209. TERASA BERBEDA.
Bab 209. TERASA BERBEDA.
★★★★★
Kali ini aku berangkat sendiri tanpa diantar oleh ayahku, karena aku ingin mandiri. Aku berangkat pagi, bahkan sekolah masih agak sepi, hanya beberapa murid yang datang karena jam 6 lebih.
Karena aku meminta untuk dibelikan motor matic untuk aktivitasku pergi kesekolah. Biar tidak merepotkan ayahku sebagai scurity. Jadi aku bisa jalan sendiri, juga pergi kemana mana jika ku ingin, serta aku harus ijin pada orang tuaku.
Aku pun berpikir punya rencana suatu saat nanti, agar orang tuaku pulang ke kampung. Karena aku tidak ingin terjadi hal seperti kejadian disaat aku koma. Terlebih itu begitu terasa nyata sekali sehingga aku takutkan hal itu terjadi.
"Bening, hoeee,,, Bening,,,," panggil seseorang saat pikiranku sedang kalut. Karena aku masih berada diarea parkiran.
Aku seperti familiar dengan suaranya. Yah, seorang cewek dan itu Raya. Ada apalagi cewek itu memanggilku.
"Bening,,, terima kasih telah memberiku kesempatan" ucapnya tersenyum dengan wajah sumringah.
Aku hanya diam menatapnya, tapi tidak tajam karena semakin ku perhatikan terlihat grogis serta pucat. 'Ada apa dengan Raya, kok wajahnya berubah ketakutan gitu?' ku gelengkan kepalaku pelan heran dengan perubahan sikap Raya.
"B-Bening, ku harap kamu jangan sakiti aku, ku mohon. Aku ingin bahagia,,," wajah Raya tertunduk lesu.
"Raya ada apa denganmu? Kau tidak perlu takut padaku, aku tidak akan melakukan apapun padamu"
"Termasuk menemuiku di alam mimpi. Kau akan membunuhku, ketika aku tidur dan mimpi"
"Mak- maksud kamu apa? Aku gak ngerti. Menemui mu di alam mimpi, apa itu,,,?" Tentu saja aku bingung dengan pernyataan Raya, aku merasa tidak melakukan hal itu padanya. Kapan hal itu ku lakukan? Dasar gadis aneh?.
"Lupakan Bening?"
"Maksudmu apa Raya? Jelaskan padaku,,," desakku karena gak ngerti arah pembicaraan Raya, yang lusa ku temui dirumah Riko. Kini perkataannya membuatku tak mengerti. Nampak Raya terdiam, memikirkan sesuatu bahkan nampak tersenyum simpul.
"Apa kamu tidak ingat sama sekali, apa yang pernah kamu lakukan padaku?"
Sesaat aku menggeleng pelan...
"Kau menemuiku di dunia mimpi, mengurungku, bahkan kau menyiksaku Bening. Kau juga hampir membunuhku, hiks hiks hiks,,," Raya sampai terisak penuh kesedihan.
"Benarkah semua ucapanmu Raya. Maaf, aku tidak ingat semua itu. Aku merasa,,, tidak pernah melakukan semua itu padamu. Aku tidak ingat,,," sanggahku karena aku merasa tidak pernah melakukan semua itu. Kapan waktunya, hal itu membuatku bingung. Pernyataan Raya sungguh aneh menurutku. Menyinggung masalah alam mimpi, dunia mimpi itu apa maksud semuanya. Dia juga berkata aku menyiksanya, aku hampir membunuhnya. Padahal waktu dirumah Riko terlihat biasa biasa saja bahkan membuatku sedih. Dasar cewek aneh.
Namun aku perlu tahu dan juga kejelasan mengenai pernyataannya itu. Karena, sungguh aku tidak paham, tidak mengerti sama sekali.
"Maaf Bening, aku pergi dulu. Ada seseorang menunggu ku" sepertinya Raya tidak ingin membahas yang tadi di ucapkannya. Memilih pergi serta menghindariku. Setelah kepergian Raya suasana lengang, walaupun ada sebagian siswa yang pada berdatangan. Mereka cuek, seperti biasanya karena disini berkelompok, atau istilah geng.
