217. Peringatan!.

 Bab 217. Peringatan!


★★★★


Bersiap!


Bergegas, aku keluar dari kamar setelah apa yang barusan ku lihat begitu nyata, tampak didepan mataku. Aku melihatnya begitu jelas setiap detail kejadiannya.


Hingga hal yang tak disangka, dan tak terduga, kejadian naas terjadi didepan mataku.


Namun, kejadian yang berbeda ku alami. Ku saksikan didepan mataku.


Ku edarkan pandanganku ternyata, Angga tidak ada ditempatnya. 'Kemana manusia itu, bisa bisa meninggal mereka berdua, hingga kejadiannya seperti itu?' keduanya merapat. Muka pun tak ada jeda, bahkan bibir mereka saling taut, dipastikan kedua berciuman, cukup lama karena kesempatan yang ada.


"Putri,,," seruku tertahan melihatnya.


Alex terlihat canggung, seolah kejadian itu hal biasa terjadi dan dilakukan tanpa unsur paksaan.


Putri terlihat melotot kearah ku tidak suka, kalau yang dilakukan nya itu hal yang tidak salah menurut nya.


"Mas Bening, ganggu aja!" ucapnya setengah berteriak. Alex garuk garuk kepalanya yang tak gatal. Menatapku sekilas tanpa rasa berdosa.


Tadi, apa yang ingin ku lihat, ingin ku sampaikan pada mereka berdua, tapi setelah melihat apa yang terjadi, hal itu urung ku katakan. Terlebih melihat sikap Putri yang makin membenciku. Jadi, aku memilih diam, yang tadinya aku menegurnya jangan sampai keblabasan karena itu tidak baik. Bahkan, jika diteruskan maka nantinya Putri akan kecewa, bahkan mungkin terluka ditinggal oleh Alex karena telah mendapatkan apa yang diinginkan nya. Seperti hal gadis gadis yang selama ini telah ditidurinya tanpa ada rasa tanggung jawabnya sama sekali.


Aku tak mau kejadian tragis di alami oleh Putri sebagai saudaraku. Walaupun kini sikapnya telah berubah drastis bahkan begitu membenciku. Ku coba peringati supaya tidak keblabasan tapi melihat sikapnya yang seperti itu aku tidak berani, serta membiarkan nya saja, walaupun nantinya aku akan dihantui rasa bersalah yang berkepanjangan.


Kalau Alex, Entahlah? Aku juga tidak tega jika sampai mengalami hal naas itu. Ya Alloh!


"TABRAKAN!" teriakku tak terkendalikan, seolah yang ku lihat kembali membayang nyata didepanku. Tanpa sadar.


"Mas Bening, mas Bening, ada apa mas kamu teriak teriak seperti" panggil Angga ada didekatku dengan wajah heran. Tentu apa yang ku lihat tidak ada orang yang tahu kecuali diriku sendiri.


"Iya, huh kayak orang gila!" rutuk Putri dongkol menatap ke arahku makin tidak suka, benci juga jengkel.


",,, Kenapa lagi kamu ini, teriak teriak gak jelas,  kayak orang gak waras?" timpal Alex lagi bersungut kesal, merasa terganggu. Padahal dia racun, duri dalam daging, sangat menyakitkan, malah menatapku dengan tajam.


Terpaksa aku hanya bisa nyengir saja ditatap mereka seolah menghakimiku.


Andai Angga tahu apa yang ku alami, tentu hal ini tidak terjadi. Tapi dia tidak tahu sama sekali. Apa yang harus ku katakan padanya, mengenai apa yang ku lihat tadi. Atau hanya ku simpan saja. Mungkin itu hanya hayalanku saja. Ku pastikan itu tidak benar. Tidak akan terjadi pada Putri terutama. Karena aku tidak ingin dia celaka.


Toh, apa yang ku alami saat aku koma pun gak terjadi apa apa, keadaan baik baik saja. Apa yang perlu ku takutkan lagi. Bahkan saat akhir semester liburan ini aku akan pulang kampung. Selesai semester kedua aku tidak akan kembali kesini lagi, bahkan orang tuaku akan ku ajak pulang. Maka apa yang ku alami itu hanya sekedar mimpi burukku yang berakhir dikala aku sudah bangun. Namun, semuanya itu seolah membekas. Tunggu, waktu itu aku ditangkap bersama Riko, lalu disekap. Lalu, saat itu bisa bebas dan membeberkan semuanya serta setelah itu membunuhi satu persatu dengan pistol peredam suara. Yah, aku ingat betul hal itu bahkan saat terakhir kali, Riko menghabisi dirinya.


"Iya, dasar aneh? Ganggu lagi" ulas Putri, setali tiga yang sama Alex. Senang sekali memojokkanku.


"Lex, bagaimana kalau kita jalan jalan, suntuk aku lama lama disini, terlebih ada gangguan. Tuh,,," tunjukan dengan dagunya.


Ya Alloh!


Rasanya itu sungguh menusuk hati, bagaimana aku harus bersikap, aku bertahan. Namun, sungguh sulit buatku.


