208. Amnesia 2.

 Bab 208. Amnesia 2.


★★★★


Dengan menahan rasa yang tidak karuan, aku pun memakaikan pakaian Riko. Dari mulai celana yang ku pakaikan, yang bikin darah ku naik cepat ke ubun ubun, tapi aku tidak berani berlama lama melihat batangnya yang lunglai. Walaupun sedikit tersentuh hingga menimbulkan sengatan yang membuatku merinding. Ya Tuhan? Sangat berat sekali cobaanmu.


Setelah beberapa menit ku lalui, yang bikin nafasku berhenti seketika.  Namun kini teralihkan dengan bagian dadanya.


Mata Riko menatapku tajam tanpa ekspresi....


"Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu?"


Deg!


Tentu saja pernyataannya membuatku terkejut. Pantas saja ekspresinya tadi tanpa tapi tampak biasa seolah seperti anak kecil yang baru saja selesai mandi.


"Apakah kamu juga lupa siapa namamu seperti ku? Aku tidak tahu siapa namaku? Kata cewek cantik itu, namaku Riko gitu. Cewek itu baik padaku, selama ini yang merawat aku. Memandikan aku, ngeloni aku bobok siang, nyuapin aku makan, pokoknya baik banget sama aku. Dia juga sering pegang aku, peluk aku, cium aku tapi,,,"


Aku hanya mendengar ocehannya. Aku tidak tahu siapa cewek yang dimaksudkan Riko.


Riko benar benar lupa keadaannya, asal usulnya, orang tuannya, bahkan namanya sendiri juga lupa.


Aku tidak tahu siapa yang begitu perhatian, serta merawatnya Riko selama ini. Rasa penasaranku cukup tinggi tentang cewek yang diceritakan oleh Riko padaku.


"Tapi, aku,,, aku tidak suka cewek itu. Walaun pun baik pada serta merawatku, perasaanku padanya biasa saja, bahkan aku merasa kamu itu seperti mengenalmu sangat dekat. Tapi, sayang kamu cowok. Kalau kamu cewek pasti banyak yang suka sama kamu. Nama kamu siapa, dari tadi aki tanya namamu, tidak kamu jawab. Aku ingin tahu siapa namamu. Kamu dari tadi melamun terus. Banyak diamnya. Kamu juga terlihat sedih. Kenapa? Siapa namamu?"


Sungguh, saat ini aku memang sangat sedih, bahkan sebisanya aku tahan untuk tidak nangis, terlebih dengan keadaan Riko yang sekarang bahkan sama sekali tidak mengenalku.


"Aku Bening" kali ini ku beritahu namaku. Siapa tahu dengan begitu Riko mengenalku,  bisa ingat masa lalu.


Tak ada ekspresi sama sekali, terlihat datar.


Sesaat kemudian....


"Namamu kayak nama seorang cewek, Bening. Ya Bening ya namamu, kan" Riko tampak manggut manggut sejenak.


"Benerankan namamu Bening?, he he he,,," kini Riko malah tersenyum, tidak biasa. Sekali lagi Riko tanpa ekspresi saat menegaskan namaku. Mungkin unik, atau merasa aneh. Dia tidak ada responnya sepertinya memang tidak mengenalku sama sekali.


"Iya, ada yang lucu Riko,,,?"


"Riko itu siapa? Dari tadi kamu menyebut nama Riko, tapi aku tidak siapa Riko itu?"


"Kamu tidak tahu siapa namamu?"


"Tidak,,,!"


"Riko itu namamu, siapa lagi yang ada disini selain kamu?"


"Begitu ya,,,? Aku kira itu sebutan untuk orang lain,,,"


Benar sekali, sikap Riko seperti anak kecil, gaya bicaranya tidak seperti biasanya, yang lebil cool serta penuh kejatanannya, terkadang angkuh. Bahkan sering membentakku tanpa alasan. Kali ini sangat berbeda sekali, sangat berbeda.


"Apa kau mengingat sesuatu Riko?"


Riko hanya menggeleng lemah, bahkan lagi lagi wajahnya datar.


