218. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Bab 218. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
★★★★★
Angga tak bisa berbuat apa apa untuk mencegah kepergian Putri adiknya bersama Alex untuk pergi jalan jalan sore.
Bahkan dengan raut kesal dan dongkol menatapi Angga dan bergantian seolah kami berdua penggangu bagi kebahagiaannya.
Bahkan tanpa pamitan seperti yang ku ajarkan, tanpa salam seperti biasanya. Putri benar benar membenciku.
Alex sekilas melirikku, mengerling penuh kemenangan karena semua rencana telah berhasil.
Sedari tadi aku yang berdiam diri ditempatku tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa pasrah pada Alloh. 'Semoga mereka selamat, tidak terjadi apa apa pada keduanya' batinku. Dengan desahan pelan.
Tentu hal itu dirasakan oleh Angga yang masih menatap kearah mana Putri dan Alex pergi. Terlihat sekali kalau Angga nampak gelisah. Tentu jadi pikiran buatnya apa yang baru ku katakan dan jelaskan. Jika nanti apa yang ku katakan benar terjadi.
Aku sudah perduli lagi, jika pun keduanya telah pergi.
"Mas Bening, bagaimana kalau kita ikuti kemana mereka pergi?" ajak Angga angkat bicara yang sedari tadi cuma diam termangu sepertiku. Padahal tadi aku punya inisiatif seperti itu, tapi gegara sikap Putri yang seperti itu, ku urungkan niatku.
"Mas kenaps diam saja? Mas marah Putri karena sikapnya?"
"Kalau kamu diposisiku, apa tindakanmu? Sudah keterlaluan Putri padaku. Kau sendiri itu apa, kau tidak gay, karena kau telah menggauli Raya, begitu?"
"Mas, sudahlah. Aku tidak seperti itu. Aku tahu perasaan mas Bening saat ini, pasti sakit hati dengan sikap Putri. Tapi, bagaimanapun Putri adikku mas. Aku tidak mau terjadi apa apa dengan Putri. Ibu dan ayah pasti nanti menyalahkanku jika terjadi apa apa dengan Putri. Seperti yang mas Bening katakan"
"Jadi kamu percaya dengan apa yang lihat?"
"Iya, seratus persen. Karena tadi mas Bening nampak serius, bahkan sampai nangis buat nyegah kepergian Putri, termasuk Alex"
"Tapi, Putri tegas nolak. Tidak percaya bahkan menghinaku terus Ga. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan untuk nyegah mereka pergi. Karena itu suatu pertanda buruk bagi keduanya. Tapi, mereka tidak mau mendengarkan ku
Dikira aku tukang bohong. Orang tidak waras, orang gila, orang stress. Kalau kamu mau ngikuti silahkan jalan kaki. Aku tidak mau. Toh, dulu sikapmu seperti hal Putri sekarang, hingga aku balik kampung, kau tidak peduli. Bahkan sampai aku kembali pun kau tidak perduli. Sampai kau menyadarinya. Tapi, aku telah memaafkanmu jauh sebelumnya. Hingga kau menjadi baik dan mengerti. Sekarang sikap Putri pun sama seperti mu dulu. Bahkan kisah nya pun hampir mirip seperti sekarang, disaat akan menjelang ujian"
"Mas maafkan aku. Aku tidak tahu, aku salah. Harus beberapa aku harus minta maaf supaya mas bisa memaafkan atas kesalahan yang ku lakukan di masalalu"
"Tidak perlu. Seharusnya, aku tidak disini, supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Mungkin, jika aku tidak berada disini, aku tidak akan jadi pengganggu bagimu, Putri juga paman dan bibi"
"Kok mas ngomong gitu"
"Lalu apa? Kau dulu menyalahkanku kan. Kau merasa benar kan Ga. Kau munafik. Kau menikmatinya kan emutanku. Kocokan bahkan sampai kamu Crot! Lalu kau menyalahkanku. Menjahuiku, seolah aku yang punya kesalahan besar"
"Aku minta maaf mas! Aku akui aku salah. Untuk itu aku minta maaf padamu. Lupakan masalalu, oke!" seru Angga dengan matanya yang merah menahan genangan air matanya. "Yah, aku salah. Aku egois. Aku terlalu munafik dengan diriku sendiri. Aku menyesal. Bahkan penyesalanku harus ku bayar mahal. Aku kehilanganmu dihidupku. Berpisah denganmu cukup lama, bahkan kita jarang bertemu. Aku bahagia jika mas berkunjung kesini, bisa nginap. Akan ku tebus semu kesalahanku. Akan ku perbaiki bagaimanapun caranya. Hingga harus bersikap biasa pada mas" serunya, sambil mengusap air matanya yang tak mampu lagi dibendungnya. "Aku menyesal mas" lirihnya kemudian, meragkul serta memelukku erat. Nafasnya ngos ngosan menahan kepedihan yang dalam dihatinya selama ini. Bisa ku rasakan itu. Namun, semua telah terjadi, goresan lama yang ku pendam dengan rapat kini terkoyak kembali. Lebih dalam, lebih menyakitkan walaupun itu bukan dari Angga melainkan adiknya Putri, karena keduanya sauadaraku disini, di Jakarta. Pelukannya dilepas, tapi raut wajahnya nampak kekhawatiran.
