210. Rencana nginap

 Bab 210. Rencana nginap


★★★★★


Keduanya tersenyum bahagia dengan keikutanku kerumah. Senyum berkembang, penuh warna kebahagiaan.


Terlebih Putri, yang sejak awal agak keheranan dengan sikapku seperti orang bingung.


Bertanya ada apa dengan ku. Angga yang mengerti keadaan ku menjelaskannya.


Syurkur waktu pulang bisa bertemu bareng. Kalau Angga menunggu digerbang karena aku harus ijin. Yang pastinya ibu maupun ayah mengijinkan ku buat nginap, jadi orang tuaku tidak khawatir keadaanku, aku juga bisa tenang.


Walaupun ada rasa khawatir atas apa yang menimpaku. Kejadian yang tak terduga ku alami. Hingga aku masuk rumah sakit, biaya itu sangat mahal terlebih aku berada diruangan tak biasa.


Angan sampai kemana mana, namun hal itu ku sembunyikan didepan Angga dan Putri.


"Mas duduk yang santai, biar Putri bikinin minuman yang seger seger" tawarnya sambil berlalu. Tentu aku tak mau hanya diam terlebih ini rumah dari bagian keluargaku.


Terlebih lagi, badanku gerah, karena keringetan, pengennya ingin mandi.


"Mas Bening mandi aja, biar badan nya segar" tawar Angga seperti ngeh apa yang ku rasakan. Sekalian menunaikan kewajibanku sebagai muslim. Hal itu masih tetap ku ingat. Alloh masih sayang padaku, maka beribadah itu bukti dari rasa sayangku pada sang Kholik.


"Mas mandi aja dikamarku, ayok,,," ajak Angga karena aku merasa sedikit rasa canggung. Jadi Angga setengah memaksaku.


"Gak apa apa, Ga,,," balasku karena aku tak enak hati. Takutnya sikap Angga berubah seperti yang lainnya. Riko, Alex, Raya juga yang lain, aku merasa mereka berubah. Makanya, aku takut jika Putri ikut berubah. Jadinya, aku parnoan dibuatnya.


"Anggap seperti rumah sendiri mas Bening. Dulu mas Bening pernah tinggal disini, bahkan tidur bareng aku disini, kamar ini, seranjang malah" jelas Angga seperti mencoba mengingat kan ku pada masalaluku.


Ku balas hanya dengan senyum tipis. Mungkin masalalu itu ada kenangan manis buat Angga. Ku coba tuk mengingatnya.


"Kenapa harus di kenang Ga, pasti ada kenangan yang tidak mengenakan juga kan?" ralatku, karena Angga seperti terkenang akan hal itu.


Wajah Angga mendadak sendu yang tadinya sumringah kini bermuram durja. Aku tahu perubahannya secara drastis itu.


"Ga, maafkan lah atas segala kenangan yang gak mengenakan.


Lupakan saja,,," helaku pelan. Karena aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Ini masih sore belum juga malam.


Angga hanya diam tanpa bicara, menatapku dengan senyumannya yang khas. Senyum yang sama seperti pertama kali ku melihatnya. Hah,,,


"Ada yang mas Bening ingat?" tanya Angga masih dengan menatapku.


"Yap, ketika aku pertama datang kesini. Saat akan menjelang subuh. Hanya itu,,,"


"Hupfff,,, aku kira mas ingat semuanya"


"Aku mandi dulu mas"


Tentu tak bisa ku cegah apa yang dilakukan oleh Angga, melucuti pakaiannya didepanku tanpa rasa canggung sedikitpun. Hanya menyisakan celana pendeknya. Tapi pandanganku tak berani lurus kearahnya. Sikapnya biasa seolah aku dianggap biasa.


Angga mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. Mengerling kearahnya, yang sedari menahan nafas lihat bodynya sekaligus bulgelnya yang menggembung. Atau Angga setengah ereksi. Kenapa?.


___________


Kini aku sudah ganti pakaian santai, ternyata milikku masih ada. Jadi tidak perlu meminjam, sekalian pakaianku ku cuci karena besok aku pakai, lagian diluar sore masih panas, aku kira bisa kering, kalau tidak bisa pinjam milik Angga walaupun agak longgar karena badannya lebih besar.


Duduk santai sambil ngobrol ngobrol biasa...