"Saat ini kau berada dimana?"


Sekali lagi Riko menggeleng lemah...


Miris rasanya melihat keadaannya, tapi semuanya memang kenyataan, kalau Riko benar benar tidak mengingat siapa dirinya bahkan keluarganya.


"Aku hanya tahu seorang cewek yang sering datang kesini hampir tiap hari. Tapi, aku lupa namanya padahal dia sering menyebut namanya? Kenapa aku bisa lupa seperti ini?" Riko sampai memijit pelipisnya pelan. Mungkin dia mencoba mengingat sesuatu. Bahkan tubuhnya sampai berkeringat dan bergetar hebat.


"Riko kau kenapa?" tanyaku bingung dengan keadaannya yang tiba tiba seperti itu.


Tubuh Riko makin bergetar hebat, tubuhnya menggigil seperti orang demam, matanya juga tampak aneh, seperti juling atau pun membalik, karena hanya tampak putihnya. Getaran makin menghebat, giginya menyatu kuat dengan wajah tegas mata mendelik hanya putihnya.


Tangan Riko disidekap didepan dadanya, terkadang matanya setengah terpejam.


"Riko,,, kau kenapa?" aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan keadaannya.


Dalam kepanikan dengan keadaan Riko aku hanya dalam kebingungan.


Aku tidak tahu apa apa karena aku tidak pernah melihat keadaan Riko yang seperti itu, jadi yang bisa ku lakukan memanggilnya serta dalam kebingungan.


"Rikooooo,,,, sayang,,,," ada sebuah teriakan yang datang secara tiba tiba. Suara khas seorang wanita yang begitu saat ku kenal suaranya. Yang pernah memusuhi, orang yang sangat membenciku yaitu Raya.


"Apa yang telah kau lakukan pada Riko, Bening? Kau bicara apa pada Riko, hingga membuatnya seperti ini?" seru Raya dengan nada agak tinggi. "Kau lihat keadaannya, sampai membuatnya, coba mengingat masalalunya. Apa kau tidak merasa kasihan. Tega sekali kau Bening pada Riko telah membuat keadaannya memburuk seperti ini" tuduhnya. Padahal tidak melakukan apa apa pada Riko, aku tidak tahu apa apa yang terjadi padanya.


Raya menyalahkanku karena keadaan Riko seperti pesakitan yang aku tak tahu penyebabnya karena sejak dari awal aku dan Riko ngobrol biasa.


Aku hanya bertanya mengenai namanya, orang tuanya, keluarganya.


"My Love,,,," suara Riko sampai bergetar menahan gemetar ditubuhnya karena dalam keadaan menggigil sangat hebat. Senyumnya mengembang dengan kedatangan Raya, terlihat rona bahagia yang terpancar dari tatapan matanya. Bahkan tidak seperti sejak awal.


Jadi ini jawaban dari penasaran atas ucapan Riko kalau akan ada seorang cewek yang begitu perhatian padanya, ternyata Raya.


Perasaanku, buka hatiku rasanya seperti tersayat sembilu bahkan ku lihat dengan mata kepala ku sendiri tanpa ragu Raya memeluk Riko begitu mesra, menenangkan ketegangan yang dihadapi oleh Riko.


Kedua seolah tenggelam dalam sebuah rasa yang menyatu. Dadaku berdebar, detak jantungnya berdenyut, rasanya nyeri tak tertahankan.


Ternyata aku kalah telak dengan Raya yang telah berhasil menarik hati Riko hingga membuat Riko simpati padanya.


Dalam pelukan Raya nampak menoleh kearahku, sambil tersenyum mengejek, penuh kemenangan karena telah berhasil mengalahkanku.


Dan rasanya itu sungguh menyakitkan. Tidak apa aku saat kalah, mungkin itu lebih baik buatku. Atau aku harus menyerah dengan keadaan. Terlebih lagi Raya telah berhasil dalam misinya mengambil hal cintanya yang dulu pernah diraihnya. Bahkan kini perhatian Riko seperti tercurahkan.


