213. Lebih biasa.
Bab 213. Lebih biasa.
★★★★★
Angga hanya menggeleng lemah...
Hampir tidak kelihatan, namun, tetap aku melihatnya, dengan ulasan senyum agak dipaksakan.
Aku berharap apa yang dikatannya, benar. Dia tidak berbohong seperti sebelumnya karena aku tidak ingin hal itu terjadi setelah kejadian ini nantinya berlalu.
Namun, melihat sikap dari Angga aku kini yakin jika Angga tidak akan mengingkari janjinya.
"Terima kasih,,," pungkasku.
"Buat apa mas?" tentu saja Angga bingung dengan pernyataanku.
"Telah memberi ijin,,,"
"Ooo,,," kini diangukan kepalanya, tanda mengerti. Senyumnya makin mengembang.
"Lakukan lah, mas bebas melakukannya atas tubuhku,,,"
Kini aku tidak ragu lagi atau pun canggung untuk mengeksplor tubuh Angga, dan aku gak perlu takut lagi setelah ini sikap Angga bakal berubah karena dia telah berjanji jika hal itu tidak akan terulang dan terjadi lagi.
"Mas, boleh gak aku cium mas,,,?" ijinnya, sepertinya ragu juga takut.
Ku terdiam, belum menanggapinya...
"Kamu pacaran dengan Raya apa belum ciuman pernah ciuman, Ga,,,?"
"Jarang mas,,,"
"Aneh,,,?"
"Begitulah. Terus terang, bibirnya, bau mulutnya biasa saja,,,"
"Ooh,,,"
"Boleh mas aku cium mas,,," sekali lagi meminta ijin padaku.
"Boleh kok Ga,,," ku beri ijin supaya tidak kecewa. Namun, ada satu hal yang bikin aku was was, jika memang itu benar.
Senyum Angga langsung mengembang, sumringah...
Karena aku telah memberi ijin, padahal tadinya aku yang meminta ijin buat melakukan lebih atas tubuhnya, malah kini gilirannya meminta ijin padaku.
Ku rasakan pundaknya, dipegangnya pelan dengan tangan kokohnya, ditatapnya tajam aku, dengan seulas senyum mengembang.
Cuuuupppppp,,,,!?
Dikecupnya bibirnya dengan lembut, setelah itu dilumatnya pelan. Pelan sekali, disesapnya, dirasanya setiap sesapannya. Nampak mimik Angga keheranan, dan itu tidak hanya sekali bahkan dilakukannya kembali. Bahkan kini nafasnya telah berbeda, padahal tadinya begitu tenang, bak air mengalir, namun kini nafasnya makin membadai. Nampak ngos ngosan. Bahkan bukan hanya itu saja, saliva Angga terulur, menggelitik ruang rongga ku, aku pun tak mau tinggal diam, hingga salivapun saling tertaut.
Lepas...
[Skip. Maaf!]
Ada rasa puas dan lega dihatiku. Perasaan senang campur bahagia saat Angga tersenyum puas menatapku. Dengan isyarat matanya yang digerakannya pelan. Ku balas juga kalau aku senang. Ada tatapan lega, dan perlahan nafasnya mulai normal karena tadi seperti marathon.
Batangnya masih saja tegang, walaupun baru saja mengeluarkan begitu banyak benih, calon manusia jika ditempatnya pada tempat yang tepat. Pasti benih yang sangat subur calon manusia tangguh dan kuat seperti pemiliknya. Tapi, Raya perempuan lacur itu merasa kurang puas dan mengatakan Angga laki laki loyo. Dasar, perempuan sundal.
Ku pencet pelan, membersihkan sisa pejuhnya dibagian dalam batangnya, bentuk sedikit bengkak, mungkin akibat emutanku juga kocokannya serta semburan larvanya yang jadi penyebabnya.
"Hemmmm,,," rintih Angga, seperti keenakan dibuatnya.
"Eemmmmhhh,,," ku lepaskan emutanku. Memerah kepalanya, masih nampak mengkilap.
"Ga, kok masih tegang banget?" tanya ku keheranan karena bukannya lemas bentuknya tapi tetap tegang tanpa perubahan.
