"Tentu Bening" angguknya, lagi lagi dengan senyum khasnya. Aku juga heran, kenapa dokter gagah serta sekeren dokter Miko sampai saat inj belum nikah, selain ganteng, perfect sudah cukup umur untuk menikah, tapi sampai saat ini belum punya pasangan. Padahal dokter Carmila ada, aku rasa mereka cocok kenapa tidak pacaran. Itu urusan mereka berdua, sekalipun serasi belum tentu berjodoh.
"Kok melamun nak?" ucapan ibu membuyarkan lamunanku. Aku sering melamun karena banyak hal yang ku pikirkan setelah aku mengalami kecelakaan. Bahkan menyebabkan Riko amnesia.
"Nak, ini makanan buat den Riko, cepat antar ke kamarnya?" ulas ibu karena aku masih terdiam.
Bibiku juga menatapku sesekali, dia agak sibuk untuk mencuci karena baik bibi mau pun ibu selalu ngurusi dapur. Untuk kerjaan yang lain, ada yang membersihkan sendiri, masalah kebun juga mengenai bunga bunga ada yang mengurusnya sendiri.
"Nak, nak,,," panggil ibu berulang kali.
"I-iya,,, bu,,, maaf, he he,,," sahutku terbata karena pikiranku kemana mana.
Aku pun membawa nampan berisi sarapan ke kamar Riko. Kali ini aku tak boleh melamun, harus fokus. Terlebih lagi keadaan agak sepi terlebih rumah Riko sangat besar. Aku berjalan menuju ke kamarnya.
Entah mengapa, aku merasa hatiku debar seperti ada sesuatu hal yang akan terjadi. Namun pikiran negatif ku halau, aku tak ingin berpikir hal hal yang jelek tentang Riko.
Seperti biasanya, pasti keadaannya sepi, terlebih pagi ini, seperti rumah tidak berpenghuni.
"Assalamualaikum,,," kebiasaanku ketika akan masuk kamar, ketuk pintu serta mengucapkan salam. Kita tidak tahu, orang yang didalam kamar sedang melakukan aktivitas apa. Jadi tidak menganggu.
Tak ada sahutan, tapi ku ulangi sekali lagi, bahkan tiga kali, lagi lagi tak ada sahutan, hingga ku beranikan diri untuk masuk karena aku membawa nampan berisi makanan buat Riko.
Agak susah payah, ku buka pintu kamarnya...
Sepi?
Ku edarkan pandanganku kesegala ruangan. Tidak ada siapapun. Ini terasa aneh? Lalu kemana Riko?.
Sesaat kemudian, aku lihat Riko keluar dari kamar mandi, yang membikin aku tidak mengerti bahkan sampai sampai aku tidak bisa nafas dengan keadaan Riko yang dengan cueknya tidak peduli keadaannya yang bugil seperti bocah kecil. Tatapan Riko seperti cuek seolah aku bukan ancaman atau dia merasa terganggu bahkan tidak ada rasa malu.
"Riko,,,?" sapaku, setelah melihatnya karena Riko nampak cuek saja.
"Siapa kamu?" ucapnya bertanya akan namaku. Tatapannya biasa saja bahkan tidak ada senyum seperti yang diperlihatkan.
"Aku kira kamu cewek yang biasa datang kesini yang merawatku?" ulas Riko, berjalan santai kearah lemari, bahkan tubuhnya yang basah ia biarkan begitu saja. Seperti sedang mencari pakaiannya.
"Ah, aku lupa dimana pakaianku?" Riko terduduk dikursi, memperhatikan lemari besarnya yang penuh dengan pakaiannya. Padahal sudah terbuka. Keadaannya masih telanjang tapi seolah menganggapku tidak ada.
Padahal dia tinggal mengambil salah satu dari pakaian yang ada dilemarinya, tapi kenapa dia begitu kebingungan. Apa benar ini yang namanya amnesia atau memang Riko pura pura atau memang dia mengalaminya. Dari keadaannya tidak ada tanda tandanya, bahkan Riko kelihatan baik baik saja.
Lalu yang dimaksud, wanita yang sering datang kesini siapa?
"Boleh aku bantu?" tawarku, merasa tidak enak terlebih melihatnya dalam keadaan tidak memakai apa apa, tentu saja aku merasa jadi salah tingkah. Tubuhnya tetap saja bagus seperti dulu tidak ada perubahan, kecuali pada kumisnya yang kini makin bertambah. Jambangnya juga membuatnya makin terlihat makin dewasa.
Riko menatapku tak ekspresi, bilang iya juga tidak, aku berinisiatif untuk mengambilkannya.
Ku pilih pakaian santai, yang pass buatnya. Memakai apapun Riko tetap ganteng.
Riko hanya terdiam saat ku ambilkan pakaiannya.
Aku bingung apa yang harus ku lakukan? Terlebih Riko hanya duduk, kini berdiri didepanku dalam keadaan telanjang.
Ya Alloh?
Rasanya aku tak kuat untuk menahan perasaanku lagi, tapi Riko terlihat biasa.
"S-sini ak- ku,,, pakaikan?"
#bersambung....
______
Km 17/11/2022.
Komentar
Posting Komentar