Kenapa orang orang pada jadi aneh semua?. Ku gelengkan kepalaku lemah dengan ku langkahkan kaki. Tanpa ku sadari, perasaanku ingin mengikuti langkah Raya. Penasaran dengan orang yang menunggunya. Tak ada pikiran apa apa, atau menduga duga siapa orang yang menunggunya, hanya saja aku penasaran ingin melihat orangnya. Ku gegaskan langkahku. Sayup sayup ku dengar ada yang memanggilku, namun aku tak ingin kehilangan jejak Raya, maka ku percepat langkah ku setengah berlari, berhasil. Ternyata Raya menuju kearah dekat lapangan, ternyata benar ada yang menunggunya.
"Itu Riko,,,?" gumamku, melihat kearah dimana Riko menunggu, Raya datang mendekat.
Keduanya tampak saling melempar senyum. Tak hanya itu, keduanya pun berpelukan terlebih keadaan memang sangat mendukung, jadi tidak akan ada orang yang tahu. Ku rogoh saku celanaku. Ku bidik mereka dengan kamera, ku save. Cukup lama hingga ku ganti mode video, dengan durasi satu menit. Entah mengapa aku melakukan hal itu. Semua ku simpan di google foto karena bagi itu tempat yang paling aman, sekalipun hpku hilang maka foto maupun video yang ku simpan tetap ada dan aman.
Rasanya dadaku begitu nyeri. Aku tidak tahu percakapan keduanya, terlihat begitu mesra. Rasanya penasaranku terjawab sudah. Perlahan aku meninggalkan tempat tersebut dengan berbagai perasaan. Sekarang tidak ada alasan buatku untuk dekat dekat lagi dengan Riko.
Terlebih lagi Alex, aku tidak tahu kemana Alex selama ini. Ibuku pernah bilang kalau juga pernah menjengukku dan itupun bersama seorang gadis. Aku tidak tahu siapa gadis yang dekat dengan Alex. Karena aku ingat sekali kalau Alex pernah aku kerjai. Namun, aku tidak terlalu mengingat hal itu, karena semakin ku coba mengingat nya, kepala rasanya pusing dan sedikit nyeri, bahkan ku paksakan untuk berpikir keras, denyutannya bertambah. Jadi ku putuskan untuk tidak memikirkan kearah h itu, supaya kepalaku tidak tambah sakit. Perasaan hatiku makin berkecamuk. Persoalan datang silih berganti.
Untuk sampai dikelasku masih beberapa meter lagi, jadi aku sedikit santai. Ingat dengan Raya dan Riko sedang pelukan, ngobrol mesra, saling lempar senyum lepas, tertawa, semua momen itu teringat kembali.
"Mas, kamu dari mana?" tanya seseorang. Setelah ku amatiku, aku sedikit bingung. Dia nampak tersenyum.
"Eh, aku dari sana,,," tunjukku kearah pinggir lapangan.
"Tadi ku panggil mas tidak menyahut, cuma berhenti sebentar kemudian ku lihat mas Bening setengah berlari seperti mengejar sesuatu. Aku kehilangan jejak mas Bening, ku cari cari tak ada, hampir aku menyerah. Jadi aku jalan santai sambil cari mas Bening. Pucuk dicinta ulam tiba ketemu disini. Banyak hal ingin ku tanyakan sama mas Bening, tapi waktunya kurang tepat. Jadi gimana pulang sekolah nanti mas Bening kerumahku, sekalian nginap gitu, kan sudah lama mas Bening gak nginap dirumah. Ibu bilang kalau mas Bening hari ini sekolah, jadi aku seneng. Tadi aku sudah minta ibu buat minta ijin ke buda atau pakde buat minta ijin Mas Bening nginap kerumah. Mas Bening, baik baik saja kan..." ucapnya lugas.
Tapi, aku agak sedikit bingung, walaupun aku seperti familiar dengan wajahnya, entah mengapa aku lupa dengan namanya. Agak lama aku dilanda kebingungan.
"Mas Bening, aku Angga mas,,," serunya tertahan. Sepertinya sedih.