"Gak tahu mas, rasanya aku ingin lagi mas. Padahal, saat nge-sex dengan Raya tidak seperti ini mas. Setelah lepas langsung ciut gitu, bahkan gak ada reaksi lagi, malah" aku-nya, sepertinya mengenang kencannya saat bersama Raya ketika masih berstatus pacaran.
"Saat mas kulum itu, rasanya hangat, nikmat, bikin jiwaku bergelora" ucapnya lagi, sepertinya tidak berbohong. Benarkah sampai segitu saat bersamaku. Padahal aku laki laki, seharusnya Angga bisa melakukannya lebih dengan Raya, atau paling tidak menghajar wanita lacur itu kapok, merintih minta ampun, bukan nya balik menghina, mengatakan loyo, tidak berguna. Malah kini, tegang mulu, gak kendor.
Ku kasih jeda untuk istirahat walaupun Angga memintanya kembali...
"Apa gak capek, Ga setelah crot, mana banyak banget,,,?"
"Itu yang bikinku heran mas, aku gak ngerasa lelah, ataupun capek, keadaan ku biasa saja, seperti yang mas lihat sendiri, kan"
"Iya, ya,,, aneh. Padahal, aku lihat difilm film itu, kalau udah crot cowoknya udah gak kuat lagi, gak bangun lagi burungnya, lha ini punya kamu masih aja tegang. Kamu bilangnya tadi dengan Raya, harus butuh waktu buat bikin tegang,,,"
"Mas, boleh tanya satu hal gak,,,"
"Tanya apa Ga,,,?"
"Kok bibir mas Bening rasanya manis gitu ya, aku heran mas. Tadinya aku pikir itu hanya perasaanku. Tapi setelah aku rasakan, memang benaran manis mas. Apa bibir mas Bening itu yang bikin aku tetap strong gini. Lihat tuh, masih tegang, gak loyo" Angga memegangnya dan memamerkannya sambil nyengir bangga.
"Aku gak ngerasa bibirku manis Ga" balasku, karena memang begitulah adanya kalau aku ngerasa bibirku itu biasa saja. Tak ada istinewanya. Aku kasih madu, atau pun gula atau pemanis lainya juga gak. Tadi aja cuma minum air putih saat mau berbaring. Lha, ini dibilang bibirku manis. Manis darimananya, coba. Dasar, Angga aneh aneh saja. Atau, memang Angga merasakan hal kalau memang benar adanya, bibirku itu rasa manis.
Semanis apa rasanya, ya?
Tentu saja hal itu jadi pikiran juga, rasanya aneh jika rasa bibir ku itu bisa manis, aku sendiri tidak merasakan manisnya.
"Memang manisnya seperti apa, Ga?" tanyaku kembali, karena aku sangat penasaran.
Angga menggeleng pelan...
",,, Aku tidak tahu rasanya mas?"
"Maksudku, rasa strawberry, valina, cofee, mint, bablegam, , melon atau,,,?" desakku. Padahal yang ku tanya kan di awalnya itu manisnya, bukan rasanya.
Lagi lagi Angga menggeleng tidak tahu untuk mendefinisinya, padahal aku sangat penasaran dibuatnya.
"Manisnya itu, Ga, apa kayak madu, gula, atau seperti susu maupun kurma,,," sambul ku dilanda bingung. Kembali Angga bersikap aneh tidak tahu rasanya manisnya seperti apa. Ya, sudahlah, percuma juga aku memaksanya jikapun Angga cuma menggeleng saja sedari tadi tidak bisa menjawab semua pertanyaanku.
Agak lama ku tatap Angga, benar benar wajahnya mengisyaratkan rasa bingung yang mendalam. Terlebih keadaan telanjang karena merasa risi jika dibadannya ada kain yang menempel, suasananya juga bikin gerah katanya. Dia sering tidur telanjang. Makanya, kamarnya selalu dikuncinya. Lampunya pun agak temaram, karena ada dua lampu, terang dan agak redup.
"Manisnya,,, ehmmm,,, aku gak bisa bilang mas, pokoknya manis gitu, dibilang kayak gula bukan, kayak madu juga tidak, bahkan rasanya juga berbeda, bahkan dari hal yang kamu sebutkan tadi tidak ada bandingannya mas Bening. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya...." jelasnya antusias, walaupun aku seolah tidak mempercayai semua pernyataannya yang menurutku tidak masuk akal.
