211. Semua sia-sia.

 Bab 211. Semua sia-sia


★★★★★


Cetek...


Cetek...


Cetek...


Sedari tadi ku tahan nafasku. Seperti yang Angga lakukan, begitu pun Putri juga sama.


Namun, tak ada pengaruhnya sama sekali buatku. Seolah apa yang ku lakukan tidak ada artinya sama sekali.


"Tak ada pengaruhnya mas Angga, buat mas Bening. Terlihat biasanya?" ucap Putri memperhatikanku.


Tak ada perubahan sama sekali. Ingin aku mencobanya lagi...


Ku dengar Angga berceloteh, yang membuatku makin diam.


"Atau memang beneran jika ilmu milik mas Bening disegel. Terus otak mas Bening dicuci supaya lupa dengan sebagian masalalunya" telaah Angga dengan yang ku alami.


"Bisa saja itu terjadi mas. Terlebih saat ini semua lebih modern serta canggih, hal itu tidak sulit" imbuh Putri dengan argumennya lagi yang masuk akal.


"Terus apa yang aku lakukan sekarang,,,?" tandasku dalam kebingungan dengan apa yang ku lakukan.


"Gini aja mas, mas Bening untuk sementara tinggal disini saja. Kan sekolah dari sini kan gak terlalu jauh, biar bisa hemat pertalite, terlebih harganya mahal sekarang" saran Putri memberi ide. Aku pikir dulu. Aku juga mikirin keadaan orang tuaku terutama ibuku. Yang malam pasti kesepian, tidur sendirian di paviliun.


Kalau  tidak ku turuti saran Putri juga Angga, mungkin aku akan selalu dikejar kejar oleh masalah yang timbul dari diriku sendiri.


"Andai mbah kakung masih ada didunia nyata, mungkin akan ada solusinya buat masalah mas Bening hadapi saat ini" desah Angga pelan. Pikiran nya seolah menerawang.


"Mbah kakung,,,?" gumamku dalam desahan, coba mengingatnya. Sedikit ada gambaran, dan aku merasa tidak agak pening. Tapi, aku tidak mau memaksakan pikiranku, takutnya nanti berdenyut sakit kepalaku.


"Iya mbah kakung,  Setiaji Mukti, dipanggil dengan sebutan mbah Aji" ingat Putri, seperti begitu memahami karakter beliau.


"Mbah kakung muksa" sambung Putri dengan wajah sedih, begitupun Angga, ada rona penyesalan diwajah keduanya.


Lanjutnya...


"Aku belum sempat bertemu dengan mbah kakung, tapi sudah mendahului" kata Angga seperti ingin menangis begitu pun Putri, tentu terharu maka bulir bening tak bisa ditahannya dikelopak matanya.


"Iya sama, aku belum sempat bertemu. Hanya punya rencana, rencana dan rencana. Tapi, gagal semua. Ayah sama ibu sayang dengan pekerjaannya, karena mengabdikan hidupnya di keluarga Sanjaya" ada rasa sesal dihati Putri, namun semua telah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi bubur tidak perlu disesali.


"Seingatku, sudah sejak dulu ketika aku masih kecil. Hidup di Jakarta sangatlah sulit terlebih untuk mencari pekerjaan yang enak seperti bekerja di keluarga Sanjaya, tentu tidak lah mudah. Itu sama halnya seribu banding satu" ucap Putri mengenang masa kepahitan dulu. Aku bisa merasakan hal itu. Aku sendiri juga mengalami hal yang tak terduga, entah apa sebenarnya yang terjadi padaku. Aku lupa sebagian diriku. Walaupun itu tidak sepenuhnya.


"Yang terpenting, sekarang jalani apa adanya. Mungkin kesembuhan mas Bening juga perlu proses" ungkap Angga.


Menurutku ada benarnya, buat apa dipaksakan, tetap tidak bisa. Mungkin dengan bersabar akan membuahkan hasil. Apa salahnya?.


"Iya mas Bening. Jalani saat ini. Perlahan. Jangan banyak pikiran, nanti mas Bening sakit gimana? Yang penting mas Bening tinggal saja dulu disini,,," kata Putri tersenyum manis.


Ku anggukan kepala, ku pikirkan. Tidak ada salahnya terima saran dari baik Putri dan juga Angga, jika itu baik buatku.


Adzan berkumandang, itu pertanda waktu asar telah tiba, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Banyak obrolan yang telah di obrolkan. Jadi aku berpikir bagaimana mana sebaiknya nanti bertindak. Karena saat ini Riko sedang amnesia.