"Mas,,, please kita susul Putri dan Alex, perasaanku tidak enak!" mohonnya dengan suara serak, tertekan. Padahal dari awal aku merasakan hal itu, tapi karena tidak ada yang mempercayainya jadi rasa ku hambar.
"Mas, demi aku. Bukan Putri atau Alex, mari kita susul mereka" ujarnya lagi, air matanya sudah banjir.
Aku sangat iba, ini demi Angga yang telah berubah. Andai bukan karena Angga aku tidak mau melakukannya. Agak terpaksa karena masih jengkel, terutama dengan Putri dan Alex.
"Baiklah,,,"
"Ya Alloh mas, terima kasih" wajah Angga sumringah walaupun rasa khawatirnya masih ada. Tak bisa dipungkiri jika Angga sebagai kakak nya khawatir tentang keselamatan adiknya. Terlebih yang membawanya Alex.
"Ayo mas, cepat!" Angga sampai menarikku. Bergegas cepat untuk menyusul keduanya.
Sampai didepan halaman, tadi secepatnya Angga menutup pintu serta dikuncinya.
"Mas, kemana?" tanya Angga bingung kemana harus nyusul keduanya. Karena kepergian mereka tidak ada yang tahu. Dilanda kebingungan tentu saja terlebih Angga. Namun tidak denganku. Tenang dengan situasi.
Angga panik setengah mati, terlebih hari mulai beranjak...
Rasa khawatirnya bertambah.
"Mas gimana nih. Kemana kita susul mereka?"
"Kamu tenang dan berdoa Ga, oke" ku naiki motorku juga menenangkan Angga yang panik.
"Mas bagaimana aku tenang? Adikku dalam bahaya" serunya dengan emosi. Tak sabar tentu, terlebih ini keadaan geting buatnya.
Mataku membulat kearahnya. "Bisakah kau tenang Ga!" teriakku jengkel. "Kalau kau gak sabar, kau didepan yang bonceng aku"
"Tap- tapi adikku mas" gusarnya.
"Aku tahu perasaanmu saat ini, Ga. Kita harus tenang dalam hal. Jika tadi Putri bisa dicegah, hal ini tidak perlu terjadi"
"Maaf,,," akhirnya Angga hanya bisa pasrah dengan keadaan, karena tidak bisa berbuat apa apa. Terlebih lagi, Angga tidak tahu arahnya kemana mereka berdua pergi.
Motor matic baruku ku jalankan...
Angga hanya pasrah mengikutiku berada diboncengan belakang tanpa komen apa apa. Itu lebih baik jika dari tadi komen kemana mana.
Kini motorku ku lajukan dengan kecepatan tidak terlalu sedang, karena aku tahu tujuanku kemana. Bahkan aku, cari jalan alternatif supaya aku lebih dulu sampai dilokasi kejadian yang prediksiku karena ku ketahui sebelumnya.
Beberapa saat aku dan Angga hampir mencapai lokasi tujuannya yang terjadi kecelakaan.
Bisa ku lihat Putri dibonceng Alex, nampak Putri meluk Alex mesra bahkan saling bercanda tidak melihat keadaan. Bahkan kecepatannya cukup lumayan tinggi.
"Alexxxx,,,! Putriiiii,,," teriak Angga mencoba untuk memanggil keduanya. Tapi, keduanya tentu tak mendengarnya karena jaraknya masih cukup jauh terlebih Alex membawa motornya ngebut. Keduanya bercanda ria, dengan mesra.
