212. Curahan perasaan yang telah berlalu.
Bab 212. Curahan perasaan yang telah berlalu.
★★★★★
"Ga,,, maaf ya, selama ini aku jarang kesini,,," lirihku, pada Angga yang memainkan androidnya. Aku tahu, kalau Angga tidak begitu konsen dengan hpnya.
Walaupun kipas angin dihidupkan, Angga sedikit gelisah, mungkin kegerahan. Kalau aku sih gak masalah. Toh, aku bersikap biasa saja.
Aku juga ikut memainkan hpku, walaupun kadang ada bosannya juga, ku lihat beberapa aplikasi yang menurutku ingin ku buka. Ada aplikasi hijau, juga game online ku mainkan.
Belum ada obrolan,,,
Angga sedikit gelisah sedari tidak tenang hanya bergeser kekanan dan kekiri.
Tubuhnya masih terbalut kaos tipis, tubuhnya makin terbentuk bagus tercetak dari luar, seksi sebagai seorang laki laki beranjak dewasa.
Helaan nafasnya pelan, dihembuskan pelan pelan...
"Ga, kamu gak ada apa apa kan?" tanya ku melihat kegelisahan yang dirasakannya.
"Eehhh,,, hmmm,,, iya, gak pa pa kok, mas. Tenang aja. Mas punya kesibukan. Aku ngerti. Mas berkunjung kesini, gak sering juga gak apa apa, seneng bisa kesini. Walaupun jarang, he he heeee,,," balasnya. Padahal bukan itu bukan jawabannya, sepertinya ada yang disembunyikannya. Karena gesturenya masih gelisah.
Terlebih ucapnya terbata bata, jelas sekali kalau ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.
"Kenapa dari tadi kamu gelisah, Ga,,,? apa ada yang kamu pikirkan?" tanyaku, memastikan tentang keadaan. Tadinya, hanya tertawa lirih sambil nyengir.
"Ini mengenai percintaanku dengan Raya, yang,,,, KANDAS,,,!" lagi lagi Angga nyengir kuda, akan tertawapun rasanya sulit. Padahal tadi membahas tentang Raya hanya sekedar, tapi kini malas membahasnya lagi. Mungkin, ada ganjalan tersendiri buat Angga sehingga perlu curhat.
Ku memilih diam sejenak, ingin mendengarkan curhatannya.
Tak ada reaksinya, bahkan kini perlahan melepaskan kaosnya hingga keadaannya toples. Benar benar sempurna, keadaannya, dadanya bidanh, biseb, trisepnya sungguh menakjubkan buatku, perutnya juga.
Ku nikmati sekilas, takutnya Angga tidak suka atau bahkan jijik padaku. Aku menjaga hal itu, bersikap wajar, biasa saja supaya Angga tidak berpikir negatif padaku.
"Gak apa apa ya mas aku begini. Soalnya gerah sih, biasanya juga aku gak pakai apa apa" aku-nya tanpa ditutupi. Aku harus jawabnya. Aku berpikir, takutnya nyinggung, atau nanti membuatnya tak enak.
"Kamu nyaman gak Ga, kalau kamu merasa gak enak, aku tidur diluar, disofa aja" pungkasku, takutnya Angga illfeel padaku.
"Ehmmm,,, gak mas. Aku minta maaf, dulu bikin mas sedih. Aku sampai membenci mas Bening, padahal itu kesalahanku. Bikin mas Bening sedih juga nangis,,," ulasnya, tentang masalalu yang pernah terjadi antara Angga dan aku.
Aku sudah lupa, karena ingat pun tidak ada gunanya, hanya membuka luka lama serta kesedihan. Maka untuk itu ku coba abaikan yang pernah terjadi, terlebih aku sama sekali tidak ingat hal itu, benar benar lupa. Sebenarnya, apa yang ku alami saat aku sedanh koma. Padahal kilasan seperti kejadian di masa depan begitu nyata tergambar jelas, bahkan aku ingat detailnya. Bahkan aku tidak memiliki kemampuan apa apa seperti yang terjadi padaku saat ini.
"Aku gak ingat hal itu. Lebih baik sekarang lupakan masalalu perbaiki keadaan sekarang, Ga,,," hanya itu yang bisa ku lakukan, sepertinya masalalu membebaninya, jadi aku tak ingin Angga terus mengingat hal itu.
"Terima kasih mas" katanya tulus. Mungkin, dulu aku yang salah dalam berbuat, namun seakan Angga yang begitu menyesalinya. Andai, aku tahu keadaanya sebernanya.