Aku yakin Riko tidak tahu, kemungkinan bu Kinasih atau pun pak Mahendra terlibat. Mereka berdua tahu akan hal ini, jadi merencanakan semuanya untuk ku, membuatku seperti ini. Karena dari kejadian yang ku alami, kedua orang tua Riko terlibat dan dibaliknya sebagai pemain belakangnya Ki Ageng madyo santoso. Atau hal itu ku katakan saja pada Angga dan Putri. Tapi, tadi saran mereka berdua seperti itu. Tidak ada yang perlu di curigai baik itu dokternya yang menangananiku. Atau, jangan jangan dokter Reno terlibat, dan yang melibatkan Ki Ageng,  mungkinan itu bisa saja terjadi. Seolah kejadian yang ku alami itu sangat berkaitan erat seperti kejadian ketika ku sedang koma.


"Betul mas Bening, gak perlu nanti Putri yang masak, pintar masaknya" kata Angga buatku tenang.


Kini sedikit ku ingat mengenai Putri yang didekati Alex, apa mungkin itu hanya settingan saja.


Apa nantinya jika ku tanyakan tidak menyinggung perasaannya. Aku juga gak jika harus menanyakan itu, kayak kepo. Tapi, jika diam saja rasa penasaranku makin tinggi.


"Kok diem mas, ada apa?" tanya Putri seakan tahu jika aku memikirkannya.


Terlihat biasa tak ada beban ataupun kesedihan, atau memang dipendamnya, duka, kesedihannya. Aku tahu Putri perempuan kuat tak gampang nyerah dengan suatu hal.


"Put, maaf.,,," Ragu juga aku. Tapi, biar rasa penasaranku terjawab. Kapan lagi ku tanya, mumpung ada kesempatan kali ini.


"Mau tanya apa mas, kok ragu. Kalau aku bisa jawab. Tanya aja, gak apa apa,,," Putri sepertinya penasaran denganku.


"Bagaimana kabarnya Alex, Put?" padahal yang ingin ku tanyakan bukan itu, melainkan hubungannya tapi aku gak enak, jadi ku tanya itu saja.


Putri tersenyum datar, tanpa ekspresi. Sepertinya hubungannya kadas ditengah jalan, karena ku lihat dari gelagatnya seperti itu.


Angga tampak diam merenung, tak ada hak ikut campur urusan pribadi adiknya. Walaupun tidak apa apa, tapi memang Angga itu tidak suka mencampuri urusan orang lagi, baik itu keluarganya.


",,, Aku dan Alex hanya berteman biasa. Tidak ada hubungan apa apa mas, lagian aku bukan typenya Alex. Masih banyak cewek yang lebih cantik yang pantas memilikinya, jadi pacarnya. Cukup aku mengenalnya. Kini, Alex bersama Revika lagi dekat dekatnya" ungkapnya.


Benar dugaanku jika hunbungannya telah kandas ditengah jalan. Ku duga pun Angga bernasib sama. Karena memang yang dipandang dari keadaannya, orang miskin atau kaya. Resiko jadi orang miskin hidupnya tersisih, pun orang sepertiku jadi cibiran karena tidak memiliki apa apa.


Tapi, masalah demi masalah datang silih berganti menderaku. Atau karena keadaanku yang miskin jadi aku dihina, diremehkan, dibully dan sebagainya. Atau memang seperti ini dikehidupan di kota besar seperti jakarta, yang miskin tertindas yang kaya terhormat. Beda jauh dengan kehidupan di kampung saling menghargai serta menghormati satu sama lain baik itu miskin atau kaya tidak ada bedanya, sama saja.


Angga tidak membahas masalah Raya, hanya diam saja. Aku juga ingin tahu lebih lanjut.


"Mas Angga juga sudah putus dengan Raya. Kalau alasannya aku tidak tahu pasti sih. Itu mereka yang tahu. Sempat mesra gitu, kayak Romeo dan Juliet. Tapi kini, akhirnya kandas"  terang Putri tentang keadaan hubungan Angga bersama Raya.


Ku tahu Raya sering kali berkunjung kerumah Riko, untuk memperbaiki keadaannya yang sempat retak.


Tak ada lagi alasanku buat dekat dekat lagi dengan Riko karena sudah Raya didekatnya. Bu Kinasih terlihat sangat mendukung dengan hubungan keduanya. Terlebih Raya termasuk type, kategori yang dicari oleh bu Kinasih.


"Sudah lama kalian berdua putus dengan pacar kalian masing-masing"


"Iya,,," jawab Putri singkat, begitu pun Angga juga mengangguk hampir bersamaan dengan Putri.


Aku hanya bisa terdiam!.


#bersambung....


-------------


Rb 22/11/2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.