219. Hari-hari berat.

 Bab 219. Hari-hari berat


★★★★★


Tentu saja apa yang ku lihat tidak aku ungkapkan, ini akan jadi pribadiku sendiri bahkan siapapun itu, orang tuaku, bibi, paman, Putri dan Angga sekali pun tidak akan ku beritahu.


Wajar jika Raya tadi pergi setelah dijelaskan oleh sang dokter.


Kini, bu Kinasih dan Riko berada dihadapan kami, ada mimik tegang ku lihat, tapi Bu Kinasih seperti menyembunyikan dihadapan kami. Itu ku lihat hanya sekilas, sedangkan Riko terlihat datar seolah persoalan yang dihadapinya itu hanya masalah biasa. Dasar manusia aneh? Panik, bingung, atau apalah kek? Nih, orang kagak ada responnya sama sekali, problemanya itu dianggapnya kecil.


"Bagaimana keadaan Putri, bi Ros?" tanya bu Kinasih dengan senyum bersahaja.


"Alhamdulillah bu, sudah melewati masa kritisnya. Tapi, bu,,, nghmmm,,," bibi seakan ragu untuk mengutarakan maksudnya.


"Bibi tenang saja, masalah administrasi biar saya nanti yang selesaikan. Bi Ros gak perlu khawatir. Bibi tahu yang harus bibi lakukan untuk kami kan,,," ujar Bu Kinasih pada bibi.


Ku coba telaah apa makna dari kata katanya itu, menurutku punya maksud tertentu. Bibi dan paman nampak berubah rautnya. Segan, atau apalah. Sama halnya diperlihatkan oleh orang tuaku pun hampir sama. Wajah wajah yang harus balas jasa pada majikannya karena terlalu banyak bantuannya. Bagaimana mereka bisa lepas dari itu, rasanya sangat sulit. Tentu hal itu yang di alami oleh paman dan bibiku terutama orang tuaku. Sulit, keluar dari keluarga Sanjaya terlebih jika mereka menuntut, harus bayar pake apa.


Wajah bibiku langsung sumringah dengar bantuan dari bu Kinasih, sekali pun harus dibayar dengan tenaga. Tidak mengapa, karena keselamatan Putri itu lebih utama. Begitupun paman Syarif pun matanya berbinar bahagia. Laki laki pengekspresiannya berbeda, tidak begitu kentara tapi nyata. Paman memeluk bibi penuh haru. Tentu gaji mereka selama dipotong untuk mengurangi hutang hutangnya pada keluarga Sanjaya. Aku tidak tahu hutang mereka berapa.


"Terima kasih bu, terima kasih. Ya Alloh" ucap bibiku dengan penuh rasa haru sekaligus bersyukur. Masalah sudah berkurang, walaupun itu harus ada konsekuensinya.


"Sama sama bi. Paman berdua kembali lagi kerumah kan?" tanya bu Kinasih.


"Iya,,," jawab paman juga ayah hampir berbarengan.


"Rik,,," lirihku berusaha untuk menyapanya.


Namun, tak ada respon dari Riko. Karena selama ini Bu Kinasih tidak membatasiku umtuk memanggil Riko biasa tanpa embel embel 'Den'. Maka ku berani untuk berinteraksi pada Riko.


Angga diam dari tadi, tak ada respon. Tentu hal itu ada alasannya tersendiri kenapa sikap Angga ke Riko sekarang agak jauh.


"Bu Kinasih, ada apa kerumah sakit bersama Riko? Siapa yang sakit, bu atau Riko yang-?" tanyaku putus karena bu Kinasih mengangkat tangannya. Walaupun terkesan lancang, namun aku ingin tahu apakah bu Kinasih akan jujur dengan keadaan Riko. Aku ingin sekedar tahu.


Lagi lagi bu Kinasih tersenyum. Senyum untuk menutupi keadaan yang sesungguhnya terjadi, dan itu dari Riko bukan dari Bu Kinasih sendiri.


"Oh, ini Bening,,, tadi memeriksakan keadaan Riko. Cuma memeriksakan kesehatannya saja. Syukurlah keadaan cukup baik" ujar bu Kinasih menahan nafas. Ada beban terselip didadanya, aku bisa rasakan hal itu. Beban yang tak mungkin akan diungkapkan pada yang lain. Cukup aku yang tahu beban yang dirasakannya.


Tidak dengan Riko, terlihat cuek, seolah bukan apa apa.


"Ma, ayo pulang. Aku ingin istirahat,,," desak Riko tak ingin berlama lama dirumah sakit.


Padahal tadi ku sapa tapi tidak ada responnya. Seolah aku dianggapnya tidak ada. Tidak mengenalku.


