222. Astaga!.
Bab 222. Astaga!.
★★★★★
"Huufff,,,," ku hempaskan nafasku kasar.
Walaupun kantin ramai, sambil ku edarkan pandanganku kepenjuru, berharap aku menemukan sosok yang ku cari yang menjadi kekhawatiranku sedari pagi.
Syukurlah, akhirnya aku sedikit bernafas lega ketika aku lihat Angga menghampiriku. Urusan perut lebih utama ketimbang urusan asmara. Tapi, kalau nafsu sudah berkata, laparpun tidak akan pernah terasa.
Angga punya komitmen hingga tidak mau terjebak dalam dunia percintaan, ingat pesan ibunya yang wanti wanti padanya, harus berhati hati supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Namun, ada sosok genit yang membuntutinya dari belakang, dan lebih mengejutkan lagi ada Riko juga, walaupun tidak bersama. Seolah ini sudah terencana atau memang suatu kebetulan saja.
"Mas Bening,,," sapa Angga setelah dekat.
"Kamu pesan saja, Ga. Nanti biar aku bayari"
"Iya mas" kemudian Angga bergegas kearah pemilik kantin, lalu memesan sesuatu, sepertinya nunggu.
Raya nampak duduk santai menikmati suasana kantin yang begitu ramai disaat istirahat tiba.
Riko pun juga nampak terlihat santai, wajahnya datar seolah tidak terjadi apa apa.
"Keduanya nampak aneh. Kenapa Riko sikapnya biasa saja diputusin Raya? Dasar cewek lacur, tahu Riko impoten ditinggalin. Eh, kini ngejer ngejer Angga. Aku takut Angga kena rayuannya. Apa yang ku takutkan jadi kenyataan" ucapku bermonolog pada diriku. Sambil ku edarkan pandanganku tak kentara, aku tak ingin menimbulkan kecurigaan buat mereka.
Terlihat Raya, sering curi curi pandang kearah Angga...
"Mas Bening, ini pesenanmu. Tadi bu kantinnya pesan supaya suruh bawain sekalian" Angga duduk didekatku cuek. Sikapnya sedikit aneh. Nampak juga curi curi pandang kearah Raya. Seperti ada something. Aku diam kan dulu baru nanti aku akan katakan padanya.
Komplotan Latifah belum kesini. Entah pada kemana mereka? Baru juga aku pikirkan, mereka berbondong-bondong masuk kedalam kantin, hingga keadaan makin riuh.
Tumben sekali Riko dan Raya datang ke kantin sini, bukan hanya kantin ini satu satunya karena masih ada kantin yang lainnya. Namun yang selalu ramai memang dikantin ini.
"Mas Bening dari tadi ngelamun terus"
"Gak ada" bohongku tak ingin mengatakan apa yang ku pikirkan. Atau memang perlu ku katakan padanya. Ah, nanti saja lah. Aku menikmati makanku dulu.
Gerombolan Latifah tidak ada yang menyapaku, karena mereka dalam mode aman tanpa ada gangguan dari Alex.
Hingga aku menghabiskan makanan. Sesekali rombongan Latifah menatap kearah ku sambil berbisik. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka gunjingkan padaku.
Kemudian nampak mereka keluar dari kantin.
Aku pun membayar makananku tadi di kasir.
"Ayo Ga?" ajakku padanya.
"Iy-aaa mas" nampak Angga tergagap. Ku lihat Raya tersenyum simpul.
Bahkan Raya mengikutiku dari belakang, tujuanku ingin bicara hal penting pada Angga.
'Maunya apa sih wanita perek ini?' kesalku dalam hati karena masih ngikuti. Lama lama aku kesal dibuatnya.
"Maumu apa Raya, ngikuti aku dari tadi?" geramku.
"Bukan apa apa. Kenapa kamu sewot ke aku?" balasnya cuek.
"Kamu ganggu saja dari tadi"
"Aku cuma mau bicara sama Angga, kok" seolah tak punya salah.
"Kamu pergi sana. Aku mau bicara hal peting sama Angga" hardikku. Bukan Raya namanya, wanita itu makin berani, tidak takut.
"Aku tidak peduli!" Jawabnya tidak mengindahkanku.
"Dasar wanita bengal" umpatku lagi, bukannya pergi, Raya tetap bertahan.
"Mas, tolong hargai dia" bela Angga yang masih saja empati ke Raya.
"Tuh denger. Orangnya saja gak keberatan. Kamunya malah sewot ke aku dari tadi" Raya seperti mendapatkan angin dapat belaan dari Angga.
'Kenapa Angga malah memilih belain Raya?' sungut dalam hati, kesal atas sikap Angga yang terang terang membelanya.
"Angga,,,!" seruku tertahan. Dengan nafas tertahan, kemudian tersengal.
"Dengar Angga, ini hal penting yang akan ku sampaikan padamu. Kamu dengar atau tidak itu terserahku. Kalau ada dia aku tidak akan bicara. Aku yang akan pergi. Jika terjadi apa apa sama kamu jangan salahkan aku. Dan kau wanita ular yang pintar cari muka. Mungkin saat ini aku tidak bisa berbuat apa apa, tapi nanti, kamu lihat, apa yang akan aku lakukan padamu. Angga aku pergi dulu" dengus ku kesal.