"Putriiiiii....! Alexxxx,,,! BERHENTIIIII,,,,!" kembali Angga berteriak kencang, tapi mereka tak mendengar nya sama sekali, bahkan aku mempercepat laju motorku untuk coba menyusul nya supaya terkejar.
Pass dijalanan lurus keduanya masih asik bersendau garau, bahkan sesekali Putri mencubiti Alex nampak dari jauh.
Mereka tidak melihat bahaya yang berada didepan mereka karena kebetulan didepan mereka ada motor matic melaju dengan kecepatan tinggi pula.
Kini jarakku sudah lumayan dekat dengan keduanya. Aku sedari tadi cuma diam saja karena masih jengkel dengan kedua nya teruma sama Putri yang menyepelekanku.
",,, Alexxx,,,, AWASSSSSS! Putri,,, AWASSS,,,,!" teriak Angga sekali lagi. Seolah keduanya, terutama Alex baru menyadarinya.
Tin, tin, tinnnnnn,,,
Suara klakson sangat kencang, namun terlambat dari Alex.
Begitu pengendara matic pun seolah baru menyadari bahaya yang akan mengancamnya.
Tentu, kedua pengendara tak bisa mengelak lagi terlebih kecepatan laju motornya.
Naas!!!?
Semua tak dapat dicegah...
PRAAAKKKKKKK!!!!?
Pass, aku dan Angga sampai ditujuan.
Angga langsung melompat turun, padahal motorku belum ku matikan.
Kedua motor mereka hancur, keadaan ketiganya belum ku ketahui.
Angga menubruk Putri, melepaskan helmnya yang dipakaian. Tubuhnya penuh bercak darah berceceran.
"Adik,,,!?" raung Angga melihat keadaan adik Putri yang setengah sadar karena keadaannya agak kritis.
",,, Kau bodoh. Kau tolol. Kenapa kau tidak mau mengidahkan peringatan mas Beningmu?! Kau lihat keadaan mu sekarang, kau sekarat. Kau mau mati hah. Kau tahu, orang tua kita pasti menyalahkanku karena tidak becus menjagamu!" raung Angga emosi juga berbagai perasaan yang campur aduk. Sambil menangis pilu.
"Kau lihat sekarang apa kejadiannya, bukan?. Kau masih saja menyalahkan mas Bening, menghujatnya, membencinya, menghinanya" lirihnya, pilu tak tega melihat keadaan Putri adiknya yang terkapar bersimbah darah tak berdaya.
"Al, Al,,,," ucapku, membuka helm miliknya, yang menutupi wajahnya. Hal sama tentunya dialami oleh Putri serta pengendara satunya. Entah bagaimana keadaannya, apakah baik baik saja, kritis atau sudah tiada?.
Baik Putri maupun Alex tidak bicara apa apa.
Putri yang dimarahi habis habisan oleh kakaknya hanya bisa nangis pasrah. Karena merasa salah, kesalahan yang cukup besar telah dilakukannya, terlebih telah membenci serta menghinaku.
Sesaat kemudian, ambulace datang. Bagiamana hal itu bisa terjadi? Tentu karena sebelum kejadian itu terjadi saat berada dirumah Angga aku telah menelpon pihak rumah sakit.
__________
"Mas Bening terima kasih!" ucap Angga memegang tanganku dengan menangis, walaupun tidak terdengar.
Duduk dikursi didepan ruang UGD dimana Putri dirawat, mungkin dioperasi.
Begitupun Alex, pastinya nasibnya hampir sama dengan Putri.
Semua ditangani oleh pihak rumah sakit.
"Sudahlah Ga, gak perlu disesali. Semuanya telah terjadi. Buat apa disesali. Nasi telah jadi bubur" ujarku supaya Angga tidak merasa bersalah.
"Andai Putri juga Alex mau dengar mas, hal ini tidak akan pernah terjadi" sesalnya.
"Sudahlah Ga, berdoa saja pada Allih atas keselamatan Putri" ucapku, supaya jangan membahas serta penuh penyesalan.
"Terima kasih mas. Mas Bening banyak membantu, setidaknya Putri dan Alex masih tertolong dan selamat, atas bantuan mas Bening"
Sekalipun kini sudah ditangangi, aku berdoa dan berharap Putri dan Alex baik baik saja. Ini jadi pelajaran buat mereka berdua supaya mengindahkan kata kata orang lain. Di ambil sisi positifnya.
"Angga,,,!" panggil sebuah suara yang baru saja datang tergopoh yang tidak bukan bibi Rosmalia bersama paman Syarifudin.
