214. Ada apa dengan perubahan sikap Alex?.
Bab 214. Ada apa dengan perubahan sikap Alex?.
★★★★★
Alex...
Seolah mengabaikan kehadiranku seperti hari kamarin aku sekolah pertama. Aku harus menelan rasa kepahitan yang bertubi tubi ku rasakan. Namun, tidak kali ini. Aku tidak ingin menyerah dengan keadaanku, yang hanya akan membuatku terpuruk.
Gombalan Alex tentu sangat berpengaruh buat Putri yang selama ini ada rasa dengannya. Terlebih Alex nyengir, tersenyum mesum kearah Putri, seperti sedang tergila gila pada Putri.
Alex datang dengan membawa mobil pribadi mewahnya karena kita sedang berada diparkiran. Tanpa menyadari kehadirannya. Kali ini sedang sendirian, biasanya dengan Revika. Entah kemana gadis cantik itu, bahkan dibandingkan Putri, Revika lebih cantik, walaupun Putri cantiknya natural, mungkin itu yang sukai Alex ke Putri tidak seperti halnya Revika yang kecantikannya hasil dari salon.
Ekspresi Putri nampak biasa. Apakah Putri mendengarkanku, bersikap biasa, terlebih kita hanya golongan orang miskin yang tidak punya level, sekolah disini hanya mengandalkan beasiswa. Selalu didera masalah, dapat hinaan, cacian, cercaan bahkan bullyan.
"Mas Bening aku duluan ya,,, assalamualaikum,,," pamit Putri berlalu tanpa menghiraukan seorang Alex yang sedari tadi menautkan alisnya, genit, obral rayuan serta tebar pesona pada Putri.
Aku hanya tersenyum melihatnya, terlihat konyol tingkah Alex.
Alex tampak kesal sendiri dibuatnya, apa yang dilakukannya sia sia karena Putri sama sekali tidak meresponnya.
Angga hanya diam saja sedari tadi, karena tidak ada yang perlu di responnya. Terlebih Angga dan aku beda kelas begitu Alex.
"Mas aku pergi dulu, ya. Nanti pulangnya bareng, kalau aku duluan aku tunggu digerbang sekolah. Assalamualaikum,,, mas,,," pamit Angga padaku, cuek dengan Alex yang nyengir, disapa pun tidak.
"Kismin aja sombong. Putri,,, awas kau,,," geramnya. Tak ku gubris lagi Alex yang masih berdiam diri memperhatikan langkah Putri yang menjauh, menghilang.
"Beningggg,,, tunggu,,," seru Alex memanggilku. Lagi lagi aku tak menggubrisnya. Toh, aku tidak peduli dengannya, dari pada nantinya aku yang menderita karena berteman dengan orang kaya mulai saat ini aku akan fokus dengan diriku. Melupakan orang orang yang tidak peduli padaku, lebih baik dengan keluargaku. Keluarga lebih dari segala ketimbang orang lain, walaupun kadang orang lain itu melebihi saudara. Tapi di Jakarta tidak mengenal saudara tapi harta.
Aku bergegas menuju ke kelasku, tentu apa yang dilakukan oleh Alex jadi pusat perhatian terutama yang sedang berpas pasan dengan ku juga Alex.
Alex hanya nyengir tanpa bisa menjelaskan apa apa karena aku tak memperdulikannya. Terlebih saat mensejajariku, lagi lagi aku tidak peduli. Rasanya hatiku begitu perih terasa, terlebih saat berada didekatnya, aku ingin segera menjauh darinya dari pada aku terlalu lama tersiksa.
"Ada apa dengan mu Bening, semenjak kau sadar dari koma, sikapmu berubah drastis-?"
"Seharus aku yang berkata seperti itu?" potongku cepat.
Alex menelan ludah bakal dapat pernyataan balik dariku. Ku lirik dia sejenak. Dia tampak makin dewasa, kumisnya, wajahnya lebih kokoh dan tegas, macho. Ku kagumi sesaat, aku tak ingin terlena dibuatnya.
"Jangan pernah dekat dekat lagi denganku, aku tidak akan pernah peduli lagi padamu!" ungkapan terakhirnya, tidak semua tentang Alex ku ingat semuanya jadi aku dengan mudah bisa melupakannya.
"Kamu kenapa Bening,,,?"
"Kamu yang kenapa Alex?, bukan aku!" seruku tertahan.
Alex menghebuskan nafasnya besar, menatapku tajam, namun aku aku tak peduli, cuek terus berjalan kearah kelas.
