220. Terjawab rasa kecirigaan!.
Bab 220. Terjawab rasa kecirigaan!.
★★★★★
Setelah melihat keadaan Putri yang semakin membaik, akhirnya ku putuskan buat pulang. Pamitan sama bibi yang kini jagain Putri karena butuh teman. Angga tentu ikut pulang dengan ku.
"Bi, aku pulang dulu. Bibi yang kuat yah,,," ucapku dengan sendu tak ada hal yang bisa ku katakan.
"Bu, Angga pulang. Harus belajar karena besok akan diadakan mid,,," pamit Angga.
"Iya nak, belajar yang sungguh sungguh, jangan main main. Buat ibu dan ayah bangga" ulas bibi dengan derai air mata yang tak terbendung. Mengangguk penuh haru, memeluk putranya juga aku.
Ku tinggal kan bibi sendirian dirumah sakit.
Yang bonceng aku Angga sampai dirumahnya.
__________
Ada kelegaan juga setelah sampai, ada yang sedkit berbeda karena rumah kini menjadi sepi tanpa kehadiran Putri dirumah. Biasa Putri lah yang selalu bikin ramai. Namun tanpa adanya Putri benar benar rumah menjadi sepi.
Angga tidak dapat menyembunyikan kesedihan, tentu yang dialami Putri jadi pukulan tersendiri.
Semua telah terjadi, menyisakan rasa kesedihan.
Terlebih kini sudah malam, aku sampai lupa kewajibanku. Mandi juga tak sempat.
Tak ada obrolan, aku sempatkan buat mandi duluan.
Tadi Angga duduk disofa depan sambil merenung. Seperti ada hal yang dipikirkannya. Aku sempat berpikir hal itu, tapi untuk sementara aku abaikan, nanti coba aku tanyakan padanya.
Setelah beberapa saat aku telah ganti. Aku ingin telpon ibuku memberitahu keadaanku disini.
"Assalamualaikum, hallo bu,,,"
*Bagaimana keadaanmu nak?*
"Alhamdulillah, bu baik baik baik saja. Ibu sama ayah gak apa apa kan?"
*Tidak nak, Alhamdulillah baik. Putri bagaimana keadaannya?*
"Sudah membaik. Tadi aku sempat bertemu dengan ibunya Alex. Tadi bibi sempat disalahkan, tapi untung ada aku, jadi ku beri pengertian. Kini semua baik baik saja. Ayah dimana bu?"
"Syukurlah, tidak ada masalah lagi. Ayahmu di post jaga"
"Bu, sebenarnya aku punya rencana, tapi rasanya bicara ditelpon kurang leluasa. Nanti hari minggu selesai mid, aku akan kesan membicarakan sesuatu hal yang penting sama ibu, nanti ibu yang beritahu ayah saja"
*Soal apa nak?*
"Nanti saja bu. Yasudah, aku mau istirahat dulu karena besok mau mid. Assalamualaikum bu"
*Waalaikum salam*
Ku tutup telponku, sambil berjalan keruang tengah.
Perutku rasanya lapar, tapi ku tahan dulu, gak enak sama Angga yang lagi sedih, pasti selera makannya hilang karena adiknya berada dirumah sakit.
Aku juga kepikiran Raya juga Riko. Ingin rasanya aku nelpon salah satu dari mereka.
Kalau Raya, rasanya aku tidak tahu apa dia bisa diajak bicara baik baik terlebih selama ini sikapnya berubah.
Begitupun Riko juga berubah cuek, tidak peduli bahkan tidak mengenalku.
"Ga, gak mandi dulu?" sapaku karena ku lihat Angga diam termenung sedari pulang dari rumah sakit.
"Nanti mas, masih males" jawabnya singkat. Menghela nafas pelan. Kesedihan kelihatan sekali. Tapi buat apa terus disesali.
"Andai Putri mau dengar perkataan mas Bening, hal ini tidak akan terjadi" sambungnya, kata kata Angga penuh penyesalan banget. Namun semuanya sudah terjadi.
"Sudahlah Ga, jangan disesali. Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan" ku coba untuk menenangkannya karena hal itu tidak ada gunanya terus disesali.
"Mas, bagaimana aku tidak sedih. Ini mau mid, sebentar lagi PAS, tapi Putri kecelakaan. Mas tahu kan biaya rumah sakit mahal. Aku belum bayar uang semester, pun dengan Putri, tapi kini Putri sedang terbaring dirumah sakit. Biaya itu sangat mahal. Darimana ibu dan ayahku dapat uangnya?"
"Sabar, pasti akan ada jalan keluarnya. Aku juga mengalami apa yang kamu rasakan. Aku juga habis kecelakaan, dan orang tuaku harus membalas jasa keluarga Sanjaya"
"Sekarang Putri adikku itu keras kepala semenjak kenal dengan Alex. Sikapnya berubah dratis, bahkan sering melawan" ungkapnya Angga dengan keadaan Putri.