"Mas ingin tahu ceritaku dengan Raya,,,"
"Boleh,,,"
Kini Angga rebahan, aku pun mengikuti nya, dan hpku sedikit ku abaikan. Angga juga sedikit mengurangi aktivitasnya pada andro nya.
"Memangnya kenapa sampai putus Ga?"
"Malu mas, ini aibku. Masalah pribadiku, tapi,,, jika rasanya tak enak terus memendamnya. Makanya aku ingin mengungkapnya pada mas. Terserah bagaimana penilaian mas Bening, nantinya padaku. Atau mungkin akan gak respek lagi sama aku"
"Aku bukan orang seperti itu. Walaupun kadang aku orangnya plin plan, namun untuk kedepannya aku ingin coba untuk konsisten pada diriku"
"Sebenar nya mas Bening orang nya, mungkin keadaanlah yang buat mas Bening bersikap dan ambil keputusan seperti itu"
"Entahlah Ga? Apakah didunia pelangi itu, bisa konsisten seperti dunia hetero. Aku juga tidak yakin apakah ada cinta sejati didunia penuh warna ini, walaupun aku merasa jika cinta itu tidak mengenal rupa dan jenis"
Mungkin kini aku yang malah bahas ke hal yang jauh dari hal semula.
"Ga pa pa nikmati aja mas"
"Ya,,," jawabku singkat. Kini, aku memberi kesempatan pada Angga, biar perasaannya plong.
Angga juga terlihat, resah, bingung....
"Apa kamu pernah bercinta dengan Raya, Ga? Apa dari hal itu hubunganmu dengan Raya putus"
"Itu salah satunya. Tapi, ada hal yang buat aku,,, hmmm,,,, kewalahan dalam permainan sexnya. Ternyata Raya itu maniak dalam hubungan badan. Aku tidak sanggup untuk mengimbanginya. Aku dikatakan laki laki loyo, karena aku dianggapnya kurang perkasa, untuk itu Raya minta putus, tapi aku menolaknya. Malah, terakhir, Raya yang putuskan aku. Aku tak bisa menolaknya lagi, malah Raya menghinaku. Sudah miskin loyo lagi, apa yang kamu banggakan, heh,,,?!" Kisah Angga dengan penuh perasaan. Aku hanya bisa jadi pendengar yang baik dengan masalah yang dihadapinya. Toh, aku tak banyak membantunya karena itu masalah pribadi dan itu hal yang sangat rahasia tapi Angga mencurhatkannya padaku. Mungkin dengar curhat hatinya bisa lega dan tenang tanpa beban.
"Kadang aku merasa gak pede dengan keadaan mampuanku dalam bercinta. Kedepannya aku takut mas, kalau aku nikah nanti, pasanganku juga mengataiku seperti itu. Bahkan minta cerai gegara aku loyo didalam ranjang" rasa takut yang berlebihan tentang masa depannya. Tidak semua wanita akan seperti Raya, ada banyak type wanita yang tidak semuanya seperti Raya.
Bahkan celana dilorotkannya, dengan keadaan yang di alaminya. Batang miliknya dalam keadaan semi tegang. Dipegangnya, digoyangkannya, agak di kocoknya, perlahan nampak batangnya yang kini ukuran lebih besar dan agak panjang, menengang sempurna. Ada air madzi diujungnya, dilubangnya. Nafasnya sedikit tertahan.
Aku tak berani melihatnya lama lama, entah mengapa dalam diriku ada sesuatu yang bergejolak dengan sendiri. Rasa dalam diriku kini campur ada, tapi aku malah merasa lebih takut, walaupun dorongan dalam diriku lebih kuat, namun rasa takut lebih dominan. Bagaimana ku coba tuk menepisnya, namun aku tak bisa kalahkan rasa itu.
"Mas bisa lihat sendirikan,,, batangku sekarang ada beda dengan yang dulu"
"Sudahlah, kamu gak usah kecil hati seperti itu. Banyak kok wanita yang lebih baik dari Raya, yang bisa menerimamu apa adanya, Ga. Mungkin Raya bukan jodohku, pasti ada yang lebih baik dari Raya yang Tuhan siapkan buat kamu" ku coba beri pengertian supaya Angga tidak terlalu terpuruk dengan keadaannya.
Terlebih lihat keadaannya yang seperti itu, bisa bisa aku tak bisa menahannya. Maaf bila khilaf?.