"Memang ada ya, bibir itu rasanya manis, tapi tidak ada bandingnya, juga tidak ada rasanya,,,?" gumamku bermolog. Tentu saja Angga mendengar hal itu.
Langsung nyengir Angga, tanpa membalasku.
Namun, sesaat kemudian...
"Ada, buktinya bibir mas Bening" balasnya ngasal. Mungkin ada benarnya pernyataan, tapi jika dilogika seakan tidak masuk akal.
BENARKAH ITU???.
-----------
--------------------
Huaahhhhhh,,,
Beberapa kali menguap, entah berapa lama aku ngobrol dengan Angga sampai lupa waktu karena keasikan, karena sudah tidak seperti ini. Tidur bareng, sekamar lagi.
Tak ada reaksi dari Angga, aku berinisiatif untuk tidur karena sama sama tiduran, posisinya berubahan. Terlebih aku merasa lelah, agak ngantuk, kalau bergadang besok ketika disekolah bisa bisa aku ketiduran karena tidurnya larut.
"Mas,,," panggil Angga, karena aku coba untuk pejamkan mata. Padahal aku diam, Angga juga sama.
"Ya, ada apa,,,?" jawabku cuek karena agak ngantuk.
"Ealah, mas bentaran juga,,," Angga sedikit memaksaku. Ada apalagi nih bocah, mana maksa banget. Apa gak ngantuk? Aku udah ngantuk banget lagi.
"Iya, ada apa, Ga?" balas ku ngasal, karena udah malas.
"Mas lupa ya,,," terlihat bercanda.
"Apa lagi,,,? Jangan aneh aneh,,, deh Ga" sungutku, malas banget ngeladeni Angga.
"Gak, cuma mas lupa dikit tentang ini,,," tunjuknya tak biasa lagi menurutku.
"Astaga Ga,,," ucapku terkejut karena sedari tadi itu burung tidak bobok juga malah garang, menantang.
"He he heeee,,," Angga tersenyum gak jelas. Aku sudah merutukinya, dia malah terlihat cuek tanpa ada rasa bersalah. Dasar otak mesum. Ada apa sih dipikirannya Angga?. Heran aku.
Lagi lagi Angga mengocok batangnya berirama, turun naik, melakukan dengan slow motions.
Kalau menuruti apa maunya, bisa terlalu lama. Dan maunya, pasti minta oral sampai muncrat, crot. Kalau tidak didalam mulut, tidak puas.
Walaupun bekas emutanku sudah kering, bahkan tidak ada bekas. Ku edus saja, bahkan rerumputannya yang liar seperti tak terurus. Dengan gemas ku endus. Rasa kantuk yang tadinya menyerang sirna sudah entah kemana.
Ku benamkan wajahku disemak belukar milik Angga, rasanya nikmat, baunya juga amat nikmat. Manly, bikin nagih. Rasanya tak puas puasnya aku untuk menghirup aroma jantanya yang terasa dari rambut pipiesnya. Batangnya, ikut berkedut imut. Rasanya bikin gemas saja.
Setelah puas menghirup aromanya, aku pun mengecup perutnya, ku beri sepongan kuat disana. Angga menggeliat tak karuan, campur geli, juga rasa nikmat yang menjalar.
"Hessshhh,,," desahnya pelan. Matanya merek melem kenikmatan. Tak hanya itu saja, ekspresinya makin kesange-an.
Terlebih jilatanku kini bagian batangnya yang diameternya tak biasa. Lagi lagi tubuhnya kelojotan tak karuan. Tentu saja nafasnya ngos ngosan.
Ku jilati, seperti menikmati es krim yang meleleh...
Sungguh ini es krim ternikmat yang pernah ku nikmati. Aromanya, sungguh menggugah selera, gak ngebosenin, terus gak bikin neg juga. Is best lah, he he he...
[Skip. Maaf!]
Berarti Angga telah melepas kan cairan ketalnya sebanyak tiga kali dan itu semuanya banyak. Rasanya juga legit campur nano. Seolah Angga tak kenal lelah. Entah mengapa Angga begitu over. Aku bahkan bisa merasakan semua itu.