Tak terasa buliran bening menetes dari mataku yang basah karena tak sanggup lagi ku tampung. Aku kalah, aku rapuh saat ini. Aku tidak tahuagi apa yang ku lakukan.


Raya telah menang, telah berhasil memenangkan hatk Riko, pelahan akan memilikinya. Sedang aku, akan menjadi terluka dengan hatiku sendiri.


Dengan dada berdebar, jantung yang berpacu, perlahan aku tinggalkan keduanya yang saling peluk. Ku usap air mata yang tiada guna. Tidak perlu disesali, aku bukanlah siapa siapa dalam kehidupan seorang Riko. Tentulah aku tidak berarti buatnya. Biarlah rasa sakit serta luka yang ku rasakan ini ku tanggung sendiri seumur hidupku.


Ku langkahkan kakiku gontai meninggalkan kamar pribadi Riko bermaksud untuk menemui ibuku kalau aku sudah melaksanakan tugasku.


Andai aku tahu kalau kejadiannya bakal seperti ini, tentu aku akan menolaknya. Nasi telah menjadi bubur, aku telah melihatnya.


Raya yang tampak cantik dan anggun dengan balutan gaun yang menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi, dengan belahan dada yang membusung bahkan wajah Riko tenggelam diantara buah ranum milik Raya.


Raya seolah tidak keberatan untuk Riko guna untuk menenangkan keadaan Riko yang sedang kacau, bahkan Riko begitu menikmatinya.


Belum lagi bodynya, serta belahan pahanya bagian samping yang menampilkan kemulusan pahanya tentulah Raya melakukannya dengan sengaja, bahkan datang kerumah keluarga Sanjaya seolah rumah miliknya.


Bau tubuhnya yang memakai parfum yang sangat mahal, wangi selain sangat harum menebar, aromanya juga menenangkan.


Bahkan saat ku tinggalkan keduanya, mereka berdua masih saja berpelukan. Keadaan Riko juga perlahan terlihat membaik.


Pikiranku terasa kacau, aku tidak fokus dengan keadaanku.


"Bening, Bening, Bening,,,"


Aku seperti mendengar sebuah panggilan yang menyebut namaku. Ku cari sumber suara, ternyata bu Kinasih.


"Iya bu Kinasih, ada apa memanggil saya?" Tentu saja aku sedikit gugup mendekatinya sambil tertunduk.


"Kenapa kamu menangis? Apa kamu dari kamar Riko putraku?" tanya bu Kinasih penasaran terlebih melihatku dalam keadaan menangis bahkan aku belum sempat mengusap air mataku yang sebagian masih menggenang di pelupuk mataku, tentu hal itu menjadi tanda tanya bagi majikanku. Terlebih, mungkin atau tidak Bu Kinasih sudah tahu tentang keadaan dimana Raya selalu datang kesini. Jadi semua pertanyaan itu bermain dipikiranku. Tidak mungkin aku akan menanyakan tentang hal itu pada Bu Kinasih tentu akan membuatku malu sendiri, nantinya. Jadi, aku biarkan pikiran itu mendekam di otakku. Bila nanti ada kesempatan mungkin akan ku tanyakan, bila bu Kinasih cerita itu akan lebih baik bagiku.


Karena lidahku kelu, hatiku beku, pikiranku blank, maka tak ada kata yang keluar, maka yang ada hanya bisa ku anggukan kepalaku. Butuh waktu untuk itu. Untuk semua keadaan yang ku hadapi.


Aku berhenti didepan bu Kinasih, tertunduk dalam diam. Setelah tadi ku isyaratkan karena bu Kinasih bertanya, rasanya itu tidak sopan. Aku tidak ingin menambah masalah lagi terlebih jika nantinya menyangkut masalah tentang ibu dan ayahku. Aku tak ingin orang tuaku terkena imbas ku karena tidak sopan pada mpunya.


"M-maaf bu, iya aku dari kamar den Riko-"


Nampak bu Kinasih mengangkat tangannya, memberi isyarat...


