215. Kedatangan seseorang, bikin ribut.
Bab 215. Kedatangan seseorang, bikin ribut.
★★★★★
Mood dari pulang sampai dirumah belum membaik karena ulah serta sikap Alex.
Sepertinya, Putri dan Angga mengerti keadaanku, jadi tak mengusikku karena sudah tahu waktu jika aku lagi gak mood, jadi tak mau diganggu hingga keadaanku membaik dengan sendirinya.
Tentu saja saat aku masuk kamar, mandi, wudhu menuaikan tugasku sebagai muslim, moodku sudah membaik drastis. Lega dalam hatiku, karena bebanku berkurang. Ku hilangkan rasa dongkol yang ku alami tadi karena tak ingin aku terus memendamnya dalam hatiku.
Aku keluar untuk menyapa Angga atau Putri jika mereka ada diruang tengah buat santai seperti biasanya.
Yang ada hanya Angga sambil memainkan ponsel pintarnya. Coba untuk tersenyum, karena lihat wajahku sudah biasa.
Seperti Angga akan ngomong, tapi aku dahului...
"Ga, aku minta maaf,,," kataku karena tak enak jika memendam masalah yang terjadi. Terlebih jika serumah ada yang mengganjal.
"Mas gak salah kok. Tenang aja, yang penting keadaan mas Bening baik baik" inilah sikap Angga yang ku suka, sikapnya dewasa juga bikin tenang dan adem, gak uring uringan bawaan kayak ketemu Alex atau pun Riko juga yang lainnya yang selalu bikin emosi langsung meluap, bikin gedek mereka. Jika inget hal itu pengen pites pites mereka.
"Iya Ga, makanya- sebenarnya aku kesini ingin tenang, karena kalau dirumah Riko emosi ku tidak terkontrol. Terlebih melihat Raya nempel kayak perangko ke Riko. Bawaannya tuh, bikin moodku langsung bludak gitu. Ngamuk lihat Raya"
Kini aku duduk didekatnya, seperti biasanya Angga sudah copot baju, gak diruangan ataupun dikamar, katanya gerah padahal kipas anginnya nyala.
",,, Mas cemburu kali, ama Raya,,," tebaknya, ada seulas cengiran kuda. "Maaf mas bila salah. Aku gak maksud nyinggung"
"Apa gak sebaliknya, Ga?. Kamu cemburu dengan Riko karena Raya telah pilih Riko ketimbang kamu" balikku ingin tahu reaksi Angga.
Dada Angga terlihat bergemuruh. Wajar kalau Angga cemburu terlebih, selama ini dia pernah dekat dengan Raya, bahkan sudah sex sama Raya, tentu ada kenangan tersendiri dihati Angga. Tak bisa dipungkiri akan hal itu jika Angga masih menyimpan perasaan cinta terhadap Raya, tapi bagi Raya hanya sebagai pelampiasan saja.
"Aku juga gak habis pikir, kok bisa bisa Alex itu peluk mas Bening didepan para siswa,,,?" timpal Putri yang baru saja datang. Padahal aku dan Angga tidak membahasnya tentang Alex.
Aku sudah melupakan hal itu karena itu hal yang memalukan buatku terlebih ditempat umum dan terbuka. Tentu saja Putri yang ada rasa dengan Alex pasti merasa aneh dengan yang dilihatnya walaupun pyur bukan kejadian yang disengaja oleh Alex. Mana saat itu tubuhnya sedang berkeringat karena kepanasan.
Semua yang disitu pasti juga menyaksikannya.
"Put, aku minta maaf ya,,,"
Tatapan Putri penuh sakwasangka curiga, aku bisa melihat sorot matanya yang mencurigaiku. Aku harus bagaimana, atau memberi alasan, atau ku beberkan saja tentang orientasi ku pada Putri. Karena memang jarang ada yang tahu, sekalipun ada seorang gay dan punya gaydar yang kuat belum tentu bisa menilaiku kalau aku punya orientasi yang menyimpang, karena aku begitu pandai menyimpannya. Andai pun Putri tahu, gak mengapa, itu lebih baik buat jika aku pendam dan nanti akhirnya Putri tahu, pasti akan kecewa, pastinya akan membenciku. Tentu adegan tadi membuat inisiatif tersendiri bagi Putri buatku. Tak mungkin aku terus menyembunyikan didepan Putri selamanya, suatu saat nanti pasti akan ketahuan.
"Mas Bening seorang, gay" terkanya dan itu seperti sebuah sambaran petir yang tepat mengenai jantungku. Sesak rasanya. Tak bisa berkata untuk beberapa saat lamanya.