"Maaf saya pamit dulu ya, Riko cepat ingin pulang. Bi Ijah ikut pulang. Biar Bi Ros yang disini nungguin Putri, sama Angga disini" pamitnya padaku juga pada yang lainnya.


Riko bergegas duluan, seolah tidak mengenalku sama sekali.


"Assalamualaikum,,," tambahnya. Riko melangkah duluan meninggal ruang UGD. Tidak dengan Riko yang cuma diam saja.


Paman, ayah dan ibu mengikuti bu Kinasih dari belakang. Hingga mereka tidak kelihatan lagi.


Tinggallah kami bertiga...


Nampak bibi menarik nafas dalam dalam, dihempaskannya pelan. Bebannya belum juga reda, kini bertambah lagi.


"Bibi yang tenang. Semua biayanya sudah ditangani oleh keluarga Sanjaya"


"Tapi, kebutuhan masih banyak. Belum lagi, nanti mid semester, belum lagi nanti PAS, ya Alloh, uang dari mana, coba?. Jika Putri mengindahkan perkataanmu, hal ini tidak harus terjadi. Biayanya pasti mahal dirumah sakit ini" keluh bibiku dengan tangisnya yang memilukan. Aku tak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya. Jika pun nanti aku bisa menolong sekedarnya, akan aku lakukan. Supaya Angga bisa ikut ujian semester akhir, nanti.


"Nak, kamu yang hati hati, jaga diri. Kita orang tidak punya, sekarang cari yang di masa seperti ini dimana. Hutang ibu pada keluarga Sanjaya sudah banyak. Kamu harus jadi orang sukses supaya bisa membahagia kami orang tuamu" tutur bibi berlinang air mata.


Angga pun memeluk ibunya penuh harus, begitu berat perjuangan untuk membiayanya sekolah serta   kebutuhan yang lainnya.


"Maaf Angga bu, aku akan berhati hati. Aku akan nuruti semua ucapan ibu. Maafkan aku tidak bisa menjaga adik dengan baik" ungkap Angga merasa bersalah atas apa yang menimpa Putri adiknya, walaupun itu bukan kelalaiannya.


"Gak nak, kamu gak salah. Kamu sudah menjaga adikmu baik baik. Bening bibi minta maaf atas kesalahan Putri, mungkin dengan kejadian ini, membuat dia sadar, tidak berlaku sembrono lagi" ulas Bibiku penuh penyesalan.


"Tidak bi, aku hanya memperingatinya saja. Jika pun Putri tidak percaya wajar"


"Tapi, Putri sudah menghina mas Bening, mencemooh"


"Benar itu Bening. Ya Alloh, seperti tidak bermoral saja anak itu. Diperongati masih saja menghina. Apa hal ini tidak membuatnya kapok?" geram bibi disela sela derai tangisnya.


"Jangan bi, Putri tidak bersalah. Aku yang salah. Bibi tidak perlu menyalahkan Putri"


"Mas Bening itu terlalu baik, lembut, pengertian. Tapi, selalu saja dihinaa, dicemooh tapi tidak pernah menbalas"


"Aku tidak menyangka jika Putri sampai seperti itu padamu, Bening?"


"Itu karena hubungannya  dengan Alex, sikap Putri berubah total, bu" terang Angga pada ibunya. Aku hanya jadi pendengar yang baik.


"Jadi Putri pacaran dengan Alex?"


"Iya bu. Mas Bening juga memperingati Putri padahal Alex cuma memanfaatkannya saja. Bahkan banyak para cewek dikelasnya yang telah jadi korbannya. Makanya mas Bening memperingati, tapi Putri tidak peduli. Kejadian ini pun sudah diperingati oleh mas Bening tapi Putri ngenyel" ulasnya, matanya merah penuh keharuan, karena tadi sudah dapat peringatan dariku, juga kejadian yang sebelumnya.


"Bening, bukankah kamu punya ilmu Penjerat mimpi? Apa kamu tidak tahu hal itu?" tanya bibiku heran.


"Ilmu Penjerat Mimpi?" ulangku, rada bingung. Hingga tanpa ku sadari ku gelengkan pelan.


"Mas Bening punya ilmu langka itu. Itu ilmu satu satunya yang ada didunia ini. Hampir mirip dengan ilmu Meraga sukma" herannya.


"Masmu itu turunan ke tujuh pewaris syah dari ilmu Penjerat Mimpi yang banyak diincar orang orang yang tidak bertanggung jawab. Resiko yang harus ditanggung dari sang pemilik ilmu itu harus mandul seumur hidupnya. Tidak punya keturunan. Sungguh berat yang harus dipikulnya" jelas bibi mengenai keadaanku. Juga ikhwal semua yang ada padaku.