"Ibu,,," Angga berdiri langsung dipeluk oleh bibi yang dalam keadaan menangis pilu.
Tentu saja aku yang memberi kabar ketika berada dilokasi kejadian bahwa Putri kecelakaan dibawa kerumah sakit ini. Baru saja datang bersama kedua orang tuaku.
Tentu aku fokus pada keduanya, kini...
"Ibu, ayah,,," aku berhambur memeluk ibuku lama, kemudian ayahku ku peluk lama. Sebenarnya ingin ku tumpahkan segala perasaan yang ada. Supaya bebanku berkurang dan tenang, dengan semua persoalan yang ku hadapi.
"Ya Alloh nak, bagaimana keadaan Putri?" tanya ibu ingin memastikan keadaannya yang kini berada di UGD.
"Masih didalam bu? Mudah mudah tidak kenapa napa?" Setelah ku lepaskan pelukanku pada ayah, duduk tenang dikursi yang berjejer untuk cerita.
"Bagaimana kejadiannya nak?" tanya ayahku kemudian, setelah keadaan hening sesaat.
Angga nampak bercerita kepada kedua orang tuanya. Tadinya, akan ku ceritakan, kini niatku ku urungkan supaya kedua orang tuaku dengar Angga cerita.
Mereka nampak serius mendengarnya penuturan Angga dari awal hingga akhir.
Mereka nampak mengangguk mengerti sekarang.
"Ayah, ibu tidak menyalahkanku kan" ujar Angga diliputi rasa bersalah juga penyesalan yang dalam atas apa yang menimpa Putri.
"Tidak nak, ibu dan ayah bangga padamu, kamu tetap menjaga adikmu. Kami harus berterima kasih Bening karena Putri masih tertolong" ungkap bibiku dengan menyusut air matanya dengan tubuh sesenggukan. Paman juga menyeka air mata kesedihannya, bagaimana pun keduanya anak anaknya yang begitu disayangi serta dicintainya. Harapan masa depan mereka.
"Tadi siapa yang memberi ijin nak?" Bibi kini bertanya seolah baru sadar.
"Mas Bening sebagai jaminannnya bu, ayah" jawab Angga. Hingga keduanya menatap kearahku begitupun orang tuaku. Kalau masalah biaya dipikir nanti yang penting keselamatan Putri dan Alex lebih utama.
'Oh, kasihan Alex, orang tuanya tidak tahu. Bagaimana caranya memberitahu mereka, kalau putranya sedang dirawat karena kecelakaan' batinku, bingung karena aku tidak tahu nomer orang tua Alex. Hanya Alex saja yang ku punya. 'Bodoh! Bukankah Alex bawa hp, kenapa aku sampai lupa?' keluhku dalam hati, merutuki ketololanku. Bahkan aku yang menjamin karena keadaannya juga sama kritisnya dengan Putri.
Walaupun diruangan berbeda, aku yakin nantinya Alex ditempatkan di ruangan VVIP Exlusif. Karena aku tahu selera orang tua Alex yang berkelas tentu tidak mau ada orang lain yang bisa merendahkan martabat keluarganya Alex yang kaya raya.
"Hey Angga, Bening, kalian ada disini. Ngapain kalian,,,?" sapa sebuah suara yang begitu ku kenal. Tentu saja Angga tak mungkin lupa dengan nya , gadis yang pernah mengisi relung hatinya hingga membuat Angga sakit hati serta terpuruk dalam lara cinta.
Gadis itu tak bukan dan tak lain Raya. Senyum mengejek tersemat dibibirnya yang merah merekah. Menatap penuh hinaan kearah Angga juga meremehkan kearahku.
'Ada apa lagi gadis lacur murahan ini kesini? Apa kurang kerjaan datang kerumah sakit. Hanya untuk menghina dan olok olok saja kerjaan. Apa tidak ada kerjaan lain apa dihidupnya selain menghina' sungutku jengkel dalam hati. Bisa bisa ketemu dengan biang kerok murahan yang bikin tensi darah naik.
"Bukan urusanmu Raya, aku disini sedang apa? Kau ngapain disini, test kehamilan, atau test dna siapa anak yang kau kandung?" ledek Angga tak main main, tersenyum penuh ejekan.
Muka Raya merah padam menahan marah dan geram...
"Tutup mulutmu laki laki loyo. Kau tidak selevel denganku" nadanya merendahkan. Dan itu didepan orang tuaku dan Angga.