"Put, kenapa bilang seperti itu?" balas Angga, seperti mengerti keadaanku. Terlebih itu seperti hal yang tak ku pikirkan sebelumnya.
"Aku gak nanya mas Angga ya, ini mengenai mas Bening yang seharusnya jawab"
"Kamu gak sopan, Put. Itu privasi mas Bening. Kenapa kamu turut campur!"
Malah kini keduanya yang bertengkar karena aku. Suatu hal yang ku tutupi pada siapapun. Aku berusaha menyembunyikannya. Hanya orang orang tertentu yang tahu hal itu. Bahkan kedua orang tuanya Riko seperti berusaha menjauhkanku dengan Riko, aku merasakan hal itu. Orang tuaku seperti memaklumi keadaanku, tapi tetap berusaha untuk orang lain tidak tahu.
Ku hirup udara dalam dalam sampai dadaku terasa penuh tak bisa ku tampung lagi. Aku duduk santai menghadap kearah Putri yang terlihat berbeda pandangannya.
Putri seperti memaksaku untuk menjelaskan mengenai apa yang dilihat, aku pun tidak akan menutup nutupinya lagi. Baiklah...
Jikapun Putri akhirnya membenci, tak apa akan ku terima, ini bukan pilihanku. Bukan kehendakku.
"Iya, benar dugaanmu, aku punya orientasi berbeda. Bukannya tidak suka cewek tapi dominan ke cowok"
Putri sampai menutup mulutnya tak percaya, dengan tetesan air mata yang kian mengalir deras.
Mungkin pukulan tersendiri bagi Putri mengetahui hal itu, karena ku sembunyikannya darinya selama ini.
"Pasti mas punya alasanya kan?" Desaknya dengan suara bergetar hebat.
Disinilah rasa bingung melanda. Bagaimana aku menjawabnya. Rasanya cukup sulit. Ku coba mengingat akan hal alasan apa bisa aku seperti ini.
Kepala berdenyut, aku berusaha mencari jawaban. Hingga aku sedikit mengingat satu hal yang pernah disebut oleh Putri mengenai mimpi, alam mimpi ataupun dunia mimpi seperti ada kaitannya.
"Jawab mas, jangan diam saja. Mas pasti punya alasannya kan. Alasan yang tepat, buatku yakin. Mas Bening jangan diam saja,,," cerca Putri buatku makin bingung. Ku pejamkan mata, tubuhku sedikit gemetar, dan perlahan getaran itu makin terasa.
"Mungkin aku tidak ingat sepenuhnya, Put. Tapi, memang alasan tertentu, namun aku sulit untuk mengingat semua itu. Namun, satu hal yang perlu kamu ketahui, ini mengenai alam mimpi, dunia mimpi yang pernah kita bahas kemarin malam. Karena ada sesuatu hal hingga aku seperti melupakannya, padahal aku berusaha, hingga rasanya kepalaku,,," kini sambil ku pegangi, rasanya berdenyut. Karena aku berusaha mengingat ingatnya. Namun, tidak sepenuhnya ku ingat.
"Maaf mas, aku tidak bermaksud nyinggung pribadi mas Bening. Hanya saja aku sangat shock, terlebih lagi mas dan Alex seolah biasa saja,,,"
"Kamu tidak perlu minta maaf. Aku salah, sejak awal kamu tidak tahu"
"Apa mas Angga tahu semua itu?"
Ku anggukan kepala tanpa kata, hal yang seharusnya ku rahasiakan, secara perlahan, satu demi satu orang orang terdekatku tahu bahkan mungkin yang lainnya. Ada hal yang jadi ketakutanku jika Alex menyebarkan hal ini pada yang lain jika dia sakit hati, begitu pun Putri jika marah atau emosi, terlebih jika gelap semua itu bisa terjadi. Ya Alloh! Kenapa semua makin serumit ini. Padahal aku sudah berusaha untuk hati hati tapi tetap saja cepat atau lambat ada yang mengetahuinya.
Yang ada aku hanya bisa pasrah dengan keadaan terlebih kini Putri telah mengetahuinya, tak ada alasan lagi buatku untuk menolaknya.
Tatapan Putri mengarah pada Angga seolah menyalahkannya karena tidak pernah cerita soal ini, memilih bungkam selama ini.