"Kamu tidak perlu memanggil putraku dengan sebutan 'DEN' panggil saja namanya saja, karena kalian seumuran juga sepantarannya" jelasnya, dan itu aneh terasa menurutku. Ibu Kinasih bisa memberiku hal itu padahal jelas aku bukan siapa siapa. Orang tuaku, bibi, paman, Putri dan Angga memanggil Riko. Aku terlalu muna untuk itu karena aku dibelakang bu Kinasih maupun pak Mahendra tidak ada embel embelnya 'Den' hanya sebut namanya saja.


"Dan kamu tidak perlu meminta maaf, karena kamu tidak salah dalam  hal ini. Saya sudah tahu semuanya karena didalam mobil Riko ada penyadap suaranya. Jadi aku telah mendengar semua percakapan antara kalian"


Tentu saja aku shock dengan penjelasan Bu Kinasih atas semua hal, baik yang menimpaku ataupun yang menempa Riko.


'Ya Alloh, pasti semua orang telah tahu apa yang terjadi antara aku dan Riko' batinku. Sungguh aku sangat malu dengan bu Kinasih, mau ditaruh dimana mukaku terlebih kini ada didepanku, aku seperti maling yang kepergok.


"Benar jika kamu tidak suka dengan anakku?" ucapan bu Kinasih bom yang setiap saat bisa meledak, serta menghancurkan.


Tak ada alasan buatku untuk menutup nutupi nya terlebih bu Kinasih telah tahu segalanya jadi tidak ada yang perlu disembunyikan.


"Aku tahu anakku begitu terobsesi padamu Bening, namun itu bukan cinta melainkan nafsu sesaat. Aku yakin anakku pasti bisa melupakanmu, terlebih lagi saat ini anakku Riko amnesia" ulasan bu kinasih buatku tertegun.


"Terlebih lagi, kalian laki laki tentu itu dianggap tabu, bukan. Hubungan seperti itu di Indonesia itu sangat dilarang, termasuk agama"


"Bukankah menantu ibu juga seorang laki laki transgender" sanggah ku cepat. Tak perlu ku jelaskan darimana aku tahu semua itu. Terlebih lagi aku berkata dengan sepontan, ku lihat bu Kinasih memucat wajahnya, terlihat sekali, sesekali memegang dadanya. Nafasnya juga tampak putus putus. Entah apa yang membuat bu Kinasih sampai seperti itu, atau karena merasakan keadaan putranya yang telah menyatakan perasaannya padaku.


"Tidak perlu dijawab, terlebih aku tahu darimana?. Aku sudah menyatakan alasanku pada Riko tapi Riko tidak mengerti. Maka terjadi kesalah pahaman"


"Jadi kamu lebih memilih Alex,,,"


"Tidak ada hakku untuk itu. Aku tidak ingin membahas hal itu. Maaf,,,"


Bu Kinasih nampak merenung, terlebih aku tahu banyak mengenai keluarga nya, tentu bu Kinasih berpikir dua kali jika berurusan denganku.


"Apa ibu mau aku jadi pasangan putra ibu?. Dengan alasan apa?"


",,, Apa belum cukup membuktikan, akan pengorbanan putraku padamu selama? Harus memberi alasan apa untuk membuktikannya? Kamu sudah tahu hal itu"


"Bukankah tadi ibu melarangnya. Tapi sekarang, seolah memberi lampu hijau, atau itu karena aku telah mengetahui pribadi anak ibu yang lainnya"


"Pergilah" ucapnya lembut, mengusirku secara halus karena tidak ingin berdebat denganku karena aku belum tahu perasaanku yang sesunguhnya terhadap Riko itu bagaimana, terlebih lagi nanti kedepannya bakal seperti apa.


"Aku masih menjaga perasaan seorang gadis bernama Raya yang telah banyak berkorban untuk Riko. Semoga ibu mengerti. Sampai sekarang saja masih saja"


"Sekalipun itu untuk mengorbankan perasaan putraku. Dia pasti sudah patah hati, hingga keadaannya seperti sekarang. Masih beruntung nyawanya selamat. Jika tidak..." Raut bu Kinasih tidak menggebu bahkan seakan sadar dengan keadaan.