Setelah semuanya lepas, Angga juga melepaskan batang nya dengan tersenyum bahagia sambil anggukan kepalanya. Matanya perlahan dipejamkan dalam senyuman yang tersemat, penuh rasa kebahagiaan dalam keadaan telanjang, bahkan sambil memelukku hangat.
Malam ini penuh peluh serta cairan kental yang tercurahkan. Rasanya itu tak bisa terlukiskan....
_____________
Semua telah ku persiapkan untuk berangkat sekolah.
Bangun subuh sudah jadi rutinitasku.
Membantu Putri masak didapur sengaja ku lakukan.
"Mas Bening ngapain,,,?" kata Putri agak kaget karena aku kedapur.
"Mau bantu bantulah Put, biar cepat. Lagian kan masih pagi banget ini. Aku gak tahu harus ngapain" balasku santai karena aku merasa gak enak berpangku tangan saja.
Putri hanya diam, bingung untuk cari alasan.
"Boleh kan Put, biar cepat, nanti gak telat berangkat sekolahnya" sambungku, karena Putri bingung.
"Iya mas, gak apa apa, aku malah seneng ada yang bantu. Gak seperti mas Angga, molor mulu, gak pernah bantu. Kalau gak dibangunin, sampai gedor gedor pintu kamarnya, gak bangun bangun, sebel aku" rutuk Putri, curhat atas sikap kakaknya Angga yang membiarkannya selama ini gak pernah membantunya.
"Yaudah, ayo masak,,," ucapku semangat biar Putri gak suntuk.
Maka masak dengan semangat pun dilakukan aku dan Putri.
Masih ada obrolan, tapi hanya sekedarnya.
"Put, maaf ya,,, apakah kamu sudah melupakan Alex sepenuhnya?" tanyaku, merasa tak enak hati karena ini menyangkut pribadinya.
Putri menarik nafas, seperti ada beban yang dipendamnya selama ini.
"Kalau kamu tidak mau cerita, aku juga gak maksa Put, itu pribadimu,,," aku ngerasa gak enak, aku juga bantu bantu Putri sambil ngobrol santai. Tapi ini bukan ngobrol santai tapi lebih ke berat.
"Sebenarnya,,, aku masih ada rasa sama Alex. Tapi, ada cewek yang deket sama Alex, namanya Revika. Mas Bening pasti tahu cewek itu kan. Selain cantik, manis, perfect, kaya lagi"
Dari ucapannya Putri seperti minder dengan keadaannya. Tentu saja dengan keadaannya seperti ini tentu hal itu membuatnya rendah diri. Aku sadari hal itu, aku juga merasakan hal yang sama, apa yang dialami oleh Putri itu sama.
Memang hidup serba kekurangan tidak enak, terlebih lagi hidup di Jakarta, tentu hal itu akan dapat cibiran, terlebih sekolah dikalangan, merasa seperti terkucilkan dari kelompok. Kalau tahu ada orang miskin maka akan dapat perlakuan keras bahkan dibully.
________
Aku tahu beban yang dirasakan oleh Putri tentulah sangat berat, belum lagi cibiran, cercaan, hinaan bahkan bullyan dari teman teman sekelasnya.
"Kalau memang kamu gak sreg, lupakan saja. Aku dukung semua keputusanmu. Hidup itu pilihan, pilihlah yang menurutmu yang terbaik menurut kata hatimu" nasihatku, karena hanya itu yang bisa ku sampaikan. Aku sendiri belum tentu bisa melaksanakan apa yang tadi ku katakan.
Selama ini aku selalu didera masalah, datang silih berganti, selalu saja masalah datang.
"Aku pikirkan mas"
"Jangan hanya dipikirkan Put" potongku cepat. Cewek, pikirannya itu pendek tidak seperti cowok yang berpikiran panjang, mempertimbangkan baik buruknya.
"Iya mas, terima kasih. Sarapan sudah selesai" pungkasnya, semua selesai baik obrolan juga masaknya.