Putri, tentu sudah ada respek lagi terhadap aku terlebih telah mengetahui keadaan ku yang sebenarnya. Tidak seharusnya, aku berada disini. Seandainya aku tidak nginap disini, mungkin hal ini tidak perlu terjadi. Tapi, nasi sudah jadi bubur, semua tak bisa ku kembalikan kesemula. Sudah terjadi, ibarat layang layang putus talinya, maka tidak akan mungkin dapat disambung lagi.
"Ga,,, aku pulang ya, gak nginap disini" pungkasku karena tidak ada pilihan buatku. Aku sudah terlanjur malu oleh Putri. Mata Angga membulat tak percaya dengar pernyataanku, kalau aku pulang hari, padahal aku punya rencana nginap disini sampai mid semeter usai bahkan sampai PAS ganjil, bahkan mungkin sampai pulkam. Aku hanya bisa berencana, tapi Alloh yang punya kehendak dan wewenang menentukan nasib hambanya.
"Yah,,, Mas Bening,,,?" ucap Angga sedih, wajahnya sendu. Sebenarnya, jika aku ingin balik ku pikir lagi masak masak karena aku tidak ingin kembali lagi kesana, bahkan sampai pulang nanti, jika bisa. Namun apalah daya, rencana tidak sesuai ekspetasi, bisa berubah tanpa ku ketahui.
Terus terang, aku sudah tidak bisa lagi menahan kesedihanku, jika pun rasa maluku tak besar, sudah dari tadi aku nangis kayak difilm india. Yang mudah ngeluarin air mata. Rasanya tak bisa membendungnya lagi terlebih Putri tahu, takutnya menjahuiku. Angga dulu seperti itu juga namun kini bisa nerimaku, bersikap biasa, dan aku juga bersikap biasa. Kini adiknya Putri, bagaimana aku harus bersikap?.
"Jangan mas, bukannya mas udah bilang nginap disini sampai pulkam" terang Angga dengan wajah sedih tak bisa disembunyikan.
Sikap Putri diam sedari tadi tidak tahu harus bersikap seperti apa. Mungkin tidak ingin menahanku terlalu lama, takut mengkontaminasi Angga.
"Dik,,," panggil Angga pada Putri harus bersikap. Namun, lagi lagi Putri cuek seperti bukan saudaraku. Ada rasa penyesalan yang kini ku rasa.
"Sudah lah,,,!" Angga nyerah dengan sikap Putri yang keras hati juga kepala.
"Ga,,," aku bicara sama Angga, tapi tak berani dengan Putri. Entah kemana aku harus nginap lagi. Rasanya, ke rumah Riko, aku tidak ingin lagi.
Namun, saat aku akan masuk ke kamarnya Angga untuk berkemas, tapi ada suara bising dari luar.
Tin...
Tin...
Tin...
Tiiiiinnnnnn...
Bunyi klakson motor bikin bising didalam.
Wajah Putri makin aneh dengar suara bunyi klakson itu.
"Itu pasti Alex. Ngapain lagi manusia satu itu kesini?" gerutu Angga sepertinya hafal betul.
Putri benar benar diam, bahkan sangat cuek sekali. Sepertinya sangat marah, kalau tidak, ngambek yang gak beralasan. Katanya sudah tidak punya hubungan dengan Alex tapi sikapnya kini sangat aneh. Terlebih membahas soal orientasiku.
"Itu ada Alex diluar. Biasanya kamu antusias sekali. Kenapa sekarang gak respek?"
"Bukan urusan mas Angga. Aku sudah gak ada respek sama dia lagi. Urusi mas aja, aku mau ke kamar" Putri berlalu dari ruang tengah tanpa pedulikan aku, terlebih dengan perasaanku. Baiklah jika itu maunya. Aku juga akan bersikap seperti Angga dulu. Jika pun nanti ada penyesalan, maka semua itu akan terlambat untuk disadarinya. Aku ingin semua ini cepat berlalu. Aku ingin pulang ke kampung, hidup damai disana.
-------
--------------
"Mas Bening jangan pergi ya, please. Putri seperti itu, nanti juga balik lagi kok" Angga coba menenangkanku. Aku coba untuk tahan dulu, duduk disofa ruang tengah.
Angga bergegas keluar, melihat orang yang tadi bikin bising karena klaksonnya.
"Tunggu disini ya mas,,, bentar mau lihat siapa?" tengok Angga takut aku beranjak pergi dari tempat ku. Padahal aku menahan kesedihan yang mendalam.
Tubuh Angga tidak kelihatan, karena ku ikuti sampai menghilang...
Masih ku dengar dengan jelas percakapan terjadi luar, ternyata benar itu...
"Eh Angga, ada Bening,,," basa basinya.