"Tidak!" teriakku, mencegah Putri untuk tidak pergi karena itu sangat berbahaya buatnya juga buat Alex. Keduanya dalam bahaya. Karena mereka akan kecelakaan.


"Ihzzz, apalagi kamu teriak kayak orang gila gitu" sungut Putri merasa terganggu. Mungkin karena teriakanku tadi. Terus terang aku shock mendengarnya, terlebih dengan penglihatan yang lihat tadi dikamar.


"Iya, aku heran banget dengan nya. Gak boleh ada orang senang" timpal Alex cari muka, memberi dukungan pada Putri.


"Mas Bening, kamu ada apa mas? Apa ada masalah? Katakan mas" ungkap Angga seperti penasaran dengan yang ku teriakkan mencegah Putri.


"Halahhh,,, mas Angga, kenapa harus didengerin, biarkan saja. Teriak teriak terus dari tadi kayak orang sakit jiwa"   kembali Putri membulat kan matanya tajam kearah ku karena Angga ingin dengar alasanku.


"Ayo Put jalannya, nanti kesorean. Kamu gak mau kan waktu terbuang begitu saja" lagi lagi Alex menarik perhatian pada Putri.


"Ayo Lex, aku juga gak betah kok sebenarnya!"


"JANGAN!" seruku lagi, kali ini lebih terkontrol dari yang awal. Karena aku melakukan hal itu untuk suatu tujuan.


"Mas Bening, cukup! Kamu memang benar benar gila!" teriak Putri marah.  Tubuhnya sampai bergetar hebat.


"Iya, sudah sinting sekali kau ini" tuduh Alex.


Air mataku luruh seketika, karena mereka tidak mau mendengarkan alasanku, tapi sudah menuduhku yang bukan bukan. Ku peringati dengan apa yang telah ku lihat selesai aku berdoa, santai bahkan penglihatan itu ku coba hilangkan tetap tidak mau hilang. Nyerah! Kalau mereka berdua tidak bisa ku bilangi, aku bisa apa. Pasrah. Semoga kedua baik baik saja dalam lindungan yang maha Kuasa.


"Mas Bening,,,?" Angga sampai menangkup wajahku. Menatapku intens, tentu timbul tanda tanya, karena aku sampai segitunya. Bahkan tak bisa ku bendung air mataku.


"Ihzzz, mas Bening kenapa sih?. Ngapain pake nangis nangis bombay gitu? Bikin moodku turun ajah dech" sikap Putri makin sewot padaku. Melihatku cengeng kayak cewek karena tak bisa ku bendung perasaanku lagi.


"Nih, orang ngapain, tadi teriak gak jelas, kini mewek kaya? Heran, gak seneng ada orang lagi happy juga. Keganggu karena ribut tuh bocah" sungut Alex tak bisa disembunyikan. Melototiku begitupun dengan Putri, hanya Angga yang iba sekaligus bingung karena tidak mengerti.


Ku coba untuk tenangkan sejenak, walaupun itu cukup sulit buatku. Belum tentu apa yang ku lihat jadi kenyataan.


"Put, jadikan kita jalan jalannya?"


"Yuk, aku juga pengen jalan jalan kok, nanti malah kesorean, gak jadi JJS-nya" sahut Putri sangat atusias sekali atas ajakan Alex. Selain mereka berdua dalam bahaya, Alex itu lebih sangat berbahaya lagi. Karena, jika sampai Putri dibobol kehormatannya, maka masa depan Putri pasti hancur. Harapannya tentu akan hilang.


Putri tetap ngeyel tak bisa aku bilangin padahal dekat dekat Alex itu cukup berbahaya, terlebih Alex punya maksud tertentu padanya.


"Jadi lah. Ayok,,," ucap Alex makin antusias karena ajakan telah berhasil menggaet Putri.


"Oke. Aku seneng banget Lex" wajah Putri begitu sumringah.


"Tunggu,,,!" seruku tertahan. Ketika kedua berjalan hampir beriringan.


"Ihhh, apalagi,,, mas,,,?" mata Putri sampai membulat tajam kearah.


"Iya, pegen aku tojok aja-"


"Iya mas Bening. Sebenarnya ada mas, katakan? Dari tadi mas Bening itu terlihat aneh, aku bingung juga heran lihat sikap mas Bening" kata Angga angkat bicara karena sedari tadi bingung.


"Dengar Putri, Alex. Kalian akan kecelakaan jika kalian jalan. Kalian akan tabrakan dijalan dengan pengendara motor matic. Jadi, urungkan niat kalian. Ku mohon dengarkan ucapanku kali ini" jelasku mengenai apa yang ku lihat.


Sejenak keduanya saling pandang. Tak percaya. Tentu. Terlebih dari mana aku mengetahuinya?.


Cukup lama keduanya saling pandang,,,?.


#bersambung....


-------------


Akankah Putri dan Alex pergi jalan jalan?


Lalu, apakah yang dilihat oleh Bening itu benar adanya?


Jm 2/12/2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.