Tentu Angga dibikin malu oleh Raya si wanita perek gatelan.
Aku saja geram melihatnya.
Angga nampak tenang dengan hujatan Raya, bukan apa apa baginya. Bukan hanya sekedar sindiran belaka melainkan suatu hinaan yang kelewat batas.
"Napa lho liat liat, lho gak terima Bening" Raya nampak sewot kearahku. Marah dengan mata membulat karena sudah duduk didekat Angga.
Semula Angga nampak tenang, tapi karena ulah Raya, lama lama Angga jadi emosi tak bisa ditahannya lagi.
"Cukup Raya, kau selalu merendahkanku. Kita sudah putus, jangan ungkit ungkit masalah pribadiku. Aku tidak pernah mengungkit ungkit masalah pribadimu didepan umum. Jangan memaksaku untuk itu?" dengusnya sudah tak tahan lagi meluapkan amarah dan emosinya.
"Oh, kau rupanya tidak terima. Ha ha ha,,, sungguh ironi di atas ironi. Aku bicara fakta Angga, aku tidak membuka aib. Kau takut, rahasiamu ini sampai kemana mana, hah,,, gitu. Ckckckkk,,, kasihan sekali kamu Angga. Sungguh sangat menyedihkan"
"DIAM KAU WANITA MAN-!" seru Angga lantang tidak berani meneruskan ucapannya. Hingga didepan UGD terjadi ketegangan antara Angga dan Raya yang kini statusnya sudah putus.
"Diam kalian. Ini rumah sakit, jaga ketenangan, tidak selayaknya kalian bikin ribut, seperti anak kecil. Kalian sudah besar dan tahu tata krama" tegur paman Syarifudin berapi api. Tentu tidak hanya Angga yang ditegur, tetapi Raya juga yang lebih dulu memancing persoalan.
"Sebagaia seorang wanita tidak seharusnya mengumbar aib. Jika itu terjadi pada dirimu sendiri, apa yang akan kamu lakukan Raya?" imbuh bibi, tahu kondisi Angga yang terpojokkan.
"Kalian berdua sama saja. Dasar kismin dongok!" umpat Raya tak terima dinasehati kedua orang tua Angga malah menghina sesuka hatinya.
"Jaga ucapanmu!" ujar ayah merasa ucapan Raya sudah kelewatan.
Ibu yang berada didekat ayah hanya memegang lengannya lembut supaya ayah jangan ikut campur, terlebih malah emosi. Wajar bila ayah emosinya tak terkendali, mulut Raya sungguh sangat pedas sekali.
"DASAR WANITA MANDUL. MURAHAN,,,!" bentak Angga tak sabaran, menyerang Raya dengan kata kata yang sangat menyakitkan. Tentu, Raya tak terima dengan hal itu.
"Awas kau Angga, aku akan balas semua ini!" tudingnya dimuka Angga.
"Ha ha haaa,,," Angga menimpalinya dengan tawa meremehkan.
"Jika terjadi sesuatu pada putraku Angga, aku orang pertama yang akan menghabisimu Raya. Ingat itu!" tunjuk paman Syarif tak terima karena dari tadi terus menghina Angga juga dirinya berserta keluarga.
"Aku tidak takut sama kamu orang tua. Ha ha haaa,,,," Raya melegang pergi sambil tertawa penuh ejekan pada kami yang sedang berkumpul didepan ruang UDG.
"Masyaalloh, kok ada gadis yang arogan seperti itu didunia ini" keluh ibuku, sampai mengelus dadanya melihat kelakuan Raya didepannya.
"Yah, begitu lah mbakyu kalau cewek tidak diajari Akhlaqul Karimah, pasti otaknya error, tidak bisa menghormati yang lebih tua, suka menghina, terlebih melihat dari kekayaannya" balas bibi, miris dengan keadaan. Bahwa sebenarnya, menilai keadaannya yang hidupnya pas pasan di Jakarta ini. Tak jauh beda dengan keadaanku, keluargaku juga sama.
Semuanya lalu terdiam termasuk aku. Merenungi keadaan masing masing...
"Keluarga pasien atas nama Riana Saputri" ujar dokter keluar dari kamar UGD, nampak wajahnya datar. Ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting pada keluarga pamanku.
"Iya dok, saya ibunya ini ayahnya, ada apa dok?" kembali bibiku meneteskan air mata kembali setelah tadi agak tenang dengar penjelasan dari Angga.