"Honey, honey,,," ada seorang cewek memanggil dengan panggilan mesra. Aku ingat dengan suaranya, itu suara Revika yang memanggil Alex.
Ku gegaskan langkahku untuk meniggalkannya keduanya untuk ngobrol. Terlebih kelasku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi.
Lamat lamat aku dengar percakapan mereka berdua, karena pendengaran ku sangat tajam. Aku fokus mendengarnya. Hingga semua bisa ku dengar jelas.
"Honey, aku panggil kamu dari tadi kenapa gak meresponku?"
"Ya kenapa sayang?" sepertinya Alex menahan kekesalannya.
"Kok gitu sih honey. Apa kamu tadi ketemu sama gadis kismin itu tadi?"
"Emangnya kenapa, tidak boleh?"
"Ingat honey, kamu hanya milikku, titik"
"Kamu jangan egois,,,"
"Kamu yang egois, honey. Aku sudah berkorban banyak untukmu. Bahkan mahkota kewanitaanku yang paling berharga telah ku berikan padamu"
"Aku tidak pernah memintanya, kau sendiri yang menyerahkannya padaku. Apa aku yang salah?"
"Kau bajingan tengik Alex, aku tidak mau kau campakkan begitu saja setelah aku berikan semua untukmu"
"Terserah!"
"Anjing kau Alex, keparat kau!"
"Terserah!"
"Bangsat kau Alexxxx,,,!"
Setelah itu keadaan hening, karena aku duduk santai dikursi menghadap ke white board dengan pikiran menerawang.
Sesaat kemudian nampak wajah kucel Alex masuk ke kelas jelas wajahnya ditekuk tak bersemangat.
Lagi lagi aku tidak bisa melihatnya seperti itu...
'Ingat Bening, jangan kau merasa empati dengannya. Ingat kau hanya orang miskin yang tidak berarti apa apa buat dia. Ingat itu! Atau kau akan menyesal nantinya' ungkap batinku memperingatiku. Ku hela nafas dalam dalam tepat disaat Alex duduk didekat seperti biasanya. Namun, aku coba untuk kuatkan hati tak ingin hatiku rapuh dan berempati pada Alex yang sedang dirundung masalah dengan pacarnya yang telah tidak virgin lagi.
Alex nampak bersungut kesal, menatap kearah ku tajam tapi aku bersikap cuek padanya. Tentu hal itu membuat Alex bertambah kesal.
"Huh, dasar cewek egois. Dikiranya aku bisa di kuasainya, oh tidak. Aku adalah aku, tidak ada siapapun berhak atas diriku, siapa pun itu termasuk Revika, gadis murahan" gumamnya gusar dengan keadaannya. Tapi aku biarkan saja. Lebih baik aku sekarang bersikap biasa pada siapapun. Toh, sebentar lagi ujian semester ganjil, dan akan liburan kembali, mungkin setengah bulan jadi aku bisa pulkam, nanti.
"Hay Bening,,," sapa Latifah dengan wajah ceria. Alex disampingku merengut karena mood sedang tidak baik.
"Bisa salam gak, kamu kan muslim, kecuali kamu nasrani atau yahudi terserah" entah mengapa moodku juga tidak baik, apa ini berefek dari orang orang sekitarku.
",,, Kok gitu sih kamu Bening?" protes Oktavia.
"Iya kah Bening, kita kan disekolah bukan dirumah" lagi lagi Sarah protes bantu Oktavia serta Latifah.
"Itu yang membedakannya, salam itu wajib hukumnya, jawab salam juga wajib hukumnya, jika kita gak jawab maka kita akan dapat dosa jika semua yang hadir disini semuanya" jelasku, supaya mereka disini terutama yang muslim tahu betapa pentingnya salam itu. Jangan hanya nyapa hay, hallo atau apalah.
"Huh sok suci!" dengus Alex disampingku tidak terima. Toh, aku gak peduli, itu hak dia.
Lagi lagi aku tak menggubrisnya, toh akhirnya akan capek sendiri. Dia tidak suka padaku itu haknya. Aku juga gak peduli lagi dengannya.
"Manusia tidak tahu terima kasih?" Entah mengapa aku mengatakan hal itu, padahal aku tidak punya tujuan dan maksud apa apa.