"Aku minta mas karena jarang menjengukmu, bahkan kamu sudah sadar aku belum jenguk mu, mas Bening" suaranya menggerung, bergetar.
"Angga, Angga dengar dulu, kamu jangan salah paham dulu, ada hal hal sedikit aku lupa, aku minta maaf. Akibat kecelakaan yang alami banyak hal yang terjadi. Bahkan, tadi Raya menyebut nyebut tentang, alam mimpi, dunia mimpi. Aku mencelakainya dan sebagainya. Aku bingung dengan semua yang dikatakan oleh Raya, bahkan aku berpikir tentang Alex, semakin aku berpikir rasanya kepala ku tambah sakit. Itu sangat aneh menurutiu. Aku juga sedikit lupa tentang kamu, Ga. Aku minta maaf,,," pungkasku karena aku mengalami hal yang tak terduga semenjak aku kecelakaan malam itu bersama Riko.
Bahkan sikap Riko juga berubah drastis, dia mengalami amnesia.
"Ga, bisa kamu jelaskan padaku, tentang apa yang di ucapkan oleh Raya, karena semakin aku mengingatnya, kepalaku sakit, rasanya"
"Hmmm,,," Angga malah bergumam, sambil berpikir.
"Bahkan sikap Riko telah berubah. Bahkan kini Raya begitu dekat dengan Riko. Tadipun aku melihat keduanya berpelukan dipinggir lapangan. Bagaimana dengan hubunganmu, Ga?" Kini perlahan aku ingat tentang Angga sepupuku. Senyumnya agak kecut.
"Ya Alloh mas Bening, kamu,,," Angga nampak prihatin dengan keadaanku, walaupun ku coba untuk bersikap biasa dan tenang. Angga langsung memelukku, tubuhnya agak bergetar.
"Mas Bening, kita bicara saja dirumah. Keadaan disini kurang mendukung" bisik Angga melepas pelukannya. Menatapku penuh haru akan keadaannya padahal aku bersikap biasanya.
"Terima kasih Ga, baiklah nanti kita bicara dirumahmu supaya lebih tenang. Aku mau ke kelas, Assalamualaikum,,," pamitku. Terlihat para siswa sudah banyak yang berdatangan. Bahkan aku tidak melihat batang hidungnya Alex entah kemana.
"Waalaikum salam,,," balas Angga bergegas pergi. Tentu ucapanku jadi pikirannya. Sepertinya Angga sudah tidak respek lagi dengan Raya, karena Raya sekarang berhubungan lagi dengan Riko. Aku tidak tahu kisah percintaan Angga dan Raya bagaimana, hingga sampai kini, apakah kandas?.
Raya seolah mengambil kesempatan. Terlebih saat ini Riko sedang AMNESIA tentu itu kesempatan yang baik buat Raya dekat lagi dengan Riko. Untuk itu, mungkin aku akan mundur perlahan lahan dalam istilah jawanya AKU MUNDUR ALON ALON, he he he,,,,
Terlebih tadi apa yang ku ceritakan pada Angga tentu akan jadi beban buatnya. Atau tidak peduli lagi dengan Raya.
Tentu aku masuk, seperti biasanya semula agak ramai, ribut bahkan gak terkendali mendadak diam seperti ada malaikat maut atau penampakan muncul didepan mereka.
"Bening,,,!" teriak sekelompok cewek, wajahnya tak asing buatku datang mendekati kearahku.
Ku tatap sejenak mereka satu persatu, tak ada senyum buat mereka karena sedikit berbeda.
"Bening kenapa, nampak linglung, aneh gitu ya?"
"Iya nih, gue heran"
"Lihat tuh sikapnya kayak gak kenal gitu ama kita kita"
"Apa mungkin karena kecelakaan hingga lupa, atau amnesia gitu. Sebab kepala kebentur"
"Bisa jadi"
Mereka tak segan menggunjingku didepanku itu sambil berbisik, tapi pendengaranku tajam bisa dengar. Tapi, anehnya kenapa tadi Raya dan Riko aku tak mendengar, mereka bicara apa. Aku terlalu sedih memikirkannya. Aneh demi keanehan terjadi. Bikin aku tambah bingung.