Terlebih, Angga seperti sedih gitu, jadi tak tega lihatnya. Tapi, aku sudah memberinya pengertian, kalau itu bisa diterimanya, kalau tidak buatku tidak mengapa.
Ku tahan nafas, saat aku ungkapkan apa yang ada dipikiranku saat ini.
"Apakah Raya pernah,,, ngem- mut punya mu, Ga?" Sungguh, ini rasanya berat. Tapi, aku merasa sangat penasaran sekali.
Angga sedikit menggeleng lemah, itu berarti Raya tidak pernah melakukannya.
"Mas tahu kan, bahwa selama dengan Riko pun, Raya tak pernah ngemut punya Riko, aku tidak tahu alasannya mengapa?, bahkan aku coba memaksanya, tapi Raya tetap kukuh tidak mau. Makanya aku hanya tusbol langsung. Cium cium biasa,,," jelasnya tanpa ada yang ditutupinya. Kini, batangnya makin mengembung, keras, nampak makin berkilat.
Kini, nafas Angga sedikit berbeda, tertahan, dihembuskan nya perlahan, namun, lama kelamaan seperti orang maraton.
Tidak ku tanyakan mengapa, terlebih kini kita sama sama terbaring.
Angga merubah posisinya yang terlentang, miring, dipeganginya batangnya yang tegang sempurna, ada lelehan air madzi di atasnya makin banyak. Sepertinya Angga tengah terangsang hebat dengan ceritanya. Mengingat tentang sex-nya dengan Raya yang hot.
Tak berani ku menatap Angga lebih lama, takut ada sesuatu hal terjadi. Terlebih keadaan Angga sekarang dalam keadaan sange.
"Mas,,," nafas Angga terengah, tertahan. Tatapan sayu, hingga aku pun tanpa sadar menatapnya juga.
Dadaku berdebar tak menentu. Ku coba untuk kendalikan keadaan, namun semakin aku bertahan, rasanya itu sangat mustahil buat, terlebih dalam dirinya ada gejolak yang tiba tiba mengalir disetiap sendi dan pembuluh darahku. Perlahan hangat, tapi lama kelamaan, menjadi bertambah, bukan hanya itu detak jantung ku berpacu dengan sendirinya seiring nafasku yang putus putus, tak terkendali. Terlebih lagi saat pikiran tidak fokus tangan Angga memegang tanganku. Menutun kearah yang bisa ku pastikan kearah...
Batangnya yang menegang.
Ada sengatan terjadi ditubuhku, dan itu membuat sensasi yang sulit ku kendalikan. Sesaat detak jantung ku serasa terhenti. Kembali normal namun detaknya cepat tak berarturan.
Bahkan detak jantung Angga begitu jelas terdengar, aku tak berani membuka mataku yang terpejam saat Angga menarik tanganku dan sengatan listrik menderaku, detakku makin berpacu saat itulah secara perlahan ku pejamkan mataku.
Hangat,,,!
Ada sensasi!
Posisi Angga berubah, agak bergeser keatas, hingga kini batangnya tepat berada didepanku, mengacung keras dengan lelehan madzi yang begitu banyak meleleh.
Ku terdiam, aku tidak tahu apa yang harus perbuat?.
"Mas,,," panggil Angga dengan desah serta nafas beratnya, tersendat.
Kini ku buka mataku, untuk menatapnya...
"Hmm,,," gumamku lirih sebagai jawaban.
",,,, Aahhh,,, anu,,, mas emuutttt,,,," dengusnya tertahan, sange nya sudah nyampek ke ubun ubun, madzi makin banyak berlelehan. Bahkan saking tidak tahannya, agak dikocoknya. Dilakukan tangannya padahal tangan sedari tadi diam kini dibantunya. Setelah itu ku lepas tanpa sadar.
"Ouhhhh,,," lenguhnya kembali. Mendesah berat.
Entah apa yang mendorongku, naluriku atau rasa kasihaniku atau hal lainnya, yang pastinya tanpa aba aba, ku endus batangnya yang kini telah berbeda. Sapuan nafasku membuat Angga jadi bergidik penuh sensasi padahal aku belum melakukan apa apa.
Aromanya membuatku meningkatkan libidoku.
Ku pegang...
Rasanya?
-------------
Ujungnya ku jilati seperti menjilat es krim yang begitu nikmatnya.