"Masih banyak sisa waktu untuk santai,,,"
"Sekali lagi terima kasih mas, telah bantu bantu aku"
"Biasa Put, aku gak enak aja berpangku tangan, tinggal makan"
"Mas Angga belum bangun bangun, dasar kebo!" sungutnya kesal karena Angga belum juga bangun padahal sarapan sudah siap. Siap santap. Angga pasti juga belum mandi. Kenapa tadi aku lupa buat banguni Angga. Ada rasa sesal tersendiri dihatiku.
"Biar aku banguni Angga" aku pun berlalu menuju ke kamar buat banguni Angga yang masih molor. Mana tidur dari semalam bugil.
Benar saja, Angga masih enak enak tidur, kelelahan efek semalam. Ada sesuatu yang masih jadi ganjalan, karena saat aku tertidur lelap, aku mimpi dan merasa kalau Angga juga melakukan sesuatu terhadapku.
Lagi lagi aku disungguhi pemandangan yang tak biasa, tubuh Angga yang dalam keadaan telanjang, dalam pose terlentang, terlebih lagi batangnya yang mencuat tak mampu berdiri sempurna karena beban yang dipikulnya, berat. Kikikiiiii.....
Tentu saja aku tersenyum geli sendiri melihatnya. Terkadang, batangnya bergerak gerak imut gitu. Seolah pamer kegarangan. Dasar,,,! Orang masih ngorok, itu bangun ngacung, gerak gerak gitu. Pamer?!.
"Ga,,, bangun Ga, udah siang. Mau sekolah gak,,," panggilku sembari ku pegang bahunya, ku goyang. Mana batang gerak gerak imut lucu gitu. Dasar gila. Lama lama aku disini bisa stress dadakan dengan ulah serta tingkahnya.
"Hmmm,,, ngantuk mas. Cepek banget,,," celotehnya, nyawanya belum kumpul, matanya mengerjab ngerjab, menyesuaikan keadaan sehabis bangun.
"Mas bisa minta tolong gak,,,," rajuknya dengan mata setengah terpejam kadang terbuka. Masih kelihatan ngantuk.
"Jangan aneh aneh deh, Ga. Ini sudah siang, mau sekolah telat..." elakku, karena sedikit banyak bisa menduganya arah dari permintaan. Pasti yang itu itu juga.
"Kocokin bentar, mas,,," mohon nya, sangat mengharap dengan memelas, gitu.
"Ck,,," dengan perasaan dongkol, terpaksa ku lakukan permintaannya. Mana batangnya sudah mengeluarkan madzi. Kepalanya juga nampak mengkilap.
Ku pegang!
"Hezzz,,," tubuh Angga kelojotan.
[Skip. Maaf!]
___________
"Ayo mas Angga, lelet banget. Udah siang lagi. Bangunnya juga telat, apa apa telat. Makanya kalau dibangunin itu harus bangun, malah enak enakan molor" rutuk Putri bersungut, kesal. Atas apa yang dilakukan oleh Angga.
Aku hanya tersenyum simpul, meliriknya disaat kita semua sudah berada diluar rumah, bersiap untuk berangkat. Tentu saja keadaan Angga kayak orang drop.
_________
Setelah insiden ribut ribut, akhirnya berangkat bersama sama.
Sebenarnya ada larangan naik kendaraan bertiga tapi karena jaraknya tidak terlalu jauh dan juga jalan agak sepi, serta tidak berbahaya jadi aman saja buat boncengan bertiga.
Sampai didepan gerbang, semua pada turun.
Putri memilih jalan kaki, tapi mengikutiku sampai parkiran sedangkan Angga asik nangkring diboncengan belakang.
"Mas, nanti malam nginap lagi. Soalnya aku udah minta sama bude ama pakde kalau mas boleh nginap seminggu dirumahku" rajuk Angga seperti anak kecil. Wajahnya yang kuyu nampak sumringah.
"Iya mas Bening, ada mas Bening, tambah rame, makin asik" imbuh Putri yang baru saja datang menyusul.
"Iya, ya, bukankah udah ku bilang, aku akan nginap, bila perlu aku akan tinggal lagi disa,,,-?" ucapanku terpotong dengan kehadiran seseorang.
"Hay Put, gimana kabarmu? Kamu makin cantik aja saban hari, aku makin ayang deh,,,"
__________
Mg 27/11/2022.
Komentar
Posting Komentar