"Bening aku seneng liat kamu lagi. Maaf ya belum sempat nengok kamu karena habis pulang dari rumah sakit" keluh Latih, seolah prihatin tentang keadaanku.
"Iya Bening, benar, kamu tahu kan keadaan kita sebagai cewek pasti banyak kesibukan" les Oktavia tersenyum simpul.
"Sibuk pesta iya,,, upsss,,," ucap Sarah keceplosan. Yang lain pada nyengir, salah tingkah karena keceplosan.
Entah mengapa, kalau nama keluargaku aku tidak begitu ingat. Ada apa denganku? Ya Alloh, mengapa jadi begini. Apa yang terjadi denganku ketika berada dirumah sakit. Kejadian itu sama sekali tidak ku ingat.
Bahkan ada sebagian kejadian yang sama sekali tidak ku ingat, seperti alam mimpi atau dunia mimpi yang disebut sebut Raya.
Tak ku peduli mereka akhirnya aku duduk ditempatku, sesaat diam dikursi ku melihat keadaan yang bikin mood naik turun.
"Lihat tuh Bening lagi bagmood, jangan bikin dia marah kayak dulu, bisa berabeh"
"Iya, bahkan keadaan sampai kacau balau,,,"
"Hampir kita semua terbunuh"
"Ingat kejadian itu dulu, aku jadi takut"
"Makanya, jangan usik Bening kalau tidak ingin ada masalah yang mengerikan terjadi"
Lagi lagi aku mendengar begitu jelasnya, ocehan mereka, namun aku biarkan mereka. Toh, aku tidak tahu menahu apa yang mereka bicarakan mengenai aku. Sebenarnya ada apa denganku. Kenapa mereka sering membicarakan tentang aku? Yah, jawabannya ada di Angga. Aku harus minta kejelasan padanya. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi, biar apa yang tidak ku ketahui, aku jadi tahu semuanya.
Semua murid kelas sudah masuk padahal tinggal la menit lagi, entah mengapa mereka sudah duduk rapi ditempatnya masing masing hanya saja ada dua orang yang belum hadir disini, yaitu Alex dan Revika. Entah keman dua orang itu? Yang tadinya hening sejenak kini mulai heboh kembali karena kedatangan duanya. Kelihatan berbeda sekali, terlihat ada hal disembunyikan.
Ya Alloh!
'Kenapa semuanya berubah total disaat aku mengalami kecelakaan. Bahkan aku tidak bisa mengingat hal hal yang penting, kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku?' batinku dengan perasaan terenyuh. Hatiku rasanya nyeri bukan karena akibat luka senjata tajam melain dari tatapan mataku. Entah mengapa bisa ku rasakan hatiku sesakit ini. Apa benar aku suka pada Alex, sama halnya ku rasakan dengan Riko tapi tidak seperti aku melihat ke Alex yang mesra pada Revika. Atau mereka berdua ada something? Kalau dilihat dari gelagatnya, sepertinya hal itu benar.
Ku hirup nafas dalam dalam untuk mengisi rongga dadaku yang tiba tiba kosong, bahkan seperti habis isi itupun ku lakukan cepat, terisi banyak bahkan tidak tertampung, ku hembusnya kasar. Rasanya aku tak sanggup untuk melihatnya terus, jadi ku buang pandanganku, ku alihkan kearah jendela. Kosong. Seperti hati dan pikiranku saat ini. Setidaknya aku bisa tenang. Sejenak. Hingga aku kaget.
"Bening, kamu sudah masuk sekolah hari ini. Kenapa tidak bilang bilang ke aku, aku kan bisa menjemputmu" sapanya seperti menutupi warna hatinya saat ini. Alex terlihat gugup, namun bisa menutupinya, walaupun itu tidak terlihat tenang.
Aku tersenyum biasa, supaya Alex enjoy, biasa saja karena aku coba untuk menenangkan hatiku yang tersayat. Setelah aku bisa menenangkan diri karena tak melihat adegan seperti tadi, namun melihat wajahnya Alex, ada sayatan sayatan halus dihatiku, namun nyatanya hal itu sangat sulit ku lakukan.