"Aku tahu, kamu orang pernah berjasa dalam hidupku. Kamu yang pernah menolongku disaat aku dalam keadaan sekarat"
"Iya-kah. Aku tidak ingat sama sekali kejadian yang barusan kamu katakan. Aku merasa tidak pernah merasa menolongmu. Lupakan saja" balasku cuek.
Tentu saja Alex menatapku heran, terlebih aku merasa seperti itu.
Kini tatapan Alex tajam tak percaya dengan pernyataanku.
"Kamu benar benar lupa akan hal itu Bening"
Ku gelengkan kepalaku, membenarkan.
Semua pada terdiam setelah apa yang ku katakan. Wajah para ceweknya terlihat prihatin.
"Wah kasihan banget, Bening"
"Iya ya, pasti karena kecelakaan itu hingga menyebabkannya amnesia ringan"
"Iya betul juga tuh"
"Kita happy happy, jalan jalan gak ke inget"
"Padahal acara seru banget"
"Iya, nanti kita akan wisata ke Jawa, saat liburan"
"Berapa biayanya?"
"Kurang tahu"
"Kalau yang ku dengar dengar kisaran dua sampai lima juta gitu"
"Wah pasti asik dan seru donk"
"Tentu, bakal happy happy lagi"
Seru mereka dengan rumpian ala anak anak alay yang akan tamasya pada saat liburan nanti.
Kalau aku sudah punya rencana sendiri untuk liburanku nanti yaitu pulkam, karena lebih damai, menyenangkan.
"Bening, kamu ikut liburan gak nanti?"
Ku gelengkan kepalaku, lesu.
"Huh, dasar ,,,"
"Kismin,,, gitu. Aku punya uang, tapi dari pada ku hambur hamburkan sayang, lebih baik buat pulkam, lebih seru buatku" sahutku cepat. Aku tak peduli dengan hinaan Alex kali ini. "Mungkin kau bangga dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuamu. Tapi, aku lebih bahagia dengan keadaanku juga kedua orang tuaku" cibirku padanya, tentu hatinya dongkol dengar penyataanku tentu menyinggungnya.
"Apa enak di kampung?, palingan sepi, gak ada cewek. Apa asiknya? Gak ada apa apa?"
"Menurut mu gitu. Disana damai, tiada duanya. Lebih tenang, gak bising, gak ada yang menghina, gak ada bullyan,,,!"
Nampak Alex berpikir dengan omonganku.
"Benarlah itu?" sepertinya Alex kurang yakin. Mungkin ingin buktikan dari omonganku. Tapi, tidak mungkin Alex mau ke kampungku. Boleh dibuktikan jika tidak percaya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya kok" ku hentikan protesnya terus, karena pun jika tidak tahu kenyataannya akan seperti itu. Ngenyel. Aku hanya tersenyum simpul.
--------------
-------------------
Kelas sudah usai....
Niatku pulang terakhir, agar aku tenang. Namun, ada beberapa murid cewek yang masih bertahan ditempatnya, termasuk Alex. Revika juga ada, tadipun waktu masuk pagi pun agak terlambat, mukanya sedih, matanya merah habis nangis. Tentu aku tahu persoalan.
"Honey,,, maafkan aku!" mohon Revika atas hal yang terjadi. Sikap Alex, biasa, cuek seolah Revika tidak dianggap.
"Pulanglah, dulu,,,!" tegas Alex tanpa ekspresi, wajahnya membesi. Tegas dengan tatapan tajam kearah Revika.
"Tapi honey, ak- aku,,," kejut Revika karena Alex mendelik kearahnya.
Sungguh arogan sekali sikapnya pada seorang cewek secantik dan semanis dia, di sia siakannya begitu saja. Dasar cowok juling. Lagian, itu bukan urusan ku juga. Terserah mereka mau berperang, aku juga tak peduli.
"Kamu tidak dengar, pulanglah,,," paksa Alex tidak senang bila ada Revika didekatnya. Padahal kemarin begitu dekat, begitu mesra seakan tidak ada masalah. Lha tadi pagi, sampai sekarang sudah ribut.
Lagian, ngapain juga mereka masih ada disini. Lha wong aku ingin ketenangan, pulangnya terakhir juga, mereka kayak nunggu aku. Bikin moodku turun dengan kehadiran mereka.
"Bening, besok libur,,," kata Latifah memberitahuku disaat Alex sedang bersetru dengan Revika.
Revika masih berdiri ditempatnya tanpa beranjak padahal sudah di usir kasar oleh Alex, cewek tambeng, gak mau denger.