"Aku seneng mas Bening kesini lagi. Punya motor sendiri. Lebih enak, bisa santai, jalan kemana mana gak takut"


"Iya Ga, aku pikir kasihan sama ayahku, harus antar jemput tiap hari. Jadi satpam aku rasa sudah capek. Aku kasihan jadinya"


"Mas Enak bisa beli. Lha aku sering jalan kaki kesekolah bareng Putri"


"Kan dekat Ga, jalan kaki sehat, bisa bebas biaya. Malah untuk beli jajan"


"Iya sih mas, tapi tetep pengen punya motor sendiri. Ayah juga jarang pulang, akhir akhir ini, juga ibu katanya banyak kesibukan semenjak mas Bening dan Riko masuk rumah sakit" wajah Angga mendadak berubah sendu, sedikit aku tahu yang dirasakannya. Pasti mengenai pacarnya.


"Aku nekad beli Ga, biar aku gak repot. Lagian, biaya rumah sakit itu sangat mahal. Sangat fantastik. Kamu tahu sendiri aku dirawat diruang VVIP, jadi ruangannya itu berasa kayak dirumah gitu. Nyaman, enak gitu"


"Ya iyalah, namanya VVIP kelas satu, tentu bagi keluarga Sanjaya tidak ada apa apanya"


"Iya, tapi tetap orang tuaku tak bisa diam saja. Maka untuk itu, orang tuaku menebusnya bekerja, mengabdi dirumah keluarga Sanjaya, entah sampai kapan. Untuk sekedar membalas budi dengan apa yang terjadi padaku karena telah dirumah sakit"


"Jadi bude sama pakde akan bekerja dirumah keluarga Sanjaya sampai kapanpun"


"Iya. Padahal aku punya rencana supaya orang tuaku pulang saja. Yah, tapi demi untuk membalas budi mereka, jadinya orang tuaku tetep akan bekerja"


"Memangnya kenapa disuruh pulang, mas Bening?"


"Ada sesuatu hal yang terjadi padaku saat ku mengalami koma?"


"Apa itu mas?"


"Ada,,,"


"Serius amat ngobrolnya" Putri datang disaat aku dan Angga ngobrol dan itu tentang disaat aku datang kesini. Lainnya aku tidak mengingatnya. Seperti seluet yang membuatku pening. Juga hal yang lainnya. Kini Putri ikut nimbrung.


"Mas Angga itu sudah putus dengan Raya. Alasan klasik, gak cocok gitu. Kalau menurutku sih, strata ekonomi. Tentu Raya ingin punya pacar kaya, seperti halnya Riko" terang Putri meletakan es yang dibikinnya beserta camilannya, bakwan goreng serta pisang goreng. Akan terasa nikmat.


"Hmm, ayo mas Bening diminum, juga camilannya masih hangat" sambungnya, karena aku sangat serius mendengarnya bicara. Tentu pernyataan Putri tidaklah bohong.


Namun Angga lebih dulu mencomot satu bakwan dan dimakannya dalam dua gigitan, nyomot lagi pisang goreng, dimakan dua gigitan juga. Dia nampak nyengir kuda saat ku perhatikan.


"Angga pernah kencan,,," ulasku, hanya ingin tahu, lebih lanjut hubungannnya dengan Raya.


"Sering,,,!" sahut Putri cepat.


"Yey,,, siapa juga, sok tahu" kilah Angga, tapi tak bisa sembunyikan apa yang terjadi.


"Beneran mas Bening. Waktu itu mas Angga kelihatan bahagia, aku gak berani ganggu. Tapi, akhir akhir ini hubungannya seperti berakhir. Akhirnya aku tahu kalau mas Angga telah putus..." Jelasnya lagi, sambil menyeruput es buatan Putri dengan nikmat.


Ku minum es jeruknya, sungguh nikmat terlebih lagi Bakwan serta pisang gorengnya. Semua minuman dan camilan tandas beralih kedalam perut kami masing masing, Putri terlihat senang sekali.


"Aku lapar nih, Dik" rajuk Angga sambil mengelus perutnya. Diiringi senyum miringnya.


"Perut apa megic com, barusan juga minum es jeruk porsi jumbo, ama makan gorengan ampek ludes, masih bilang laper. Aku cuma nawari mas Bening, bukan kamu, wekkk,,,," cibir Putri sekedar bercanda, membuat keadaan makin riuh. Terlebih lagi, Putri dapat sentilan dihidungnya yang bangir, makin uring uringan.