"Tapi sekarang mas Bening kehilangan kemampuannya bu, setelah kecelakaan yang dialaminya" ulasnya. "Tapi, sekarang mas Bening punya kemampuan baru, yaitu bisa melihat kejadian masa depan" imbuhnya lagi, mengulas tentangku.


"Putraku,,, putraku,,, putraku,,," ada teriak yang bikin heboh, baru saja reda dan hening kini ramai karena teriakan seorang ibu yang baru saja datang. Bu Shella datang diruang UGD.


"Ya Tuhan, apa salah putraku hingga terjadi kecelakaan" teriaknya lagi, menyalah keadaan yang terjadi.


"Nak Bening,,,," sapa bu Shella dengan deraian air mata bercucuran. Menatapku dengan senyum yang dipaksa. Aku tahu kepedihan yang dirasakannya.


"Tenang bu, Alex keadaannya baik baik saja,,," ku coba untuk menenangkan nya.


"Kemana putraku?"


"Masih diruang UGD bu" jawabku.


Bibi dan Angga tentu diam saja sedari tadi. Terlebih lagi saat pertama tadi bu Shella telah datang dengan ekspresi marah-marah.


Tentu saja bibiku takut dan kecut terlebih lagi jika kecelakaan itu terjadi bersama putrinya, tentu bibiku akan disalahkan oleh bu Shella hingga bibiku hanya diam saja setelah tadi kedatangan Bu Shella membawa keributan. Kini lebih agak tenang, walaupun air matanya masih saja mengalir bak aliran sungai.


"Keluarga pasien atas nama Alex Perdana Saputra, ada?" seorang dokter baru saja keluar dari ruang operasi.


Tadinya bibi bermaksud pergi tapi diurungkan niatnya karena ingin mengetahui keadaan pasien.


"Ya dokter, saya mamanya, nama saya Shella. Ada apa dokter? Putra saya tidak kenapa napa kan dokter?" bu Shella memberi serentetan tanya pada sang dokter.


Dokter bersikap tenang, bersahaja,,,


"Ibu Shella tenang dulu-"


"Jika ada apa apa dengan putraku maka harus ada tanggung jawab. Akan ku bawa kasus ini ke pihak kepolisian, akan ku penjarakan!" seru bu Shella tak terima dengan apa yang dialami oleh Alex.


Bibi kembali menangis terlebih mendengar kata kata penjara, tentu itu momok baginya, tak membayangkan jika hal itu benar benar terjadi. Bagaimana nasibnya nanti terutama masa depan anak anaknya.


"Bu Shella, maafkan anakku bu. Biar saja yang dipenjara. Ku akui putriku yang salah" tukas bibiku tak tahan dengan keadaan.


"Oo, jadi putrimu yang penyebabnya. Akan ku tutut kamu nanti. Tidak becus jaga anakmu. Dasar cewek murahan. Kalau mau cari cowok yang selevel jangan merayu putra saya. Ngerti kamu. Aku pastikan kalian masuk penjara"


"Tenang bu, tenang. Semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan, tidak perlu dengan emosi, tidak akan pernah terselesaikan. Jangan bikin keributan disini, ganggu yang lain"


"Tapi dokter, putra tidak akan pernah kecelekaan kalau tidak dengan putrinya yang ganjen"


"Bu Shella, jaga ucapan ibu. Adik saya tidak seperti itu" cegah Angga tidak terima dengan cercaan bu Shella yang keterlaluan.


Aku memilih untuk diam. Nanti, jika semuanya telah agak tenang, aku akan ajak bicara bu Shella bagaimana tanggapannya. Aku tahu, jika bu Shella tahu perangai putranya Alex itu seperti apa, hanya saja gensi untuk mengakuinya didepan umum. Dasar muna!. Kini memilih diam dulu saja.


"Cukup, tenang!. Bu Shella, putra anda mengalami patah leher, tapi operasinya berjalan lancar. Sekarang dipasang gips dilehernya, jadi perlu perawatan yang intensif" terang sang dokter dengan mimik serius. Kemudian berlalu. Setelah menjelaskan masalah administrasinya.


"Kalian dengar itu. Putraku sampai patah leher" jerit bu Shella meraung penuh luapan emosi.


"Ibu kira putriku tidak parah. Baru saja habis operasi. Masih saja ibu menyalahkan kami" seru bibiku tak mau kalah. Sama sama menangis.


Angga sedari tadi hanya bisa menahan perasaannya. Tidak bisa berbuat apa apa...


"Bibi, aku harap bibi tunggui Putri, pasti sangat membutuhkan bibi saat ini" ucapku lirih, supaya bibi tidak terlalu terbawa suasana terlebih saat ini keadaan belumlah stabil. Saling luap kan emosi masing masing.