Setidaknya aku bisa masuk sekolah lagi serta mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tentu banyak pelajaran yang tertinggal. Namun, saat aku nganggur, ku sempatkan untuk belajar, mengejar pelajaran yang tertinggal bahkan jika tidak mengerti aku coba untuk Googling, jadi agak sulit sulit mudah. Karena belajar tanpa bimbingan seorang guru itu sangat sulit. Mau ikut pelajaran di aplikasi belajar online sayang dengan uangku.
Mengingat masalah uang, aku baru ingat jika biaya untuk perawatan di rumah terlebih diruang VVIP kelas satu sangatlah mahal sekali. Untuk itu orang tuaku harus membayarnya, walaupun keluarga Sanjaya tidak meminta imbalan baliknya, maka ibuku dan ayahku akan bekerja disini, mengabdi pada keluarga Sanjaya sebagai balas jasa.
Rencana untuk membuat orang tuaku pulang, akan sia sia. Berarti apa yang ku takutkan, juga yang ku alami itu akan jadi kenyataan.
Tapi, saat ini Riko punya hubungan dengan Raya, jadi aku tenang. Atau, Riko menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui. Atau Riko hanya pura pura amnesia. Tapi, dilihat dari gelagatnya, bahwa Riko memang sedang amnesia. Jika tidak, tidak mungkin Riko mau nerima Raya lagi jadi kekasihnya. Atau keduanya kong kali kong dibelakangku, atau untuk mencobaku sampai dimana perasaanku pada Riko.
Entahlah, semuanya membuatku jadi pusing. Sudahlah, dari pada aku stress sendiri.
"Terima kasih Al. Kamu gak usah mikirin aku. Hmmmm,,," ku endikan bahu. Sesekali ku lirik nampak Revika menatapku aneh, karena Alex sangat perhatian sikapnya. Aku tahu hal itu karena sesekali ku lirik Revika. Untuk cewek cewek yang lainnya tidak peduli dengan Alex lagi.
"Ya ak- aku tidak enak Bening"
"Kenapa Al?"
"Ya karena aku,,,"
"Sudah lah Al, kau gak perlu memikirkan apa apa soal aku. Aku baik baik saja kok" kilahku, mencoba berpikir positif tentang Alex.
Sekalipun pada kenyataannya tidak seperti yang aku lihat tadi saat akan masuk kelas sangat menyakitkan.
Selama pelajaran berlangsung, aku lebih banyak diamnya, aku biarkan Alex yang sesekali curi pandang. Rasanya tidak ada lagi respek buatku. Biarlah semua seperti apa adanya.
Bahkan saat istirahat aku pun bergegas keluar, tanpa ku hiraukan siapapun. Tujuanku ke loteng atas. Aku berharap tidak ada satpam penjaga disana sehingga aku bisa menikmati kesendirianku.
"Bening,,, Bening,,, Bening,,," banyak yang memanggilku. Tapi aku ku hiraukan lagi karena aku lagi badmood.
Beberapa murid ku lewati, tak kehiraukan sapaan mereka karena aku ingin diam.
Keadaan sepi saat menuju tangga loteng yang ada garis peringatannya. Sebelum aku naik, ku lihat keadaan sekeliling, setelah aman, aku menyelinap naik keatas dengan cepat. Syukurlah tidak ada halangan sehingga aku merasa lega.
Lamat lamat ku dengar ada yang lagi ngobrol.
'Siapa orang orang yang ngobrol itu?' ku pertajam pendengaranku. Suaranya sangat familiar ditelingaku. 'Tidak salah lagi, itu adalah...?" gumamku lirih, tapi belum ku lihat wujudnya. Rasa penasaranku makin tinggi karena suara ngobrol itu lenyap, bahkan yang ada kesunyian.
Langkah langkah ku menyusuri tempat yang lengang itu, tapi tak ada tanda tandanya. Mungkin hanya perasaanku. Terlebih lagi tempat saat ini aku berada sangatlah luas, bahkan tempatnya terlalu lebar.