"Bukan aku"


"Paling penting keadaannya. Soal ribut ribut itu aku memgerti"


"Ibu menyalahkan ku?"


"Buat apa?"


"Supaya aku yang salah dalam hal ini"


"Aku tahu. Kamu tidak bersalah, Bening. Mungkin ini pelajaran buat putraku"


"Terima kasih" pungkasku karena ibu Kinasih tahu kondisiku saat itu. Tapi aku juga tidak tahu apakah hatinya terima semua itu.


Kini aku mulai tenang keadaanku, walaupun disisi aku merasa tidak dengan bu Kinasih, tapi sepertinya sudah tidak ada masalah.


"Tante,,," sapa lembut seorang gadis, siapa lagi kalau bukan Raya yang baru saja mengurus Riko didalam.


"Riko sudah sarapan juga minum obatnya" sambung dengan tersenyum lembut.


Bu Kinasih nampak membalasnya dengan anggukan tanda terima kasih.


"Tante sangat berterima kasih, karena selama ini kamu telaten merawat putraku, Raya"


"Sudah jadi tugasku tante, bagaimana pun aku masih mencintai Riko. Bagaimana pun dulunya hubungan ku dengan Riko agak retak, tapi kini perlahan bisa diperbaiki kok, aku yakin. Mudah mudahan nantinya jika Riko sembuh dari amnesianya, aku dan Riko bisa bersama menjalin cinta seperti dulu"


Deg!


Penyataan Raya yang panjang membuatku tak bisa berpikir lagi. Pada kenyataannya, Riko benar benar lupa masalalunya, bahkan namanya pun tidak ingatnya.


Apakah ini awal dari aku harus menyerah dengan keadaanku?.


Bu Kinasih seolah memberi lampu hijau pada Raya, dan mungkin bisa menjadi menantu dari keluarga Sanjaya.


Kembali ku teringat pernyataannya dulu, bahwa Raya itu mantu idaman, menurut bu Kinasih. Aku masih ingat betul pernyataannya itu.


Dan kini peluang Raya makin besar...


"Tante harap seperti itu Raya. Tante berharap sekali..."


Rasanya hatiku sudah tidak karuan, keduanya begitu akrab, seolah aku bukan apa apa buat mereka. Rasanya aku beranjak dari tempatku tak mampu, hanya bisa termangu ditempatku semula, seolah aku sudah terpantek tak bisa bergerak.


"Senin depan, Riko boleh masuk sekolah lagi kan tante?"


"Lihat kondisinya Raya, kalau semakin membaik, dan dokter Miko memperbolehkan untuk aktivitas, gak apa apa, itu lebih"


"Aku akan jaga Riko seperti aku menjaga nyawaku dan keselamatanku tante"


"Kamu memang the best Raya, tante bangga sama kamu. Mudah mudahan Riko bisa nerima kamu jadi kekasihnya seperti dulu"


"Jadi tante merestui hubunganku dengan Riko, tante"


"Apa salahnya, memberi kesempatan, toh gak ada salahnya"


____________


Ucapan keduanya sampai saat ini begitu terngiang, keakraban keduanya, senyum yang bahagia seolah tidak ada beban.


Bu Kinasih begitu respeknya dengan Raya bahkan memberi lampu hijau.


Tentu saja kamar sudah ku kunci rapat, aku istirahat tanpa gangguan. Tadi aku masih sempat ngobrol sama ibu.


Impianku saat koma, kini teringat kembali, terlebih saat saat seperti ini. Semuanya terasa jelas serta terdengar begitu nyata tentang apa yang dilakukan Riko masa mendatang.


"Aku tidak boleh memikirkan hal itu. Lalu kemana Alex selama ini, kenapa Alex menjengukku saat aku sudah sadar?. Mungkin sibuk jadi tidak ada waktu' batinku.


Seandainya Alex memang ada kesibuk tak apa. Tapi aku seperti punya firasat yang kurang baik. Ataukah ini hanya sekedar hatiku, karena teringat pada Alex.


#bersambung...


___________


Sb 19/11/2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.