Alex mendengus kesal. Permintaannya tidak dituruti oleh pacarnya.
"Seminggu ini buat mid semester, karena nanti akan diadakan PAS Ganjil senin depannya" terang Oktavia.
"Yup, harus belajar ekstra, supaya nilainya tambah bagus. Walaupun gak mungkin bisa mengalahkanmu, Bening" kata Sarah, melirik kearah Alex karena Alex juga termasuk murud pintar. Semua dikelas ini rata rata punya otak encer semuanya karena nilainya diatas rata rata.
Bahkan nanti saat semester dua akan diadakan liburan keluar negri. Aku tidak tahu tujuannya kemana?. Liburan ini nanti mau ke Jawa. Selesai pas ganjil. Persiapan untuk semester dua, yaitu semester genap. Tentu jedanya tidaklah lama.
Dulu aku ingin kuliah di pertanian, namun mengingat keadaanku disini seperti ini, maka niat awalku ingin ku urungkan. Tapi, entah bagaimana nanti saja, namun untuk saat ini aku jalani dulu, bagaimana endingnya.
"Biasa aja kali Sarah. Aku hanya mempertahankan prestasi supaya beasiswaku tidak dicabut. Orang miskin sepertiku cuma bisa ngandelin beasiswa sekolah disini. Tapi, aku gak kecil hati terlahir sebagai orang melarat,,," ku berkata seperti itu melirik kearah Alex, karena dia orangnya juga paling anti dengan orang kismin sepertiku. Illfeel gitu kalau lihat orang gembel tak berpunya sekolah dikalangan elite, seperti halnya Riko dulu, begitu sangat membenciku.
"Apa? Melirikku, kau kira aku seperti itu,,,"
"Kenapa kamu merasa? Kalau kau tidak merasa, kenapa harus marah. Kau kira aku nyindirmu? Oo,,, jadi kau tidak merasa, syukurlah"
"Huh, semua bikin sebal!" sungutnya, namun tidak beranjak juga dari tempatnya. Sambil hentakan kakinya. Dengan wajah membesi. Menatapi satu persatu para cewek yang ada, membuat mereka ciut nyali, satu persatu menyingkir karena takut. Hingga tinggal bertiga, aku Alex dan Revika.
"Kenapa lo masih disini? Atau lo mau gue putusin!" serunya geram hingga wajahnya makin tegas menahan emosinya.
Revika cewek yang keras kepala, type cewek bandel, dibilangi tetap tak mau pergi. Hingga membuat Alex tambah kesal, jelas jelas dari tadi menyuruhnya pergi tapi tetap tidak mau pergi.
Bahkan matanya merah, berair tetap bertahan, dimarahin pun tak digubrisnya.
"Tidak,,,!" jeritnya kekeh tidak mau pergi.
"Baik kalau begitu. Sekarang kita gak ada hubungan apa apa!" demgusnya menahan emosi.
"Aku tidak mau. Sampai kapanpun?"
"Terserah! Aku tidak peduli. Pergi lo, jangan ganggu gue lagi!" bentaknya lagi.
Lama lama aku hanya jadi pendengar, secara perlaham aku tinggalkan keduanya, hingga aku sampai diluar, ku lihat Latifah dan kelompoknya masih nguping, dan ngintip apa yang terjadi antara Alex dan Revika. Keduanya bertengkar dengan hebat.
"Kalian ngapain masih disini? Pakai ngitip segala" protesku melihat tingkah kelakuan mereka. Bukannya ngejawab, mereka malah ngibrit tanpa pesan. Tanpa suara takut yang didalam dengar, bisa kena masalah kalau Alex sampai tahu.
"Aku tidak terima kau perlakukan kayak gini Alex, tunggu pembalasanku, lebih menyakitkan dari ini. Akan ku buat kau menyesalinya seumur hidupmu! Ingat itu Alex! Hiks, hiks, hiks,,," raung Revika nangis, dengan beruarai air mata berlari dari kelas. Sekilas menatap kearah ku tajam, mendengus kesal, padahal aku tidak tahu menahu, serta ikut dalam persoalan mereka berdua yang terjadi. Tapi, entah tatapannya seperti menyimpan dendam padaku.
Revika terus berlari dari kelas, semua yang diluarpun memandanginya, dengan rasa iba juga kasihan, namun tidak bisa berbuat apa apa, terlebih untuk menolongnya, terlebih lagi harus berururusan dengan Alex tentu itu tidak mungkin, bahkan hal itu bisa berbalik jadi bumerang bagi yang menolong.