"Mas, mas, mas Bening tunggu dulu,,,,!" cegah Angga supaya aku tidak pergi. Tapi aku sudah terlanjur kesal dan marah, tapi Angga tidak ada ngehnya dari awal. Saat aku pergi, teriak memanggil, mencoba menghentikan ku. Terlambat. Aku cepat berlalu.
"Sudahlah Angga, biarkan dia pergi, ada aku. Aku akan memberikmu kepuasan" rayunya.
Masih jelas ku dengar rayuan Raya ke Angga, jika sampai Angga termakan rayuannya, siap siap saja apa yang akan terjadi selanjutnya.
_________
Saat pulang, aku menunggu diparkiran, tapi batang hidung Angga tak jua muncul, timbul rasa curiga sekaligus cemas tentang Angga.
"Masyaalloh, tuh orang kemana? Hari gini belum juga muncul? Atau,,,,-?"
"Hello,,, Bening, kamu lagi sedang cari ayang beb ku kan. Tenang dia masih kelelahan habis bercinta denganku, ki ki kiiii,,, dia tadi klenger digudang, aku tinggal. Tapi sebentar lagi pasti datang" kata katanya sungguh bikin aku geram. Raya baru saja datang ke parkiran, terlihat kalau dia habis ena-ena sama Angga. Terlihat cupangan merah dilehernya. Mungkin juga bagian yang lainnya. Ya Alloh, kenapa Angga tidak mau dengarkan aku. Tapi benar perkataannya, bisa saja Raya bohong, atau hanya dibuat buat saja, akan ku buktikan omongannya benar apa tidak.
"Kamu tidak percaya sama aku. Terserah. Kasihan deh lho" cibirnya, kini dia makin berani.
'Lihat saja kau nanti perempuan sundal!' geramku makin jadi. Hanya ada dalam pikiranku. Aku harus sabar serta menunggu waktu. Waktu adalah kunci yang terbaik.
"Raya ka- kamu masih disini" nampak Angga gugup, datang tergopoh.
"Lihatlah, aku nyembuyiian dia. Masih aman aman saja kan" tunjuk Raya dengan bahasa isyara dengan anggukan kepala.
Ku perhatikan Angga nampak kedodoran, wajahnya terlihat letih. Aroma keringatnya tajam sekali. Apa benar yang diucapkan oleh Raya tadi, habis bercinta dengannya.
"Angga terima kasih ya atas ehem ehemnya, besok lagi ya" nampak Raya melambai pergi, setelah berkata kata yang ku tangkap sebuah isyarat.
Hingga tubuh Raya tidak kelihatan...
"Benar kamu habis nge-sex dengan Raya? Tadi Raya ke aku kalau dia habis main sex sama kamu digudang"
"Nghmmm, anu- aku,,, ma- af mas Bening"
"Jadi benar kamu habis sex dengan Raya digudang" tudingku dari kata katanya yang gugup tidak bisa disembunyikannya.
"Habisnya, aku tidak tahan mas. Raya memancingku terus. Aku butuh pelampiasan untuk hasratku yang tak terbendung"
"Baiklah, jika itu maumu. Kamu pulangnya jalan kaki" sungutku, tak ada toleransi buat dia.
"Mas tunggu!" seru Angga mencoba menahanku. Ku hentikan laju motorku yang akan ku jalanku. Ku bulatkan mataku kearahnya dengan tatapan tajam.
"Kamu tahu kesalahan apa yang kamu perbuat Ga?"
"Ngghhmmm,,, aku,,,"
"Kamu tahu, kau ku ajak untuk menjenguk Putri adikmu. Tapi, apa yang kau lakukan Ga. Kau malah asik asikan ngetot sama Raya" teriakku sudah tak bisa ku tahan lagi. "Aku tidak akan peduli jika nanti terjadi apa apa sama. Kau akan menyesalinya Ga, dan saat itu terjadi semuanya terlambat untuk kau sesali, camkan itu Ga!" Kini ku lajukan motorku, cepat berlalu dari hadapan Angga yang masih terpaku ditempatnya menatapku bimbang juga bingung.
"Mas Bening, maafkan aku mas. Aku salah mas. Mas Bening" Angga berusaha mengejarku, namun aku tak peduli. Namun aku masih sayup sayup mendengarnya. Mungkin aku terlalu egois. Tapi ini demi kebaikan Angga, tapi Angga nya diperingati tidak mau mengerti, aku kesel dan emosi jadinya.
_____________
Tak bisa ku tepis perasaanku tadi yang marah pada Angga, tak bisa ku abaikan semua itu. Tapi, Angga tetap ngenyel tidak mau mendengarkan ku, bahkan telah bermain api dengan Raya.
Sudah setengah jam-an dari aku berada dirumah, sampai bersih bersih tapi Angga belum kelihatan batang hidungnya.
"Kemana lagi tuh orang?" gerutuku kesal.
Tiba-tiba ada panggilan masuk ke hpku.
"Siapa lagi yang ganggu nih?" Dengan bete ku lihat notifnya.
"Raya?"
___________
Rb 07/12/2022.
Komentar
Posting Komentar