Sungguh keterlaluan sekali Alex telah meracuni pikiran Putri hingga melawan. Bahkan sekarang jarang memakai jilbab jika tidak kesekolah. Mungkin itu teguran buat dia supaya tidak sembrono dan sembarang.
"Mas aku minta maaf atas nama Putri karena dia sangat keterlaluan pada mas"
"Sudah lah Ga, tidak perlu mengulas hal itu. Aku sudah melupakannya. Aku berharap dengan ini Putri sadar"
"Iya mas Bening. Oya, aku mau mandi dulu mas. Kalau mas Bening lapar makan saja duluan, biar nanti saja aku makannya"
"Baiklah, aku makan duluan ya, aku sangat lapar. Nanti aku siapkan untukmu"
"Terima kasih mas. Ada mas Bening aku gak kesepian dirumah sendiri"
"Ah lebay, kamu Ga" aku menimpalinya dengan tersenyum.
Angga pun bergegas, masuk kekamar untuk mandi.
___________
Ku dudukkan diriku bad dikamar Angga, Angga masih makan.
"Assalamualaikum, hallo Raya" sapaku biasa.
*Ya ada apa? Tumben telpon, gak biasanya?* jawabnya cuek.
"Aku mau tanya satu hal ke kamu, buat apa kamu, mamanya dan Riko datang ke rumah sakit HARAPAN HIDUP?"
*Bukan urusanmu. Kenapa kamu kepo banget?*
"Kalau boleh tahu"
*Hmmm,,,* gumamnya lirih, sepertinya ragu.
"Riko sakit apa?" pancingku. Apakah kali ini Raya ngaku atau tidak.
*Hmmmm,,,,* kembali Raya menggumam lirih.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Riko, Raya? Kamu putuskan Riko kan karena dia,,,?" desakku ingin tahu pengakuan Raya.
*Dari mana kamu tahu?*
"Tidak perlu ku jelaskan. Kamu putus dengan Riko kan?"
*Iya, aku putus dengan Riko*
"Aku sudah tahu. Satu hal lagi. Apa yang terjadi dengan keadaan Riko, kamu bisa jelaskan,,, Raya"
Tak ada sahutan, sepertinya Raya berpikir....
"Hal itukan yang menyebabkanmu memutuskan Riko?" tak ku sebutkan dengan gamblang.
*Hiks hiks hiks,,,,,* Raya malah nangis pilu.
Aku tahu alasan kenapa Raya sampai nangis gitu
Tentu tidak ingin kehilangan cintanya Riko. Tapi karena sesuatu hal yang terjadi pada Riko, jadinya memintanya putus.
*Dari mana kamu tahu semua itu, Bening?*
"Sudah ku bilang sejak awal, kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu hal itu. Kamu jawab saja"
"Baiklah. Percuma juga aku sembunyikan dari kamu, jika pun kamu tahu dan hanya ingin kejujuranku. Sekalipun nantinya kamu mencibirku, aku terima,,,*
Ada jeda sesaat, Raya tidak ingin to the point pada pokoknya. Masih ku dengar sesenggukannya karena menangis...
*Ya Riko,,,, dia,,, IM-PO-TEN!*
Tut, tut, tut,,,
Telpon dimatikan sepihak...
"Waalaikum salam,,," sekalipun aku sudah tahu sejak awal, namun jika itu dikatakan oleh Raya terasa berbeda.
Tentu apa yang di alami Riko tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Raya, mamanya, juga dokter yang memeriksannya.
"Ada apa mas, kenapa mas Bening kelihatan shock gitu? Mas Bening telpon siapa?" cerca Angga dibrondong dengan pertanyaannya. Aku masih coba menenangkannya hatiku yang berdegug tak menentu.
"Mas Bening Bening kok diam saja? Nelpon siapa mas?" ulas Angga penasaran.
Kini aku lebih tenang....
"Aku baru nelpon Raya, menanyakan keadaan Riko, kenapa datang kerumah sakit Harapan hidup?"
"Apa, jadi mas Bening nelpon Raya? Dari mana mas tahu nomornya Raya?"
"Gak penting darimana aku tahu. Tapi ini lebih ke Riko"
"Riko kenapa? Dia baik baik saja"
"Menurutmu. Kamu tidak tahu sesungguhnya apa yang terjadi padanya"
"Apa yang terjadi sama Riko mas?"
"Dengar Ga, Raya sudah memutuskan Riko-"
"Dasar perempuan lacur!. Kenapa bisa seperti itu mas Bening?"
"Sebab Riko kini IMPOTEN!" tegasku.
Mata Angga langsung membulat tak percaya?
Namun, juga tidak bisa menepis apa yang ku katakan.
________&&&________
Sl 06/12/2022.
Komentar
Posting Komentar