Kembali para cewek gak jelas pada bubaran takut berurusan lagi dengan Alex, tadi pun sudah kena damprat sama Alex jika terlihat olehnya.
"Siaaaalllllll,,,,!" teriak Alex sudah didekat, membuatku jantungan dibuatnya karena aku tidak tahu kehadirannya karena melihat para cewek pada ngibrit cari aman, juga melihat kearah Revika yang dalam tangisan histeris.
"Huhhhh,,," keluhku atas kelakuan Alex yang membuat telingaku pekak. Keparat, kurang ajar! Sungutku, dongkol sambil ku tiup tiup telingaku yang tadi berdenyut, berdenging.
Ku bulatkan mataku pada Alex, dia malah cengengesan tanpa rasa bersalah karena telah melakukan kesalahan.
"He he heeee,,, maaf Bening" sambil tangkupkan kedua tangannya didepan dadanya, meminta maaf.
"Gak lucu!" sungutku sambil ku hentakan kakiku kebawah saking kesalnya. Dia cuma minta maaf doang. Dasar makhluk tidak punya udel, seenaknya sendiri, bikin kesalahan cuma nyengir serta minta maaf.
Ku bergegas dari hadapannya, tak ingin berada didekatnya, karena akan timbul kesialan.
"Bening, tunggu bentar! Ealah, kayak perawan aja, ngambekan!"
Apa, dia bilang? Enak aja ngatain aku cewek? Aku punya batang, keles.
Terpaksa ku hentikan langkahku karena cibirannya yang sudah level akut.
"Apa lho bilang tadi?. Enak aja lho ngomong, aku cowok punya batang, bukan cewek yang punya mekki, paham lho"
"Lagian, lho tuh, ngambekan, kan cewek kerjaan kayak gitu-"
"Jadi lho bandeng bandeng ke, saeng saengke,,, ngono!?" lho aku kok malah ke inget lagunya Prayogo. Gak beres. Ealah, kini Alex, malah cengar cengir gak karuan karena ucapanku yang gak pake jalur.
",,, Ha ha haaaa,,,," akhirnya, Alex ketawa lepas karena tak bisa menahannya.
Tentu saja aku makin dongkol dengan ulahnya. Bisa bisa dia perlakukan aku kayak gitu, buat mainan dia. Awas lho ya, aku becek becek tahu rasanya. Aku sampai kepalkan tinju, ingin meremas mukanya yang so cool dan sok kegantengan. Emang sih, Alex ganteng and sekaligus macho. Tapi gak gitu juga sikapnya.
Lama lama ngeladeni dia jadi kayak orang sinting, mendingan aku kabur dari dia saja, biar aman. Makin tambah beban.
"Eitsss,,, mau kemana? Tunggu dulu, aku mau ngomong penting soal kamu" tanganku sampai ditahannya, karena aku saking jengkelnya.
",,, Cepat, aku gak ada waktu buat ngeladeni kamu" seruku dengan nada sedikit ku naikkan supaya Alex gak bertele tele.
"Iya, ya,,, sabar dikit napa. Dapat salam dari mama juga papaku, suruh main, kalau ada waktu-"
"Waalaikum salam, sudah. Ada lagi,,,"
"Gak. Jutek amat jadi orang"
"Lho bikin tensiku naik. Lho seneng banget ngerjain aku. Lalu cewek lho, Revika lho campakan. Jahat banget lho jadi cowok"
"Sapa suruh, ngejer ngejer aku. Lha wong aku gak minta"
"Kau sudah merawani dia, sekarang lho campakkan. Kalau aku, sudah ku buat buntung batang lho" ancamku dengan gemas. Tentu saja hal itu tanpa sadar membuat Alex memegang bawahnya, sambil nyengir gak jelas seperti bergidik ngeri kalau ucapan ku benar, padahal aku cuma gertak aja, tapi tanggapannya serius, seperti ancaman.
"I- iya, maaf. Aku gak akan ngulangi lagi"
"Janji!"
"Iya, sumpah" tangannya sampai piss karena sumpahnya. Tentu saja aku jadi geli lihat tingkah lakunya ternyata mudah dikibuli.
'He he heeee,,, lho ganteng tapi begok gak ketulungan. Aku cuma canda lho anggap serius! Dasar stufid akut,,,' aku berlalu tanpa menggubrisnya. Bengong menatapku dalam ketidakmengertian.