"Ih, mas Angga jahat"


"Syukurin, emang enak,,,"


"Awas ya, gak aku kasih jatah makan lho" ancam Putri, hanya sekedar candadaan.


"Ya, ya maaf, gitu kok udah ngacem"


"Oke, aku maafin, tapi nanti sehabis makan mas Angga yang beresin, sekalian bersih bersih"


"Oke, siap!" tangan Angga diletakan dipinggir kepala seperti hormat pada seorang komanda. Tentu Putri makin riuh ketawanya, lihat tingkah kocak Angga kakaknya.


"Udah, udah nanti biar aku yang beresin, sekalian aku yang cuci" leraiku. Tapi aku masih kenyang makan camilan tadi. Padahal dikantin cuma beli es saja, itu bekasku diminta oleh Alex. Ku lihat pandangan Revika tidak mengenakan, sepertinya ada sesuatu hal terjadi antara Revika dan Alex. Aku hanya sedikit punya praduga pada keduanya, dilihat dari gelagat yang ada.


"Mas Bening, cerita dong saat mas sedang koma, bikin penasaran"


"Iya, mas Bening, penasaran nih?" rajuk Putri sangat penasaran.


Mengenai kencan Angga, nanti aku tanyakan pribadi padanya. Mungkin aku akan cerita sedikit mengenai kejadian yang ku alami supaya Angga dan Puteiy tidak penasaran.


Putri menuang sisa es jeruk yang ada, sedangkan camilan nya sudah ludes.


"Jadi aku mengalami hal yang tak terduga. Ku lihat Riko jadi seorang pembunuh berdarah dingin. Semuanya ditembak olehnya, tanpa terkecuali, tega membunuh orang tuanya, Angga. Sepertinya Riko punya komplotan geng, dia seperti ketua mafia, bukannya geng biasa, tapi kelompok besar. Semua dibantainya Angga, tanpa terkecuali. Aku melihat semuanya, tempat ruangan penyekapan. Sebuah markas yang begitu luas, dijaga ketat, bahkan seekor lalat atau nyamuk sekali tidak akan luput dari kematian. Aku takut hal itu terjadi Angga, Putri, menimpa semua orang, mimpi itu begitu nyata, aku sampai ketakutan sendiri dibuatnya. Riko tidak bekerja sendirian, ada orang orang dibelakang yang membantunya, termasuk Ki Ageng Madyo Santoso, seorang para normal terkenal di sosmed


Ku akui dia sangat bisa di andalkan. Untuk itu, gimana caranya orang tuaku pulang kampung. Aku tidak mau, nantinya aku terlambat, Angga, Putri" ungkapku sangat panjang, walaupun tidak begitu mendetail, kadang ku ambil poin poin saja, tak ku kurangi maupun ku tambahi apa yang ku alami, disaat aku sedang koma.


Keduanya saling berpandangan, seperti nya ingin memberiku solusi, tentu hal itu tidak lah mudah, keduanya menghela nafas dalam dalam, akhirnya...


"Mas Angga,,," angguk Putri memberi respon yang tak ku mengerti.


Aku berharap, jika yang ku alami tidaklah menjadi kenyataan, jika itu terjadi tentulah sangat mengerikan. Sedangkan aku lihat dalam keadaan aku sedang koma, itu tak bisa ku bayangkan sendainya itu jadi kenyataan.


Bukan aku saja yang punya permasalahan rumit, bahkan Angga dan Putri pasti juga mengalaminya, tentunya dengan porsi yang berbeda.


"Kalau menurutku, alasannya biar nanti bisa keluar, ya,,, ketika akhir semester ganjil ini, pasti libur. Nah, ajak bude dan pakde liburan ke kampung. Setelah itu gak usah balik lagi kesini, gimana mas Bening, solusiku, hebatkan?. Toh, keluarga Sanjaya tidak mempermasalahkan fasilitas ketika mas Bening dirawat di rumah sakit, kan"


"Iya kalau semudah itu. Bisa saja keluarga Sanjaya, nuntut ketika orang tuaku keluar. Mereka tak terima, suruh ganti. Bagaimana? Apa yang dilakukan orang tuaku. Tentu aku berjaga jaga hal itu"


"Aduh, pusing aku mas Bening mikirin masalah mu" Putri sampai mijit mijit pelipisnya yang berdenyut.