"Achhh,,, hessshhh,,," desahnya tertahan, tubuh Angga menggelinjang penuh sensasi. Bergetar dengan hebatnya.
Tubuhnya menggeliat, saat ujung jamurnya yang mengkilap telah masuk sampai batas lingkaran batangnya. Tubuh Angga makin menggeliat seperti cacing kepanasan, bukan itu saja nafasnya makin ngos ngosan.
Terlebih saat pelan tapi pasti kini ku kenyot cukup lama membuat Angga mengejan, tubuh ototnya bertonjolan hingga membuat makin macho dan terlihat seksi.
Ku lepas sejenak, ku pandangi, ada bekas liurku serta makin merah tua akibat kenyotanku yang kuat.
Ada jeda sejenak...
Hal itu membuat Angga bernafas plong, setidak ada nafas untuk menarik nafas lega karena sedari tadi andrenalin nya terpacu maka ku beri jeda untuk sejenak, biar agak tenang. Tubuhnya makin mengkilap saja, keringat campur minyak tubuhnya keluar, aroma jantannya menguar, manly sekali bikin pikiranku makin tak terfokus.
"Hmmm,,, mas enak banget mut-an mu, rasanya aku tak kuat buat nahan nya lama lama, hampir buat ku bucat secepatnya. Aku tidak tahu kenapa di emut mas itu rasanya sungguh nikmat, bikin tubuh ku bergelora. Walaupun keluar, gak bikin tubuh lelah, malah semangat gitu. Aneh bukan,,," aku-nya, kini terlihat sedikit tenang karena aku telah melepaskan emutanku. Katanya sangat hot tiada duanya.
Padahal aku melakukannya biasa saja, hanya menggunakan rasa, mungkin hal itu yang menyebabkan lebih kerasa bahkan sampai kerasanya Angga. Membuatnya seperti ketagihan emutanku.
"Memangnya dulu pernah aku melakukannya pada mu ya Angga,,," ku tanya itu karena aku agak lupa akan hal itu, aku masih ragu, namun aku merasa kalau aku seperti pernah melakukannya. Kenapa, ada sebagian momen yang aku bisa sampai lupa. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku harus mengumpulkan serpihan puing puing ingatanku yang seperti tercecer. Andai aku tahu siapa yang melakukannya, maka aku akan melakukan tindakan pada sang pelaku. Namun, sampai detik ini aku tidak tahu jawabannya, karena tidak ada titik terangnya sama sekali.
Aku sampai melupakan sesuatu hal, dan hal itu membuatku tersenyum dalam hati, terlebih posisiku masih didepan pentungan milik Angga yang mengembung sempurna.
Ku hela nafas pelan, ku hembuskan pelan pula...
Ku tersenyum, merangkak pelan ke atas, memegang dada gempalnya, nampak Angga menarik nafas pelan serta menghembuskan nya pela pula.
Dia mungkin berpikir apa yang akan ku lakukan selanjutnya, padahal tujuanku yaitu untuk bertanya saja, karena aku takut nantinya terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
"Pernah mas, karena hal itu menyebabkan hubungan kita regang" jelasnya. Kini aku mengerti kalau dulu aku pernah melakukannya pada Angga menyebabkan ku dijauhinya.
"Benarkah seperti itu ceritanya, Ga,,,?" ulasku ingin tahu lebih detail.
"Iya mas. Mas ku jauhi karena keegoisanku. Aku menyesal mas, maafkan aku mas Bening"
"Apakah setelah ini kau juga akan menjauhiku juga, Ga?"
Angga langsung terdiam, mungkin belum tahu jawabannya.
"Padahal, tadinya aku ingin meminta ijin padamu, untuk melakukan lebih atas tubuhmu. Namun, karena melihat sikapku seperti ini..." Ku hempaskan nafasku, kecewa, melihat sikap Angga yang sepertinya nampak ragu.
Aku akan beringsut...
"Tu-tunggu mas Bening,,," cegahnya, sambil menahanku supaya tetap ditempatku. Tatapan sendu, berharap hasratnya yang tertunda dituntaskan.
"B-baiklah,,, mas bebas melakukan apa saja, aku persilahkan,,," akhirnya, dengan nafas tenang. Tatapannya tetap sama. Berharap.
"Baiklah. Apakah nanti kau tidak mengulangi hal yang dulu" ulasku ingin tahu apa jawabannya.
Sebagai jawabannya,,,?
#bersambung....
--------------
Sb 26/11/2022.
Komentar
Posting Komentar