"Angga jika kamu ingin temani bibi" ungkapku pada Angga yang masih berdiam diri saja ditempat duduk. Bibi sudah berdiri sedari tadi.


Kemudian aku berbisik pada Angga...


"Ga, aku akan bicara pada bu Shella. Jika kamu ingin dengar boleh. Tapi tolong kamu pergi dulu"


",,, Baiklah mas Bening" bisik Angga padaku, mengerti. Tentu bibi dan bu Shella tak ada yang mendengar nya.


"Bu mari pergi dari sini" ajak Angga, karena ada jeda hening sesaat.


"Ingat, saya akan tutut kalian!" sekali lagi bu Shella berkata kata dengan suara tinggi.


Kedua nya pergi, tapi tidak dengan Angga pasti tahu serta tadi ku beri isyarat buat rekam kejadian. Setidaknya aku kini telah tenang. Sungguh hari hari yang berat buatku. Ya Alloh...


Harus ku selesaikan perlahan lahan, tidak ingin grusa grusu.


Keadaan telah tenang, hanya kami berdua...


Tentu, bu Shella heran karena aku masih berada didepannya, seolah sedang menunggu.


"Bu Shella, maaf sebelumnya. Aku ingin meluruskan semua masalah ini"


"Nak Bening tidak usah membelanya. Jelas jelas mereka salah..."


"Bu Shella, dengar kan aku dulu!" tegasku rada emosi. "Ibu tahu sendirikan kelakukan putra ibu yang bernama Alex perdana Putra itu suka mempermainkan wanita. Bukan cuma satu, tapi sudah banyak korbannya. Ibu pernah berpikir, apakah Putri itu yang merayu Alex, cari kesempatan. Jadi, tolong jangan salahkan bibiku yang tidak tahu apa apa"


"Lalu..."


"Asal ibu tahu. Sebelum kejadian naas itu terjadi, aku sudah memperingati Alex dan Putri, tapi mereka berdua ngeyel tetap pergi"


"Dari mana kamu tahu hal itu?"


"Karena aku dapat penglihatan sebelumnya bahwa akan terjadi kecelakaan. Makanya aku berusaha mencegahnya, tapi terlambat. Aku sempat nelpon pihak rumah sakit, disaat kejadian naas itu terjadi. Sebelumnya aku malas buat hubungi keluarga ibu, tapi aku diperlihatkan nomor buat hubungi ibu dan keluarga. Seharusnya, Alex yang bertanggung jawab semuanya bukan Putri. Karena dari awal yang ganjen, yang gatel itu putra ibu, jangan salahkan bibiku atau keluarganya, karena mereka tidak tahu apa apa. Mereka orang susah. Untuk bayar operasi Putri saja itu masih berhutang budi pada keluarga Sanjaya. Apa ibu tidak kasihan, bahkan membawa kasus ini ke ranah hukum" desakku. Sebenarnya gondok ingin mewek, tapi ku tahan.


"Jika tahu kejadian begini, sudah aku biarkan saja Alex tiada, bahkan dari dulu tidak akan ku tolong" entah mengapa kilasan masalalu saat ku tolong Alex begitu nyata dibenakku, hanya itu yang bisa ku ingat, itupun karena aku meluapkan emosiku.


"Ibu tentu ingat kejadian itu bukan. Kalau keadaan Alex kritis, diujung maut. Sama hal kali ini. Terlambat aku menolongnya, maka nyawanya tak terselamatkan lagi. Bisa bisa ibu menyalahkan bibiku yang tidak tahu menahu persoalannya yang terjadi. Untung Alloh masih sayang nyawa putra ibu, Alex lantaran pertolonganku. Jika lain kali terjadi seperti hal ini, aku tidak akan pernah menolongnya lagi. Ingat itu bu Shella" ancamku. Seketika, ingatan padahal yang ku alami dimana Alex dibunuh karena ditembak oleh Riko. Disitu Alex begitu mencintaiku.


'Benarkah Alex mencintaiku? Tapi, kenapa sikapnya selama ini seperti itu, seolah tidak pernah ada rasa sama sekali?' bisik batin, terkenang apa yang pernah ku lihat dulu.


"Asal Bu Shella tahu, bahwa Alex itu akan mati dibunuh, ditembak oleh seseorang. Camkan itu bu Shella. Disaat itu aku sudah tidak bisa menyelamatkannya!" tandasku, air mataku tumpah ruah. Aku pergi meninggalkan nya sendirian.


Disaat itulah sayup sayup ku dengar suara orang berteriak memanggilnya..


"Mama,,,!?"


______&&&______


Mg 04/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.