"Bening, mau kemana?" teriaknya, seperti dihutan rimba. Apa gak malu dari tadi panggil namaku. Kalau gak paham pasti akan salah paham, dikira panggil cewek, ternyata cowok.
Ku biarkan saja, terus bergegas, cuek dengan panggilannya.
"Gak usah repot repot. Aku males kerumahmu. Aku ingin istrihat santai,,," seruku juga, tapi masih dalam batas.
"Aku akan samperin kamu, minta ijin sama ortumu buat aku bawa kerumah"
"Cari aja sampai bangkotan, gak bakal ketemu, aku gak dirumah Riko lagi. Weeeekkkk,,," cibirku kearahnya. Terlihat Alex pusing.
"Kamu dimana Bening?"
"Bukan urusanmu. Gak usah ganggu hidupku. Titik!"
"Pasti kamu dirumahnya Angga kan" tebaknya. Nih, anak bikin kesel juga lama lama. Pengen aku jitak juga jidatnya. Karena bikin aku badmood.
"Urusin pacarmu Revika. Pasti butuh belaianmu, terlebih sudah kau tiduri beberapa kali. Pasti ketagihan batangmu. Makanya dia uring uringan dia karena minta ditusuk, dan ketagihan ama genjotanmu. Weeekkkk,,,,"
Muka Alex merah padam, terlebih ada beberapa murid disekitaran parkiran yang memdengarnya, tentu hal itu bikin malu buat Alex yang ke bongkar kedoknya bersama Revika yang sudah terlalu jauh melangkah, sampai melakukan sex serta ku bongkar.
Terlebih sudah ada Putri disitu, dan juga Angga yang menunggu, padahal tadi aku ngomongnya juga spontan, tak ada maksud buat mempermalukan Alex didepan umum, tapi karena luapan emosiku yang tak terkontrol, jadi aku asal ngablak dan itu bikin malu Alex. Biar jadi pelajaran buat dia, supaya tidak mengobral obral kejantanan nya. "Eh, Putri,,," yah, tentu saja aku salting, tak tahu harus menjelaskan gimana lagi padanya.
"Mas Bening,,, ayo pulang" ajak Putri, sikap nampak begitu tenang, seolah tidak ada masalah apa apa.
"Aku sudah nunggu dari tadi mas Bening, mas kemana aja?. Kalau Putri tadi ada tugas dikit, barusan datang,,," jelas Angga yang nunggui aku sampai lumutan. He he heee,,,
"Maaf, tadinya aku santai. Kan besok libur persiapan mid semester, karena senin depan akan diadakan PAS ganjil. Jadi, aku nunggu suasana tenang dulu. Tapi, ada gangguan dikit" sampai jariku ku praktekan didepanku.
Angga tersenyum tawar, sedangkan Putri hanya nyengir gak jelas.
Alex merasa terabaikan disini, seakan di anggap gak ada, gitu.
"Benarkan dugaanku, kalau Bening nginap dirumah kamu kan Ga" terka Alex lagi, ingin memastikan.
Ku taruh jari telunjukku didepan mulutku supaya Angga diam, tidak cerita karena jika Angga ngomong, pasti Alex akan berbuat sesuatu.
"Iya, kenapa Alex? Mas Bening memang dirumahku. Kalau masalah, kami tidak tahu, itu urusan mas Bening, aku dan mas Angga tidak berhak turut campur, sekalipun kita saudaranya" malah Putri yang kini bilang.
Tanpa sadar aku getok kepalaku karena ulahnya. Semua sudah terlanjur dikatakan oleh Putri, pasti Alex akan cari cara untuk bawa aku, atau untuk paksa aku buat datang ke rumahnya. Padah, aku ingin hidup tenang, tanpa gangguan. Tapi, nyatanya apa, tetap gak bisa. Seolah masalah sedang mengintaiku.
Apa benar, jika apa yang ku lihat di saat aku koma, akan mulai ada jalan kisahnya?.
Jika ingat hal itu, mukaku langsung pucat, dadaku berdetak lebih cepat, tak mampu ku kendali, hingga tanpa ku sadari memegangnya sambil ku hirup nafas dalam dalam karena rongga dadaku seolah tak ada oksigennya, mengingat apa yang pernah ku alami.
"Bening,,,,?" sentak Alex, aku dipegangnya, bukan melainkan sedang dipeluknya. Tanpa sadar.
#bersambung....
-------------
Sn 28/11/2022.
Komentar
Posting Komentar