"Gak-"
"Itu ada motor nya, kamu jangan bilang gak ada"
"Silahkan masuk"
Tak selang beberapa saat, Angga dan Alex masuk, keruang tengah.
Mendapati dalam keadaan manyun, di, cuek karena masalah ku belum kelar, kini malah bertambah lagi.
Apa maunya manusia arogan satu ini, datang kesini?. Menatapku sambil cengengesan, padahal gak aku gubris.
"Hay,,,," sapanya, entah pada siapa. Ku lirik tidak ada Putri, karena Putri sedang ngambek dan marah padaku.
Aku yakin tadipun Putri tahu akan kedatangan Alex, pasti hafal dengan kendaraannya. Mungkin Putri lagi badmood dengan Alex karena insiden disekolah tadi hingga dia mengkaitkan kejadian yang ku alami bersama Alex dengan kepribadianku.
Cerita ini mirip dengan yang di alami oleh Angga, hingga pada akhirnya menyesal. Sesal tak tersampaikan hingga saat ini. Mungkin Putri juga seperti itu, karena dulu akan semester seperti ini hingga aku pulang tidak memberitahu, aku bahkan tidak pamit pada Angga maupun yang lain. Pun, mungkin keadaannya ini bakal sama, akan ku alami lagi, aku gak akan pamit dengan Putri ataupun yang lain. Atau, aku tidak akan kembali lagi kesini. Tapi, hutang budi keluarga Sanjaya begitu besar, tentu orang tua ku tidak mungkin pamit pulang begitu saja setelah apa yang terjadi padaku. Kenapa aku sampai mengalami hal hal seperti ini lagi.
Aku celingukan sendiri. Heran tentu. Terlebih Alex cengar cengir menatapku.
"Bisa salam gak?" sungutku karena aku sedih juga dongkol dengan yang ku alami.
Anggukan kecil diberikan Alex, tersenyum simpul.
Keharuan melandaku...
"Assalamualaikum,,," ucapnya memberi salam. Dam ketika itu ada Putri datang dari dalam kamarnya. Tersenyum lembut pada Alex.
"Waalaikum salam" balas Putri masih dengan senyum lembutnya. Karena tatapan Alex mengarah pada Putri yang cantik natural, tentu punya pesona tersendiri bagi Alex laki laki normal.
Sekilas Putri menatapku penuh misteri, aku tidak bisa mengartikannya, arti dari tatapannya. Masih begitu dalamkah Putri segitunya membenciku? Atau mungkin ini hanya permainan dari Alex supaya Putri membenciku. Ya Alloh!.
Lama lama disini, aku tidak kuat. Lebih lebih Putri cuek, seolah tidak menganggap kehadiranku. Baiklah. Ku rasa cukup dengan apa yang telah dilakukannya. Lebih baik aku menghindarinya dari pada aku menahan beban batin yang berkepanjangan. Namun, aku ingin tahu kelanjutannya, apa yang terjadi selanjutnya antara Alex dan Putri, hingga aku coba untuk bertahan menahan perasaan.
"Putri kamu cantik sekali" puji Alex penuh rayuan. Tentu gombalan dapat membuai wanita seperti halnya Putri.
"Apa baru tahu,,,?" balasnya masih dengan senyum khasnya. Tak hanya itu, Putri melirik kearahku, mencibirku kalau pujian Alex pantas untuknya.
"Mataku selama ini terpejam tidak menyadarinya?" Alex kembali melancarkan aksinya. Ingin rasanya aku pergi secepatnya. Ingin mengajak Angga pergi, mengajak pergi dari sini, kemana? Yang penting jauh dari Alex yang makin tebar pesonanya. Putri begitu meladeninya, seakan lupa denganku, dengan perkataannya yang memojokanku tadi, seperti hilang begitu saja, tak berbekas. Apa Putri begitu mudahnya melupakan jika berada didepan Alex atau hanya berpura pura terlebih dapat pujian dari Alex, membuat angannya melambung.
Seperti biasanya, Putri memakai jilbabnya ngasal, hingga ada anak rambutnya yang terurai menyentuh wajah cantiknya nan lembut.
Angga yang tadinya diam saja kini duduk didekatku, begitu pun Alex yang tadi berdiri kini duduk. Sementara Putri dengan wajah tersipunya, menuju kearah dapur, tujuannya bisa ku duga membikinkan sesuatu buat Alex.
Ku tunggu, apa hal sama berlaku untukku?.
Dasar bikin RIBUT!!!.
#bersambung....
------------
Sl 29/11/2022.
Komentar
Posting Komentar