221. Sikap Raya berubah aneh?.

 Bab 221. Sikap Raya berubah aneh?.


★★★★★


"Kamu yang bonceng ya, Ga" ujarku padanya karena aku dibonceng.


Semalam aku tidur duluan karena aku ingin istirahat duluan karena akan menghadapi mid. Namun, bisa ku rasakan pelukan hangat Angga disepanjang malam bahkan sampai aku terbangun pagi subuh.


Angga juga pun ikut bangun saat ku bangunkan, tidak seperti biasanya selalu sulit untuk bangun.


Tak bicara, selesai ku panasi, dan belum sarapan. Biar nanti aku akan ajak  makan Angga dikantin, aku tahu kondisinya saat ini.


"Biasa ada Putri, bisa bareng, bercanda, rame,,," ujarku dengan lihat wajah Angga yang berubah.


Tentu Angga mengingat hal itu. Jadi tak enak aku jadinya.


"Mas ayok naik" kata kata terlihat berbeda, terlebih tadi aku menyinggung mengenai Putri. Terlihat Angga begitu sensitif. Aku yang salah menyinggung hal.


"Ga maaf ya, tentang masalah Putri"


"Iya mas. Mas Bening juga sayang sama Putri, tapi adikku malah membenci mas Bening. Mungkin iki karma buat dia, jangan suka menghina orang lain terlebih saudara sendiri. Hingga Alloh murka dan memberi balasan"


Aku memilih diam tidak menanggapi celoteh Angga, masih saja menyalahkan dirinya yang tak bisa menjaga Putri dengan baik.


Aku janji tidak akan mengulik lagi, karena kasihan Angga terlihat murung.


"Nanti sepulang sekolah kita jenguk Putri dirumah sakit ya Ga?" Niatku buat Angga tidak sedih dan ingat terus dengan Putri.


"Iya mas, tadi aku mikir gitu"


"Kamu jangan sedih lagi"


"Kelihatan ya mas"


"Iya, kelihatan jeleknya"


"Ah, mas Bening gitu"


"Gak kok Ga, becanda. Kamu ganteng kok dalam kondisi apapun"


"Terima kasih mas"


Kini motor melaju dengan tenang dijalanan beraspal.


Angga terlihat sangat hati hati, aku ngerti suasana hatinya saat ini tidak sedang tidak baik baik saja.  Aku selalu dukung apa pun yang dilakukannya, lebih ke hati hati.


Gerbang bertuliskan Permata Bangsa ku lewati, ada pak satpam penjaga gerbang tersenyum ramah. Lagi lagi masalalu terkenang kembali, saat bekerja sama dengan Riko. Ku berikan senyuman kembali sebagai tanda ramah balik padanya. Kini sudah tidak ada masalah lagi.


Sungguh kenangan dulu seperti melintas satu persatu dalam pikiranku. Atau, mungkin aku sudah ingat. Tapi, satu hal yang belum ku ingat yaitu mengenai ilmu Penjerat Mimpi, aku tidak ingat sama sekali.


"Turun mas. Dari tadi mas Bening melamun saja. Mikirin apa?"


"Hmm,,, oh,,,," aku tidak bisa menjawabnya karena banyak yang ku pikirkan.


"Banyak kok Ga. Ingat saat pertama kali aku datang kesini. Aku tidak tahu nama sekolahnya. Makanya aku sempatkan buat lihat dan menghafalnya. Lucu  kalau ingat hal itu, Ga"


"Oh itu, kirain mikirin apa, sedari tadi cuma diam kayak mikir gitu"


"Begitulah Ga, bahkan satu hal yang tak ku ingat?"


Angga menatapku sekilas. Tersenyum dipaksa...


"Tentang ilmu Penjerat Mimpi"


"Iya Ga"


"Aku tidak tahu"


Cetek, cetek, cetek,,,


Tak ada reaksi apa apa, tak ada pengaruhnya apa, bahkan ku coba lagi, hasilnya juga percuma.


Angga juga keheranan, hingga nampak fokus serta serius.


"Hey,,, Angga ganteng" sapa seorang cewek, suara familiar, penuh dengan rayuan dari cara menyapanya.


"Raya,,," gumamku menatapnya tajam. Cepat cepat ku sembunyikan dari nya apa yang ku lakukan.


Raya nampak tersenyum manis, kearah Angga kemudian nampak datar kearahku. Gelagat nya tidak suka, itu pasti.


Sorot matanya begitu nakal menatap Angga bahkan nampak pakaiannya terlihat ketat hingga buah dadanya nampak membusung kencang, menantang. Sesekali nampak mengerling manja pada Angga.


Sebagai lelaki normal tentu hal yang dilakukan Raya membuat Angga blingsatan tak tenang, beberapa kali menelan salivanya kelu. Baru kali ini ku lihat Raya seperti gadis binal kehausan batang seorang laki laki karena tak mendapatkannya dari Riko hingga yang jadi sasarannya kini Angga.


Angga mudah diperdaya oleh Raya sehingga membuatnya mabuk kepayang. Gesture nya menunjukan hal itu.