"Aku rasa itu jalan yang terbaik buat persoalan yang mas Bening hadapi. Jika, keluarga Sanjaya tidak terima, itu dipikirkan nanti, bagaimana baiknya. Yang penting, bude sama pakde bisa pulkam dulu" sambung Putri, mengeluarkan argumennya yang menurutku masuk akal.


"Iya Benar, terlebih Riko juga Amnesia, tentu untuk itu, kemungkinan kecil akan butuh waktu panjang untuk Riko pulih kembali" pungkas Angga, seperti sangat mendukung. Mereka is the best lah bisa kasih solusi buatku.


"Toh itu belum jadi kenyataan kan mas Bening, jadi bisa tenang" imbuh Putri, jalan pikirannya main.


"Iya, itu pun mas Bening sedang koma" tambah Angga, tersenyum.


"Oke, aku terima. Mengenai apa yang dikatakan oleh Raya, menurut kalian berdua, gimana? Soal alam mimpi maupun dunia mimpi. Terlebih aku dikatakan oleh Raya, menyiksanya. Bahkan hampir membunuhnya, itu melalui mimpi. Aku bahkan tidak pernah melakukan hal itu" ulasku, aku ingin tahu reaksi keduanya seperti apa.


Lagi lagi keduanya berpandangan. Sebenarnya, Putri itu cerdas, bisa menyingkapi persoalan, tadi terkadang pikirannya sering grusa grusu.


Bahkan Putri yang ambil kesimpulan setelah Angga menjelaskan lebih dulu.


"Oh, itu,,, sepertinya mas Angga aja dech, ya,,," Putri nyerahkan pada Angga untuk menjelaskan. Tentu aku tak akan menyia nyiakannya, karena aku sangat penasaran, bahkan aku juga tidak mengerti, bahkan Raya seperti mengejekku, mencibirku mengenai keadaan yang ku alami, Raya mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Mas itu penguasa dunia mimpi. Mas itu pewaris ketujuh, yang terakhir dari ilmu yang bernama Penjerat Mimpi. Bisa membunuh orang melalui mimpi. Jadi, tidak akan ada yang tahu jika itu mas yang lakukan, karena dari alam mimpi meninggalnya" jelas Angga, namun begitu aku masih agak bingung.


"Tapi,,, kenapa aku tidak bisa apa apa sekarang, Ga?. Bahkan aku juga lupa,,,"


"Ini aneh?, Pasti ada yang melakukan sesuatu disaat mas sedang koma dirumah sakit?" terka Putri mengkaitkan hal yang menimpaku selama ini. Terlebih aku selama ini dirawat dirumah sakit. Tentu hal hal yang tak terduga terjadi padaku.


"Bisa jadi" sahut Angga cepat. "Atau, bisa jadi, kemungkinan itu ada, atau jangan jangan Ki Ageng, andil dalam hal yang kamu alami. Secara, dia itu komplotan Riko seperti apa yang kamu alami" sambungnya, memberi alasan yang menurutku tepat.


"Kemungkinan besar seperti itu. Karena mas Bening lupa dengan apa yang dimilikinya selama ini. Mas Angga pasti tahukan caranya?" tanya Putri supaya Angga benar benar bisa membantuku. "Atau, bisa jadi,,,,.ini menurutku ya, seperti yang ku lihat di film film luar, ilmu milik mas Bening disegel gitu" jelas Putri.


"Oh, itu masuk akal juga. Karena mas Bening gak bisa gunain. Tapi kan juga gak ingat hal itu. Atau jangan jangan memang mas Bening itu di mantrai supaya tidak ingat, serta tidak bisa menggunakan ilmu yang dimilikinya. Kejam sekali orang yang melakukannya pada mas Bening" ungkap Anggap lagi.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku kebingungan. Ku lihat keduanya juga kebingungan sepertiku. Apalagi aku, tentu sama halmya mereka berdua. Tapi, kedua selalu memberiku solusi, belum tentu aku bisa kasih solusi ketika baik Angga ataupun Putri dilandah masalah.


"Coba mas Bening lakukan seperti ini,,," Angga menjetikan jari jarinya, lalu ku ikuti. Bahkan Putri pun melakukan hal yang sama.


Apakah berhasil?


#bersambung....


--------------


Sl 23/11/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.