Kembali tempat ini lengang, membuatku tenang. Semilir angin menerpa tubuhku, rasanya sejuk mendamaikan. Aku melihat keadaan, gedung pencakar langit, rumah rumah yang seperti ornamen. Rasanya sangat indah dan enak dipandang mata, rasanya enggan untuk dilewatkan, aku betah berada disini, menikmati pemandangan dari atas.
Bosanku perlahan hilang, ada plong yang ku rasakan. Hingga membuatku tersenyum.
Ku rasa sudah cukup aku berada disini. Aku beranjak dari tempatku berdiri, meninggalkan loteng atas. Bergegas ingin ke kantin, dengan perasaan lega meninggalkannya.
Aku seperti melihat seluet bayangan dua orang.
'Ah,,?' lagi lagi seperti halusinasiku. Karena aku tidak melihat siapa siapa. Secepatnya aku menuju ke kantin karena hausku sudah tidak tertahan lagi.
Kanti sedikit agak sepi karena para siswa mungkin sudah kembali ke kelas. Sebagian kecil masih santai. Menurutku murid yang bandel yang masih disini.
Lagi lagi aku melihat dua orang yang sangat ku kenal. Atau, jangan mereka berdua yang tadi dari atas sedang ngobrol tapi kemudian pergi secara diam diam dari atas sambil memperhatikanku. Itu dugaanku karena dari salah satu dari mereka ada yang memesan es.
Es kesukaannya, yang satu es campur yang satunya, seperti sampai duluan dan tidak menyadari kehadiranku karena berada dibelakang. Keduanya nampak akrab, serasi dan mesra ku lihat dari belakang. Tidak akan menyangka jika aku akan kesini. Biasanya keduanya jarang kesini. Atau mereka berdua malas untuk masuk, milih bolos karena sekolah Permata Bangsa ini sangat luas, walaupun disiplinnya tinggi tetap saja ada yang suka bolos tidak takut dengan hukuman.
Keduanya lalu melangkah berbalik serta melihat kearahku. Mereka terkejut, itu tidak berlangsung lama. Kini tenang dan kelihatan biasa seolah tidak ada masalah.
"Kamu, Bening,,," tanya Riko kikuk, padahal aku mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Kenapa kaget Riko?" ulasku melihat perubahan sikapnya.
Terlihat menghela nafas...
"Apa kamu dan Raya baru saja dari lonteng atas" terkaku, ingin tahu. Apa dugaanku benar atau salah. Jika memang keduanya jujur, karena Riko bisa saja jujur jika menjawab. Tapi, kalau Raya tidak bisa ku pastikan.
"Bukan urusanmu. Ayo sayang kita pergi,,," setelah dengan sengaknya membalasku, kini melenggang pergi menggandeng Riko setengah memaksa supaya tidak terlalu lama interaksi denganku. Tak masalah, kalian pikir aku akan sakit hati. Hatiku ini sering tersakiti, untuk apapun aku terima dengan lapang dada.
Keduanya pergi,,,
Ku lihat kilatan aneh dari Riko, saat akan melangkah pergi, namun Raya menghalangi sambik memalingkan muka Riko dengan memegang wajahnya.
"Bu beli es jeruk, dibungkus ya" sekalian ku sodorkan uang pas. Harga dua ribu. Dibuat dengan cepat, hingga aku berlalu dari kantin. Bergegas berlari menuju kelas takut sudah masuk karena waktu istirahat hampir habis.
Bukan hanya aku saja yang setengah berlari, lagi lagi aku bertemu pasangan lagi, karena keduanya tidak menyadari karena aku jarang sekali melakukan hal ini. Hanya kali aku seperti dikejar kejar waktu.
"Bening,,," sapa Alex namun tidak dengan Revika seolah tidak senang Alex menyapaku.
Dasar cewek aneh, tidak ada angin, tidak ada hujan malah memusuhi ku tanpa alasan yang pasti.
Tak ku pedulikan keduanya terlebih Alex, agak menjauh karena niatku untuk minum es jeruk yang ada ditanganku.
"Yank, ayo masuk, terlambat nih, takut nanti guru mapelnya masuk!" sentak Revika setengah memaksa Alex buat masuk.
Apa,,,?
#bersambung....
____________
Mg 20/11/2022.
Komentar
Posting Komentar