Ku lirik dibawah, batang milik Angga sudah menegang tak karuan tak bisa disembunyikan, terlebih hasratnya tiga hari tak tersalurkan tentu dorongan gairah nya mudah terpancing.


Berkali kali mata Angga dengan nakal menelusuri lekuk tubuh Raya, sambil menelan ludahnya kelu.


"Huh sama ganjen" gumamku mengumpat kedua yang terbakar nafsunya.


Plak,,,,!


"Awww hesshhh, aduh sakit mas Bening,,,," ringisnya menahan sakit akibat tamparan kerasku akibat ulahnya.


"Silahkan kamu ladeni wanita cabul itu, Ga. Jika terjadi apa apa sama kamu jangan salahkan aku,,,!" tegasku padanya.


Setelah itu tubuhku seperti kejang, sesaat kemudian aku melihat sesuatu hal karena luapan emosiku.


Hal itu terjadi beberapa saat, aku menatap tajam dan sinis kearah Angga yang masih asik menikmati pemandangan yang ada didepan matanya, hingga matanya seakan ingin keluar dari tempatnya. Karena Raya masih saja merayu dengan godaannya yang menantang. Rupanya tamparanku tidak berpengaruh apa apa buat Angga masih asik dengan menatap Raya didepannya, tersenyum sensual sambil mendesah desah.


Angga makin panas dingin dibuatnya melihat kearah Raya, seperti kena sihir atau semacam pelet hingga Angga seperti terpengaruh pada Raya tidak peduli dengan keadaan.


'Benar-benar tuh wanita perek jahanam, sampai membuat Angga lupa daratan' batinku gusar melihat gelagat yang kurang mengenakan dari Raya.


"Plak, plak, plak,,,!" Kali ini aku tampar tiga kali Angga. Dia seperti baru tersadar kalau saat ini yang ada didepan nya Raya, matan kekasihnya yang memutuskan sepihak tanpa ada komunikasi.


"Mas Bening!?" serunya dengan terkejut karena aku pukul wajahnya tiga kali saat ini. Semuanya langsung berubah.


"Ada apa mas Bening memukul wajahku? Sakit gitu mas Bening" omelnya, bersungut kesal.


"Lagian, kamu kayak orang linglung gitu. Bahkan seperti orang nyeracau gitu? Makanya aku pukul kamu supaya sadar"


"Mas tadi ngomong apa? Karena tadi aku masih sempet denger mas Bening kayak nyumpahi aku. Tapi, sudahlah. Karena lihat Raya, pertama tadi. Aku seperti di gendam, atau semacam pelet, gitu"


"Makanya ku pukul supaya pengaruh nya sirna, Ga. Terbuktikan. Buktinya, kini kamu sudah ingat lagi!"


"Terima kasih, mas"


"Lupakan" sahutku singkat. Aku juga ingin tahu reaksi Raya selanjutnya.


"Apa kamu bilang, Bening. Kau kira pake ilmu pelet" hardik Raya tadi ku tuduh.


Angga banyak diamnya...


"Kenapa kamu harus marah denganku, jika benar kamu tidak melakukan hal itu?. Jika apa yang ku katakan benar, untuk apa marah seperti ini"


"Bukan urusanmu, bukan"


"Memang, tadi iya. Sekarang ceritanya lain. Mungkin aku kehilangan kemampuanku yang lain. Tapi, Alloh memberiku anugrah yang lainnya" tandasku, aku sudah tidak khawatir lagi dengan Raya.


Terlebih Raya, merayu lagi Angga supaya kembali kepelukannya.


Aku tidak pernah tahu, apakah Angga dan Raya satu kelas. Andai benar jika keduanya satu, maka untuk keduanya jalin hubungan kembali, maka tidak akan ada gangguan.


Tapi, Raya salah berurusan denganku. Karena kini aku punya kemampuan baru dan itu Raya tidak mengetahuinya, hanya keluargaku saja juga Bu Shella serta Alex yang tahu.


"Kau masih berurusan denganku, Bening" dengusnya kesal.


"Aku tidak peduli!" sahutku cepat. Raya terlihat makin emosi.


"Kau masih saja sombong Bening. Ilmu milikmu telah disegel seseorang. Ha ha haaa,,," Raya berkata kata seperti sambil tertawa sumringah karena berhasil mengelabuhiku.


Tapi, apa benar perkataan Raya, kalau ilmu penjerat mimpi yang ku miliki disegel seseorang.


'Siapa?'


'Apa maksudnya hingga menyegelnya?'


Raya kemudian berlalu pergi dengan seringai penuh kemenangan...


",,, Wanita jahanam!" makiku geram. Menatapi kepergian Raya yang makin menjauh lalu menghilang dari pandanganku. Tadinya mengangkat tangannya melambai, seperti mengejek ku dengan mengumbar senyum yang tak ku mengerti.


'Apa Raya terlibat dengan apa yang terjadi padaku?' bisik batinku, berpikir keras dengan semua yang menimpaku.


Angga melirikku sekilas ...


____&&&____


Sl 06/12/2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.