"Selamat bu, pak, putri anda sudah melewati masa kritisnya. Mengenai biayanya hubungi bagian administrasi, selesai kan secepatnya" tutur dokter dengan seulas senyum khasnya. Melangkah pergi karena telah menyelesaikaj tugasnya sebaik mungkin. Ada perasaan lega dan puas terpancar dari wajahnya.
Namun tidak dengan paman dan bibi seolah ada beban baru, itu terlihat jelas dari mimik keduanya.
"Ya Alloh, Yah,,,!" keluh bibi pada paman, tentu biaya tidak sedikit. Bukankah selama ini keduanya bekerja dikeluarga Sanjaya sudah cukup lama, pasti tabungannya mereka lebih dari cukup.
"Bu,,," balas pamanku, miris. Atau memang benar mereka tidak ada biaya, bahkan selama ini sudah bekerja cukup lama, atau uangnya untuk hal lainnya.
Angga terlihat pasrah dengan keadaan...
Aku hanya diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa. Membantu, orang tuaku ada sangkutan dengan keluarga Sanjaya, bahkan tak bisa dengan mudah, lepas begitu saja dari sana karena untuk biayaku ketika aku kecelakaan, karena baik bu Kinasih maupun pak Mahendra tidak pernah menyembutkan nominalnya berapa. Bahkan keluarga Sanjaya tidak pernah mengungkit ungkitnya. Namun, orang tuaku tidak enak, dan berjanji akan membalas budi, serta akan mengabdi dikeluarga Sanjaya supaya, secara tidak lamgsung bayar hutang mereka. Dan itu cukup membebani kedua orang tuaku. Satu satunya jalan keluarnya, meminta bantuan keluarga Sanjaya.
Sesaat, bad yang mengusung tubuh Putri karena akan dipindahkan keruangan lain, keluar dari ruang operasi.
Putri belum sadarkan diri, masih terpejam matanya. Bibi berlinangan air mata melihat putrinya tergolek tak berdaya di bad dorong yang dibawa para suster keruangan lain.
Paman Syarif memeluk bibi guna untuk menenangkan istrinya yang sedih juga panik, sekaligus bingung mengenai biaya operasi serta rumah sakit lainnya.
'Ya Alloh! Putri tidak pernah berpikir, akibatnya akan seperti ini!?. Orang tuanya yang susah, bukan dia. Angga pastinya juga bingung. Terlebih ini mau semesteran, pasti juga butuh biaya banyak, belum lagi Putri, tentu double' batinku, mengeluh tentang keadaan Putri serta keluarganya.
Air mataku menetes dengan sendirinya, menengang hal hal yang berlalu...
Mendesah berat, pelan.
"Mas Bening mikirin apa?" tanya Angga karena aku diam merenung.
"Ahh,,, ehmm, gak ada kok Ga" kilahku, tak ingin membagi pikiranku yang ku rasakan sambil ku usut air mataku. Mencoba untuk tenangkan diri.
"Nak kamu mau nginap lagi dirumah bibimu?" tanya ibuku memastikanku.
"Ehh, ehmm,, iy,,,, aku,,,"
"Iya bude, pakde, mas Bening akan tinggal dirumah bersamaku. Bude pakde tenang ya, mas Bening aman kok dirumah" sahut Angga, tahu apa yang ku pikirkan. Aku sungguh dilema. Jika pun akan kembali ke paviliun Riko, aku merasa gengsi. Padahal keadaan Riko saat dalam keadaan amnesia.
"Benar itu nak?" tanya ayah memastikan.
Aku hanya senyum tawar setidaknya ayah tidak khawatirkan keadaanku.
Tek...
Tek...
Tek...
"Bi Ijah, bi Ros, paman Syarif, paman Rohman, kalian ada disini, ada apa?" tanya bu Kinasih baru keluar bersama Riko yang tanpa ekspresi.
Tatapan Riko mengarah padaku, hingga mau tidak mau aku pun hanyut dari dengan tatapannnya.
Hal yang tak terduga terjadi? Itu mengenai keadaan Riko.
Terlihat jelas bagaimana Riko dan Raya bertengkar hebat. Hingga mereka putuskan untuk datang kerumah sakit ini.
Kejadian itu bagai film yang diputar sangat cepat, jelas, jernih dan juga terdengar suaranya.
Apa, Jadi Riko....?
#bersambung....
-----------
Sb 3/12/2022.
Komentar
Posting Komentar